Andaliman-31 Khotbah 26 Juli 2009 Minggu VII Setelah Trinitatis

Hamba Uang (220709)

Ajaran sesat versus ajaran sehat. Bekerja dan cinta akan uang. Ada tambahan sehubungan dengan pengerja.

Nas Epistel:  1 Timotius 6:2b-10
Ajarkanlah dan nasihatkanlah semuanya ini. Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat–yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus–dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Nas Evangelium: Kisah Para Rasul 18:1-5 (bahasa batak: Ulaon ni Apostel 18:1-5)

Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka. Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias.

Perikop yang menjadi Ep dan Ep Minggu ini masih sangat erat berhubungan dengan perikop Minggu lalu, yaitu tentang harta dan uang. Semula, aku agak kerepotan menemukan benang merah antara Ep dan Ev minggu ini. Apalagi eksegese-nya. Setelah pembacaan berikutnya, barulah aku bisa menangkapnya: ajaran tentang uang dan pekerjaan. Namun, Minggu ini membawa pesan yang agak spesifik, yaitu lebih ditujukan kepada pengerja (alias pelayan jemaat).

Ep ini mengingatkan untuk hanya mau menerima ajaran sehat (doktrin tentang Yesus Kristus yang sesuai Alkitab), bukan ajaran sesat (pengajaran yang diberikan oleh guru-guru palsu yang sekilas kelihatannya dan kedengaraannya seolah-olah sesuai dengan pengajaran Yesus Kristus). Dalam salah satu kebaktian non-HKBP yang pernah aku hadiri – yakni sebuah jemaat baru di bangunan kelab kebugaran (sport club) – seorang “pengkhotbah instan” yang memosisikan dirinya sebagai orang yang banyak tahu tentang Alkitab “memperbaharui” pengetahuan warga jemaat dengan menghubung-hubungkan ayat yang satu dengan ayat yang lainnya dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dalam khotbah Minggunya. Upayanya untuk “mencuci” hadirin (yang sebagian besar adalah orang-orang Kristen yang relatif lama meninggalkan persekutuannya di gereja “resmi” karena merasa tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari gembalanya) malah membuatku muak (sekaligus prihatin kepada sang gembala jemaat) karena terlalu memaksakan keterkaitan antar ayat-ayat dimaksud sehingga marambalangan. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Paulus dalam ayat 4 yang ternyata juga sudah terjadi pada gereja mula-mula berabad-abad yang lalu.

Aku bukanlah anti pada persekutuan-persekutuan yang menjamur saat ini yang aku lebih suka menyebutnya dengan “gereja” HORECA karena melaksanakan ibadah di hotel, restaurant, dan canteen dengan pendeta “instan” (belajar teologi beberapa bulan sudah bisa langsung dilantik jadi pengkhotbah dengan alasan sudah mendapat urapan Roh Kudus yang dibuktikan dengan kemampuannya berbahasa roh …). Jika penyebabnya adalah sulitnya mendapatkan izin untuk membangun gereja, tentu saja aku bersimpati kepada mereka. Namun melihat bahwa sebagian besar motivasinya adalah bisnis (yakni menjadikan jemaat sebagai profit center sehingga menghalalkan segala cara untuk mengeduk keuntungan), tentu saja aku harus berpikir-ulang. Apalagi terbukti pada beberapa tempat di mana pengkhotbahnya seringkali mencari simpati hadirin dengan cara menjelek-jelekkan gereja “resmi”. HKBP, misalnya …

Oleh sebab itu, ayat 6 sangat mengena untuk konteks ini: ibadah yang disertai rasa cukup akan memberikan keuntungan besar. Iman Kristen dengan kecukupan untuk kehidupan ini merupakan cara luar biasa untuk memperoleh keuntungan. Artinya, dengan menjalankan prinsip-prinsip kekristenan dalam kehidupan (pekerjaan, usaha/bisnis, dan lain-lain) tetap mampu menjamin kehidupan yang berkecukupan (tidak berkekurangan). Keimanan yang sejati pada Yesus Kristus pasti akan memberikan keuntungan, bukan hanya untuk masa kini, namun untuk kehidupan kelak. “Cukupkanlah apa yang ada padamu”, ajaran yang sangat aku yakini kebenarannya.

