Catatan Perjalanan dari Nanggroe Aceh Darussalam

Aceh Map

Selama hampir seminggu (13-17 Juli 2009) aku melakukan perjalanan (dinas) ke Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), tepatnya ke Langsa, Lhokseumawe, dan Bireun. Kota-kota ini termasuk wilayah penugasanku saat dulu ditempatkan di NAD yang menjadi bagian dari kabupaten-kabupaten Aceh Timur (yang sekarang “dimekarkan” dengan Aceh Tamiang sebagai kabupaten baru …), Aceh Utara (yang sekarang “dimekarkan” dengan Kotamadya Lhokseumawe dan Bireun sebagai daerah tingkat dua yang baru …), Aceh Tengah (yang sekarang “dimekarkan” dengan Bandar Meuriah sebagai kabupaten baru …), dan Aceh Pidie. Semuanya itu termasuk daerah bergolak ketika konflik keamanan terjadi di Daerah Istimewa Aceh (ini nama yang lama dari NAD sebelum diganti oleh Gus Dur…).

Dulu, kami – aku dan mak Auli, isteriku karena Auli belum lahir … – tinggal di Lhokseumawe. Pada awalnya aku tinggal sendirian di rumah kontrakan di daerah Cunda (persisnya Lorong Kuta Kareueng 167, kalau tak salah …) karena mak Auli masih bekerja di bank di Medan. Hampir setahun kemudian barulah menyusul setelah mengundurkan diri dari tempat bekerjanya.  Rumah yang sangat sederhana, tinggal di “pelosok” dan benar-benar di pertengahan kampung. Saat itu kontraknya belum habis, jadi aku “terpaksa” menghabiskan sisa periode kawan yang aku gantikan posisinya saat itu. Ada sedikit “keanehan”, kawanku yang aku gantikan itu bahkan lupa ketika dalam kunjungan ini kami sama-sama melewati daerah itu, seakan-akan dia tidak pernah tinggal di situ meskipun faktanya dia lebih lama tinggal (bertahun-tahun di rumah itu …) daripada kami.  

Medan: Jadual yang Kacau

Rencana semula, aku dari bandara Polonia Medan dijemput oleh kawan-kawan untuk bersama-sama satu mobil ke Langsa, lalu berlanjut dan menginap di Lhokseumawe. Ternyata ada perubahan. Dan ketika sudah di bandara baru aku tahu setelah aku sadar bahwa tidak seorang pun yang aku kenal di bandara itu sebagai kawan sekantor. Ternyata aku diminta singgah ke kantor Medan untuk bersama-sama dengan Kepala Wilayah Sumatera (yang dulu aku gantikan di Lhokseumawe …), sedangkan yang lainnya (Kepala Regional dan Kepala Area) sudah berangkat duluan dan menunggu di Langsa. Ya sudah, sekalian aku bisa ketemu dengan kawan-kawan lainnya di kantor Medan, lalu aku naik taksi bandara dengan tarif Rp 50.000,- ke daerah Glugur.

Sampai kantor, ternyata beliau (boss Wilayah Sumatera) masih asyik bekerja dan memintaku untuk menunggu, “Atau mau singgah ke rumah keluarga dulu, pak?”, tanya beliau menawarkan sambil memohon ma’af karena masih punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum berangkat ke NAD. Tawaran yang menggiurkan memang, namun jiwa profesionalismeku otomatis menyadarkanku untuk menolak dengan sopan. “Entar aja pak, kalau sudah kembali dari Aceh. Aku ‘kan libur Sabtu dan pulang ke Jakarta hari Minggu siang usai kebaktian Minggu di gereja. Cukuplah itu untuk bertemu dengan keluarga.” Agak heran juga aku dengan sikap beliau. Selain melenceng dari jadual, juga menawarkan sesuatu yang bukan urusan kantor di saat jam kerja …

