Ai Ise do Sipilliton?

Ise do sipilliton (300609)

Siapa yang akan kita pilih? Siapa yang akan aku pilih sebaiknya? Itulah pertanyaan dan sejenisnya yang belakangan ini menjadi semakin sering aku dengar dan diajukan kepadaku. Bingung memilih yang terbaik di antara ketiga calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) kali ini. Bukan masing-masing punya kelebihan, namun terutama karena masing-masing punya kekurangan yang membuatnya menjadi ragu untuk dipilih. Kalau bicara platform secara umum, tidak jauh berbeda. Apalagi kalau bicara tentang kesungguhan dalam mewujudkan janjinya. Bah, tidak ada seorang pun yang berani menjamin. Apalagi kalau merujuk janji-janji para pengumbar janji sebagaimana yang banyak kita alami dalam berbagai musim “pil-pil”-an ini. Ya, pilkada, pilleg, dan pilpres, maksudnya …

Apa yang dapat dijadikan tolok ukur? Bagiku, akhirnya adalah hita. Maksudnya apalagi, kalau bukan melihat dari sisi hita, yaitu ’sudah Batak (dan puji Tuhan), Kristen pula’. Mari kita lihat satu per satu.

Pasangan nomor satu, yaitu Megawati dan Prabowo Subianto (alias Mega-Pro dengan slogannya ”pro rakyat wong cilik”). Dalam referensi yang layak dipercaya, jika terpilih jadi presiden, akan ada tiga hita yang masuk dalam kebinetnya. Antara lain jadi menteri luar negeri, dan menteri pemuda dan olah raga. Oleh sebab itu, bisalah dikategorikan sebagai ”adong do ra hita”.

Pasangan nomor dua, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono (alias SBY-Boed dengan slogannya ”lanjutkan!”). Melihat Kabinet Bersama Kita Bisa-nya yang masih akan berumur tinggal beberapa bulan lgi, tidak satu pun hita yang duduk di kabinet dimaksud. Ternyata di kalangan hita, banyak yang tak sadar sehingga memerlukan penyadaran (lihat https://tanobato.wordpress.com/2008/12/11/ndang-adong-ianggo-sada-pe/). Untuk itu, jelaslah, pasangan ini bisa dikategorikan sebagai ”ndang adong ianggo sada pe hita”.

Pasangan nomor tiga, yaitu Jusuf Kalla dan Wiranto (alias JK-Win dengan slogannya ”lebih cepat lebih baik”). Tidak pernah ada ketegasan sikapnya dalam menyikapi aspirasi hita. Bahkan sepanjang yang aku tahu, tidak terlalu positif (kalau tidak tega menyebutkannya sebagai negatif …). Dengan demikian, bisalah dikategorikan sebagai ”didia do hita”.  

Masih belum mantap? Masih ada pilihan bagi kalangan tertentu, yaitu nomor nol, dengan slogannya Horas! On do sipilliton? Melihat gelagatnya, ini bisa dikategorikan sebagai ”tontu adong hita (jala olo do ra hita nama sude …)”.

Masih bingung? Pilihlah sesuai hati nurani (dohot panghuling ni mudar …).

Iklan

Rekonsiliasi, Alangkah Indahnya …

2 rekonsiliasi

Ini adalah hal yang sensitif dan menyangkut privasi. Tentang mamakku dan saudara perempuannya, yaitu adik kandungnya. Kisahnya terjadi lebih sepuluh tahun yang lalu. Seperti yang seringkali terjadi dalam keluarga, ada saja yang dapat menyebabkan terganggunya hubungan saudara sedarah. Dari banyak faktor penyebab, apalagi kalau bukan masalah harta, yakni sebidang tanah seluas satu hektar di daerah sekitar Medan. Setelah persoalan tersebut memuncak – ditandai dengan pertengkaran sengit – hubungan keduanya menjadi dingin dan beku. Mamakku tetap tinggal di Medan, sedangkan Tante hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Sukabumi sampai sekarang. Diimbuhi dengan kekerasan hati dan kurangnya sifat mema’afkan, jadilah ini pemicu untuk persoalan-persoalan berikutnya, sehingga semakin menambah perasaan sakit pada diri masing-masing. Dan menimbulkan dampak pada generasi berikutnya.

Tiga tahun yang lalu – ketika baru-baru tinggal di Jakarta – aku bersama ito-ito (saudara perempuan seibu) bertahun baru ke rumah Tulang si ampudan (adik kandung mamak yang paling bungsu) di Bekasi. Saat itu Tante datang ke Sukabumi, lalu menyampaikan kerinduannya untuk bertemu mamakku. Itulah pertama kali aku bertemu kembali dengan Tante setelah lebih sepuluh tahun. Melihat kondisi saat itu yang memrihatinkan, aku berjanji untuk menengok Tante di Sukabumi jika ada penugasan dari kantor (sampai pindah dari Kantor Wilayah saat itu, janji tersebut belum terwujud). Menindaklanjuti kerinduan untuk bertemu dengan mamakku tersebut, aku segera menghubungi keluarga seibu seayah untuk meminta pendapat dan mewujudkannya. Tak lama aku mendapat jawaban: tak satu pun yang berkenan untuk mempertemukan Tante dengan mamakku. Tanggapan semuanya adalah negatif, termasuk bapakku (almarhum) dan mamakku. Jawaban yang aku terima memang bervariasi – misalnya: “tak mau ketemu sampai mati”, “tiada ma’af baginya”, “sudah aku ma’afkan, tapi lebih baik tak ‘kulihat lagi wajahnya”, “mengingat wajahnya saja sudah memuakkan, apalagi melihatnya”, “sudahlah tak usah lagi memikirkan tentang hal itu, biar saja begitu terus …” – namun semuanya berkonotasi negatif.

