Rekonsiliasi, Alangkah Indahnya …

2 rekonsiliasi

Ini adalah hal yang sensitif dan menyangkut privasi. Tentang mamakku dan saudara perempuannya, yaitu adik kandungnya. Kisahnya terjadi lebih sepuluh tahun yang lalu. Seperti yang seringkali terjadi dalam keluarga, ada saja yang dapat menyebabkan terganggunya hubungan saudara sedarah. Dari banyak faktor penyebab, apalagi kalau bukan masalah harta, yakni sebidang tanah seluas satu hektar di daerah sekitar Medan. Setelah persoalan tersebut memuncak – ditandai dengan pertengkaran sengit – hubungan keduanya menjadi dingin dan beku. Mamakku tetap tinggal di Medan, sedangkan Tante hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Sukabumi sampai sekarang. Diimbuhi dengan kekerasan hati dan kurangnya sifat mema’afkan, jadilah ini pemicu untuk persoalan-persoalan berikutnya, sehingga semakin menambah perasaan sakit pada diri masing-masing. Dan menimbulkan dampak pada generasi berikutnya.

Tiga tahun yang lalu – ketika baru-baru tinggal di Jakarta – aku bersama ito-ito (saudara perempuan seibu) bertahun baru ke rumah Tulang si ampudan (adik kandung mamak yang paling bungsu) di Bekasi. Saat itu Tante datang ke Sukabumi, lalu menyampaikan kerinduannya untuk bertemu mamakku. Itulah pertama kali aku bertemu kembali dengan Tante setelah lebih sepuluh tahun. Melihat kondisi saat itu yang memrihatinkan, aku berjanji untuk menengok Tante di Sukabumi jika ada penugasan dari kantor (sampai pindah dari Kantor Wilayah saat itu, janji tersebut belum terwujud). Menindaklanjuti kerinduan untuk bertemu dengan mamakku tersebut, aku segera menghubungi keluarga seibu seayah untuk meminta pendapat dan mewujudkannya. Tak lama aku mendapat jawaban: tak satu pun yang berkenan untuk mempertemukan Tante dengan mamakku. Tanggapan semuanya adalah negatif, termasuk bapakku (almarhum) dan mamakku. Jawaban yang aku terima memang bervariasi – misalnya: “tak mau ketemu sampai mati”, “tiada ma’af baginya”, “sudah aku ma’afkan, tapi lebih baik tak ‘kulihat lagi wajahnya”, “mengingat wajahnya saja sudah memuakkan, apalagi melihatnya”, “sudahlah tak usah lagi memikirkan tentang hal itu, biar saja begitu terus …” – namun semuanya berkonotasi negatif.

Entah bagaimana, dalam salah satu perjalanan pulang dari kantor awal bulan Juni ini, pikiran untuk mempertemukan mereka muncul lagi. Rekonsiliasi, itulah yang menggodaku malam itu. Lebih kuat dari biasanya.  Semangatku turun sejenak ketika menyampaikan hal tersebut pada isteriku (mak Auli) dan itoku karena tanggapan dingin dan pesimis dari keduanya.

Esok paginya, kembali aku berusaha menggugah mamakku (yang sejak beberapa bulan lalu kembali tinggal bersama kami sampai hari ini) untuk membuka pintu hatinya agar mau bertemu dan mema’afkan. “Kalian sudah sama-sama tua, mak. ‘Nggak tahu kapan saatnya dipanggil Tuhan. Kapan lagi bisa saling mema’afkan. Sayang sekali apa yang sudah mamak lakukan seumur hidupmu dengan taat beribadah dan aktif di gereja, namun jadi berkurang nilainya karena tidak mema’afkan saudara sendiri. Nanti di akhirat akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban tentang hal tidak mema’afkan ini. Mema’afkan itu tidak cukup dengan sekadar mengucapkan, harus disertai dengan perbuatan. Orang lain mamak ma’afkan, koq adik sendiri tidak? Tante itu pun pasti sudah berubah. Sudah semakin baik hidupnya, dan tak usah takut akan menantang mamak berkelahi karena tenaganya pasti sudah sangat jauh berkurang. Yang penting mamak bertemu dan mema’afkannya, jika ternyata Tante tidak menerima, itu sudah bukan urusan mamak lagi.”, itulah semua yang aku sampaikan hingga akhirnya mamak mulai terbuka hatinya. Jum’at tanggal 19 Juni 2009 (yang juga hari ulang tahunku …) adalah hari pertemuan yang direncanakan, sekalian merayakan ulang tahun abang tertuaku yang lahir 17 Juni.  

