Berkomunikasi dengan Arwah, ah … Apa Bisa?

Speak 2

Speak with the Dead

Konstantinos

Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2005

 

Mengejutkan dan sedikit menyesal. Itulah yang aku rasakan setelah usai melahap semua isi buku ini. Mengejutkan, karena ada buku seperti ini yang berusaha menguak misteri arwah setelah hari kematiannya sebelum benar-benar berangkat dan berdiam di surga. Bahkan menjanjikan untuk dapat berkomunikasi dengan arwah dimaksud, bahkan merekamnya dalam pita suara! Menyesal, setelah aku tahu belakangan bahwa ini adalah bagian dari upaya menyebarluaskan paham okultisme di kalangan masyarakat modern.

Menarik Sehingga Aku Seakan Tertarik ke dalam Dunia Arwah

Keputusan untuk membeli buku ini tidaklah serta-merta aku lakukan saat pertama kali melihatnya dipajang di rak toko buku tempat aku biasa berkunjung dan berbelanja. Hingga pada suatu saat, ketika waktuku sangat senggang sehingga punya kesempatan lebih banyak melihat-lihat buku yang ada. Dan setelah beberapa buku yang aku ”taksir” sudah aku masukkan ke dalam keranjang belanja untuk kemudian dibayar di kasir.

Tulisan sub-judul Tujuh Metode Komunikasi Arwah, terus terang, sangat menarik bagiku saat itu. Namun karena bukunya disampul rapat dengan plastik yang kuat – dan tidak ada buku contoh tanpa plastik sebagaimana buku lainnya – ”terpaksalah” aku membeli buku ini juga. Sampai di rumah, sempat aku lihat halaman-halaman awalnya, dan berlanjut dalam beberapa hari kemudian. Paragraf-paragraf awalnya memang sangat menggugah rasa ingin tahu karena teknik yang dilakukan sangat sederhana dan pasti berhasil. Semua orang bisa melakukannya, sehingga semua orang dapat berkomunikasi dengan arwah. Bahkan memilih berkomunikasi dengan orang tertentu, orang yang dikasihi, misalnya. Terus terang, saat sampai pada halaman-halaman yang menyatakan ini, pikiranku sempat terbawa kepada ide ”gila” yang pernah aku dengar lebih sepuluh tahun yang lalu, yaitu menemukan suara asli Yesus ketika masih melayani di muka bumi ini …

Pada suatu titik, rasa ingin tahuku berubah drastis sampai aku harus berhenti membacanya dengan perasaan rada ”kacau”, yakni saat aku menyadari bahwa ini mengarah kepada kepercayaan pada arwah orang-orang mati alias okultisme. Dan penegasan itu lebih kuat ketika aku mengakses pada alamat situs yang disediakan di http://www.konstantinos.com.

Ketika penulis menyebutkan (h. 19) bahwa kegiatan berkomunikasi dengan arwah ini bukanlah dosa (sambil menyitir ayat Alkitab pada Kitab Ulangan 18:10-11 yang menyebutkan tentang orang-orang berdosa, yakni peramal, tukang tenung, penyihir, pemantra, maupun orang-orang yang mengungkapkan masa depan dengan mendapatkan petunjuk dari arwah) aku belum terlalu terganggu. ”Oh iya, ada benarnya juga karena ada dasarnya dalam Alkitab”, gumamku dalam hati saat itu. Namun, pada penjelasan selanjutnya yang terkesan meragukan kebenaran ayat tersebut, aku mulai bercuriga. Dan puncaknya adalah ketika mengakses situs yang disediakan oleh Konstantinos, sang penulis, aku menjadi tersadar bahwa buku ini bukan buku ”biasa”.