Entah bagaimana, dalam salah satu perjalanan pulang dari kantor awal bulan Juni ini, pikiran untuk mempertemukan mereka muncul lagi. Rekonsiliasi, itulah yang menggodaku malam itu. Lebih kuat dari biasanya.  Semangatku turun sejenak ketika menyampaikan hal tersebut pada isteriku (mak Auli) dan itoku karena tanggapan dingin dan pesimis dari keduanya.

Esok paginya, kembali aku berusaha menggugah mamakku (yang sejak beberapa bulan lalu kembali tinggal bersama kami sampai hari ini) untuk membuka pintu hatinya agar mau bertemu dan mema’afkan. “Kalian sudah sama-sama tua, mak. ‘Nggak tahu kapan saatnya dipanggil Tuhan. Kapan lagi bisa saling mema’afkan. Sayang sekali apa yang sudah mamak lakukan seumur hidupmu dengan taat beribadah dan aktif di gereja, namun jadi berkurang nilainya karena tidak mema’afkan saudara sendiri. Nanti di akhirat akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban tentang hal tidak mema’afkan ini. Mema’afkan itu tidak cukup dengan sekadar mengucapkan, harus disertai dengan perbuatan. Orang lain mamak ma’afkan, koq adik sendiri tidak? Tante itu pun pasti sudah berubah. Sudah semakin baik hidupnya, dan tak usah takut akan menantang mamak berkelahi karena tenaganya pasti sudah sangat jauh berkurang. Yang penting mamak bertemu dan mema’afkannya, jika ternyata Tante tidak menerima, itu sudah bukan urusan mamak lagi.”, itulah semua yang aku sampaikan hingga akhirnya mamak mulai terbuka hatinya. Jum’at tanggal 19 Juni 2009 (yang juga hari ulang tahunku …) adalah hari pertemuan yang direncanakan, sekalian merayakan ulang tahun abang tertuaku yang lahir 17 Juni.  

Hari-hari selanjutnya adalah memotivasi mamak agar semakin mantap hatinya untuk bertemu dengan Tante. Kadang turun (karena mengingat perbuatan Tante yang dulu sangat menyakitkan hatinya, dan ketakutan kalau diajak berkelahi lagi seperti dulu …), sebaliknya ada saat-saat memuncak ketika mamak malah mengajak supaya aku mengajaknya menemui Tante ke Sukabumi (yang ini tentu sangat mencengangkanku mempertimbangkan kondisi kesehatannya yang sudah tidak layak untuk melakukan perjalanan jauh seperti ke tempat Tante yang aku sendiri belum dapat membayangkan kayak apa situasinya …). Selain itu, aku juga harus selalu “mengawasi” pembicaraan mamak dengan orang-orang yang dapat memengaruhinya sehingga enggan untuk bertemu dengan Tante. Yang ini juga seringkali terjadi, malah orang-orang dekat yang malah menimbulkan rasa penolakan untuk rekonsiliasi ini …

Selain mamak, keluarga (abang, kakak, ito, dan tulang, bahkan isteri …) juga perlu dipra-kondisikan. Malam hari – pulang dari kantor – aku singgahi rumah mereka untuk berbicara berhadapan secara langsung supaya aku dapat melihat reaksi dan tanggapan mereka secara lebih dekat. Puji Tuhan, penolakan sudah jauh berkurang.

Dengan Tulang si ampudan, rencana semakin kami matangkan. Berdua kami akan menjemput ke Sukabumi, yakni Kamis tanggal 18 Juni malam. Subuh menjelang pagi, kami kembali ke Jakarta bersama Tante. Tak dinyana, Kamis siang (18/06/09) Tulang menelepon mengabarkan bahwa Tante tidak bersedia datang ke Jakarta, “Tak usahlah kalian ke Sukabumi. Ada rombongan tamuku yang akan datang dari Jakarta yang sudah lama aku tunggu. Aku tak bisa meninggalkan rumah sampai tamuku itu datang”, demikian dikatakan Tulang menyampaikan apa yang barusan dipercakapkan di antara mereka. “Bagaimana, bere, kita berangkat juga ke Sukabumi malam ini?”, tanya Tulang meminta konfirmasi, yang lalu aku jawab,”Kalau Tulang masih semangat, aku tetap teruskan. Kita lihat saja bagaimana situasinya di sana.

Malam itu kami tetap berangkat ke Sukabumi, dan tiba di rumah Tante menjelang tengah malam. Sebagian orang-orang sudah pada tidur. Dan benar saja, kami hanya boleh tidur di kursi yang terletak di ruang tamu karena dua kamar tidur yang tersedia sudah “di-book” untuk rombongan tamu dari Jakarta yang menurut Tante mereka seharusnya datang hari itu untuk urusan bisnis yang menggiurkan: “Bukan sekadar M ini duitnya, amang. Tapi T.”, kata Tante di sela percakapan kami yang semula kaku lalu sedikit demi sedikit mencair karena lama tidak pernah berkomunikasi.