Hari-hari selanjutnya adalah memotivasi mamak agar semakin mantap hatinya untuk bertemu dengan Tante. Kadang turun (karena mengingat perbuatan Tante yang dulu sangat menyakitkan hatinya, dan ketakutan kalau diajak berkelahi lagi seperti dulu …), sebaliknya ada saat-saat memuncak ketika mamak malah mengajak supaya aku mengajaknya menemui Tante ke Sukabumi (yang ini tentu sangat mencengangkanku mempertimbangkan kondisi kesehatannya yang sudah tidak layak untuk melakukan perjalanan jauh seperti ke tempat Tante yang aku sendiri belum dapat membayangkan kayak apa situasinya …). Selain itu, aku juga harus selalu “mengawasi” pembicaraan mamak dengan orang-orang yang dapat memengaruhinya sehingga enggan untuk bertemu dengan Tante. Yang ini juga seringkali terjadi, malah orang-orang dekat yang malah menimbulkan rasa penolakan untuk rekonsiliasi ini …

Selain mamak, keluarga (abang, kakak, ito, dan tulang, bahkan isteri …) juga perlu dipra-kondisikan. Malam hari – pulang dari kantor – aku singgahi rumah mereka untuk berbicara berhadapan secara langsung supaya aku dapat melihat reaksi dan tanggapan mereka secara lebih dekat. Puji Tuhan, penolakan sudah jauh berkurang.

Dengan Tulang si ampudan, rencana semakin kami matangkan. Berdua kami akan menjemput ke Sukabumi, yakni Kamis tanggal 18 Juni malam. Subuh menjelang pagi, kami kembali ke Jakarta bersama Tante. Tak dinyana, Kamis siang (18/06/09) Tulang menelepon mengabarkan bahwa Tante tidak bersedia datang ke Jakarta, “Tak usahlah kalian ke Sukabumi. Ada rombongan tamuku yang akan datang dari Jakarta yang sudah lama aku tunggu. Aku tak bisa meninggalkan rumah sampai tamuku itu datang”, demikian dikatakan Tulang menyampaikan apa yang barusan dipercakapkan di antara mereka. “Bagaimana, bere, kita berangkat juga ke Sukabumi malam ini?”, tanya Tulang meminta konfirmasi, yang lalu aku jawab,”Kalau Tulang masih semangat, aku tetap teruskan. Kita lihat saja bagaimana situasinya di sana.

Malam itu kami tetap berangkat ke Sukabumi, dan tiba di rumah Tante menjelang tengah malam. Sebagian orang-orang sudah pada tidur. Dan benar saja, kami hanya boleh tidur di kursi yang terletak di ruang tamu karena dua kamar tidur yang tersedia sudah “di-book” untuk rombongan tamu dari Jakarta yang menurut Tante mereka seharusnya datang hari itu untuk urusan bisnis yang menggiurkan: “Bukan sekadar M ini duitnya, amang. Tapi T.”, kata Tante di sela percakapan kami yang semula kaku lalu sedikit demi sedikit mencair karena lama tidak pernah berkomunikasi.

