Syarat Menjadi Kaya

Samarinda Sea

Tanggal 13 Mei yang lalu aku bertugas di Samarinda. Agenda utamanya adalah membantu tim di sana untuk memilih dan memilah siapa yang layak untuk diangkat menjadi Distributor untuk wilayah Samarinda sebagai pengganti Distributor yang sebelumnya diminta untuk mengundurkan diri karena mengalami gagal-bayar (overdue) beberapa kali sebelumnya. Ada delapan perusahaan yang berminat dan mengajukan lamaran tertulis, namun tim lokal akhirnya hanya menetapkan empat yang layak untuk diundang mengikuti panel. Nah, untuk itulah aku diminta untuk hadir sebagai pendamping agar mendapatkan keputusan yang lebih solid. Semua yang diundang menghadiri panel di Hotel Grand Victory tersebut adalah dari perusahaan yang bagus-bagus. Punya modal yang kuat (terkesan dari kesediaan mereka dalam melakukan pemesanan pertama senilai empat miliar Rupiah …), dan kemampuan yang memadai untuk menjalan bisnis distribusi. Semua menyatakan kesungguhannya. Dan secara data dan pemeriksaan awal yang sudah dilakukan, semuanya punya kemampuan yang sangat memadai. Di sinilah diperlukan kejelian dalam melihat siapa yang paling pantas untuk ditunjuk sebagai Distributor. Syukur pada Tuhan, dalam berbagai kesempatan mengikuti panel seperti ini aku diberikan kemampuan untuk “melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain” (meminjam istilah yang pernah disampaikan oleh salah seorang kawan …) sehingga terbukti di kemudian hari bahwa rekomendasiku ternyata tepat meskipun pada saat itu tidak disetujui oleh panelis lain. Dalam salah satu sesi, aku mengusulkan untuk melakukan pemeriksaan gudang dari salah seorang calon Distributor. Di sela-sela observasi terhadap gudang yang sedang menjalani tahap penyelesaian akhir, aku menyempatkan melakukan dialog dengan sang calon Distributor, sebagai berikut:

Aku : Melihat betapa banyaknya Bapak punya aset, boleh tahu dari mana dan bagaimana Bapak memperoleh ini semua? Koq Bapak bisa menjadi orang yang sangat kaya? (maksudku untuk mencari tahu bagaimana sebenarnya pola bisnis yang dijalankannya)

Calon Distributor : O, Bapak juga bisa kaya seperti saya. Bahkan lebih kaya daripada saya. Menurut prngalaman saya, ada syaratnya … (dengan mimik yang sebelumnya bingung karena tak menyangka ada pertanyaan yang rada “tolol” seperti itu, mungkin …).

Aku : Syarat? Apa syaratnya, pak?

Calon Distributor : Bekerja dengan keras dan sungguh-sungguh. Bangun lebih pagi dan tidur lebih larut malam.

Aku : Maksudnya bagaimana, pak? 

Calon Distributor : Saya bangun pukul empat pagi. Dan tidur setelah jam dua belas malam …

Aku : Saya juga sudah melakukannya dulu ( sambil mengingat pengalaman beberapa tahun dan bertahun-tahun yang lalu …), tapi nyatanyat saya masih seperti ini. Tidak sekaya Bapak …

Calon Distributor : Kalau begitu, masih ada kurangnya. Yaitu nekad. Mungkin saya lebih nekad daripada Bapak. Karena tidak memiliki pendidikan yang lebih bagus daripada Bapak, saya memilih tidak menjadi pegawai. Lalu nekad menjalani hidup sebagai pengusaha yang juga menuntut kenekadan dalam banyak hal. Misalnya, saya baru tahu dalam beberapa hari ini sejak menginjakkan kaki di Samarinda bahwa ada peluang bisnis sebagai pemasok buah segar. Saya sudah tahu salurannya untuk menjalankan bisnis ini. Apakah Bapak bersedia mengambil peluang ini?

Mungkin benar juga. Beliau lebih nekad daripada aku ini. Buktinya, belum pun ditunjuk sebagai Distributor, beliau sudah nekad mengontrak gudang tersebut (tanpa lupa menunjukkan surat kontrak yang baru ditandatangani pagi harinya), dan nekad berekspansi di Samarinda sebagai perluasan usaha dari yang sudah dijalani selama ini di Tarakan. Sebaliknya yang terjadi denganku. Sudah diberikan jalan untuk bisnis buah segar tersebut pun, masih belum punya ’nyali untuk menjalankannya. Bukan apa-apa – selain faktor lainnya yang aku tidak miliki, misalnya kecukupan modal – aku juga tidak mau dianggap berkolusi dengan sang calon Distributor tersebut. Sesuatu yang sangat dilarang oleh perusahaan yang tentu saja aku sangat junjung karena sesuai dengan nilai-nilai kekristenan yang aku anut dan aku yakini kebenarannya …

Iklan

One comment on “Syarat Menjadi Kaya

  1. Sgt inspiratif. Kesuksesan luar biasa yg di dpt dr perjuangan.Di bidang yg berbeda, Hal ini sdh sy lakonin selama 10 Thn, sekalipun dr awal modal nol, tp sampai skrng hslnya (bukan bermaksud tdk mensyukuri) tdk sesuai yg di impikan.sy ingin sekali kl ada sdra/i yg berkenan membantu sy membukakan peluang d bidang lain. dgn penuh semangat, sy ingin sekali menjadi org sukses sesuai impian sy, tentunya jg bermanfaat buat org byk, demi kemuliaan nama Tuhan…..tks.GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s