Catatan Perjalanan dari Nanggroe Aceh Darussalam

Aceh Map

Selama hampir seminggu (13-17 Juli 2009) aku melakukan perjalanan (dinas) ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), tepatnya ke Langsa, Lhokseumawe, dan Bireun. Kota-kota ini termasuk wilayah penugasanku saat dulu ditempatkan di NAD yang menjadi bagian dari kabupaten-kabupaten Aceh Timur (yang sekarang “dimekarkan” dengan Aceh Tamiang sebagai kabupaten baru …), Aceh Utara (yang sekarang “dimekarkan” dengan Kotamadya Lhokseumawe dan Bireun sebagai daerah tingkat dua yang baru …), Aceh Tengah (yang sekarang “dimekarkan” dengan Bandar Meuriah sebagai kabupaten baru …), dan Aceh Pidie. Semuanya itu termasuk daerah bergolak ketika konflik keamanan terjadi di Daerah Istimewa Aceh (ini nama yang lama dari NAD sebelum diganti oleh Gus Dur…).

Dulu, kami – aku dan mak Auli, isteriku karena Auli belum lahir … – tinggal di Lhokseumawe. Pada awalnya aku tinggal sendirian di rumah kontrakan di daerah Cunda (persisnya Lorong Kuta Kareueng 167, kalau tak salah …) karena mak Auli masih bekerja di bank di Medan. Hampir setahun kemudian barulah menyusul setelah mengundurkan diri dari tempat bekerjanya.  Rumah yang sangat sederhana, tinggal di “pelosok” dan benar-benar di pertengahan kampung. Saat itu kontraknya belum habis, jadi aku “terpaksa” menghabiskan sisa periode kawan yang aku gantikan posisinya saat itu. Ada sedikit “keanehan”, kawanku yang aku gantikan itu bahkan lupa ketika dalam kunjungan ini kami sama-sama melewati daerah itu, seakan-akan dia tidak pernah tinggal di situ meskipun faktanya dia lebih lama tinggal (bertahun-tahun di rumah itu …) daripada kami.  

Medan: Jadual yang Kacau

Rencana semula, aku dari bandara Polonia Medan dijemput oleh kawan-kawan untuk bersama-sama satu mobil ke Langsa, lalu berlanjut dan menginap di Lhokseumawe. Ternyata ada perubahan. Dan ketika sudah di bandara baru aku tahu setelah aku sadar bahwa tidak seorang pun yang aku kenal di bandara itu sebagai kawan sekantor. Ternyata aku diminta singgah ke kantor Medan untuk bersama-sama dengan Kepala Wilayah Sumatera (yang dulu aku gantikan di Lhokseumawe …), sedangkan yang lainnya (Kepala Regional dan Kepala Area) sudah berangkat duluan dan menunggu di Langsa. Ya sudah, sekalian aku bisa ketemu dengan kawan-kawan lainnya di kantor Medan, lalu aku naik taksi bandara dengan tarif Rp 50.000,- ke daerah Glugur.

Sampai kantor, ternyata beliau (boss Wilayah Sumatera) masih asyik bekerja dan memintaku untuk menunggu, “Atau mau singgah ke rumah keluarga dulu, pak?”, tanya beliau menawarkan sambil memohon ma’af karena masih punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum berangkat ke NAD. Tawaran yang menggiurkan memang, namun jiwa profesionalismeku otomatis menyadarkanku untuk menolak dengan sopan. “Entar aja pak, kalau sudah kembali dari Aceh. Aku ‘kan libur Sabtu dan pulang ke Jakarta hari Minggu siang usai kebaktian Minggu di gereja. Cukuplah itu untuk bertemu dengan keluarga.” Agak heran juga aku dengan sikap beliau. Selain melenceng dari jadual, juga menawarkan sesuatu yang bukan urusan kantor di saat jam kerja …

Jam satu siang barulah ada tanda-tanda meninggalkan kantor. Eh, ternyata beliau masih harus ke kantor Palang Merah Indonesia (PMI) untuk donor darah. Seakan tidak ada hari lain (atau mau ”unjuk gigi”, entahlah …). Setelah itu masih ada lagi: pulang ke rumah beliau untuk mengambil pakaian (sesuatu yang tidak pernah aku lakukan karena selalu menyiapkan segala sesuatunya satu hari sebelum melakukan perjalanan …) dan permisi pada isteri tercinta. Alhasil, kami baru makan siang di Padang Bulan hampir jam dua siang. Masakan arsik yang sebenarnya nikmat menjadi berkurang rasanya bagiku dengan perlakuan ini … Setelah makan siang, masih mengisi bensin di SPBU. Saat itulah aku ditelepon kawan yang menunggu untuk makan siang bersama di Langsa, yang tak percaya bahwa kami masih di seputaran kota Medan … Hal ini semua mengingatkanku pada lebih sepuluh tahun yang lalu ketika aku pertama kali tiba di Lhokseumawe untuk serah-terima penugasan. Hari Minggu itu, sesuai kesepakatan, kami seharusnya bertemu di penginapan (Hotel Dewi, yang sudah tidak ada lagi saat ini…), namun yang ada  ternyata salesman (anak buahnya yang kemudian menjadi anggota timku selama di Aceh) yang dipesankan untuk mengantarkanku ”menghadap” ke rumah beliau.  Sampai di rumah, ada pesan tambahan: beliau sedang pergi memancing di tepi laut. Dan hampir mirip bertemu dengan pejabat tinggi, aku diantar ke tempat memancing dan bertemu dengannya yang didampingi seorang ”ajudan” yang berhobi sama (sehari-harinya adalah supir di kantor, yang lebih setahun kemudian terpaksa aku berhentikan karena melakukan pelanggaran berat …).