Jam satu siang barulah ada tanda-tanda meninggalkan kantor. Eh, ternyata beliau masih harus ke kantor Palang Merah Indonesia (PMI) untuk donor darah. Seakan tidak ada hari lain (atau mau ”unjuk gigi”, entahlah …). Setelah itu masih ada lagi: pulang ke rumah beliau untuk mengambil pakaian (sesuatu yang tidak pernah aku lakukan karena selalu menyiapkan segala sesuatunya satu hari sebelum melakukan perjalanan …) dan permisi pada isteri tercinta. Alhasil, kami baru makan siang di Padang Bulan hampir jam dua siang. Masakan arsik yang sebenarnya nikmat menjadi berkurang rasanya bagiku dengan perlakuan ini … Setelah makan siang, masih mengisi bensin di SPBU. Saat itulah aku ditelepon kawan yang menunggu untuk makan siang bersama di Langsa, yang tak percaya bahwa kami masih di seputaran kota Medan … Hal ini semua mengingatkanku pada lebih sepuluh tahun yang lalu ketika aku pertama kali tiba di Lhokseumawe untuk serah-terima penugasan. Hari Minggu itu, sesuai kesepakatan, kami seharusnya bertemu di penginapan (Hotel Dewi, yang sudah tidak ada lagi saat ini…), namun yang ada  ternyata salesman (anak buahnya yang kemudian menjadi anggota timku selama di Aceh) yang dipesankan untuk mengantarkanku ”menghadap” ke rumah beliau.  Sampai di rumah, ada pesan tambahan: beliau sedang pergi memancing di tepi laut. Dan hampir mirip bertemu dengan pejabat tinggi, aku diantar ke tempat memancing dan bertemu dengannya yang didampingi seorang ”ajudan” yang berhobi sama (sehari-harinya adalah supir di kantor, yang lebih setahun kemudian terpaksa aku berhentikan karena melakukan pelanggaran berat …).

”Perjalanan ini sekaligus kita bernostalgia, pak. Kita berdua ’kan pernah bertugas di Aceh ini …”, kata beliau sambil sigap mengendarai Kijang Fortuner yang baru beberapa bulan menjadi kendaraan dinasnya. Mempertimbangkan kondisi fisik beliau (yang baru pulang tugas dari luar Medan dan juga baru menjalani donor darah …) dan juga pangkatnya yang lebih tinggi, aku menawarkan diri untuk mengemudi, namun ditolak oleh beliau, ”Tak usahlah, pak. Kendaraan ini automatic, apakah di Jakarta Anda juga mengendarai mobil automatic? Sudah berapa lama?”, yang segera menyadarkanku sebagai Defensive Driving Coordinator harus menjalankan prinsip-prinsip mengemudi yang salah satunya adalah harus familiar dengan kendaraan yang akan dikemudikan. Akhirnya, selama dalam perjalanan di NAD dengan mobil beliau, aku selalu disupiri sehingga pada suatu kesempatan aku ’nyeletuk, ”Wah jadi ’nggak enak, nih perasaan. Ke mana-mana disupiri oleh Vice President …”.  

Lhokseumawe: Warung Kopi, Hotel, Kantor, dan Rumah

Karena sudah sangat terlambat dari jadual, kami hanya singgah sebentar di Langsa, ibukota Kabupaten Aceh Timur sore itu. Tidak di kantor, melainkan di komplek Masjid Raya Langsa, bertemu dengan kawan-kawan rombongan pertama yang dari Medan untuk sama-sama melanjutkan perjalanan ke Lhokseumawe.

Hampir jam sepuluh malam kami tiba di Lhokseumawe. Kota yang penuh kenangan bagiku dan memberikan banyak pelajaran. Bukan hanya profesionalisme, tetapi juga kehidupan keluarga dan keimanan. Sebelum ke hotel, kami makan malam di warung kopi di depan kantor bupati. Gugusan warung kopi (yang juga menjual beraneka makanan ringan dan berat …) yang dikenal dengan rek yang sampai sekarang aku tidak tahu etimologisnya. Ada yang mengatakan berasal dari kata “just break“, karena di tempat itu asal muasalnya banyak sekali masyarakat berkumpul bersantai menikmati suasana kota, terutama malam hari selepas maghrib. Mungkin termasuk di dalamnya adalah orang asing yang relatif banyak sebagai pendatang yang bekerja pada proyek-proyek asing industri minyak dan gas.