Malam itu – ditemani martabak keju dan kacang yang aku beli menjelang dusun tempat tinggal Tante disertai kopi Nescafe dan susu coklat Milo hangat – kami ‘ngobrol yang umumnya adalah klarifikasi berbagai peristiwa penting masa lalu yang berhubungan dengan kehidupan kekeluargaan kami saat ini. “Pulang ajalah kita sekarang, bere. Tak usah kita ‘nginap di sini …”, ucap Tulang ketika untuk kesekian kalinya gagal membujuk Tante supaya ikut ke Jakarta bersama kami sambil beranjak meninggalkan kami. Karena ‘ngobrol dengan yang lainnya (lae-ku, anak Tulang yang lainnya yang tinggal di Sukabumi bersama Tante) dan menyingkir ke sudut ruang tamu lainnya, akhirnya kami ‘ngobrol berdua (aku dan tante). Sampai dini hari jam 3, dan keputusan Tante tetap: tidak akan ikut ke Medan. “Sampaikan saja kepada Mamakmu, Tante senang kamu sudah datang dan berniat mempertemukan kami kembali. Namun saatnya bukan sekarang karena Tante masih punya urusan yang lebih penting di sini. Pasti ada saatnya kami ketemu. Apakah sebelum Mamakmu pulang ke Medan, atau bila perlu kapan-kapan Tante yang akan menjumpai Mamakmu ke Medan. Aku ini hamba Tuhan, tidak ada dendam di hatiku saat ini. Setiap pagi aku berdoa, untuk keluarga, dan juga untuk kakakku, Mamakmu …”, itulah ucapan pemutus malam itu. Lalu aku tidur setelah berdoa kepada Tuhan, ”Aku serahkan pada-Mu, Tuhan untuk kelanjutannya. Aku sudah mencoba, dan inilah situasinya saat ini. Selanjutnya aku serahkan pada-Mu.”. Sambil mengingat dan berusaha membayangkan berbagai peristiwa lama yang baru kali ini aku dengar tentang keluarga kami, tak sadar aku pun terlelap …

Subuh jam lima aku terbangun. Rada terkejut juga dan membutuhkan beberapa detik untuk segera menyadari bahwa aku sedang berada di tempat yang asing (bukan di rumah, maksudku …). Lalu aku berdoa, di antaranya menyampaikan terima kasih atas pertambahan umurku. Aku lihat Tante sudah rapi, dan aku dengar sedang bernyanyi sambil merapikan ruang tamu dengan dibantu oleh beberapa orang keluarga yang tinggal di rumah itu. Tulang masih tidur, juga temannya ‘ngobrol tadi malam masih mendengkur.

Aku bergegas ke kamar mandi melaksanakan kewajiban rutin. Karena teringat misi yang belum tuntas, timbul ideku untuk menyambungkan Tante dengan Mamakku: ’ngobrol melalui telepon. Segera aku sambungkan, setelah menerima ucapan selamat ulang tahun dari Mamakku (yang ternyata sedang berjalan kaki pagi itu di Jakarta …). Lalu, berbicaralah mereka berdua. Ada keterkejutan dan keharuan dari nada suara Mamakku di seberang sana yang aku dengar dari speaker ponselku: ”Kau ini dek? Macam mana kabarmu? Kakak sekarang kurang sehat …”, itulah kalimat pertama yang lalu berlanjut dengan kalimat-kalimat lainnya. Tatkala ada telepon masuk melalui telepon rumah, Tante memberi isyarat kepada penunggu rumahnya untuk mengangkat telepon dan meminta menelepon lagi nanti. (ini isyarat bagus yang aku lihat bahwa Tante juga menikmati komunikasi dengan Mamak pagi itu sehingga menimbulkan pengharapan bagiku …). ”Selamat ulang tahun, Amang. Menurut Mamakmu kamu berulang tahun hari ini …”, kata Tante sambil menyalamiku setelah usai bertelepon dengan Mamak.

Lalu kami sarapan yang sudah disediakan di meja makan. Nasi dan telur dadar ditemani Nescafe yang aku bawa tadi malam. Tulang belum mandi dan kelihatan wajahnya kuyu, apalagi setelah gagal berupaya pagi ini kembali membujuk Tante supaya ikut. Sarapannya tidak disentuh Tulang sama sekali. Ada beban moral pada beliau, pikirku, karena selama di Jakarta sejak ide mempertemukan Mamak dan Tante ini aku lontarkan, beliau menjamin sebagai pemegang kendali dan optimis semua bisa dikendalikan. Terdengar lantunan lagu rohani Batak-nya Nainggolan Sisters dari pemutar VCD di ruang tamu. Karena bajakan, di tengah jalan macet dan mengeluarkan suara bergesek yang mengganggu. Lalu aku mengambil VCD lagu rohani Batak-nya Franky Sihombing yang baru aku beli sebelumnya, lalu aku pasang menggantikan VCD sebelumnya (yang kemudian diminta oleh Tante yang tentu saja aku penuhi permintaannya karena memang itulah yang aku harapkan …).