”Perjalanan ini sekaligus kita bernostalgia, pak. Kita berdua ’kan pernah bertugas di Aceh ini …”, kata beliau sambil sigap mengendarai Kijang Fortuner yang baru beberapa bulan menjadi kendaraan dinasnya. Mempertimbangkan kondisi fisik beliau (yang baru pulang tugas dari luar Medan dan juga baru menjalani donor darah …) dan juga pangkatnya yang lebih tinggi, aku menawarkan diri untuk mengemudi, namun ditolak oleh beliau, ”Tak usahlah, pak. Kendaraan ini automatic, apakah di Jakarta Anda juga mengendarai mobil automatic? Sudah berapa lama?”, yang segera menyadarkanku sebagai Defensive Driving Coordinator harus menjalankan prinsip-prinsip mengemudi yang salah satunya adalah harus familiar dengan kendaraan yang akan dikemudikan. Akhirnya, selama dalam perjalanan di NAD dengan mobil beliau, aku selalu disupiri sehingga pada suatu kesempatan aku ’nyeletuk, ”Wah jadi ’nggak enak, nih perasaan. Ke mana-mana disupiri oleh Vice President …”.  

Lhokseumawe: Warung Kopi, Hotel, Kantor, dan Rumah

Karena sudah sangat terlambat dari jadual, kami hanya singgah sebentar di Langsa, ibukota Kabupaten Aceh Timur sore itu. Tidak di kantor, melainkan di komplek Masjid Raya Langsa, bertemu dengan kawan-kawan rombongan pertama yang dari Medan untuk sama-sama melanjutkan perjalanan ke Lhokseumawe.

Hampir jam sepuluh malam kami tiba di Lhokseumawe. Kota yang penuh kenangan bagiku dan memberikan banyak pelajaran. Bukan hanya profesionalisme, tetapi juga kehidupan keluarga dan keimanan. Sebelum ke hotel, kami makan malam di warung kopi di depan kantor bupati. Gugusan warung kopi (yang juga menjual beraneka makanan ringan dan berat …) yang dikenal dengan rek yang sampai sekarang aku tidak tahu etimologisnya. Ada yang mengatakan berasal dari kata “just break“, karena di tempat itu asal muasalnya banyak sekali masyarakat berkumpul bersantai menikmati suasana kota, terutama malam hari selepas maghrib. Mungkin termasuk di dalamnya adalah orang asing yang relatif banyak sebagai pendatang yang bekerja pada proyek-proyek asing industri minyak dan gas.

Lebih sepuluh tahun yang lalu – pada awal mula tinggal di Lhokseumawe – aku banyak menghabiskan waktu di rek itu. Jarang sendirian, biasanya bersama kawan-kawan, keluarga yang datang dari luar kota, maupun tamu-tamu kantor yang bersikap hidup sederhana. Tidak banyak beda dengan saat terakhir aku tinggalkan kota ini. Setelah perjanjian Helsinki, nuansa islaminya semakin terasa. Hampir semua nama jalan dan nama instansi ditambahkan dengan tulisan Arab, dan di tempat-tempat umum ada peringatan bagi muslimah untuk memakai jilbab dan larangan berpakaian ketat. Kotanya sendiri semakin semrawut. Toko buku ”Arun Post” yang dulunya langgananku (karena satu-satunya yang memadai …) sudah tidak ada.

Sesuai rekomendasi staf lapangan setempat, malam itu kami menginap di Hotel Lido Graha. Dari sisi perhotelan, ternyata tidak berubah. Dulunya pun hotel ini yang aku rekomendasikan untuk tamu kantor yang datang ke Lhokseumawe, karena yang lainnya masih ”kelas melati”. Belum pernah aku menginap di hotel ini. Melihat lorong-lorongnya, pikiranku terbawa kembali pada suatu masa ketika dimarahi oleh salah seorang pemimpin perusahaan yang datang dari Jakarta melakukan kunjungan kerja. Di kamar itu kami bertiga: aku, boss dari Jakarta (yang memang terkenal dengan sifat arogannya), dan atasan langsungku yang berkantor di Medan (yang juga terkenal sebagai orang yang arogan …). Beliau kecewa dengan cara penangananku terhadap bisnis di Lhokseumawe yang sebenarnya menurutku bukanlah alasan profesional, karena pada malam sebelumnya – saat berkunjung ke warung-warung kopi (melihat keberadaan produk-produk kami yang dijual di warkop tersebut), beliau terperanjat ketakutan ketika membuka pintu mobil yang hampir membentur seorang pengemudi sepeda motor yang baru saja memarkir kendaraannya di samping mobilku yang juga baru berhenti dengan sempurna. ”Anda mau membunuh saya ya!”, kata beliau dengan berang padaku yang tentu saja menjadi terkejut. Terkejut oleh dua hal: tidak menyangka ada orang yang mau memarkirkan sepeda motornya di space yang sudah sangat sempit dan gelap itu, dan reaksi berlebihan dari pemimpin senior perusahaanku tempat bekerja itu. Nah, suasana hati seperti itulah yang sangat kental memengaruhi penilaian beliau terhadap pekerjaanku. Memang, ada saja yang masih kurang yang aku kerjakan, namun menjadi semakin diperparah oleh suasana hati big boss tadi. Hal-hal yang bagus menjadi tidak kelihatan oleh karenanya … Aku jadi tersenyum getir bila mengenang peristiwa itu, apalagi mengingat manakala atasanku langsung berujar: ”Pak, mohon pertimbangkan juga orang kita ini. Dengan latar belakangnya yang Batak dan non muslim, pastilah berpengaruh pada efektivitasnya bekerja di daerah yang sangat fanatik ini.”, yang langsung kelihatan perubahan di wajah boss besar yang nota bene adalah non muslim juga.