Malam itu – ditemani martabak keju dan kacang yang aku beli menjelang dusun tempat tinggal Tante disertai kopi Nescafe dan susu coklat Milo hangat – kami ‘ngobrol yang umumnya adalah klarifikasi berbagai peristiwa penting masa lalu yang berhubungan dengan kehidupan kekeluargaan kami saat ini. “Pulang ajalah kita sekarang, bere. Tak usah kita ‘nginap di sini …”, ucap Tulang ketika untuk kesekian kalinya gagal membujuk Tante supaya ikut ke Jakarta bersama kami sambil beranjak meninggalkan kami. Karena ‘ngobrol dengan yang lainnya (lae-ku, anak Tulang yang lainnya yang tinggal di Sukabumi bersama Tante) dan menyingkir ke sudut ruang tamu lainnya, akhirnya kami ‘ngobrol berdua (aku dan tante). Sampai dini hari jam 3, dan keputusan Tante tetap: tidak akan ikut ke Medan. “Sampaikan saja kepada Mamakmu, Tante senang kamu sudah datang dan berniat mempertemukan kami kembali. Namun saatnya bukan sekarang karena Tante masih punya urusan yang lebih penting di sini. Pasti ada saatnya kami ketemu. Apakah sebelum Mamakmu pulang ke Medan, atau bila perlu kapan-kapan Tante yang akan menjumpai Mamakmu ke Medan. Aku ini hamba Tuhan, tidak ada dendam di hatiku saat ini. Setiap pagi aku berdoa, untuk keluarga, dan juga untuk kakakku, Mamakmu …”, itulah ucapan pemutus malam itu. Lalu aku tidur setelah berdoa kepada Tuhan, ”Aku serahkan pada-Mu, Tuhan untuk kelanjutannya. Aku sudah mencoba, dan inilah situasinya saat ini. Selanjutnya aku serahkan pada-Mu.”. Sambil mengingat dan berusaha membayangkan berbagai peristiwa lama yang baru kali ini aku dengar tentang keluarga kami, tak sadar aku pun terlelap …

Subuh jam lima aku terbangun. Rada terkejut juga dan membutuhkan beberapa detik untuk segera menyadari bahwa aku sedang berada di tempat yang asing (bukan di rumah, maksudku …). Lalu aku berdoa, di antaranya menyampaikan terima kasih atas pertambahan umurku. Aku lihat Tante sudah rapi, dan aku dengar sedang bernyanyi sambil merapikan ruang tamu dengan dibantu oleh beberapa orang keluarga yang tinggal di rumah itu. Tulang masih tidur, juga temannya ‘ngobrol tadi malam masih mendengkur.

Aku bergegas ke kamar mandi melaksanakan kewajiban rutin. Karena teringat misi yang belum tuntas, timbul ideku untuk menyambungkan Tante dengan Mamakku: ’ngobrol melalui telepon. Segera aku sambungkan, setelah menerima ucapan selamat ulang tahun dari Mamakku (yang ternyata sedang berjalan kaki pagi itu di Jakarta …). Lalu, berbicaralah mereka berdua. Ada keterkejutan dan keharuan dari nada suara Mamakku di seberang sana yang aku dengar dari speaker ponselku: ”Kau ini dek? Macam mana kabarmu? Kakak sekarang kurang sehat …”, itulah kalimat pertama yang lalu berlanjut dengan kalimat-kalimat lainnya. Tatkala ada telepon masuk melalui telepon rumah, Tante memberi isyarat kepada penunggu rumahnya untuk mengangkat telepon dan meminta menelepon lagi nanti. (ini isyarat bagus yang aku lihat bahwa Tante juga menikmati komunikasi dengan Mamak pagi itu sehingga menimbulkan pengharapan bagiku …). ”Selamat ulang tahun, Amang. Menurut Mamakmu kamu berulang tahun hari ini …”, kata Tante sambil menyalamiku setelah usai bertelepon dengan Mamak.

Lalu kami sarapan yang sudah disediakan di meja makan. Nasi dan telur dadar ditemani Nescafe yang aku bawa tadi malam. Tulang belum mandi dan kelihatan wajahnya kuyu, apalagi setelah gagal berupaya pagi ini kembali membujuk Tante supaya ikut. Sarapannya tidak disentuh Tulang sama sekali. Ada beban moral pada beliau, pikirku, karena selama di Jakarta sejak ide mempertemukan Mamak dan Tante ini aku lontarkan, beliau menjamin sebagai pemegang kendali dan optimis semua bisa dikendalikan. Terdengar lantunan lagu rohani Batak-nya Nainggolan Sisters dari pemutar VCD di ruang tamu. Karena bajakan, di tengah jalan macet dan mengeluarkan suara bergesek yang mengganggu. Lalu aku mengambil VCD lagu rohani Batak-nya Franky Sihombing yang baru aku beli sebelumnya, lalu aku pasang menggantikan VCD sebelumnya (yang kemudian diminta oleh Tante yang tentu saja aku penuhi permintaannya karena memang itulah yang aku harapkan …).

Tak berapa lama, ada keriuhan yang berarti terjadi. Tante kasak-kusuk memberi komando kepada orang-orang yang selama ini tinggal di rumahnya untuk berkemas-kemas sambil mengatur letak kursi dan perabot di ruang tamu. ”Rombongan dari Jakarta sudah menuju kemari. Ayo bersiap-siap …”, ucap Tante dengan sukacita. Tiba-tiba saja timbul harapan baru bagiku. Aku mendatangi Tante dan lae-ku itu di teras yang sedang berdiri menunggu ketibaan rombongan tamu dari Jakarta. Setelah mendengarkan cerita Tante ketika aktif di gereja di HKBP Kernolong Jakarta dengan aktivitas penginjilannya yang masih berlanjut di Sukabumi (dengan semangat sambil menunjukkan sisa traktat yang pernah dibagikan kepada masyarakat non-kristiani Sukabumi), tiba-tiba ’nyeletuk lae-ku: ”Begini saja. Rombongan tamu dari Jakarta sebentar lagi ’kan datang. Bowu ’kan ’nggak perlu menemani mereka sampai seharian. Kalau sudah selesai, bowu bisa ke Jakarta. Aku yang akan menemani. Kita naik bis aja. Biarlah Uda’ (maksudnya Tulang-ku …) pulang duluan ke Jakarta sama lae pagi ini untuk persiapan acara di rumah.”  Persis seperti apa yang mau aku sampaikan! Luar biasa! Dan Tante pun menyetujui. Inilah yang namanya kasih karunia …

Kami pun pamit pulang ke Jakarta. Aku mulai bersemangat lagi, sementara Tulang tetap dengan suasana hati dan tampangnya yang kuyu. ”Nggak usah terlalu berharap, bere. Takkan datang tantemu itu ke Jakarta. Tulang sudah kenal dia sejak lama …”, kata Tulang tanpa harap. ”Kita lihat sajalah, Tulang …”, jawabku sekenanya meskipun dalam hati mulai timbul keyakinan bahwa mereka akan datang ke Jakarta. Dalam perjalanan menuju Jakarta, Tulang sudah tidak terlalu bersemangat lagi ’ngobrol. Sangat berbeda dibandingkan ketika kami menuju Sukabumi malam sebelumnya.