Lebih sepuluh tahun yang lalu – pada awal mula tinggal di Lhokseumawe – aku banyak menghabiskan waktu di rek itu. Jarang sendirian, biasanya bersama kawan-kawan, keluarga yang datang dari luar kota, maupun tamu-tamu kantor yang bersikap hidup sederhana. Tidak banyak beda dengan saat terakhir aku tinggalkan kota ini. Setelah perjanjian Helsinki, nuansa islaminya semakin terasa. Hampir semua nama jalan dan nama instansi ditambahkan dengan tulisan Arab, dan di tempat-tempat umum ada peringatan bagi muslimah untuk memakai jilbab dan larangan berpakaian ketat. Kotanya sendiri semakin semrawut. Toko buku ”Arun Post” yang dulunya langgananku (karena satu-satunya yang memadai …) sudah tidak ada.

Sesuai rekomendasi staf lapangan setempat, malam itu kami menginap di Hotel Lido Graha. Dari sisi perhotelan, ternyata tidak berubah. Dulunya pun hotel ini yang aku rekomendasikan untuk tamu kantor yang datang ke Lhokseumawe, karena yang lainnya masih ”kelas melati”. Belum pernah aku menginap di hotel ini. Melihat lorong-lorongnya, pikiranku terbawa kembali pada suatu masa ketika dimarahi oleh salah seorang pemimpin perusahaan yang datang dari Jakarta melakukan kunjungan kerja. Di kamar itu kami bertiga: aku, boss dari Jakarta (yang memang terkenal dengan sifat arogannya), dan atasan langsungku yang berkantor di Medan (yang juga terkenal sebagai orang yang arogan …). Beliau kecewa dengan cara penangananku terhadap bisnis di Lhokseumawe yang sebenarnya menurutku bukanlah alasan profesional, karena pada malam sebelumnya – saat berkunjung ke warung-warung kopi (melihat keberadaan produk-produk kami yang dijual di warkop tersebut), beliau terperanjat ketakutan ketika membuka pintu mobil yang hampir membentur seorang pengemudi sepeda motor yang baru saja memarkir kendaraannya di samping mobilku yang juga baru berhenti dengan sempurna. ”Anda mau membunuh saya ya!”, kata beliau dengan berang padaku yang tentu saja menjadi terkejut. Terkejut oleh dua hal: tidak menyangka ada orang yang mau memarkirkan sepeda motornya di space yang sudah sangat sempit dan gelap itu, dan reaksi berlebihan dari pemimpin senior perusahaanku tempat bekerja itu. Nah, suasana hati seperti itulah yang sangat kental memengaruhi penilaian beliau terhadap pekerjaanku. Memang, ada saja yang masih kurang yang aku kerjakan, namun menjadi semakin diperparah oleh suasana hati big boss tadi. Hal-hal yang bagus menjadi tidak kelihatan oleh karenanya … Aku jadi tersenyum getir bila mengenang peristiwa itu, apalagi mengingat manakala atasanku langsung berujar: ”Pak, mohon pertimbangkan juga orang kita ini. Dengan latar belakangnya yang Batak dan non muslim, pastilah berpengaruh pada efektivitasnya bekerja di daerah yang sangat fanatik ini.”, yang langsung kelihatan perubahan di wajah boss besar yang nota bene adalah non muslim juga.

Bangunan hotel yang sudah tua dan tidak mengalami renovasi memang sangat kelihatan. Kamar tempatku menginap dengan kondisi peralatan dan perlengkapannya yang beberapa sudah tidak berfungsi dengan baik, menunjukkan betapa itu semua hanyalah sisa-sisa ”kejayaan” bertahun-tahun yang lalu, ketika hotel ini sangat bergengsi bagiku.  O ya, di kamar tidak tersedia air panas kecuali diminta kepada petugas hotel yang akan membawakannya dalam termos kecil. Jangan tanya lagi tentang mandi air panas …. Sarapan paginya juga sangat sederhana dengan menu ala kadarnya yang dilayani petugas perempuan berjilbab yang tidak komunikatif.