Bangunan hotel yang sudah tua dan tidak mengalami renovasi memang sangat kelihatan. Kamar tempatku menginap dengan kondisi peralatan dan perlengkapannya yang beberapa sudah tidak berfungsi dengan baik, menunjukkan betapa itu semua hanyalah sisa-sisa ”kejayaan” bertahun-tahun yang lalu, ketika hotel ini sangat bergengsi bagiku.  O ya, di kamar tidak tersedia air panas kecuali diminta kepada petugas hotel yang akan membawakannya dalam termos kecil. Jangan tanya lagi tentang mandi air panas …. Sarapan paginya juga sangat sederhana dengan menu ala kadarnya yang dilayani petugas perempuan berjilbab yang tidak komunikatif.

Pagi harinya (14/07/09) kami ke Bireuen yang memerlukan satu jam lebih dengan mengendarai mobil supervisor tenaga lapangan kami bersama supervisor Distributor. Kota ini baru dinaikkan derajatnya menjadi kota administratif sekaligus ”disapih” dari Kabupaten Aceh Timur, dan sangat kelihatan kemajuan yang berarti secara fisik. Dalam perjalanan, kami melewati beberapa kota-kota kecil yang juga menyimpan kenangan bagiku. Salah satunya adalah Matang Glumpang Dua, tempat yang terkenal dengan kekhasan dan kelezatan satenya. Pada suatu kesempatan pada masa lalu ketika rombongan kami dari gereja HKBP Lhokseumawe pulang dari kunjungan ke jemaat HKBP Takengon, aku menyinggahkan mobilku ke salah satu warung sate di tempat itu untuk makan malam. Saat akan mulai makan, amang pandita Simbolon memanjatkan doa: ”Tuhan, berkati makanan ini. Dalam nama Yesus. Amin.”. Salah satu doa terpendek yang pernah aku ikuti seumur hidupku. Dalam perjalanan pulang menuju Lhokseumawe, aku mendapat jawaban: ”Kita ’kan harus bijaksana. Termasuk berdoa di lingkungan orang-orang muslin …”.        

Setelah makan siang – dan aku memilih sayur kuah plik u, makanan khas Aceh berupa sayuran yang diolah dengan menggunakan kelapa yang ”dibusukkan” – sore harinya kami kembali ke Lhokseumawe. Sebelum ke Distributor, kami istirahat sambil berdiskusi di salah satu warung (disebut ”rangkang”) di pantai Ujong Blang. Tempat rekreasi yang paling populer saat aku masih berdiam di Lhokseumawe dulu. Saat lajang, untuk bertemu dengan orang Batak pada hari Minggu (selain di gereja, tentunya), datanglah ke pantai ini dan berjalan kakilah menelusuri pantai, pasti bertemu dengan orang Batak (dan mudah-mudahan sesuai dengan orang Batak yang kita cari …). Karena ibadah Minggu dilakukan jam sepuluh, seringkali kami sekeluarga menyempatkan berekreasi di pantai ini dengan berjalan pagi. Sebelum pulang, kami akan sarapan penganan pulut bakar (yang langsung dibakar di hadapan kita dengan sabut kelapa sebagai pengganti arangnya) dan minum teh hangat. Pasca tsunami, pantai yang dulu indah dengan pasir dan ombaknya, berubah drastis. Jalanan yang dulu aspal sudah terbelah dan sangat memrihantinkan, pinggir pantai sudah dibentengi dengan batu-batu besar, dan warung-warung dalam kondisi memrihantinkan.

Oh ya, dalam perjalanan ke Ujong Blang, aku minta izin sejenak untuk singgah ke rumah tempat kami tinggal dulu yang terletak di Lorong Melur nomor 1A. Bersama supervisor lapangan, aku minta izin untuk memotret rumah yang juga penuh kenangan itu. Tak dinyana, yang menempati rumah itu saat ini tidak memberikan izin dengan alasan takut kalau-kalau fotonya disalahgunakan. Semula aku merasa aneh, tapi mengingat bahwa seringkali aku menekankan pengajaran kepada anakku Auli untuk jangan suka ”memaksakan kehendak kepada orang lain”, niat untuk bersikeras mengambil foto rumah tersebut terpaksa aku urungkan.  

Di kantor Distributor – tempat dulu aku ’ngantor bertahun-tahun – terdapat sedikit perubahan, namun suasana kesederhanaannya masih terasa. Filing cabinet yang dulu aku pakai ternyata masih dipakai, hanya kondisinya sudah usang dengan beberapa kuncinya sudah tidak bisa dipakai. Begitu juga meja mesin faksimili. Jendela yang dulu aku pasangi ulos untuk dekorasi ruangan sekaligus untuk menahan pantulan sinar matahari masuk ke ruangan, sekarang sudah tertutup dengan debu yang menebal pada kaca nakonya. Orang-orang yang dulu banyak membantuku dalam bekerja sebagian besar masih ada bekerja di sana. Beberapa dengan jenis pekerjaan yang berubah, sebagian lainnya (termasuk pemilik dan anggota keluarganya, tentunya …) masih tetap. Salah seorang di antaranya adalah kawanku dulu sama-sama anggota NHKBP Lhokseumawe. Aku menanyakan kabar kawan-kawan orang Batak lainnya. Menurutnya, sekarang orang-orang Batak yang masih tersisa (karena sebagian besar sudah pindah meninggalkan Lhokseumawe pasca konflik keamanan) berkumpul di ”komplek Pardede” (menurut ceritanya, komplek ini dulunya adalah tempat pengolahan pembekuan udang milik almarhum TD Pardede). Sayangnya – karena keterbatasan waktu (pekerjaan baru usai setelah jam sepuluh malam …) – aku tidak sempat singgah ke tempat ini untuk bertemu dengan kawan-kawan lama sesama orang Batak. Juga ke gereja HKBP Lhokseumawe.  Sayang sekali …

