Andaliman – 29 Khotbah 12 Juli 2009 Minggu-V Trinitatis

Kalpataru Tree (020709)

Nas Epistel: Mazmur 148:3-14 (bahasa batak: Psalmen 148:3-14)

Pujilah Dia, hai matahari dan bulan, pujilah Dia, hai segala bintang terang! Pujilah Dia, hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit! Baiklah semuanya memuji nama TUHAN, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta. Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar. Pujilah TUHAN di bumi, hai ular-ular naga dan segenap samudera raya; hai api dan hujan es, salju dan kabut, angin badai yang melakukan firman-Nya; hai gunung-gunung dan segala bukit, pohon buah-buahan dan segala pohon aras: hai binatang-binatang liar dan segala hewan, binatang melata dan burung-burung yang bersayap; hai raja-raja di bumi dan segala bangsa, pembesar-pembesar dan semua pemerintah dunia; hai teruna dan anak-anak dara, orang tua dan orang muda! Biarlah semuanya memuji-muji TUHAN, sebab hanya nama-Nya saja yang tinggi luhur, keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit. Ia telah meninggikan tanduk umat-Nya, menjadi puji-pujian bagi semua orang yang dikasihi-Nya, bagi orang Israel, umat yang dekat pada-Nya. Haleluya!

 

Nas Evangelium: Imamat 25:1-7 (bahasa batak: 3 Musa 25:1-7)

TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN. Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.

 

Belum banyak yang tahu kalau Alkitab juga menyentuh aspek lingkungan hidup, sesuatu yang semakin gencar dikampanyekan belakangan hari ini dengan berbagai isu yang diangkat. Antara lain pemanasan global (global warming), penghijauan (go green), penanaman pohon (’one man one tree’), efek rumah kaca, dan banyak istilah lainnya. Hal ini sekaligus jawaban terhadap keraguan semua pihak yang berpendapat bahwa Alkitab tidak lagi relevan dalam menjawab isu-isu kontemporer. Meskipun ditulis berabad-abad yang lalu, jangan pernah meragukan kemampuan Alkitab sebagai jawaban masalah kehidupan masa kini dan di sini.

 

Perikop yang menjadi Ep Minggu ini mengingatkan tentang Tuhan sebagai pencipta alam semesta dan berkuasa atas segala ciptaan-Nya tersebut. Semua ciptaan tersebut (makhluk yang bernafas, maupun yang bukan) diminta untuk memuji dan memuliakan nama Tuhan. Dia-lah yang memerintah, baik saat menciptakan semuanya maupun sebagai pihak yang berkuasa atasnya. Termasuk menciptakan hukum yang mengatur segala sesuatunya. Prinsip ini menyadarkanku bahwa alam ini sebenarnya diciptakan Tuhan berdasarkan ”hukum” untuk mengatur perjalanannya dari pertama kali diciptakan, zaman sekarang, bahkan sampai abad-abad yang akan datang. Pelanggaran atas hukum itulah yang berakibat kekacauan dan bencana alam yang pada akhirnya berpengaruh besar terhadap kehidupan manusia.

 

Ilustrasi sederhananya saja: tumbuh-tumbuhan yang diciptakan yang tumbuh dengan baik di hutan yang berfungsi salah satunya sebagai penyangga air di dalam tanah (menyerap air dan mengatur aliran air di bumi). Jumlahnya yang cukup pastilah mampu menahan alur atau siklus air di bumi ini. Karena ditebang dan tidak ditanam-kembali sehingga mengakibatkan merosotnya jumlah pohon penyangga tersebut akan mengakibatkan bencana kepada manusia, yaitu banjir dan ketidakseimbangan musim. Begitu juga halnya dengan hewan yang belakangan hari ini menjadi kabar yang biasa terdengar di mana suatu kampung hunian manusia diserbu oleh sekelompok binatang buas yang habitatnya sudah terusik oleh ketamakan manusia dalam mengeksploitasi alam.

 

Menurutku, ketika diciptakan, Tuhan pasti hanya mempunyai rencana yang indah atas ciptaan-Nya tersebut. Bumi, air, tanah, udara, hewan, dan tumbuh-tumbuhan diciptakan untuk bersorak-sorak memuji Tuhan. Setiap makhluk yang menikmati manfaat alam sekitarnya diharapkan akan memuji dan memuliakan Tuhan. Bagaimana kenyataannya saat ini?

 

Beberapa tahun yang lalu, setiap ke Parapat di Sumatera Utara dan memandang keindahan Danau Toba dan alam sekitarnya, hatiku selalu bergetar dan berdesir sambil bergumam memuji Tuhan atas kebaikan-Nya memberikan itu semua kepada orang-orang Batak (dan yang lainnya juga yang turut menikmati kepermaian danau tersebut. Namun sekarang, lebih banyak mirisnya melihat betapa tandus dan gersangnya Danau Toba. Dan kehidupan masyarakatnya seakan merefleksikan kondisi yang dialami oleh alam ciptaan tersebut.

