Andaliman-32 Khotbah 02 Agustus 2009 (Minggu-VIII Setelah Trinitatis)

Naboth's Vineyard (270709) 

Hikmat dan pengertian atas kekuasaan adalah melebihi segala harta di dunia ini.

 

Nas Epistel: Amsal 16:16-20 (bahasa batak: Poda 16:16-20)

Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak. Menjauhi kejahatan itulah jalan orang jujur; siapa menjaga jalannya, memelihara nyawanya. Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak. Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.

 

Nas Evangelium: 1 Raja-raja 21:1-16

Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria. Berkatalah Ahab kepada Nabot: “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang.” Jawab Nabot kepada Ahab: “Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!” Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: “Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku.” Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan. Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: “Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?” Lalu jawabnya kepadanya: “Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu.” Kata Izebel, isterinya, kepadanya: “Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu.” Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot. Dalam surat itu ditulisnya demikian: “Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati.” Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka. Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: “Nabot telah mengutuk Allah dan raja.” Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: “Nabot sudah dilempari sampai mati.” Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: “Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati.” Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya.

 

Ketika membaca perikop yang menjadi Ep dan Ev Minggu ini kembali aku tersadar bahwa keduanya adalah satu kesatuan karena sangat erat hubungan antar keduanya. Oleh sebab itu, aku seringkali tidak setuju bilamana dalam beberapa kali ibadah di jemaat kami, Ep dan Ev dilihat secara terpisah. Bahkan ada pengkhotbah yang sama sekali tidak menyentuh nas Ep ketika berkhotbah dari perikop yang menjadi nas Ev (padahal antara keduanya selalu dipertukarkan antara ibadah Minggu dan partangiangan wejk). Pengalamanku mengikuti ibadah Minggu tadi malam di salah satu jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Bekasi mengajarkan tentang betapa perlunya pengkhotbah mempersiapkan pelayanan firman. Sekadar info, GKI dalam liturginya ada pembacaan firman yang pelayannya adalah kombinasi antara warga jemaat biasa dan penatua. Perikop yang dibaca selalu terdiri dari Perjanjian Lama (PL), Mazmur (tanggapan), Surat-surat Rasuli, lalu Injil yang sekaligus sebagai khotbah. Menutur buku acara, themanya adalah tentang orang-orang yang dianiaya, namun nas PL dibacakan tentang skandal seksual Daud dengan Batsyeba, lalu surat rasuli tentang pesan Paulus kepada jemaat Efesus; dan Injil (yang nas-nya “diganti” oleh pak pendeta yang berkhotbah dari Markus sebagaimana yang tertera pada buku acara …) Yohanes tentang Yesus memberi makan lima ribu orang dan berjalan di atas air. Yang terasa “mengganggu” bagiku adalah karena sebagian besar waktu berkhotbah habis dipakai pak pendeta untuk menjelaskan perselingkuhan Daud dengan Batsyeba tersebut, padahal yang hadir saat itu tidak semuanya orang dewasa …

 

Nas Ep dan Ev ini sangat membantu  untuk menjelaskan satu sama lain. Narasi Ev tentang Raja Ahab yang kecewa atas penolakan Nabot untuk memiliki kebun anggur (dengan alasan hukum Taurat yang melarang menjual harta warisan nenek moyang …), lalu “dikompori” oleh permaisuri (yang mengatakan bahwa raja berhak dan berkuasa atas segala sesuatunya …) sehingga berakhir dengan pembunuhan Nabot, seakan menguatkan ungkapan klasik powers tend to corrupt alias “kekuasaan cenderung pada sifat korup”.

 

Ahab yang kemungkinan baru diangkat menjadi raja, segera menempatkan dirinya sebagai penguasa atas segala sesuatunya sehingga melupakan bahwa ada rambu-rambu yang harus dipatuhi, yaitu dalam hal ini, taurat. Isterinya yang mengetahui rasa kecewa sang raja memanfaatkan kekuasaan sang raja dengan memalsukan surat perintah untuk mengadili Nabot, orang Yahudi yang taat. Ditambah kesaksian palsu (mengingatkanku pada pengadilan Yesus sebelum dijatuhi hukuman mati dengan penyaliban …) pada pengadilan palsu (vonis hukuman sudah ditetapkan sebelum pengadilan dilaksanakan …), klop-lah kejahatan beruntun dan “berjemaah” yang dilakukan Ahab cs ini.    