Langsa: Kota Kedua, Sup Sumsum, dan Berita Teror Bom

Besok malamnya (15/07/09) kami bertolak dan tiba di Langsa. Makan malam di restoran masakan laut di pinggir jalan raya Medan – Banda Aceh yang lezat, lalu kami ’nginap ke losmen Firdaus yang baru kali ini aku tahu. Mengherankan memang kami tidak mendapat penginapan di tempat yang lebih baik. Menurut supervisor lapangan kami yang ditempatkan di Langsa, semua hotel penuh dengan tamu. Sesuatu yang tidak pernah terjadi saat aku masih bertugas di Langsa, semua tamu perusahaan pasti mendapat kamar di hotel yang paling bagus di Langsa. Aku selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk memastikan semua tamu terlayani dan mendapatkan kesan yang baik selama di daerah tempatku ditempatkan. 

Kita sudah sampai di surga, pak ..”, kata salah seorang rombongan yang mencobahubungkan nama hotel ini yang artinya adalah memang surga, saat kami memasuki lobby. Tidak ada pelayan, dan jangan harap sapaan yang ramah (yang untungnya aku sudah mengondisikan diri untuk tidak berharap akan layanan seperti itu supaya tidak kecewa …). Bahkan terkesan bahwa mereka tidak terlalu berharap kami menginap di losmen itu karena tamu juga sedang banyak …

Dengan menggerek koper, lalu mengangkatnya ke lantai dua melalui tangga (ini memberatkan bagiku yang mengidap penyakit syaraf terjepit …), akhirnya aku tiba di kamar yang disediakan bagiku. Sangat sederhana. AC yang menyala terus (karena remote control-nya tidak tersedia, mungkin diambil tamu sebelumnya), televisi 14 inchi yang juga remote control-nya tidak tersedia …) dan hanya satu siaran yang gambarnya lumayan bisa kelihatan sementara yang lainnya ”bersemut”, kloset (ma’af …) jongkok, di kamar mandi ada kran air panasnya (tapi jangan harap ada air yang keluar) tapi mandi harus dengan menggayung air dari bak mandi yang berlumut … Karena terletak di tepi jalan lintas Sumatera, kendaraan lalu-lalang dengan suara mesin yang berisik dan seringkali membunyikan klakson sampai pagi. Untuk membendung gangguan, aku tak mau kalah dengan menyalakan televisi dengan suara yang lumayan keras. 

Setelah berkunjung ke beberapa pelanggan, lalu kami ke kantor lagi melanjutkan evaluasi pada hari sebelumnya. Kantor dan gudang yang baru, yang jauh lebih baik kondisinya dibandingkan zaman aku dulu ketika mulai membuka lahan bisnis di Aceh Timur dengan fasilitas dan infrastruktur yang sangat sederhana. Baguslah, berarti ada kemajuan.

Dalam perjalanan menuju Medan, aku mengarahkan rombongan untuk singgah makan siang di restoran pinggir jalan lintas provinsi yang dulu terkenal dengan menu sup tulang sumsum. Sekarang sudah masuk kabupaten Aceh Tamiang, bukan lagi Aceh Timur. Puji Tuhan, aku masih bisa menikmatinya dan mendapatkan porsi yang besar. Lagi nikmat-nikmatinya mencicipi sumsum dengan menyedot rongga bongkol sapinya dengan sedotan (dengan ”pipet”, kata orang Sumatera …), eh … tiba-tiba televisi yang disediakan di restoran menayangkan gambar presiden SBY dengan muka emosi (yang terkesan) menahan marah saat konferensi pers menanggapi teror bom di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton di Jakarta.  Suasana dalam restoran yang tadinya ramai dengan senda gurau dan obrolan para tamu yang sedang menyantap makan siang, mendadak sontak menjadi sepi. Semua mata mengarah ke layar televisi, namun tak seorang pun yang kedengaran berbicara selain sekadar berbisik-bisik. Situasi ini mengingatkanku pada saat dulu ketika masih bertugas di NAD yang berstatus ”DOM alias Daerah Operasi Militer”. Tak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Medan menjelang malam.

Iklan

Andaliman-32 Khotbah 02 Agustus 2009 (Minggu-VIII Setelah Trinitatis)

Naboth's Vineyard (270709) 

Hikmat dan pengertian atas kekuasaan adalah melebihi segala harta di dunia ini.

 

Nas Epistel: Amsal 16:16-20 (bahasa batak: Poda 16:16-20)

Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak. Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur; siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya. Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak. Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.

 

Nas Evangelium: 1 Raja-raja 21:1-16

Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria. Berkatalah Ahab kepada Nabot: “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang.” Jawab Nabot kepada Ahab: “Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!” Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: “Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku.” Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan. Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: “Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?” Lalu jawabnya kepadanya: “Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu.” Kata Izebel, isterinya, kepadanya: “Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu.” Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot. Dalam surat itu ditulisnya demikian: “Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati.” Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka. Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: “Nabot telah mengutuk Allah dan raja.” Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: “Nabot sudah dilempari sampai mati.” Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: “Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati.” Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

 