Tak berapa lama, ada keriuhan yang berarti terjadi. Tante kasak-kusuk memberi komando kepada orang-orang yang selama ini tinggal di rumahnya untuk berkemas-kemas sambil mengatur letak kursi dan perabot di ruang tamu. ”Rombongan dari Jakarta sudah menuju kemari. Ayo bersiap-siap …”, ucap Tante dengan sukacita. Tiba-tiba saja timbul harapan baru bagiku. Aku mendatangi Tante dan lae-ku itu di teras yang sedang berdiri menunggu ketibaan rombongan tamu dari Jakarta. Setelah mendengarkan cerita Tante ketika aktif di gereja di HKBP Kernolong Jakarta dengan aktivitas penginjilannya yang masih berlanjut di Sukabumi (dengan semangat sambil menunjukkan sisa traktat yang pernah dibagikan kepada masyarakat non-kristiani Sukabumi), tiba-tiba ’nyeletuk lae-ku: ”Begini saja. Rombongan tamu dari Jakarta sebentar lagi ’kan datang. Bowu ’kan ’nggak perlu menemani mereka sampai seharian. Kalau sudah selesai, bowu bisa ke Jakarta. Aku yang akan menemani. Kita naik bis aja. Biarlah Uda’ (maksudnya Tulang-ku …) pulang duluan ke Jakarta sama lae pagi ini untuk persiapan acara di rumah.”  Persis seperti apa yang mau aku sampaikan! Luar biasa! Dan Tante pun menyetujui. Inilah yang namanya kasih karunia …

Kami pun pamit pulang ke Jakarta. Aku mulai bersemangat lagi, sementara Tulang tetap dengan suasana hati dan tampangnya yang kuyu. ”Nggak usah terlalu berharap, bere. Takkan datang tantemu itu ke Jakarta. Tulang sudah kenal dia sejak lama …”, kata Tulang tanpa harap. ”Kita lihat sajalah, Tulang …”, jawabku sekenanya meskipun dalam hati mulai timbul keyakinan bahwa mereka akan datang ke Jakarta. Dalam perjalanan menuju Jakarta, Tulang sudah tidak terlalu bersemangat lagi ’ngobrol. Sangat berbeda dibandingkan ketika kami menuju Sukabumi malam sebelumnya.

Siangnya kami sampai di Jakarta. Setelah mengantarkan Tulang ke Jatiwaringin, aku langsung pulang ke rumah. Karena ’ngantuk, aku langsung tertidur setelah menjawab sekadarnya pertanyaan mak Auli kenapa tidak bersama Tante dan Tulang. Membaca gelagat itu, mak Auli mengira bahwa misi telah gagal. “Apa aku bilang, tak mungkin mereka mau bertemu. Pasti ribut. Bandal juga, sih sampai mau ke Sukabumi menjemput segala”. Tak ’kuhiraukan lagi. Lebih baik tidur.

Tak lama, aku terbangun dengan perut terasa lapar. Kembali teringat dengan ”misi”, aku pun makan sekadarnya. Lalu pergi berenang sambil menunggu sore. Sekalian berusaha melupakan waktu yang terasa bergerak lambat.

Singkat cerita, petang pun tiba seiring mulai berdatangannya sanak saudara. Tak ingat lagi aku siapa yang pertama datang. Karena lapar – sementara Tulang belum datang – abang dan ito mengusulkan supaya makan, tapi coba tanyakan Tulang dulu sudah di mana sekarang. Aku segera menelepon Tulang untuk meminta ”izin” untuk makan duluan, dan kabar sukacita segera aku dapatkan: Tulang sekarang di pintu tol Bekasi Barat menunggu bis Tante dan lae-mu tiba dari Sukabumi. Makan ajalah duluan, bere. Kami menyusul aja”. Inilah sukacita berganda, yakni makan saat lapar dan kepastian Tante datang di Jakarta.