 

Pikiranku tergelitik dengan pertanyaan “jangan-jangan di lingkungan gereja juga terjadi kejadian yang mirip dengan ini …”. Kalau di luar gereja, bahkan sudah biasa terdengar, misalnya seorang Kristen yang taat yang harus murtad dan pindah agama untuk mendapatkan suatu kedudukan atau jabatan di tempat pekerjaannya, atau karena terancam oleh tekanan pihak-pihak lainnya. Di gereja? Bisa juga! Misalnya ada seorang “gembala biasa” yang (sebenarnya) taat pada firman Tuhan dan tradisi gereja yang belum diubah karena masih relevan dengan perkembangan zaman, namun karena tertekan oleh kuasa segelintir orang yang sedang memegang jabatan yang datang dengan ambisi pribadi yang meluap, akhirnya harus mengalami “penganiayaan” dan mengalami nasib yang tragis.

 

Izebel-Izebel zaman sekarang selalu ada di “lingkaran satu” para penguasa. Jadi, selain berdampak positif (ingat ungkapan: “di balik setiap kesuksesan seorang pria, pasti ada peranan seorang perempuan” …), kehadiran perempuan pendamping seringkali juga berdampak negatif pada seorang pria. Beberapa bacaan membuktikan hal itu padaku. Sejarah kontemporer bangsa kita ini juga menyimpan cerita tentang Izebel seperti itu.

 

Nas Ep sebaiknya dijadikan pedoman bagi siapa saja dalam menjalani hidup. Terutama yang saat ini sedang berkuasa. Termasuk dalam lingkungan terkecil juga, yaitu rumah dan keluarga. Setiap kekuasaan yang dimiliki seseorang, selalu punya potensi untuk menjadi alat yang dapat meluluhlantakkan. Seorang ayah yang arogan dan sok kuasa, atau seorang ibu yang “over-acting”, atau bahkan seorang anak yang kemudian menjadi lebih berperan, adalah kemungkinan yang dapat saja terjadi jika tidak disertai dengan hikmat dan pengertian dalam menggunakan “kekuasaan”. Apalagi dalam lingkup yang lebih luas, tentu efek merusaknya akan menjadi lebih “dahsyat” …  

 

Ayat terakhir perikop Ep menjadi pamungkas untuk pedoman bagi semua orang: “Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN”.

      

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kita, sebagai individu, pastilah punya kekuasaan. Lingkupnya saja yang berbeda antara satu dengan yang lain.  Ada yang berkuasa di kantor (karena punya jabatan dan anak buah …), ada yang berkuasa di perkumpulan keluarga (karena sebagai orang tertua atau yang dituakan …), ada yang berkuasa di perkumpulan marga-marga (karena posisi yang harus dihormati), ada yang berkuasa di parsahutaon (karena ketua atau yang dituakan), ada pula yang berkuasa di jemaat (karena punya pengaruh dan ataupun parhalado). Semua tentu saja punya kemampuan untuk memengaruhi orang lain. Bahkan menentukan ”nasib” seseorang.

 

Belajar dari cerita Raja Ahab dan lingkaran satunya di atas, diingatkan kepada kita untuk jangan sekali-kali menjadi mabuk kekuasaan sehingga merugikan orang lain. Peranan isteri sebagai pasangan yang sepadan, bukanlah berarti bahwa semua kuasa yang dimiliki oleh suaminya akan otomatis menjadi kuasa pula bagi isteri. Harus dipisahkan perananannya sesuai dengan relevansi dan konteksnya.  Dalam pewayangan Jawa ada dagelan Petruk Jadi Raja yang mengisahkan tentang seseorang yang mendadak jadi penguasa sehingga berlaku sesukanya. 

 

Tak pantaslah orang Kristen menjadi individu yang arogan …

Iklan

3 comments on “Andaliman-32 Khotbah 02 Agustus 2009 (Minggu-VIII Setelah Trinitatis)

  1. Terimakasih, Amang, untuk khotbah/renungan, sangat membantu sekali untuk kami para Sintua, dalam mempersiapkan khotbah, baik di Gereja maupun di acara lainnya, seperti perkumpulan marga.

    Horas Amang, Tuhan Memberkati, dan semakin diberi Tuhan Hikmat, agar senantiasa terus berkarya untuk Tuhan.

    Syalom
    St. Ir. P.H. Siagian
    HKBP Batu Aji Baru
    Batam

  2. Syalom amang, trimakasih untuk renungannya…..
    Saya naposo di HKBP di jakarta, sangat interest thp renungan mingguan amang yang sangat membantu dalam memahami khotbah setiap minggunya.
    Saya sangat sepakat dengan statement amang bahwa epistel dan evanggelium sering dipandang terpisah bahkan sering tidak disentuh dalam khotbah di HKBP di Jakarta (apalagi di daerah ya amang?)
    Mudah2an dibaca oleh para pengkhotbah n menjadi kebaikan di masa yang akan datang, demi untuk pengkembangan dan pengembangan iman jemaat.
    Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s