Ketika membaca perikop yang menjadi Ep dan Ev Minggu ini kembali aku tersadar bahwa keduanya adalah satu kesatuan karena sangat erat hubungan antar keduanya. Oleh sebab itu, aku seringkali tidak setuju bilamana dalam beberapa kali ibadah di jemaat kami, Ep dan Ev dilihat secara terpisah. Bahkan ada pengkhotbah yang sama sekali tidak menyentuh nas Ep ketika berkhotbah dari perikop yang menjadi nas Ev (padahal antara keduanya selalu dipertukarkan antara ibadah Minggu dan partangiangan wejk). Pengalamanku mengikuti ibadah Minggu tadi malam di salah satu jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bekasi mengajarkan tentang betapa perlunya pengkhotbah mempersiapkan pelayanan firman. Sekadar info, GKI dalam liturginya ada pembacaan firman yang pelayannya adalah kombinasi antara warga jemaat biasa dan penatua. Perikop yang dibaca selalu terdiri dari Perjanjian Lama (PL), Mazmur (tanggapan), Surat-surat Rasuli, lalu Injil yang sekaligus sebagai khotbah. Menutur buku acara, themanya adalah tentang orang-orang yang dianiaya, namun nas PL dibacakan tentang skandal seksual Daud dengan Batsyeba, lalu surat rasuli tentang pesan Paulus kepada jemaat Efesus; dan Injil (yang nas-nya “diganti” oleh pak pendeta yang berkhotbah dari Markus sebagaimana yang tertera pada buku acara …) Yohanes tentang Yesus memberi makan lima ribu orang dan berjalan di atas air. Yang terasa “mengganggu” bagiku adalah karena sebagian besar waktu berkhotbah habis dipakai pak pendeta untuk menjelaskan perselingkuhan Daud dengan Batsyeba tersebut, padahal yang hadir saat itu tidak semuanya orang dewasa …

 

Nas Ep dan Ev ini sangat membantu  untuk menjelaskan satu sama lain. Narasi Ev tentang Raja Ahab yang kecewa atas penolakan Nabot untuk memiliki kebun anggur (dengan alasan hukum Taurat yang melarang menjual harta warisan nenek moyang …), lalu “dikompori” oleh permaisuri (yang mengatakan bahwa raja berhak dan berkuasa atas segala sesuatunya …) sehingga berakhir dengan pembunuhan Nabot, seakan menguatkan ungkapan klasik powers tend to corrupt alias “kekuasaan cenderung pada sifat korup”.

 

Ahab yang kemungkinan baru diangkat menjadi raja, segera menempatkan dirinya sebagai penguasa atas segala sesuatunya sehingga melupakan bahwa ada rambu-rambu yang harus dipatuhi, yaitu dalam hal ini, taurat. Isterinya yang mengetahui rasa kecewa sang raja memanfaatkan kekuasaan sang raja dengan memalsukan surat perintah untuk mengadili Nabot, orang Yahudi yang taat. Ditambah kesaksian palsu (mengingatkanku pada pengadilan Yesus sebelum dijatuhi hukuman mati dengan penyaliban …) pada pengadilan palsu (vonis hukuman sudah ditetapkan sebelum pengadilan dilaksanakan …), klop-lah kejahatan beruntun dan “berjemaah” yang dilakukan Ahab cs ini.    

 

Pikiranku tergelitik dengan pertanyaan “jangan-jangan di lingkungan gereja juga terjadi kejadian yang mirip dengan ini …”. Kalau di luar gereja, bahkan sudah biasa terdengar, misalnya seorang Kristen yang taat yang harus murtad dan pindah agama untuk mendapatkan suatu kedudukan atau jabatan di tempat pekerjaannya, atau karena terancam oleh tekanan pihak-pihak lainnya. Di gereja? Bisa juga! Misalnya ada seorang “gembala biasa” yang (sebenarnya) taat pada firman Tuhan dan tradisi gereja yang belum diubah karena masih relevan dengan perkembangan zaman, namun karena tertekan oleh kuasa segelintir orang yang sedang memegang jabatan yang datang dengan ambisi pribadi yang meluap, akhirnya harus mengalami “penganiayaan” dan mengalami nasib yang tragis.

 

Izebel-Izebel zaman sekarang selalu ada di “lingkaran satu” para penguasa. Jadi, selain berdampak positif (ingat ungkapan: “di balik setiap kesuksesan seorang pria, pasti ada peranan seorang perempuan” …), kehadiran perempuan pendamping seringkali juga berdampak negatif pada seorang pria. Beberapa bacaan membuktikan hal itu padaku. Sejarah kontemporer bangsa kita ini juga menyimpan cerita tentang Izebel seperti itu.

 

Nas Ep sebaiknya dijadikan pedoman bagi siapa saja dalam menjalani hidup. Terutama yang saat ini sedang berkuasa. Termasuk dalam lingkungan terkecil juga, yaitu rumah dan keluarga. Setiap kekuasaan yang dimiliki seseorang, selalu punya potensi untuk menjadi alat yang dapat meluluhlantakkan. Seorang ayah yang arogan dan sok kuasa, atau seorang ibu yang “over-acting”, atau bahkan seorang anak yang kemudian menjadi lebih berperan, adalah kemungkinan yang dapat saja terjadi jika tidak disertai dengan hikmat dan pengertian dalam menggunakan “kekuasaan”. Apalagi dalam lingkup yang lebih luas, tentu efek merusaknya akan menjadi lebih “dahsyat” …  

 

Ayat terakhir perikop Ep menjadi pamungkas untuk pedoman bagi semua orang: “Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN”.

      

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kita, sebagai individu, pastilah punya kekuasaan. Lingkupnya saja yang berbeda antara satu dengan yang lain.  Ada yang berkuasa di kantor (karena punya jabatan dan anak buah …), ada yang berkuasa di perkumpulan keluarga (karena sebagai orang tertua atau yang dituakan …), ada yang berkuasa di perkumpulan marga-marga (karena posisi yang harus dihormati), ada yang berkuasa di parsahutaon (karena ketua atau yang dituakan), ada pula yang berkuasa di jemaat (karena punya pengaruh dan ataupun parhalado). Semua tentu saja punya kemampuan untuk memengaruhi orang lain. Bahkan menentukan ”nasib” seseorang.