Pagi harinya (14/07/09) kami ke Bireuen yang memerlukan satu jam lebih dengan mengendarai mobil supervisor tenaga lapangan kami bersama supervisor Distributor. Kota ini baru dinaikkan derajatnya menjadi kota administratif sekaligus ”disapih” dari Kabupaten Aceh Timur, dan sangat kelihatan kemajuan yang berarti secara fisik. Dalam perjalanan, kami melewati beberapa kota-kota kecil yang juga menyimpan kenangan bagiku. Salah satunya adalah Matang Glumpang Dua, tempat yang terkenal dengan kekhasan dan kelezatan satenya. Pada suatu kesempatan pada masa lalu ketika rombongan kami dari gereja HKBP Lhokseumawe pulang dari kunjungan ke jemaat HKBP Takengon, aku menyinggahkan mobilku ke salah satu warung sate di tempat itu untuk makan malam. Saat akan mulai makan, amang pandita Simbolon memanjatkan doa: ”Tuhan, berkati makanan ini. Dalam nama Yesus. Amin.”. Salah satu doa terpendek yang pernah aku ikuti seumur hidupku. Dalam perjalanan pulang menuju Lhokseumawe, aku mendapat jawaban: ”Kita ’kan harus bijaksana. Termasuk berdoa di lingkungan orang-orang muslin …”.        

Setelah makan siang – dan aku memilih sayur kuah plik u, makanan khas Aceh berupa sayuran yang diolah dengan menggunakan kelapa yang ”dibusukkan” – sore harinya kami kembali ke Lhokseumawe. Sebelum ke Distributor, kami istirahat sambil berdiskusi di salah satu warung (disebut ”rangkang”) di pantai Ujong Blang. Tempat rekreasi yang paling populer saat aku masih berdiam di Lhokseumawe dulu. Saat lajang, untuk bertemu dengan orang Batak pada hari Minggu (selain di gereja, tentunya), datanglah ke pantai ini dan berjalan kakilah menelusuri pantai, pasti bertemu dengan orang Batak (dan mudah-mudahan sesuai dengan orang Batak yang kita cari …). Karena ibadah Minggu dilakukan jam sepuluh, seringkali kami sekeluarga menyempatkan berekreasi di pantai ini dengan berjalan pagi. Sebelum pulang, kami akan sarapan penganan pulut bakar (yang langsung dibakar di hadapan kita dengan sabut kelapa sebagai pengganti arangnya) dan minum teh hangat. Pasca tsunami, pantai yang dulu indah dengan pasir dan ombaknya, berubah drastis. Jalanan yang dulu aspal sudah terbelah dan sangat memrihantinkan, pinggir pantai sudah dibentengi dengan batu-batu besar, dan warung-warung dalam kondisi memrihantinkan.

Oh ya, dalam perjalanan ke Ujong Blang, aku minta izin sejenak untuk singgah ke rumah tempat kami tinggal dulu yang terletak di Lorong Melur nomor 1A. Bersama supervisor lapangan, aku minta izin untuk memotret rumah yang juga penuh kenangan itu. Tak dinyana, yang menempati rumah itu saat ini tidak memberikan izin dengan alasan takut kalau-kalau fotonya disalahgunakan. Semula aku merasa aneh, tapi mengingat bahwa seringkali aku menekankan pengajaran kepada anakku Auli untuk jangan suka ”memaksakan kehendak kepada orang lain”, niat untuk bersikeras mengambil foto rumah tersebut terpaksa aku urungkan.  

Di kantor Distributor – tempat dulu aku ’ngantor bertahun-tahun – terdapat sedikit perubahan, namun suasana kesederhanaannya masih terasa. Filing cabinet yang dulu aku pakai ternyata masih dipakai, hanya kondisinya sudah usang dengan beberapa kuncinya sudah tidak bisa dipakai. Begitu juga meja mesin faksimili. Jendela yang dulu aku pasangi ulos untuk dekorasi ruangan sekaligus untuk menahan pantulan sinar matahari masuk ke ruangan, sekarang sudah tertutup dengan debu yang menebal pada kaca nakonya. Orang-orang yang dulu banyak membantuku dalam bekerja sebagian besar masih ada bekerja di sana. Beberapa dengan jenis pekerjaan yang berubah, sebagian lainnya (termasuk pemilik dan anggota keluarganya, tentunya …) masih tetap. Salah seorang di antaranya adalah kawanku dulu sama-sama anggota NHKBP Lhokseumawe. Aku menanyakan kabar kawan-kawan orang Batak lainnya. Menurutnya, sekarang orang-orang Batak yang masih tersisa (karena sebagian besar sudah pindah meninggalkan Lhokseumawe pasca konflik keamanan) berkumpul di ”komplek Pardede” (menurut ceritanya, komplek ini dulunya adalah tempat pengolahan pembekuan udang milik almarhum TD Pardede). Sayangnya – karena keterbatasan waktu (pekerjaan baru usai setelah jam sepuluh malam …) – aku tidak sempat singgah ke tempat ini untuk bertemu dengan kawan-kawan lama sesama orang Batak. Juga ke gereja HKBP Lhokseumawe.  Sayang sekali …