Ketidakbiasaannya itu antara lain terlihat dalam pemahamannya yang mengesankan bahwa semua arwah akan masuk dalam surga. Hanya bergantung kepada kemampuannya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya yang baru. Menurutnya, di ”alam sana” ada tiga tahapan sebagai proses yang harus dilewati oleh arwah, yaitu ”tahap bawah”, ”tahap musim panas”, dan ”tahap-tahap yang lebih spiritual”. Masing-masing tahapan mempunyai karakteristik dan kesulitan tersendiri yang menuntut kemampuan arwah untuk beradaptasi lalu naik tingkat ke tahapan selanjutnya. Artinya, arwah tersebut masih memiliki kesempatan untuk selalu masuk sorga, tergantung pada kemampuan dan daya tahannya dalam mengatasi tantangan selama perjalanannya tersebut. Yang paling tinggi adalah laksana surga. Dihubungkan dengan kemampuan berkomunikasi dengan orang yang hidup di dunia, semakin tinggi tahapan tempat arwah berdiam maka semakin mudahlah berkomunikasi dengannya.

Ada Hal-hal Positif Juga …

Selain menantang iman percaya kita, buku ini juga ternyata mencantumkan hal-hal positif yang dapat dijadikan pedoman, terutama menyangkut kehidupan arwah. Antara lain disebutkan:

–        jangan berharap bahwa arwah itu akan membantu menjadikan kita pemenang dalam kehidupan

–        para arwah tidak memberikan pelayanan berdasarkan perintah, tetapi mereka memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan kepada kita: pesan-pesan penuh kasih, kata-kata yang menenteramkan, dan pengetahuan bahwa hidup kita akan berlanjut

–        para arwah tidak dapat membuat kita mengetahui masa depan

–        memiliki pengetahuan tentang arwah akan mampu menghindarkan kita dari tipuan medium palsu, misalnya pesulap dan mentalis

Akhirnya, motivasi kita adalah yang paling menentukan dalam menikmati bacaan ini. Sebagai sekadar pengetahuan sih, oke-oke saja … tetapi jika lebih daripada itu, sebaiknya pertimbangkan-ulang …

Andaliman-37 Khotbah 06 September 2009 Minggu XIII setelah Trinitatis

Ut omnes unum sint (310809)

Satu untuk Kemuliaan Allah

Nas Epistel: Roma 15:5-9

Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.”  

Nas Evangelium: Yohanes 17:14-23

Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.  

Perikop yang menjadi Ep Minggu ini adalah surat Paulus kepada jemaat di Roma yang saat itu terdapat dua poros, yaitu antara yang kuat dan yang lemah, antara Kristen Yahudi dan Kristen non-Yahudi. Dua kubu tersebut tentu saja tarik-menarik dalam memahami ajaran kekristenan, terlebih ketika harus menjalankannya dalam kehidupan yang baru. Menyadari perbedaan tersebut yang berpotensi pada perpecahan, Paulus mengingatkan jemaat tersebut untuk selalu berupaya dan mempertahankan hidup rukun. Bagaimana caranya? Dengan menjadikan Kristus sebagai teladan! Semua latar belakang yang membedakan antara golongan yang satu dengan yang lain, selayaknya dijadikan sebagai modal  untuk memperkokoh persekutuan, bukan malah merusak kerukunan. Itu semua hendaknya diarahkan untuk kemuliaan Allah.

Tidak jauh berbeda dengan pengalamanku berjemaat. Di berbagai tempat, semuanya menunjukkan pola yang hampir sama. Jemaat dibentuk oleh individu-individu dengan latar belakang yang berbeda. Masing-masing datang dengan pemahaman dan pengalaman hidup persekutuan yang berbeda. Sebaliknya, mereka juga datang dengan potensi (yang besar) yang juga berbeda. Potensi tersebut secara positif dapat digunakan untuk memperkaya persekutuan, yang pada akhirnya manfaat dapat dirasakan oleh semua warga jemaat. Sebaliknya – jika tidak dikelola dengan baik dan proporsional – perbedaan tersebut juga memiliki potensi yang sama dahsyatnya dalam menimbulkan perpecahan dan rusaknya persekutuan.