 

Belajar dari cerita Raja Ahab dan lingkaran satunya di atas, diingatkan kepada kita untuk jangan sekali-kali menjadi mabuk kekuasaan sehingga merugikan orang lain. Peranan isteri sebagai pasangan yang sepadan, bukanlah berarti bahwa semua kuasa yang dimiliki oleh suaminya akan otomatis menjadi kuasa pula bagi isteri. Harus dipisahkan perananannya sesuai dengan relevansi dan konteksnya.  Dalam pewayangan Jawa ada dagelan Petruk Jadi Raja yang mengisahkan tentang seseorang yang mendadak jadi penguasa sehingga berlaku sesukanya. 

 

Tak pantaslah orang Kristen menjadi individu yang arogan …

Belajar Berenang dan Belajar Dari Berenang(3): Bersih, Sehat, dan Selamat Pangkal Senang

 

bilas

Aku – jelek-jelek ’gini, kata orang … – saat ini ditunjuk oleh perusahaan sebagai ’komandan’ untuk penerapan aspek-aspek keselamatan, kesehatan, dan lingkungan alias Safety, Health and Environment (SHE) Champion mewakili Divisi Penjualan (Sales Division). Termasuk di dalamnya adalah keselamatan mengemudi (safety driving/defensive driving) sehingga tahun lalu kami memberikan pelatihan kepada semua tenaga lapangan tentang bagaimana mengemudi yang benar dan baik.

Karena sebelumnya dilatih dengan materi SHE, sudah tentu pemahamanku pun bertambah tentang ketiga hal tersebut. Sebagai wakil yang ditunjuk, secara otomatis pula aku mengaplikasikannya dalam setiap kesempatan dan menularkan kesadaran akan SHE tersebut kepada orang-orang di sekitarku. Misalnya setiap menumpang kendaraan orang lain, selalu aku ingatkan tentang pentingnya keselamatan sambil memberi tahu bagaimana ketentuan mengemudi yang benar. Tidak selalu mudah diterima, memang. Contoh yang sederhana saja, yaitu tentang disiplin menggunakan sabuk pengaman/sabuk keselamatan (safety belt), yang masih banyak orang menggunakannya karena takut ditilang polisi.

 

Begitu juga tentang kesehatan dan lingkungan hidup. Sekarang aku menjadi lebih peka terhadap hal-hal ini. Bahkan hampir di setiap tempat aku memerhatikannya. Tidak mudah juga, bahkan tentang hal yang sederhana. Misalnya mematikan listrik yang sedang tidak digunakan (menyalakan lampu penerangan di siang hari, televisi tetap menyala meskipun tidak ada yang sedang menonton karena sedang asyik ’ngobrol, air kran yang menyala ketika menyabuni mobil, dan lain-lain), membersihkan meja makan setelah usai makan, membuang sampah pada tempatnya. Aku sudah mulai di rumah, lalu ke lingkungan gereja. Puji Tuhan, sudah ada yang mulai mengikuti dan memberi perhatian. Masih segelintir, tapi lumayanlah sebagai permulaan …

 

Nah, yang ini adalah yang terjadi di kolam renang tempatku secara teratur berenang. Tepatnya di pancuran pembilasan, yaitu yang disediakan bagi perenang (maksudnya adalah ”orang yang berenang”, belum tentu atlet renang …) untuk membersihkan diri setelah usai berenang. Di kelab tempatku sebagai anggota ini tersedia dua pembilasan di alam terbuka, yaitu persis di sisi kanan kolam renang dengan empat buah pancuran air yang memancar dengan derasnya sesuai keinginan dengan mengatur kerannya. Selain itu, masih ada lagi di ruang tertutup, yaitu di kamar mandi dengan pancuran air empat buah juga. Masing-masing tersedia di kamar mandi pria dan kamar mandi wanita (yang ini aku tidak pernah melihatnya …).

 

Aku sering memerhatikan pemborosan air yang terjadi. Saat ’sabunan’, kran tetap saja dalam posisi ”hidup” sehingga air tetap mengucur dengan deras, padahal saat itu umumnya sedang tidak dibutuhkan siraman air (hal ini ditunjukkan dengan bergesernya orang yang sedang berbilas-ria sehingga posisi dirinya tidak diguyur air …). Begitu pula saat keramas rambut. Dua hal ini – mandi bilas dan keramas – adalah hal utama yang dilakukan setelah usai berenang untuk membersihkan diri dan menghilangkan pengaruh kaporit yang ada pada air kolam. Berhubungan dengan hal tersebut, sangat banyak perenang yang membawa sabun dan shampoo ”sekali pakai”. Biasanya kemasan kecil dan bungkusan kecil alias sachet. Yang memrihatinkan, kemasan kosongnya – setelah dipakai habis, karena memang untuk sekali pakai saja – dibuang begitu saja. Setelah membersihkan diri dengan membuang kotoran yang menempel tubuh, bersamaan dengan itu membuang bungkusan sabun dan atau sampo-nya di pancuran (bukan di tempat sampah …).

 

Pada suatu hari, setelah berbilas-ria di ruang terbuka, aku menuju ke kamar mandi pria untuk mandi ”lebih serius” sekalian berganti pakaian. Di pancuran, aku melihat ada yang sedang mandi sambil menikmati kesegaran dari air yang memancar deras. Masih ada tiga lagi pancuran yang sedang tidak terpakai – dan semuanya sedang menyala (maksudnya mengucurkan air dengan derasnya …). Keadaan ni sudah ”mengganggu” aku, namun aku lebih tertegun lagi ketika menginjakkan kaki ke dekat pancuran: ternyata airnya tergenang di lantai sehingga hampir menutup mata kakiku. Tak pernah seperti ini. Ternyata buangan airnya tertutup oleh bungkusan sabun dan sampo dari berbagai merek! Dan orang tersebut tetap saja menikmatinya.