Langsa: Kota Kedua, Sup Sumsum, dan Berita Teror Bom

Besok malamnya (15/07/09) kami bertolak dan tiba di Langsa. Makan malam di restoran masakan laut di pinggir jalan raya Medan – Banda Aceh yang lezat, lalu kami ’nginap ke losmen Firdaus yang baru kali ini aku tahu. Mengherankan memang kami tidak mendapat penginapan di tempat yang lebih baik. Menurut supervisor lapangan kami yang ditempatkan di Langsa, semua hotel penuh dengan tamu. Sesuatu yang tidak pernah terjadi saat aku masih bertugas di Langsa, semua tamu perusahaan pasti mendapat kamar di hotel yang paling bagus di Langsa. Aku selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk memastikan semua tamu terlayani dan mendapatkan kesan yang baik selama di daerah tempatku ditempatkan. 

Kita sudah sampai di surga, pak ..”, kata salah seorang rombongan yang mencobahubungkan nama hotel ini yang artinya adalah memang surga, saat kami memasuki lobby. Tidak ada pelayan, dan jangan harap sapaan yang ramah (yang untungnya aku sudah mengondisikan diri untuk tidak berharap akan layanan seperti itu supaya tidak kecewa …). Bahkan terkesan bahwa mereka tidak terlalu berharap kami menginap di losmen itu karena tamu juga sedang banyak …

Dengan menggerek koper, lalu mengangkatnya ke lantai dua melalui tangga (ini memberatkan bagiku yang mengidap penyakit syaraf terjepit …), akhirnya aku tiba di kamar yang disediakan bagiku. Sangat sederhana. AC yang menyala terus (karena remote control-nya tidak tersedia, mungkin diambil tamu sebelumnya), televisi 14 inchi yang juga remote control-nya tidak tersedia …) dan hanya satu siaran yang gambarnya lumayan bisa kelihatan sementara yang lainnya ”bersemut”, kloset (ma’af …) jongkok, di kamar mandi ada kran air panasnya (tapi jangan harap ada air yang keluar) tapi mandi harus dengan menggayung air dari bak mandi yang berlumut … Karena terletak di tepi jalan lintas Sumatera, kendaraan lalu-lalang dengan suara mesin yang berisik dan seringkali membunyikan klakson sampai pagi. Untuk membendung gangguan, aku tak mau kalah dengan menyalakan televisi dengan suara yang lumayan keras. 

Setelah berkunjung ke beberapa pelanggan, lalu kami ke kantor lagi melanjutkan evaluasi pada hari sebelumnya. Kantor dan gudang yang baru, yang jauh lebih baik kondisinya dibandingkan zaman aku dulu ketika mulai membuka lahan bisnis di Aceh Timur dengan fasilitas dan infrastruktur yang sangat sederhana. Baguslah, berarti ada kemajuan.

Dalam perjalanan menuju Medan, aku mengarahkan rombongan untuk singgah makan siang di restoran pinggir jalan lintas provinsi yang dulu terkenal dengan menu sup tulang sumsum. Sekarang sudah masuk kabupaten Aceh Tamiang, bukan lagi Aceh Timur. Puji Tuhan, aku masih bisa menikmatinya dan mendapatkan porsi yang besar. Lagi nikmat-nikmatinya mencicipi sumsum dengan menyedot rongga bongkol sapinya dengan sedotan (dengan ”pipet”, kata orang Sumatera …), eh … tiba-tiba televisi yang disediakan di restoran menayangkan gambar presiden SBY dengan muka emosi (yang terkesan) menahan marah saat konferensi pers menanggapi teror bom di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton di Jakarta.  Suasana dalam restoran yang tadinya ramai dengan senda gurau dan obrolan para tamu yang sedang menyantap makan siang, mendadak sontak menjadi sepi. Semua mata mengarah ke layar televisi, namun tak seorang pun yang kedengaran berbicara selain sekadar berbisik-bisik. Situasi ini mengingatkanku pada saat dulu ketika masih bertugas di NAD yang berstatus ”DOM alias Daerah Operasi Militer”. Tak berapa lama, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Medan menjelang malam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s