Contoh sederhananya adalah tentang pemusik untuk ibadah Minggu dan pemandu lagu (song leader). Beberapa kali pengurus Seksi Musik dalam rapat Dewan Marturia di jemaat kami mengeluhkan tentang sulitnya mendapatkan orang yang mau dibina menjadi pemusik dan pemandu lagu (karena seringnya – dan selalu – membahas topik yang sama ini, aku pernah ’nyeletuk:”Koq masalahnya ini ini saja yang kita bahas, ya? Apa ’nggak ada masalah lain yang ’lebih sulit’ yang lebih layak kita bicarakan daripada tentang ini terus ..? Kenapa kesepakatan yang sudah kita putuskan bersama pada rapat sebelumnya tidak dilaksanakan dengan konsisten?”. Sebaliknya, dalam beberapa kesempatan aku sering mendapat masukan dari beberapa warga jemaat seperti: ”Amang, aku (atau kadangkala menjadi ”anakku” manakala orangtuanya yang ’curhat’ …) sebenarnya kepingin melayani dalam ibadah sebagai pemusik (atau pemandu lagu …), tapi aku lihat mereka yang mengurus ini tidak cocok dengan cara berpikirku selama ini”. Kontradiksi, ’kan? Mana yang benar? Tidak perlulah kita harus tahu semuanya, ya karena itu bisa saja bukan menjadi yang paling penting, karena yang terutama adalah kedua belah pihak punya keinginan yang sama untuk melayani di jemaat. Jadi, apalagi?

Jemaat harus mengelolanya dengan baik. Cuma sayangnya, dalam pengelolaannya acapkali terjadi kesalahpahaman sehingga yang diperkirakan akan menghasilkan pelayanan yang baik ternyata ditanggapi sebaliknya oleh orang lain. Tak ada cara lain yang lebih efektif selain meneladani Yesus Kristus dan menjadikannya sebagai motivasi persekutuan dalam jemaat.  Saling menerima keberadaan satu sama lain (sebagaimana Yesus menerima semua orang yang berasal dari semua golongan dan latar belakang …), melayani secara sungguh-sungguh (sebagaimana Yesus menjadikan diri-Nya sebagai pelayan bagi semua orang …), dan semua itu akan terlihat dengan nyata sebagai suatu kemuliaan bagi Tuhan. Bukan kemuliaan orang per orang, karena cuma Tuhan sajalah yang pantas menerimanya.  

Prinsip tersebut di atas menyokong semangat persatuan dan kesatuan dalam persekutuan sebagaimana dimaksudkan oleh nas perikop Ev Minggu ini. Doa Yesus kepada Allah Bapa untuk pengikut-Nya. Dunia memang membenci (karena firman yang disampaikan), dan Tuhan – jika mau – mudah saja menghindarkan anak-anak-Nya dari celaka dengan cara menarik mereka dari dunia yang jahat. Mudah, ’kan? Namun Yesus tidak mau yang seperti itu. Anak-anak-Nya ”hanya” perlu dilindungi, disertai, dan dikuatkan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Untuk menghadapinya, anak-anak Tuhan harus bersatu dalam semangat kasih Kristus. Dengan kekuatan itu, kemuliaan Tuhan dinyatakan.  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Hampir tidak ada lagi jemaat yang benar-benar homogen. Pastilah terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda. Perbedaan itu semua janganlah sampai dijadikan sebagai pembeda pelayanan antara yang satu dengan yang lain. Pembedaan hendaknya hanyalah berdasarkan perbedaan kebutuhan pelayanan. Pada sisi yang lain, kesempatan melayani diberikan berbeda semata-mata juga berdasarkan perbedaan kemampuan, talenta, dan panggilan masing-masing warga jemaat yang bersedia mengabdikan dirinya sebagai pelayan di jemaat.

