Pelatihan Karyawan: Bahasa dan Bangsa. Selamat Hari Pekerja!

ice-paper-on-the-wall

Hari ini aku kembali masuk kantor setelah sejak Senin (27 April 2009) yang lalu aku mengikuti program train to trainers untuk modul In-Call Execution (ICE) yang dilaksanakan di Hotel Grand Kemang, Jakarta. Letih, memang; selain karena jadualnya memang padat (sampai malam segala, sehingga tidak bisa pulang ke rumah …), juga menggunakan bahasa Inggeris sebagai pengantar (sehingga memerlukan waktu terlebih dahulu dalam penerjemahan di otak sendiri untuk memahami, apalagi untuk memberikan tanggapan). 

 

Ada dua hal yang perlu aku berbagi sehubungan dengan apa yang aku alami selama empat hari yang lalu. Pertama,  kemampuan berbahasa Inggeris saat ini sudah merupakan suatu kebutuhan mutlak dalam pergaulan, termasuk di dalamnya adalah dunia pekerjaan. Oleh sebab itu, aku sangat bergembira ketika awal tahun ini anakku si Auli yang baru duduk di kelas satu Sekolah Dasar meminta (baca: mendesak) untuk diikutkan dalam les Bahasa Inggeris. Dan sudah menetapkan tempat kursusnya yang memang sangat dekat dari rumah tempat kami tinggal saat ini. Dan aku sangat mendukung terlebih-lebih setelah aku melihat buku pengantar pelajaran bahasa Inggeris yang mereka pakai di sekolahnya saat ini yang sangat ”advanced” (ma’af, untuk terminologi ini aku belum mendapatkan kata yang paling pas dalam kosakata bahasa Indonesia …). Aku sangat kaget melihat bahan pelajarannya yang persis dengan apa yang aku pelajari ketika duduk di Sekolah Menengah Pertama. Setelah aku amati ternyata buku pengantar yang dipakai adalah yang dipergunakan di Singapura! Kemungkinan besar pihak sekolah ketakutan bahwa mutu murid-muridnya akan kalah dengan sekolah-sekolah sekitar yang dianggap sebagai panutan sehingga ”tega” mengorbankan anak-anak yang bahkan untuk kosakata bahasa Indonesia saja pun masih belum punya koleksi yang memadai. Puji syukur kepada Tuhan di tempat kursus bahasa Inggerisnya sekarang Auli bisa menikmatinya karena diajarkan sambil bermain. Dan Sabtu lalu ketika diadakan story telling competition, kemampuan anakku masih lebih baik dari antara teman-temannya yang lain. Dan alangkah bangganya dia ketika menunjukkan piala mungilnya kepadaku pada malam hari setelah menerimanya beberapa jam sebelumnya. Oh ya, aku turut menyaksikannya ketika di panggung untuk kemudian harus pergi untuk  menghadiri acara yang lain.

 

Kedua, topik yang disampaikan pada saat pelatihan tersebut bukanlah sesuatu yang baru bagiku. Aku sudah mengikutinya – dengan nama program yang lain sebagai immersion tank, namun isinya sebagian besar adalah sama – di Bangkok pada tahun lalu. Aku melihat ini sebagai suatu pemborosan yang dilakukan oleh perusahaan. Dan sebagian besar peserta sudah mendapatkannya di Indonesia dengan nama yang berbeda. Selain pemborosan – karena harus mendatangkan fasilitator yang warga negara Australia dengan ongkos yang tidak murah – materinya juga adalah tidak semua sesuai dengan kondisi di Indonesia. Lebih menghargai bule daripada orang lokal sangat terkesan dalam hal ini. Dan ini sangat mengusik rasa kebangsaanku! Beberapa orang kawan-kawan yang punya latar belakang yang sama denganku, memiliki pandangan yang sama bahwa kami pun sanggup membawakan materi tersebut.

 

Tapi, ya sudahlah. Sebelum penutupan kami semua berkomitmen untuk mengadaptasikan materi modul tersebut ke dalam bahasa Indonesia dengan ilustrasi yang sesuai dan yang terjadi di Indonesia. Dan bukan hanya kepada kalangan internal, namun juga kepada kalangan eksternal. Termasuk di dalamnya adalah mitra usaha, yakni Distributor di seluruh Indonesia dengan tenaga penjualnya (salesman, supervisor, dan manager) yang berjumlah lebih dari 1.000 orang. Perlu diketahui, umumnya mereka sangat jarang mendapatkan pelatihan, apalagi dengan modul seperti ini yang harganya sangat mahal. Dengan pelatihan yang nanti kami akan sesuaikan dengan kondisi domestik (namun tidak mengurangi bobot pengetahuannya …), diharapkan para pekerja-garda-depan (frontliners) akan meningkat pengetahuannya sehingga meningkat pula kompetensinya dalam melakukan pekerjaannya sehari-hari. Pada saatnya, hal ini akan membantu meningkatkan harkat hidup mereka kelak.

 

Hidup pekerja! Selamat memperingati hari pekerja …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s