Siangnya kami sampai di Jakarta. Setelah mengantarkan Tulang ke Jatiwaringin, aku langsung pulang ke rumah. Karena ’ngantuk, aku langsung tertidur setelah menjawab sekadarnya pertanyaan mak Auli kenapa tidak bersama Tante dan Tulang. Membaca gelagat itu, mak Auli mengira bahwa misi telah gagal. “Apa aku bilang, tak mungkin mereka mau bertemu. Pasti ribut. Bandal juga, sih sampai mau ke Sukabumi menjemput segala”. Tak ’kuhiraukan lagi. Lebih baik tidur.

Tak lama, aku terbangun dengan perut terasa lapar. Kembali teringat dengan ”misi”, aku pun makan sekadarnya. Lalu pergi berenang sambil menunggu sore. Sekalian berusaha melupakan waktu yang terasa bergerak lambat.

Singkat cerita, petang pun tiba seiring mulai berdatangannya sanak saudara. Tak ingat lagi aku siapa yang pertama datang. Karena lapar – sementara Tulang belum datang – abang dan ito mengusulkan supaya makan, tapi coba tanyakan Tulang dulu sudah di mana sekarang. Aku segera menelepon Tulang untuk meminta ”izin” untuk makan duluan, dan kabar sukacita segera aku dapatkan: Tulang sekarang di pintu tol Bekasi Barat menunggu bis Tante dan lae-mu tiba dari Sukabumi. Makan ajalah duluan, bere. Kami menyusul aja”. Inilah sukacita berganda, yakni makan saat lapar dan kepastian Tante datang di Jakarta.

Jam setengah delapan usai makan malam. Lalu kami ’ngobrol di ruang keluarga sambil menonton teve. Penganan lainnya dikeluarkan. Ada juga Nescafe. Sesekali ada yang bertanya sudah sampai di mana Tulang dan kapan akan tiba. Satu jam kemudian, aku mengajak untuk memulai saja partangiangan sambil meminta bahan acara yang sudah dipersiapkan lae-ku yang pendeta di Jakarta. Lalu kami beranjak ke ruang tamu. Ketika khotbah disampaikan, terdengar deru taksi di jalan depan rumah. Aku segera keluar dan memastikan bahwa itulah rombongan yang aku tunggu sedari tadi. ”Benar, kan? Kalau Tante sudah janji mau datang, pasti datang. Tak usah kau ragukan, amang …”, kata Tante ketika keluar dari taksi sambil memelukku. Sambil berterima kasih, aku memberitahu Tulang dan Tante bahwa ibadah pengucapan syukur sedang berlangsung dan membawa mereka masuk ke rumah. Khotbah terhenti sejenak, ketika rombongan masuk ke rumah, dan Tante bertanya-tanya tentang keluarga yang hadir karena banyak yang sudah tidak dikenalnya lagi. Termasuk Mamak. Sempat keharuan hadir sejenak, ketika Mamak dan Tante berpelukan sambil menanyakan kabar masing-masing. Tertahan sejenak, sebab khotbah harus dilanjutkan.

Usai ibadah, dilanjutkan dengan pemotongan kue. Aku dan abangku yang sulung – yang ulang tahunnya berdekatan – mengembus lilin (ikut juga Auli …) lalu memotong dan membagikan kue. Satu untuk Mamak, satu untuk Tante, dan satunya lagi untuk Tante yang lain (adik Mamak paling bungsu). Setelah itu, Mamak dan Tante saling melepas rindu dengan iringan tangis …

Di sela-sela makan, aku bertanya pada Tulang tentang rencana penggunaan ikan mas seberat dua kilogram seekor yang khusus aku pesan untuk disiapkan oleh ito-ku. Baru aku tahu saat itu tujuannya, yaitu ketika Tulang mengajak Tante dan Mamak ke ruang makan lalu menyuapi keduanya sambil berucap: ”Salpu ma sude na salpu, da ito. Unang ingot hamu be angka na sala na hansit na binahen na uju i. Masisesaan ma hamu, jala tu dengganna ma tu ari na naeng ro on …”.  Sangat mengharukan, dan berulang kali aku mengucapkan terima kasih pada Tuhan di dalam hatiku.

Akhirnya rekonsiliasi ini dapat terjadi. Bukan karena kuat kuasaku dan kepintaranku, melainkan karena inilah yang Tuhan mau. Hari-hari yang melelahkan (terutama secara psikis …) menjadi tak ada apa-apanya ketika apa yang lama aku rindukan ini bisa terjadi. Aku selalu memohon pertolongan Tuhan sambil berseru kepadanya ”batalkan dan hambati saja rencanaku ini kalau memang itu yang Tuhan mau …” jika setiap aku merasakan ada yang mencoba menggagalkannya. Aku semakin terharu dan terhibur ketika mereka berdua bernyanyi bersama melantunkan beberapa lagu dari Buku Ende yang dulu seringkali mereka ’nyanyikan bersama ketika masih tinggal bersama di rumah Ompung kami. Tidak semuanya aku tahu yang sekaligus juga mengingatkanku betapa sedikitnya ternyata lagu yang tercantum pada Buku Ende yang sudah aku tahu. Dan lihatlah wajah Mamakku, kembali bersinar-sinar setelah selama ini sebelumnya lebih sering terlihat keruh.