Jam setengah delapan usai makan malam. Lalu kami ’ngobrol di ruang keluarga sambil menonton teve. Penganan lainnya dikeluarkan. Ada juga Nescafe. Sesekali ada yang bertanya sudah sampai di mana Tulang dan kapan akan tiba. Satu jam kemudian, aku mengajak untuk memulai saja partangiangan sambil meminta bahan acara yang sudah dipersiapkan lae-ku yang pendeta di Jakarta. Lalu kami beranjak ke ruang tamu. Ketika khotbah disampaikan, terdengar deru taksi di jalan depan rumah. Aku segera keluar dan memastikan bahwa itulah rombongan yang aku tunggu sedari tadi. ”Benar, kan? Kalau Tante sudah janji mau datang, pasti datang. Tak usah kau ragukan, amang …”, kata Tante ketika keluar dari taksi sambil memelukku. Sambil berterima kasih, aku memberitahu Tulang dan Tante bahwa ibadah pengucapan syukur sedang berlangsung dan membawa mereka masuk ke rumah. Khotbah terhenti sejenak, ketika rombongan masuk ke rumah, dan Tante bertanya-tanya tentang keluarga yang hadir karena banyak yang sudah tidak dikenalnya lagi. Termasuk Mamak. Sempat keharuan hadir sejenak, ketika Mamak dan Tante berpelukan sambil menanyakan kabar masing-masing. Tertahan sejenak, sebab khotbah harus dilanjutkan.

Usai ibadah, dilanjutkan dengan pemotongan kue. Aku dan abangku yang sulung – yang ulang tahunnya berdekatan – mengembus lilin (ikut juga Auli …) lalu memotong dan membagikan kue. Satu untuk Mamak, satu untuk Tante, dan satunya lagi untuk Tante yang lain (adik Mamak paling bungsu). Setelah itu, Mamak dan Tante saling melepas rindu dengan iringan tangis …

Di sela-sela makan, aku bertanya pada Tulang tentang rencana penggunaan ikan mas seberat dua kilogram seekor yang khusus aku pesan untuk disiapkan oleh ito-ku. Baru aku tahu saat itu tujuannya, yaitu ketika Tulang mengajak Tante dan Mamak ke ruang makan lalu menyuapi keduanya sambil berucap: ”Salpu ma sude na salpu, da ito. Unang ingot hamu be angka na sala na hansit na binahen na uju i. Masisesaan ma hamu, jala tu dengganna ma tu ari na naeng ro on …”.  Sangat mengharukan, dan berulang kali aku mengucapkan terima kasih pada Tuhan di dalam hatiku.

Akhirnya rekonsiliasi ini dapat terjadi. Bukan karena kuat kuasaku dan kepintaranku, melainkan karena inilah yang Tuhan mau. Hari-hari yang melelahkan (terutama secara psikis …) menjadi tak ada apa-apanya ketika apa yang lama aku rindukan ini bisa terjadi. Aku selalu memohon pertolongan Tuhan sambil berseru kepadanya ”batalkan dan hambati saja rencanaku ini kalau memang itu yang Tuhan mau …” jika setiap aku merasakan ada yang mencoba menggagalkannya. Aku semakin terharu dan terhibur ketika mereka berdua bernyanyi bersama melantunkan beberapa lagu dari Buku Ende yang dulu seringkali mereka ’nyanyikan bersama ketika masih tinggal bersama di rumah Ompung kami. Tidak semuanya aku tahu yang sekaligus juga mengingatkanku betapa sedikitnya ternyata lagu yang tercantum pada Buku Ende yang sudah aku tahu. Dan lihatlah wajah Mamakku, kembali bersinar-sinar setelah selama ini sebelumnya lebih sering terlihat keruh.

Mamak ManortorBukan hanya bernyanyi, namun juga secara spontan ikut manortor yang diiringi lagu Batak dari saudara-saudara yang ber-karaoke menikmati suasana sukacita malam itu.

Inilah hadiah ulang tahun terbesar bagiku …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s