 

Perikop Ev membawa pesan yang sama tentang bumi beserta isinya. Menggunakan faham sabat, diingatkan untuk jangan terlalu mengeksploitasi alam beserta isinya. Berikan waktu baginya untuk ”pemulihan”, sehingga pada masanya dapat memberikan hasil yang baik, dan bahkan lebih baik. Secara sederhana berarti ada saatnya mengolah dan ada saatnya untuk istirahat untuk mengembalikan kemampuannya dalam menghasilkan.

 

Bagiku, Ev ini mengingatkan juga untuk tidak terlalu ’ngoyo dalam bekerja dan mencari nafkah. Ada saat sabat, yaitu beristirahat dan membiarkan tubuh bekerja sesuai kapasitas normalnya. Dan nikmati saja hasil yang didapatkan, karena dengan keyakinan penuh bahwa itulah berkat saat itu yang disediakan oleh Tuhan. Semua ada saatnya. Dan itulah yang paling tepat dari Tuhan …

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Hidup modern menuntut bekerja lebih keras dengan prinsip semakin keras bekerja, maka hasilnya akan semakin banyak. Itu tidak selalu benar, karena seringkali kita mendengar yang terjadi pada beberapa orang yang sudah bekerja keras (banting tulang, peras daging, paksa otot …), namun hasil yang didapatkan ’segitu-gitu aja …”. Ada pula yang mengatakan ”kalau belum rezeki, dikejar ke mana pun tak bakalan didapatkan”, sebaliknya ”kalau sudah rezeki, tak bakalan lari ke mana …”. Sering juga kita mendengar orang-orang yang menderita dan menjadi sakit karena ambisinya tidak kunjung tercapai meskipun sudah melakukan segalanya untuk mendapatkannya.

 

Hari ini kita mendapatkan sesuatu yang ”baru”: harus ada disisihkan waktu yang tersedia untuk beristirahat. Menikmati hidup dengan menikmati apa yang didapatkan pada saat itu. Alam pun tidak boleh terlalu dieksploitasi, apalagi manusia … Segala sesuatunya perlu penyegaran. Tumbuh-tumbuhan memerlukan reboisasi, kenapa pula manusia tidak membutuhkan hal yang sama?

Pada saat sabat, tak usah menjadi kuatir akan berkurangnya penghasilan. Tuhan dengan tegas mengatakan untuk mempergunakan saja apa yang didapatkan selama sabat tersebut. Itu pasti cukup! Berkat Tuhan tetap mengalir bagi anak-anaknya. Atau, bisa juga secara matematis jumlahnya berkurang, namun secara spiritual nikmatnya malah berlimpah-limpah. Bukankah seringkali kita mendengar (dan atau mengalami sendiri …), makan dengan gulamo bisa lebih nikmat daripada makan dengan lauk sangsang? Para ahli mengatakan, hati dan pikiran adalah faktor yang paling menentukan dalam menikmati apa yang kita dapatkan dalam hidup ini. Yang penting mensyukurinya, kawan …

Iklan

2 comments on “Andaliman – 29 Khotbah 12 Juli 2009 Minggu-V Trinitatis

  1. Horas,

    mengenai Alkitab menyentuh aspek lingkungan hidup yang saya tahu masih ayat ini amang:

    Keluaran
    23:10 Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya,
    23:11 tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu.
    23:12 Enam harilah lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti, supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja dan supaya anak budakmu perempuan dan orang asing melepaskan lelah.

    Dengan topik “tanah Batak, danau Toba, TPL, kesuburan tanah, serta Alkitab”, singkatnya, dosen saya menjelaskan bahwa Alam adalah sahabat, anugerah Tuhan.
    Tidak salah jika secara ‘ekstrim’, ketika menginjak rumput di pagi hari kita mengucapkan salam kepada rumput tersebut “Selamat pagi saudara”. Pernyataan ini sangat membekas di hati saya karena ada lucunya, juga sepenuhnya benar.
    Beliau melanjutkan bahwa Alkitab memberi tahu jika ingin tanah subur secara alami lakukanlah perintah dari Tuhan seperti pada ayat tersebut 10-11.
    Ditambahkan juga, jangan karena keegoisan manusia mengejar harta,uang,produksi dan sebagainya, tanah tidak dirawat. Pemberian pupuk kimia memang bagus, tetapi apakah sang Tanah senang?
    Bukankah lebih baik membiarkan hasil dari tumbuhan itu sendiri yang membusuk dan membuat tanah itu seperti ‘lahir kembali’.

    Dengan adanya posting dari amang, menambah pengetahuan saya akan alam (termasuk tumbuhan dan hewan) sekaligus menambah kerinduan saya untuk menyantap gulamo ditambah sambal tuktuk. Hahaha.

    Selamat hari minggu amang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s