Mamak ManortorBukan hanya bernyanyi, namun juga secara spontan ikut manortor yang diiringi lagu Batak dari saudara-saudara yang ber-karaoke menikmati suasana sukacita malam itu.

Inilah hadiah ulang tahun terbesar bagiku …

Andaliman-28 Khotbah 05 Juli 2009 Minggu-IV Setelah Trinitatis

Each One Reach One (290609)

Jemaat yang satu, dengan Yesus-lah modelnya.

Nas Epistel: Filipi 2:2-11

karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Nas Evangelium: 1 Korintus 12:12-27

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: “Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: “Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.

Perikop Minggu ini – baik Ep maupun Ev – mengingatkan tentang kehidupan berjemaat, baik sebagai warga jemaat, maupun sebagai gembala jemaat. Sangat tepat untuk merenungkan-kembali tentang apa yang sudah aku lakukan untuk kebaikan jemaat. Pas pula dengan tambahan catatan pada Almanak HKBP sebagai Parolopolopon HKBP Manjujung Baringinna, yaitu mengenang kemandirian HKBP (yang diilhami dari penyerahan dari dan oleh badan zending kepada HKBP untuk mengurus dirinya sendiri yang ditandai oleh pengangkatan Eforus pribumi pertama …).

HKBP mungkin punya beberapa nama besar yang pantas dijadikan teladan bagi kalangan internalnya. Tak banyak yang aku tahu selain Ingwer Ludwijk Nommensen, penginjil yang diberi gelar ”Rasul Orang Batak”. Tak bosan-bosan aku membaca biografi penginjil besar ini. Yang lainnya, tak banyak yang tahu. Karena sangat minim sosialisasi (suatu saat dulu pernah aku usulkan untuk sewaktu-waktu menjelang ibadah dibacakan ”tanggal-tanggal penting” semacam ”HKBP hari ini dalam sejarah”, misalnya dengan membacakan riwayat singkat tokoh gereja HKBP supaya setiap generasi dapat mengenangnya dan mengambil hikmah dari usahanya dalam menyebarluaskan kerajaan Allah melalui HKBP …).

Teladan mereka yang bukan sekadar jadi orang biasa, layak dijadikan teladan bagi setiap generasi. Salah satunya adalah sikap rendah hati yang mereka miliki. Untuk penyegaran kembali tentang sekilas sepak terjang para perintis kekristenan di HKBP, bolehlah klik https://tanobato.wordpress.com/2009/04/01/orang-batak-dan-puji-tuhan-kristen-pula-bacalah-buku-ini/, yaitu resensi sederhana buku Sitotas Nambur Hakristenon di Tano Batak.

Surat Rasul Paulus kepada jemaat Filipi yang menjadi Ep Minggu ini menekankan sikap rendah hati yang harus dimiliki oleh orang Kristen. Yesus adalah figur yang paling pas dijadikan contoh alias model. Lihatlah bagaimana Yesus meninggalkan kemuliaan yang tiada taranya di sorga dan mengambil kedudukan yang hina sebagai hamba, serta taat sampai mati untuk kepentingan orang lain. Ah, sangat jauh dari diriku ini yang dituntut seharusnya terpanggil untuk hidup berkorban dan tidak mementingkan diri, mempedulikan orang lain, dan berbuat baik pada mereka.

Salah satu referensi tentang perikop ini menuliskan kalimat-kalimat yang indah sebagai berikut ini: ”Yesus tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, yang berarti Ia melepaskan segala hak istimewa dan kemuliaan-Nya di sorga agar manusia di bumi ini dapat diselamatkan. Yesus juga ”mengosongkan” diri-Nya, yang bukan sekadar secara sukarela menahan diri untuk menggunakan kemampuan dan hak istimewa ilahi-Nya, melaikan juga menerima penderitaan, kesalahpahaman, perlakuan buruk, kebencian, dan kematian yang terkutuk di salib.”. Dan supaya mampu merasakan apa yang dirasakan manusia, Yesus juga mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.   

Jujur saja, tak dapat ’kubayangkan diriku pada posisi Yesus. Meninggalkan semua kemuliaan (posisi yang terpandang, penghormatan luar biasa dari khalayak, puja-puji yang membuat hidung kembang-kempis, kekayaan yang melimpah …), lalu secara sukarela bersedia menjadi kaum papa: posisi yang paling rendah dalam suatu komunitas. Tak terbayangkan! (apalagi melakukannya …).

Untuk semua pengorbanan-Nya itu, Yesus mendapat ganjaran yang layak, yaitu karunia ”nama di atas segala nama” dan kuasa yang menyebabkan semua makhluk bertekuk lutut kepada-Nya. Nama-Nya berkuasa. Itulah sebabnya setiap berdoa, tak pernah lupa kita mengucapkan ”di dalam nama Yesus …”. Aku sudah pernah merasakan betapa berkuasanya nama itu. Selain dalam setiap do’aku, pada setiap saat yang menegangkan bagiku, tak pernah aku lupa mengucapkan: ”Yesus, tolong aku. Jangan permalukan aku dengan kejadian ini …”, dan puji Tuhan, aku mampu melewati masa-masa sulit tersebut.

