Belajar Berenang dan Belajar Dari Berenang(3): Bersih, Sehat, dan Selamat Pangkal Senang

 

bilas

Aku – jelek-jelek ’gini, kata orang … – saat ini ditunjuk oleh perusahaan sebagai ’komandan’ untuk penerapan aspek-aspek keselamatan, kesehatan, dan lingkungan alias Safety, Health and Environment (SHE) Champion mewakili Divisi Penjualan (Sales Division). Termasuk di dalamnya adalah keselamatan mengemudi (safety driving/defensive driving) sehingga tahun lalu kami memberikan pelatihan kepada semua tenaga lapangan tentang bagaimana mengemudi yang benar dan baik.

Karena sebelumnya dilatih dengan materi SHE, sudah tentu pemahamanku pun bertambah tentang ketiga hal tersebut. Sebagai wakil yang ditunjuk, secara otomatis pula aku mengaplikasikannya dalam setiap kesempatan dan menularkan kesadaran akan SHE tersebut kepada orang-orang di sekitarku. Misalnya setiap menumpang kendaraan orang lain, selalu aku ingatkan tentang pentingnya keselamatan sambil memberi tahu bagaimana ketentuan mengemudi yang benar. Tidak selalu mudah diterima, memang. Contoh yang sederhana saja, yaitu tentang disiplin menggunakan sabuk pengaman/sabuk keselamatan (safety belt), yang masih banyak orang menggunakannya karena takut ditilang polisi.

 

Begitu juga tentang kesehatan dan lingkungan hidup. Sekarang aku menjadi lebih peka terhadap hal-hal ini. Bahkan hampir di setiap tempat aku memerhatikannya. Tidak mudah juga, bahkan tentang hal yang sederhana. Misalnya mematikan listrik yang sedang tidak digunakan (menyalakan lampu penerangan di siang hari, televisi tetap menyala meskipun tidak ada yang sedang menonton karena sedang asyik ’ngobrol, air kran yang menyala ketika menyabuni mobil, dan lain-lain), membersihkan meja makan setelah usai makan, membuang sampah pada tempatnya. Aku sudah mulai di rumah, lalu ke lingkungan gereja. Puji Tuhan, sudah ada yang mulai mengikuti dan memberi perhatian. Masih segelintir, tapi lumayanlah sebagai permulaan …

 

Nah, yang ini adalah yang terjadi di kolam renang tempatku secara teratur berenang. Tepatnya di pancuran pembilasan, yaitu yang disediakan bagi perenang (maksudnya adalah ”orang yang berenang”, belum tentu atlet renang …) untuk membersihkan diri setelah usai berenang. Di kelab tempatku sebagai anggota ini tersedia dua pembilasan di alam terbuka, yaitu persis di sisi kanan kolam renang dengan empat buah pancuran air yang memancar dengan derasnya sesuai keinginan dengan mengatur kerannya. Selain itu, masih ada lagi di ruang tertutup, yaitu di kamar mandi dengan pancuran air empat buah juga. Masing-masing tersedia di kamar mandi pria dan kamar mandi wanita (yang ini aku tidak pernah melihatnya …).

 

Aku sering memerhatikan pemborosan air yang terjadi. Saat ’sabunan’, kran tetap saja dalam posisi ”hidup” sehingga air tetap mengucur dengan deras, padahal saat itu umumnya sedang tidak dibutuhkan siraman air (hal ini ditunjukkan dengan bergesernya orang yang sedang berbilas-ria sehingga posisi dirinya tidak diguyur air …). Begitu pula saat keramas rambut. Dua hal ini – mandi bilas dan keramas – adalah hal utama yang dilakukan setelah usai berenang untuk membersihkan diri dan menghilangkan pengaruh kaporit yang ada pada air kolam. Berhubungan dengan hal tersebut, sangat banyak perenang yang membawa sabun dan shampoo ”sekali pakai”. Biasanya kemasan kecil dan bungkusan kecil alias sachet. Yang memrihatinkan, kemasan kosongnya – setelah dipakai habis, karena memang untuk sekali pakai saja – dibuang begitu saja. Setelah membersihkan diri dengan membuang kotoran yang menempel tubuh, bersamaan dengan itu membuang bungkusan sabun dan atau sampo-nya di pancuran (bukan di tempat sampah …).

 

Pada suatu hari, setelah berbilas-ria di ruang terbuka, aku menuju ke kamar mandi pria untuk mandi ”lebih serius” sekalian berganti pakaian. Di pancuran, aku melihat ada yang sedang mandi sambil menikmati kesegaran dari air yang memancar deras. Masih ada tiga lagi pancuran yang sedang tidak terpakai – dan semuanya sedang menyala (maksudnya mengucurkan air dengan derasnya …). Keadaan ni sudah ”mengganggu” aku, namun aku lebih tertegun lagi ketika menginjakkan kaki ke dekat pancuran: ternyata airnya tergenang di lantai sehingga hampir menutup mata kakiku. Tak pernah seperti ini. Ternyata buangan airnya tertutup oleh bungkusan sabun dan sampo dari berbagai merek! Dan orang tersebut tetap saja menikmatinya.

 

Spontan saja aku menutup keran yang ”menganggur” sehingga airnya berhenti memancar, setelah berbasa-basi menanyakan kepada pria tersebut apakah pancurannya tidak sedang dipakai. Lalu perlahan-lahan aku memunguti bungkusan sabun dan sampo yang menyumbat lubang saluran pembuangan air dan membuangnya ke keranjang sampah yang memang sudah disediakan di dekatnya … dan tentu saja air yang tadi sempat tergenang langsung lancar mengalir ke pembuangan … Setelah itu, aku lanjutkan ”ritual tetap kolam renang” dengan menikmati mandi di pancuran. Sekilas aku sempat melihat tatapan pria tadi yang keheranan melihat ”orang aneh” di sebelahnya dengan tindakan yang aneh menurutnya, sambil berharap dia akan meniru yang aku lakukan tadi dan kelak menjadi model bagi orang di sekitarnya untuk menghemat pengunaan air, menjaga kebersihan dan lingkungan serta keselamatan …

 

Demikianlah kadangkala kita mengalami berbagai ”keanehan” dalam pengalaman iman, apalagi jika berhubungan dengan sesuatu yang baru. Yang belum pernah kita pikirkan, apalagi kerjakan! Kenyamanan (yang mungkin belum tentu baik …) seringkali membuat kita terusik jika diminta untuk melakukan sesuatu yang baru, meskipun itu lebih baik yang memang terbukti kemudian. Padahal, ada figur yang dapat (dan harus) dijadikan sebagai model dalam kehidupan. Siapa lagi kalau bukan Yesus Kristus yang ribuan tahun lalu datang dengan ajaran yang kedengarannya aneh bagi banyak orang. Bukan hanya dulu, bahkan hingga hari ini …

Iklan

One comment on “Belajar Berenang dan Belajar Dari Berenang(3): Bersih, Sehat, dan Selamat Pangkal Senang

  1. Teringatnya tentang “safety belt”, aku juga pernah dengar di radio si penyiar radio yang masih remaja/ muda mudi mengatakan begini. “..untuk itu kenakanlah sabuk pengaman, supaya tidak ditilang polisi.”

    Bah, “kurang pandai” si kawan pikirku. Sabuk pengaman itu menurutku dipakai untuk mengamankan si pengguna siapa tahu menemui keadaan / situasi yang gawat. Kok malah, supaya “tidak ditilang polisi”.

    Betullah anak muda, pikirku. Padahal sama sama anak mudanya kami. Hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s