Andaliman-20 Khotbah 10 Mei 2009 Minggu Kantate

 

gondang-for-kantate-0405092Lagu baru bagi Tuhan oleh yang letih lesu dan berbeban berat. Juga tentang orang bijak dan orang pandai, dan orang kecil.

 

Nas Epistel: Mateus 11:25-30

Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

 

Nas Evangelium: 1 Tawarikh 16:7-12 (bahasa Batak: 1 Kronika 16:7-12)

Kemudian pada hari itu juga, maka Daud untuk pertama kali menyuruh Asaf dan saudara-saudara sepuaknya menyanyikan syukur bagi TUHAN: Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,

 

Kalimat pertama Ep pada Minggu yang diberi nama Kantate yang artinya “nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan”, yang dikutip dari Mazmur 98:1 adalah merupakan nyanyian pujian Yesus terhadap Allah Bapa. Sangat menarik ketika Yesus terkesan mempertentangkan antara orang bijak (dan pandai) dengan wong cilik. Dan Yesus lugas menunjukkan keberpihakannya kepada orang kecil dimaksud. Jangan salah paham, ini bukan berarti Yesus tidak berkenan kepada orang bijak dan pandai. Bukan itu maksudnya.

 

Istilah orang bijak dan pandai ini diarahkan kepada ahli Taurat yang memang sangat suka memosisikan dirinya sebagai orang yang berpengetahuan dan mengetahui segala sesuatunya. Bangga dengan kemampuannya dalam menguasai teologi sehingga dengan sombongnya menutup diri terhadap ajaran yang disampaikan oleh Yesus. Sebaliknya, orang kecil adalah orang-orang yang menyadari ketiadaan pengetahuan sehingga dengan rendah hati membuka diri terhadap ajaran Yesus.

 

Kemungkinan yang sama bisa juga terjadi pada siapa saja saat ini. Misalnya kebanggaan memiliki pengetahuan yang paling mutakhir, sehingga dengan mudah merendahkan firman Allah. Bisa saja misalnya dengan mengatakan bahwa Alkitab sudah tidak relevan – karena ditulis dalam suasana kehidupan ratusan tahun yang lalu – dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tantangan-tantangan dalam kehidupan saat ini.

 

Atau pada diriku. Bangga (baca: besar kepala …) dengan ijazah sekolah teologi dan menganggap diri paling menguasai sehingga menutup diri terhadap hal-hal yang baru yang disampaikan oleh orang lain. Atau pendapat orang lain yang dianggap masih ”belum tahu apa-apa”. Padahal perikop Ep ini mengingatkan supaya setiap orang bersikap rendah hati karena kepada merekalah Allah berkenan.

 

Sebagai anak Allah, Yesus telah menerima semua dari Allah. Maksudnya adalah hal-hal yang diwarisi-Nya dari Allah. Dengan kuasa tersebut, maka Yesus menawarkan anugerah keselamatan bagi orang percaya dengan melepaskan kuk hukum Taurat dan dari perhambaan dosa. Dia akan memberikan kelegaan sebagai gantinya.

 

Daud dalam Ev ini mengingatkan untuk selalu bersukacita dan memuji Tuhan. Ingatlah selalu akan kasih setia-Nya. Jangan hanya mengingat kepahitan dalam hidup, tetapi ingatlah betapa ajaibnya Tuhan dalam menyertai kehidupan kita. Bila dalam kesukaran dan berbeban berat, akan menjadi sangat ringan setiap kali aku mengingatkan diriku bahwa itu semua belum ada apa-apanya bila dibandingkan kebaikan Tuhan yang aku dapatkan berkat penyertaan-Nya. Terus terang, sikap tersebut sangat memberi kelegaan dan sangat menguatkan untuk kembali menghadapi kenyataan hidup. Datanglah pada Tuhan dan carilah selalu wajah-Nya.   

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Belakangan ini sebagian besar orang menyukai lagu-lagu lama. Ada yang mengistilahkannya dengan tembang kenangan, nostalgia, evergreen, dan lain sebagainya. Bukan hanya rekaman lagu dalam bentuk kaset dan cakram (VCD dan DVD), hampir semua stasiun televisi punya acara untuk membawa orang-orang pada suasana masa lalu. Bisnis mengenang masa lalu ini nampaknya menghasilkan uang yang tidak sedikit. Tidak ada salahnya mengenang-kembali masa lalu sepanjang hal tersebut mampu memberi semangat baru dalam menyadari kenyataan saat ini.

 

Mencegah supaya jangan terjebak pada masa lalu – misalnya selalu mengingat bahwa dulu lebih baik daripada sekarang sehingga hanya merindukan agar masa lalu bisa terulang kembali, atau sebaliknya masa lalu yang buruk dan sulit sehingga ”membalas dendam” atau bahkan menghambat dalam melakukan perubahan diri – Minggu ini mengingatkan kita semua untuk meninggalkan sikap yang tidak produktif tersebut dan menggantikannya dengan berpikir sebaliknya. Inilah saatnya meninggalkan semua keluhan dan penderitaan, menggantikannya dengan puji-pujian kepada Tuhan. Dengan lagu yang baru, yang menyenangkan hati Tuhan.

 

Pelayanan dengan pola yang sangat setia pada pakem usang dan ketinggalan zaman, sudah saatnya harus ditinggalkan. Diubah dan disesuaikan dengan perkembangan jemaat yang sebenarnya adalah dinamis. Hampir pada setiap rapat yang aku ikuti di jemaat, selalu saja ada (beberapa) orang yang melontarkan hal-hal negatif dengan menjadikan masa lalu sebagai alasan. Misalnya, masa lalu lebih baik pelayanannya daripada yang sekarang, atau: cara yang baru akan diperkenalkan kepada jemaat sudah pernah dilakukan zaman dulu dan gagal (hal ini biasanya dilontarkan sebagai upaya dalam menolak perubahan yang akan dilakukan …). Padahal sesungguhnya masa lalu hanya pantas untuk dipakai sebagai bahan pelajaran dalam merumuskan upaya yang akan dilakukan dengan cara melakukan perbaikan di sana sini agar menjadi relevan dengan situasi dan kondisi kini dan di sini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s