Menurutku, sikap kerendahhatian itu adalah modal utama bagi setiap orang Kristen. Warga jemaat dan gembala jemaat. Jadilah pelayan yang berhati hamba. Ev Minggu ini mengingatkan tentang hal tersebut dalam kehidupan berjemaat. Jemaat adalah satu. Satu baptisan di dalam roh, bukan mengacu kepada mekanisma baptis (dicelupkan ke air, dipercikkan, atau cara lainnya …), melainkan keyakinan bahwa tindakan Roh yang membaptis orang percaya ke dalam tubuh Kristus yang menyatukannya dengan orang percaya lainnya.

Satu tubuh dengan banyak anggota, artinya sebagaimana tubuh yang terdiri dari beberapa bagian (tangan, kaki, kepala, mata, …) semuanya memberikan peranan yang sesuai dengan fungsinya masing-masing untuk menopang keutuhan sebagai tubuh. Analogi yang paling sesuai. Demikianlah juga dalam jemaat. Masing-masing warga jemaat memiliki karunia masing-masing yang dapat dipakai bagi kepentingan perkembangan dan pertumbuhan jemaat. Yang punya karunia mengajar, ajarlah warga jemaat dengan pengajaran yang benar. Yang punya karunia memimpin, pimpinlah warga jemaat ke arah yang seturut kehendak Tuhan. Dan yang paling penting, jangan jadikan itu sebagai ”modal” untuk menjadi sombong sehingga menuntut untuk diperlakukan istimewa daripada orang lain.

Ketika masih ber-NHKBP dulu, ada seorang pengajar koor yang sekaligus menjadi dirijen paduan suara kami. Hampir dalam setiap kesempatan dia menuntut perlakuan istimewa. Salah satunya adalah ketika akan melakukan penjemaatan (perkunjungan ke jemaat lainnya di pagaran), pasti dia datang terlambat. Setelah kami dan yang lainnya lama menunggu di gereja (sebagai titik-kumpul untuk bersama-sama berangkat ke gereja tetangga) dan dia tidak juga kelihatan batang hidungnya sehingga kami nyaris terlambat, terpaksalah dikirim ”utusan” untuk menjemputnya ke rumahnya. Dan tanpa merasa bersalah (bahkan kadangkala dengan senyum kemenangan …), dia tiba di komplek gereja seolah-olah mengatakan: ”… makanya, jadilah orang penting …”.   

Godaan semacam itu seringkali menghinggapiku, dan termasuk suatu yang paling sulit aku lawan. Manakala menjadi ”sorotan lampu” dalam berbagai kegiatan pelayanan di jemaat, seringkali aku berteriak dalam hati mengingatkan diriku sendiri: ”Hei ingat, kau bukan siapa-siapa! Jangan sombong, rendahkan hatimu. Ini bukan untukmu karena kau tak pantas mendapatkan semua kemuliaan ini.”.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Tak ada figur yang paling pantas dijadikan model dalam kehidupan kekristenan kita selain Yesus. Semua ada pada-Nya. Dan hal-hal yang dilakukan-Nya adalah luar biasa. Bukan dalam artian berlebih-lebihan, melainkan karena sangat rendah hatinya. Semua hal luar biasa tersebut – jujur saja, sekali lagi … – tidak mudah dilakukan oleh manusia seperti kita ini. Namun, jangan lupa, tidak mudah bukan berarti tidak bisa (apalagi jika kita selalu memohon pertolongan-Nya …).

Dalam kehidupan berjemaat, kita semua masing-masing dituntut untuk berkontribusi bagi perbaikan kehidupan jemaat. Gereja takkan bisa berjalan sendiri tanpa keterlibatan warga jemaat dalam persekutuan. Sadari apa yang menjadi talenta kita, dan jangan mau ragu untuk segera melaporkan diri untuk terlibat dalam rupa-rupa pelayanan yang tersedia dalam gereja. Jadilah kontributor positif, bukan yang sebaliknya!

Sebagai pelayan di jemaat, kita dituntut untuk selalu rendah hati. Jadilah pelayan yang berhati hamba. Bersifat penolong, sukarela membantu yang kesulitan, dan tidak membedakan antara warga jemaat yang satu dengan warga jemaat lainnya. Perlakukan semua sama sesuai dengan kebutuhan pelayanan yang paling pas dilayankan.

Marhata Batak ma Hita: Alus ni SMS tu Boa-boa ni Rapot

sms

Sadari on, adong na mambahen ahu sengkel saotik. Ala marningot na naeng marrapot do Marturia ari Sinen tanggal 29 Juni 2009 di Sekretariat pukul 18.30 WIB – songon na somal huulaon molo manjou rapot nang di parpunguan di dia be i, i ma pasahathon boa-boa piga ari so tung jumpang arina i – na sogotan adong ma hutongos SMS tu sude pangurus na adong di ahu nomor ni HP-na (i ma angka na ro jala mangisi daftar hadir di tingki rapot na salpu …). Songon on ma hatana: “Boa-boa parjolo: ari Sinen, 22 Juni marrapot do hita di Sekretariat pkl 18.30. Robe ma hita. Horas!”. Adong do na sala? Adong, i ma tanggalna. Ingkon 29 Juni do. Boha do tanggapan ni angka dongan na manjalo SMS i? On do. Sian 32 nomor na hutongos boa-boa i, adong ma lima halak na mangalusi. Dua halak ma i holan pasahathon mauliate. Tolu na i na asing manungkun: atik na tanggal 29 do maksudna? Dia do na toho? Artina, holan 16% do na ro alusna. Mansai otik do, ate?

Dung i, hutongos ma muse SMS paduahon. Suman tu na parjolo, apala adong otik na hutambai. Songon on ma isina: “Boa-boa paduahon: ari Sinen, 22 Juni marrapot do hita di Sekretariat pkl 18.30. Robe ma hita pasahathon prgrm kerja. Horas!”. Holan dua do na mangalusi, i ma tarmasuk na parjolo i. Mandok: “tanggal 29 do, amang …”.