 

Spontan saja aku menutup keran yang ”menganggur” sehingga airnya berhenti memancar, setelah berbasa-basi menanyakan kepada pria tersebut apakah pancurannya tidak sedang dipakai. Lalu perlahan-lahan aku memunguti bungkusan sabun dan sampo yang menyumbat lubang saluran pembuangan air dan membuangnya ke keranjang sampah yang memang sudah disediakan di dekatnya … dan tentu saja air yang tadi sempat tergenang langsung lancar mengalir ke pembuangan … Setelah itu, aku lanjutkan ”ritual tetap kolam renang” dengan menikmati mandi di pancuran. Sekilas aku sempat melihat tatapan pria tadi yang keheranan melihat ”orang aneh” di sebelahnya dengan tindakan yang aneh menurutnya, sambil berharap dia akan meniru yang aku lakukan tadi dan kelak menjadi model bagi orang di sekitarnya untuk menghemat pengunaan air, menjaga kebersihan dan lingkungan serta keselamatan …

 

Demikianlah kadangkala kita mengalami berbagai ”keanehan” dalam pengalaman iman, apalagi jika berhubungan dengan sesuatu yang baru. Yang belum pernah kita pikirkan, apalagi kerjakan! Kenyamanan (yang mungkin belum tentu baik …) seringkali membuat kita terusik jika diminta untuk melakukan sesuatu yang baru, meskipun itu lebih baik yang memang terbukti kemudian. Padahal, ada figur yang dapat (dan harus) dijadikan sebagai model dalam kehidupan. Siapa lagi kalau bukan Yesus Kristus yang ribuan tahun lalu datang dengan ajaran yang kedengarannya aneh bagi banyak orang. Bukan hanya dulu, bahkan hingga hari ini …

Andaliman-31 Khotbah 26 Juli 2009 Minggu VII Setelah Trinitatis

Hamba Uang (220709)

Ajaran sesat versus ajaran sehat. Bekerja dan cinta akan uang. Ada tambahan sehubungan dengan pengerja.

Nas Epistel:  1 Timotius 6:2b-10
Ajarkanlah dan nasihatkanlah semuanya ini. Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat–yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus–dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Nas Evangelium: Kisah Para Rasul 18:1-5 (bahasa batak: Ulaon ni Apostel 18:1-5)

Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka. Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias.

Perikop yang menjadi Ep dan Ep Minggu ini masih sangat erat berhubungan dengan perikop Minggu lalu, yaitu tentang harta dan uang. Semula, aku agak kerepotan menemukan benang merah antara Ep dan Ev minggu ini. Apalagi eksegese-nya. Setelah pembacaan berikutnya, barulah aku bisa menangkapnya: ajaran tentang uang dan pekerjaan. Namun, Minggu ini membawa pesan yang agak spesifik, yaitu lebih ditujukan kepada pengerja (alias pelayan jemaat).

Ep ini mengingatkan untuk hanya mau menerima ajaran sehat (doktrin tentang Yesus Kristus yang sesuai Alkitab), bukan ajaran sesat (pengajaran yang diberikan oleh guru-guru palsu yang sekilas kelihatannya dan kedengaraannya seolah-olah sesuai dengan pengajaran Yesus Kristus). Dalam salah satu kebaktian non-HKBP yang pernah aku hadiri – yakni sebuah jemaat baru di bangunan kelab kebugaran (sport club) – seorang “pengkhotbah instan” yang memosisikan dirinya sebagai orang yang banyak tahu tentang Alkitab “memperbaharui” pengetahuan warga jemaat dengan menghubung-hubungkan ayat yang satu dengan ayat yang lainnya dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dalam khotbah Minggunya. Upayanya untuk “mencuci” hadirin (yang sebagian besar adalah orang-orang Kristen yang relatif lama meninggalkan persekutuannya di gereja “resmi” karena merasa tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari gembalanya) malah membuatku muak (sekaligus prihatin kepada sang gembala jemaat) karena terlalu memaksakan keterkaitan antar ayat-ayat dimaksud sehingga marambalangan. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Paulus dalam ayat 4 yang ternyata juga sudah terjadi pada gereja mula-mula berabad-abad yang lalu.

Aku bukanlah anti pada persekutuan-persekutuan yang menjamur saat ini yang aku lebih suka menyebutnya dengan “gereja” HORECA karena melaksanakan ibadah di hotel, restaurant, dan canteen dengan pendeta “instan” (belajar teologi beberapa bulan sudah bisa langsung dilantik jadi pengkhotbah dengan alasan sudah mendapat urapan Roh Kudus yang dibuktikan dengan kemampuannya berbahasa roh …). Jika penyebabnya adalah sulitnya mendapatkan izin untuk membangun gereja, tentu saja aku bersimpati kepada mereka. Namun melihat bahwa sebagian besar motivasinya adalah bisnis (yakni menjadikan jemaat sebagai profit center sehingga menghalalkan segala cara untuk mengeduk keuntungan), tentu saja aku harus berpikir-ulang. Apalagi terbukti pada beberapa tempat di mana pengkhotbahnya seringkali mencari simpati hadirin dengan cara menjelek-jelekkan gereja “resmi”. HKBP, misalnya …

Oleh sebab itu, ayat 6 sangat mengena untuk konteks ini: ibadah yang disertai rasa cukup akan memberikan keuntungan besar. Iman Kristen dengan kecukupan untuk kehidupan ini merupakan cara luar biasa untuk memperoleh keuntungan. Artinya, dengan menjalankan prinsip-prinsip kekristenan dalam kehidupan (pekerjaan, usaha/bisnis, dan lain-lain) tetap mampu menjamin kehidupan yang berkecukupan (tidak berkekurangan). Keimanan yang sejati pada Yesus Kristus pasti akan memberikan keuntungan, bukan hanya untuk masa kini, namun untuk kehidupan kelak. “Cukupkanlah apa yang ada padamu”, ajaran yang sangat aku yakini kebenarannya.