Pengalaman orang lain yang memburu harta sebanyak-banyaknya sehingga meninggalkan ajaran kekristenan karena menjadikan harta sebagai yang utama, banyak mengajarkan kepadaku bahwa kehancuran selalu menyertai langkah orang-orang seperti itu. Rasa cintanya pada uang yang melebihi segala-galanya adalah kendaraan dengan kecepatan tinggi yang belum tentu aman yang akan mengantarkannya kepada celaka dan duka.

Godaan uang juga kerap menghantui para pengerja yang sejatinya adalah pelayan jemaat tulen, namun akhirnya terjerumus sebagai pengemis harta pada warga jemaat yang kaya. Dengan kekayaannya, warga jemaat selanjutnya mampu mengendalikan pengerja tersebut yang tentu saja berpotensi pada penyimpangan atas prinsip-prinsip pelayanan jemaat.

Paulus memberi contoh dirinya sendiri sebagaimana tercantum dalam Ev Minggu ini, yakni tetap bekerja sebagai pembuat tenda untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari di sela-sela upayanya dalam memberitakan firman Tuhan. Dengan bebas dari ketergantungan secara materi kepada jemaat, Paulus tetap mempunyai integritas tinggi untuk menyampaikan ajaran yang sehat dan menegur warga jemaat yang menyimpang. Keprihatinan akan independensi pemimpin jemaat sempat menjadi perhatianku ketika mengetahui bahwa banyak pendeta HKBP yang menerima amplop dari warga jemaatnya ketika pemilihan calon legislator yang lalu yang juga diikuti dengan keriuhan pemilihan presiden …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Cerita tentang uang adalah topik yang sangat menarik untuk dibahas. Termasuk di lingkungan jemaat. Apalagi yang berhubungan dengan sepak-terjang pemimpin jemaat, yang sayangnya banyak sekali berkonotasi negatif. Mudah sekali mendapatkan contoh kasus di mana pemimpin jemaat “terpaksa patuh“ pada keinginan warga jemaat yang kaya dan royal. Dalam berbagai kemasan, misalnya pembangunan gereja, dukungan kepada jaringan pengambil keputusan, hadiah Natal dan tahun baru, beasiswa sekolah anak. Bahkan ada yang “sekadar“ kenikmatan sesaat yang bukan kebutuhan primer, misalnya berkaraoke-ria di kelab malam atau pub.

Sebagai warga jemaat, tentulah kita harus mewaspadai potensi ini. Jika termasuk orang kaya di jemaat, hindarilah memberikan sesuatu kepada pengerja dengan motivasi yang menyimpang. Memberilah karena kita memang harus memberi, bukan harus menerima. Jika berada dalam posisi seperti ini, niscaya kita akan dijauhkan dari hal-hal yang jahat.

Jika hanya “sekadar“ warga jemaat “biasa“, yang berarti jarang (atau bahkan belum pernah …) memberikan sesuatu kepada pemimpin jemaat maupun jemaat (ma’af, kalau kali ini aku harus mengkategorikannya secara materi …), tak usah kecil hati, apalagi iri pada warga jemaat yang royal. Kerjakan saja kewajiban kita sebagai jemaat yang baik sambil tetap mensyukuri berkat yang sudah kita dapatkan. Tuhan tidak silau dengan pemberian-pemberian bermotivasi buruk, bahkan sebaliknya, berdukacita.

Sebagai pengerja, posisikanlah diri kita sebagai pelayan alias hamba. Cukupkan apa yang kita dapatkan, syukuri untuk setiap pemberian, dan jangan pernah mau “dibeli“ oleh warga jemaat. Tuhan itu setia pada anak-anak-Nya, dan pasti memerhatikan segala yang dibutuhkannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s