Patoluhon, hutongos ma muse songon on: “Boa-boa paduahon: ari Sinen, 29 Juni marrapot do hita di Sekretariat pkl 18.30. Robe ma hita pasahathon prgrm kerja. Horas!” On ma na toho, i ma tanggal 29 Juni 2009. Piga halak do na mangalusi? Sahat tu tingki on, holan sada do na mangalusi. I pe mandok na so boi ro ala marrapot dohot pandita di distrik … Dagga, fuang …

Dia do na boi huparsiajari sian barita ne metmet i? On ma ra na boi dohonon:

(1) Hurang las do rohanta manjaha. Molo manjaha pe, ndang pola nunut.

(2) Hurang do hita mangargai na binahen ni dongan. Molo ahu, antar sude do SMS na ro tu ahu ingkon alusanku. Pinomatna mandok mauliate di boa-boa nasida na hujalo. Sian dia do ahu marsiajar na songon? Sian dua halak. Sada ma i Direktur nami na uju i, i ma na ingkon alusanna sude SMS na ro tu ibana, nang pe sian bawahanna na dao di toru pangkatna. Paduahon ma i simatuaku. Ingkon do alusan nasida angka SMS na masuk, na umotik ingkon adong alusna: “pesan sudah diterima”.

(3) Ndang pola lomo rohanta paboahon na sala na binahen ni dongan. Adong do dengganna na songon on, alai dumengganan molo paboahon tu dongan i dia na sala jala asa dipature muse (asalma denggan dalan paboahonna …).

(4) Mangholit. Mangholit? I do. Mangholit di tingki (“ah, loja nai iba mangalusi na songon on, pasuang tingki …), manang mangholit di hepeng (“arga nuaeng pulsa, binolongkon ma muse laho mangalusi SMS on?“); hape tung mansai mura do nuaeng ongkos mar-SMS ala adong do na holan Rp 50,- par SMS; jala adong do muse na garatis! Manang adong do muse – on ma na umborat … – mangholit di holong ni roha (“rohana ma di si, i do ulaon ni bae i …”). Anggiat dao ma na songon on sian hita, ate?

Alai anggo ahu, ndang pola dia sidohononku manang na dia di bagasan rohangku. Ala huhilala on ma na otik na boi bahenonku di bagasan panghobasion di huria, ingkon rade do jaloonku manang na boha angkupna. Sai adong do tubu di pingkiranku: “Manang boha pe borat ni sitaononmu saleleng marhobas di huria i, sai na adong do muse na umborat sian i haduan. Rade ma ho …”. I ma na tutu si tutu.

Andaliman-27 Khotbah 28 Juni 2009 Minggu-III Setelah Trinitatis

Fixasi Mata

Janji-Nya tetap dan tepat! Bersiaplah setiap saat. Bumi akan lenyap, namun keselamatan ada pada-Nya. Jadikan Kristus sebagai bahtera kehidupan …

Nas Epistel: 2 Petrus 3:3-10

Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik. Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.

Nas Evangelium: Kejadian 7:10-24
Setelah tujuh hari datanglah air bah meliputi bumi. Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya. Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu, mereka itu dan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata yang merayap di bumi dan segala jenis burung, yakni segala yang berbulu bersayap; dari segala yang hidup dan bernyawa datanglah sepasang mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu. Dan yang masuk itu adalah jantan dan betina dari segala yang hidup, seperti yang diperintahkan Allah kepada Nuh; lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh. Empat puluh hari lamanya air bah itu meliputi bumi; air itu naik dan mengangkat bahtera itu, sehingga melampung tinggi dari bumi. Ketika air itu makin bertambah-tambah dan naik dengan hebatnya di atas bumi, terapung-apunglah bahtera itu di muka air. Dan air itu sangat hebatnya bertambah-tambah meliputi bumi, dan ditutupinyalah segala gunung tinggi di seluruh kolong langit, sampai lima belas hasta di atasnya bertambah-tambah air itu, sehingga gunung-gunung ditutupinya. Lalu mati binasalah segala yang hidup, yang bergerak di bumi, burung-burung, ternak dan binatang liar dan segala binatang merayap, yang berkeriapan di bumi, serta semua manusia. Matilah segala yang ada nafas hidup dalam hidungnya, segala yang ada di darat. Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang di muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang melata dan burung-burung di udara, sehingga semuanya itu dihapuskan dari atas bumi; hanya Nuh yang tinggal hidup dan semua yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu. Dan berkuasalah air itu di atas bumi seratus lima puluh hari lamanya.

Kedua perikop ini membicarakan tentang kepastian Allah akan janji-Nya: kedatangan Kristus yang kedua kalinya (Ep), dan keselamatan yang ditawarkan melalui pemusnahan bumi pada zaman purbakala (Ev). Ep menjawab keraguan pada jemaat mula-mula tentang kepastian kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Pada masa itu ada ajaran guru-guru palsu yang menyangkal kedatangan-Nya untuk menghakimi dunia ini. Karena dosa telah mencemarkan langit dan bumi, Allah bertekad untuk membinasakan langit dan bumi sama sekali dengan api. Hari ini pasti akan tiba sebagaimana halnya air bah pada zaman nabi Nuh (Ev). Campur tangan Allah untuk membersihkan bumi dengan api menunjukkan bahwa Dia tidak akan selamanya membiarkan dosa tidak terhukum.