Pengalaman orang lain yang memburu harta sebanyak-banyaknya sehingga meninggalkan ajaran kekristenan karena menjadikan harta sebagai yang utama, banyak mengajarkan kepadaku bahwa kehancuran selalu menyertai langkah orang-orang seperti itu. Rasa cintanya pada uang yang melebihi segala-galanya adalah kendaraan dengan kecepatan tinggi yang belum tentu aman yang akan mengantarkannya kepada celaka dan duka.

Godaan uang juga kerap menghantui para pengerja yang sejatinya adalah pelayan jemaat tulen, namun akhirnya terjerumus sebagai pengemis harta pada warga jemaat yang kaya. Dengan kekayaannya, warga jemaat selanjutnya mampu mengendalikan pengerja tersebut yang tentu saja berpotensi pada penyimpangan atas prinsip-prinsip pelayanan jemaat.

Paulus memberi contoh dirinya sendiri sebagaimana tercantum dalam Ev Minggu ini, yakni tetap bekerja sebagai pembuat tenda untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari di sela-sela upayanya dalam memberitakan firman Tuhan. Dengan bebas dari ketergantungan secara materi kepada jemaat, Paulus tetap mempunyai integritas tinggi untuk menyampaikan ajaran yang sehat dan menegur warga jemaat yang menyimpang. Keprihatinan akan independensi pemimpin jemaat sempat menjadi perhatianku ketika mengetahui bahwa banyak pendeta HKBP yang menerima amplop dari warga jemaatnya ketika pemilihan calon legislator yang lalu yang juga diikuti dengan keriuhan pemilihan presiden …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Cerita tentang uang adalah topik yang sangat menarik untuk dibahas. Termasuk di lingkungan jemaat. Apalagi yang berhubungan dengan sepak-terjang pemimpin jemaat, yang sayangnya banyak sekali berkonotasi negatif. Mudah sekali mendapatkan contoh kasus di mana pemimpin jemaat “terpaksa patuh“ pada keinginan warga jemaat yang kaya dan royal. Dalam berbagai kemasan, misalnya pembangunan gereja, dukungan kepada jaringan pengambil keputusan, hadiah Natal dan tahun baru, beasiswa sekolah anak. Bahkan ada yang “sekadar“ kenikmatan sesaat yang bukan kebutuhan primer, misalnya berkaraoke-ria di kelab malam atau pub.

Sebagai warga jemaat, tentulah kita harus mewaspadai potensi ini. Jika termasuk orang kaya di jemaat, hindarilah memberikan sesuatu kepada pengerja dengan motivasi yang menyimpang. Memberilah karena kita memang harus memberi, bukan harus menerima. Jika berada dalam posisi seperti ini, niscaya kita akan dijauhkan dari hal-hal yang jahat.

Jika hanya “sekadar“ warga jemaat “biasa“, yang berarti jarang (atau bahkan belum pernah …) memberikan sesuatu kepada pemimpin jemaat maupun jemaat (ma’af, kalau kali ini aku harus mengkategorikannya secara materi …), tak usah kecil hati, apalagi iri pada warga jemaat yang royal. Kerjakan saja kewajiban kita sebagai jemaat yang baik sambil tetap mensyukuri berkat yang sudah kita dapatkan. Tuhan tidak silau dengan pemberian-pemberian bermotivasi buruk, bahkan sebaliknya, berdukacita.

Sebagai pengerja, posisikanlah diri kita sebagai pelayan alias hamba. Cukupkan apa yang kita dapatkan, syukuri untuk setiap pemberian, dan jangan pernah mau “dibeli“ oleh warga jemaat. Tuhan itu setia pada anak-anak-Nya, dan pasti memerhatikan segala yang dibutuhkannya.

Nanggroe Aceh Darussalam, Aku Datang Kembali … Terima Kasih Tuhan untuk Ulang Tahun Pernikahan Hari Ini.

Saat ini aku berada di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta Jakarta menunggu panggilan untuk menaiki pesawat GA 182 yang akan terbang jam 08.00 ke Medan. Dari bandara Polonia aku bersama kawan sekantor akan langsung menuju Langsa, lalu Lhokseumawe. Kota-kota yang penuh kenangan karena di sanalah aku menghabiskan tahun-tahun perjuangan dan pembentukan sebagian karakterku yang memengaruhiku saat ini. Dalam kehidupan, dan juga pengenalan akan Tuhan …

Hari ini adalah juga hari peringatan ulang tahun pernikahanku yang ke-14 tahun. Sebenarnya aku menjadualkan cuti untuk menikmatinya bersama Auli dan mamaknya sebagai kelanjutan cuti sejak Jumat dua minggu yang lalu. Sekalian mau mengantarkan Auli sebagai hari pertamanya sekolah. Rada berat juga meninggalkan rumah (apalagi Auli demam sejak beberapa hari yang lalu dan sudah kami bawa ke rumah sakit tadi malam, dan berangsur sembuh … terima kasih, Tuhan …).

Tidak ada perayaan khusus untuk ulang tahun pernikahan ini, memang. Hanya “sekadar” ucapan syukur kepada Tuhan melalui doa yang telah kupanjatkan sejak tadi malam. Dan dini hari tadi, aku letakkan sebuah surat dengan bunga berbentuk hati di meja tulisku. Rencananya, aku akan minta Auli untuk menyerahkannya ke mak Auli hari ini. Sebenarnya Auli juga merencanakan membuat tulisan yang akan diserahkan kepada mamanya, namun sayangnya tidak jadi terlaksanan karena sakit demam yang memaksanya harus istirahat.

Terima kasih, Tuhan untuk semua karunia dan hadiah terbesar dalam hidupku.