Partangiangan Wejk di Rumah: Mamakku Ternyata Masih Bisa ‘Nyanyi, dan Tentang Memberi dengan Terluka …

Finger on Bible (110609)Tadi malam (10/06/09) kembali rumah kami mendapat kehormatan sebagai tempat ibadah partangiangan wejk. Yang terakhir sebelumnya dilakukan pada akhir bulan Maret yang lalu. Sebagai wejk parserahan yang anggotanya cuma terdiri dari belasan keluarga (terkecil di antara empat wejk lainnya) dengan jadual partangiangan setiap minggu, otomatis giliran memberikan tumpangan untuk partangiangan wejk akan cepat sekali tiba. Tahun lalu – karena ‘ketiadaan’ rumah tangga yang menyediakan tumpangan – seringkali partangiangan “terpaksa” dilakukan di bangunan gereja, tepatnya konsistori. Puji Tuhan, tahun 2009 ini belum pernah dilakukan di gereja. Artinya, kerinduan warga jemaat masih cukup tinggi untuk membuka pintu rumahnya lebar-lebar. 

Sejauh ini ada wacana untuk mengurangi saja frekuensi partangiangan. Misalnya membuatnya dua kali sebulan, atau malah hanya satu kali sebulan. Masih lebih banyak yang tidak setuju (termasuk aku) karena akan mengurangi interaksi warga jemaat yang berpotensi akan mengurangi kedekatan yang selama ini sudah terbina. Oleh sebab itu, wacana untuk “pemekaran wilayah” (kayak kabupaten dan provinsi saja …) yang akan diberlakukan Agustus nanti hanya diminati oleh segelintir orang. Dibandingkan dengan waktu kami bergabung dengan wejk terdahulu (sebelum pindah rumah ke tempat yang sekarang), kami sekarang sangat kompak dan persekutuan terasa lebih hidup. Suasananya selalu gembira (orang Kristen harus selalu bersukacita, ‘kan?). Dan beberapa ide segar muncul dari weijk kami ini yang kemudian diadopsi oleh wejk lain, misalnya melakukan diskusi tentang khotbah (yang selalu “hidup” sehingga baru bubar setelah jam sebelas …), dan memasukkan topik-topik tertentu sebagai pengganti khotbah dari perikop yang tercantum dalam Almanak HKBP. 

Yang terjadi pada partangiangan tadi malam di rumah kami aku rasakan lebih “meriah” daripada yang biasanya. Tak ‘kusangka, tanteku siampudan (adik mamakku yang paling bungsu) yang sudah lama tak pernah aku ketemu tiba-tiba muncul malam itu dan menjadi orang pertama yang datang ke rumah kami. Ternyata beberapa minggu ini beliau sudah bekerja di salon dekat rumah. Pekerjaan yang sejak muda dulu dilakoni meskipun pernah terhenti sejenak. Meskipun tidak direncanakan, beliau mengikuti partangiangan sampai berakhir malam itu.

Capen (calon pendeta) yang bertugas menyampaikan firman membahas tentang bidah (alias bidat alias ajaran sesat, topik yang dulu aku geluti dengan serius ketika masih kuliah di STT Jakarta sehingga aku bisa berbagi tentang apa yang aku ketahui yang berkontribusi memancing perhatian hadirin yang lain untuk terlibat dalam diskusi). Karena tidak sesuai dengan Almanak HKBP yang seharusnya tentang Ayub, aku bertanya kepada penatua dan dijawab dengan datar, ”Taganti dohot topikal, amang…”. Oh, ‘gitu. Biasanya ‘kan harus diberitahu di awal dan semua hadirin dibekali dengan bahan dasar berupa fotocopy-an. Tapi, ya sudahlah, aku toh tetap bisa berkontribusi, termasuk mengambil dan menunjukkan buku Konfesi HKBP 1996 karena berhubungan dengan topik yang sedang dibahas.

Ada yang rada mengagetkanku, yaitu ketika lagu terakhir dikumandangkan. Tidak populer (jujur saja, aku pun mungkin baru kali itu menyanyikan lagu dari Buku Ende itu …), sehingga “macet” dan “lari” dari not-nya. Pokoknya, “malu-maluin”. Entah kenapa – tidak seperti biasanya – lagu tersebut tidak sempat kami pelajari sebelum partangiangan dimulai. Ketika semakin marambalangan, eh tiba-tiba mamakku ikut menyanyikannya dengan suara yang mantap sehingga aku yakin bahwa harus seperti itulah lagu itu dinyanyikan. Menyanyi? Ya, sesuatu yang dulu sering dilakukan (saat aktif di gereja, bahkan di Punguan Ina par-ari Kamis), namun bertahun-tahun tidak pernah lagi bernyanyi karena sakit. Sempat membuatku terpana yang duduk persis di sebelah yang dari tadi bernyanyi sendirian memegang Buku Ende sambil mendekatkannya kepada beliau supaya bisa dilihat meskipun sedari tadi Mamak tidak bernyanyi. Luar biasa! Melihat semangat mamakku, selanjutnya aku pun meminta beliau untuk memimpin doa sebelum makan.

Usai makan, percakapan masih dilanjutkan dengan topik yang berhubungan dengan kegiatan jemaat. Antara lain dibicarakan tentang program menyediakan beasiswa untuk penghuni Panti Asuhan Elim dan Hephata (dan warga jemaat diminta menyumbang setiap bulan …), lalu program pembayaran cicilan pengadaan mobil gereja (meskipun tidak setuju karena menurutku bukan prioritas saat ini, aku ikut ditunjuk sebagai panitia untuk mengumpulkan uang pelunasan mobil yang sudah dipakai oleh pak pendeta selama beberapa bulan belakangan ini, dan warga jemaat juga diminta untuk menyumbang setiap bulan …), lalu – masih ada lagi – gugu toktok ripe untuk operasional wejk alias lunggu (lagi-lagi warga jemaat juga diminta untuk menyumbang setiap bulan …). Aku pun jadi menunda penyampaian hasil rapat kami Panitia Perayaan Ulang Tahun Gereja yang sudah pasti juga mengharapkan bantuan dana dari warga jemaat …

Ketika usai mengantarkan tamu terakhir meninggalkan rumah kami untuk pulang, aku mengucapkan terima kasih kepada mak Auli yang sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan dan membuat orang-orang bersukacita pada malam itu. Sebelum terlelap aku tersenyum saat sadar bahwa semua uang yang siang harinya aku ambil dari Anjungan Tunai Mandiri (= ATM) sudah tidak bersisa karena habis untuk menutupi “kewajiban” sebagai jemaat yang baik di HKBP. Minggu depan masih ada dua kegiatan lagi yang akan dilaksanakan di rumah kami yang tentunya juga membutuhkan biaya yang lumayan, sementara mak Auli sejak bulan lalu sudah mewanti-wanti untuk lebih berhemat. Inilah aplikasi ‘memberi dengan terluka’, gumamku dalam hati sambil mengingatkan diri sendiri untuk mengurangi biaya makan siangku setiap hari (dengan cara hanya membeli makanan yang benar-benar perlu dan utama …) supaya dapat dikumpulkan sedikit demi sedikit. Sesuatu yang seringkali aku lakukan setiap berniat memberikan sesuatu kepada orang lain supaya sama-sama bisa menikmati berkat dari Tuhan. Tidak banyak, memang, tapi cukuplah untuk menimbulkan sukacita. Bagiku, terlebih bagi penerimanya. Dan, Tuhan tentu saja …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s