Imajinasiku membawaku pada suasana yang terjadi saat Nuh mengikuti perintah Tuhan dalam membuat bahtera raksasa yang tentu saja dia (dan keluarganya …) mengalami ejekan dan cercaan dari masyarakat sekitarnya. Bayangkan, membuat perahu raksasa di daerah pegunungan. Gila, ‘kan? Sedangkan membuat perahu raksasa di tepi laut saja sudah menjadi pertanyaan orang yang menganggap pembuatnya “orang aneh”. Mau diisi manusia sebanyak itu? Dari mana datangnya lha wong jumlah masyarakat saja masih sangat sedikit. Apalagi untuk diisi oleh hewan berpasang-pasangan, (ma’af, sekali lagi …) gila, ‘kan? Lagian, mosok Tuhan mau memusnahkan dunia ini yang adalah ciptaan-Nya? Tak mungkin semua omong kosong itu! Tapi Nuh tetap menyelesaikan pekerjaan pembuatan “proyek sinting” itu karena patuh pada perintah Tuhan. Dan memang terbukti kemudian, merekalah (Nuh dan keluarganya serta makhluk yang turut dalam bahtera) yang diselamatkan! Yang lainnya? Musnah ditelan air bah. Ini tentu lebih dahsyat dari “sekadar” tsunami yang telah meluluhlantakkan masyarakat di Aceh dan Nias beberapa tahun yang lalu.

Dalam kehidupan kita sehari-hari acapkali terjadi hal yang mirip. “Apa? Kalian menyembah Yesus? Bagaimana mungkin manusia itu kalian katakan Tuhan? Mati pula di kayu salib, masak Tuhan mati? Ada tiga pula Tuhan kalian? Gila, apa?” Begitulah beberapa di antaranya komentar yang sering aku terima manakala mempersaksikan imanku terutama pada kalangan non-kristiani. Suatu kegilaan bagi mereka…

Iman percaya kita meminta untuk menjadikan Kristus sebagai bahtera kehidupan. Karena itulah yang menjamin keselamatan dan hanya Dia-lah, tiada yang lain … Pun dalam meyakini akan tiba saatnya hari kiamat yang menjadi saat penghakiman bagi umat manusia.

Perikop Ep Minggu ini juga mengajarkan tentang perbedaan pemahaman waktu antara manusia (yang terbatas) dengan Tuhan (yang tidak terbatas). Merujuk pada pengalaman umat kristiani, pernah beberapa ajaran (sesat = bidat) yang dengan kemampuan yang ada pada pemimpinnya, mencoba menafsirkan tanggal hari kiamat. Berbeda dengan pengalaman jemaat Kristen mula-mula pada Ep di mana para guru palsu penyesat meragukan tentang kiamat; sebaliknya para guru palsu “modern” malah datang dengan perhitungan hari kiamat. Membandingkan antara keduanya, aku menyimpulkan bahwa kelakuan para penyesat sedari zaman dahulu kala sudah berusaha untuk menyesatkan pengikut Kristus dengan ajaran yang seolah-olah alkitabiah namun ternyata isinya adalah bohong besar belaka. Isi yang sama dengan kemasan yang berbeda … Waspadalah!

Setelah beberapa sekte meramalkan hari kiamat pada beberapa tahun yang lalu – dan semuanya terbukti keliru – belakangan ini ada tren yang menjadikan tahun 2012 sebagai hari kiamat yang “baru”. Beberapa buku di kalangan Islam juga meramalkan bahwa Imam Mahdi (yang jika dilihat referensinya adalah merujuk kepada Yesus Kristus) akan datang menghakimi dunia ini pada tahun yang sama. Aku seringkali tersenyum dalam hati manakala membaca buku-buku tersebut yang dikemas dengan literatur ilmiah yang banyak untuk menguatkan argumentasi para penulisnya.

Bagiku, tak perlu 2012 sebagaimana juga tak perlu tahu kapan tiba saatnya, yang penting adalah selalu berjaga dan siap sedia kapan pun “sang pencuri” itu tiba.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Topik hari kiamat selalu menarik perhatian bagi banyak orang. Oleh sebab itu tidak mengherankan bahwa beberapa ”gereja baru” mengundang banyak orang untuk menjadi pengikutnya dengan menawarkan ajaran tentang surga dan neraka ini. Sayangnya, pengajaran yang disampaikan cenderung untuk kebaikan kelompok dimaksud yang belum tentu sesuai dengan pesan yang dimaksud oleh Alkitab. Oleh sebab itu, ujilah setiap ajaran dengan membandingkannya dengan apa yang tertulis sebagai firman Allah. O ya, ada lagi pengkhotbah masa kini yang mengaku-aku sudah bolak-balik ke surga ketemu Yesus dan ‘ngobrol-‘ngobrol (‘ngalor ‘ngidul pula, ‘kali …). Sepanjang mendalami Alkitab, tak ada orang yang aku tahu tercatat seperti itu. Hanya Yesus, itu pun tidak bolak-balik seperti sang pengkhotbah yang sangat sangat sangat “luar biasa” itu …

Sebagai warga jemaat, yang perlu dipedomani adalah bahwa tidak ada seorang pun yang tahu kapan saatnya kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Bahkan Yesus sendiri pun tidak mengetahuinya, karena Dia hanya “sekadar” menjalankan perintah Allah Bapa untuk melakukan eksekusi. Jika ada manusia yang berani-beraninya memprediksi tahun (bulan, apalagi hari dan jam!) dimaksud, dengan mudah kita menyimpulkan bahwa ajaran tersebut adalah sesat. Itu berarti dia menyamakan dirinya dengan (bahkan mengklaim melebihi …) Yesus Kristus.

Hal ini perlu ditegaskan berulang-ulang sembari mengingatkan diri sendiri dan setiap orang untuk senantiasa bersiap sedia menyambut kedatangan Kristus yang kedua kalinya tersebut. Bertobatlah seakan-akan besok adalah saatnya. Berbuatlah yang baik (dilandasi keimanan yang teguh) sambil menanti-nanti kedatangannya.