Jas, Batik, Batak …

Batik versus Jas (270809)

Ini tentang pakaian yang dihubungkan dengan gereja. Masih ingat dengan ceritaku saat pendeta resort dan para penatua lengkap datang ke rumah untuk meminta konfirmasi kesediaanku menjadi calon sintua pada 01 Agustus yang lalu? https://tanobato.wordpress.com/2009/08/09/dipatota-dan-diririt-untuk-jadi-calon-sintua-konde-untuk-kaum-ibu/ Salah satu topik menarik yang kami bicarakan (dan didukung oleh pendeta resort dan sintua senior …) adalah usulanku agar parhalado tidak usah harus memakai jas saat bertugas, apalagi saat tidak bertugas. Berbatik saja cukuplah. Alasan yang aku sampaikan saat itu adalah fleksibilitas parhalado sebagai pelayan jemaat (misalnya jika ada seorang anak yang menangis karena terjatuh di gereja, besar kemungkinan parhalado yang notabene adalah pelayan akan menjadi “sungkan” untuk menolong mengangkat anak tersebut karena terganggu dengan jahitan jas dan “kebersihan” jas yang dipakainya saat itu …). Kondisi cuaca dan jemaat juga belum tentu mendukung penggunaan jas (di jemaat kami, misalnya tidak ada pendingin udara untuk menghalau panasnya udara Jakarta …). Dan juga, biaya perawatan jas tentulah lebih mahal daripada biaya perawatan kemeja batik (bukankah kita harus berhemat?). Dengan mengisahkan pengalaman mereka saat mengikuti Sinode Godang yang lalu dengan berkemeja batik di antara peserta yang memakai jas terbaik mereka, aku kira hal berbatik ini sudah jelas. Paling tidak, untuk parhalado yang hadir pada malam itu di rumah kami.

Hal yang berbeda ternyata terjadi pada Minggu, 16 Agustus 2009 yang lalu di gereja kami, yakni saat penahbisan penatua baru dan pengenalan sintua learning kepada jemaat. Karena hari-hari sebelumnya aku bertugas ke berbagai daerah (sehingga tidak menghadiri parguru-endean dan partangiangan wejk sebagaimana sudah aku sampaikan kepada parhalado sebelumnya), maka informasi yang aku miliki hanyalah apa yang kami bicarakan pada partangiangan wejk terakhir yang aku hadiri dan pesan-pendek ketua Koor Ama yang hanya menyampaikan bahwa kami perlu latihan Minggu pagi itu jam 07.30 WIB karena  kami akan mengisi acara dengan paduan suara.

Pagi itu, jam tujuh lewat sedikit kami (aku, Auli, dan mamaknya) sudah tiba di gereja. Setelah memarkirkan kendaraan, di depan pintu masuk kami bertemu dengan ketua lunggu yang hari itu isterinya akan ditahbiskan sebagai sintua. Memakai jas yang sangat kelihatan masih sangat baru, beliau memberikan komentar positif kepada mak Auli yang patuh mengikuti aturan berpakaian yang disampaikan oleh isteri beliau saat datang ke rumah kami beserta rombongan pada malam awal Agustus itu). Ada juga seorang bapak aktivis gereja yang ikut ‘ngobrol saat itu. Tak lama kemudian datang sintua yang bendahara huria (atau bendahara huria yang sintua?) ikut nimbrung. Eh tiba-tiba, sang benhur (singkatan dari bendahara huria …) menarik tangan dan mengajakku ke samping sehingga terjadi dialog:

Benhur         : Hubereng adong na hurang pas … Aku lihat ada yang kurang  pas …

Aku              : Aha i, amang. Na adong do na sala? Apa, ya amang? Ada yang salah?

Benhur         : Paheanmuna i, amang. Boasa ‘ndang marjas hamu? Pakaian amang itu. Kenapa tak berjas?

Aku              : Ingkon marjas do, amang? Ndang huboto na adong ketentuanna na songon i. Harus berjas, ya amang? Tak tahu aku ada ketentuan seperti itu.

Benhur         : Ndang adong paboan tu hamu na ingkon marjas? Asa toman jala suman do daba … ‘Nggak ada yang memberitahu harus berjas? Supaya berwibawa dan pantas, ah …

Aku              : I do, amang? Panghilalaanku suman do songon on. Anggo toman, ndang huboto. Di tingki ro rombongan parhalado tu jabu mangaririt ndang adong dipaboa na ingkon marjas. Boha na ma i? Begitu, ya amang? Menurutku, bagusnya begini. Kalau tentang wibawa, tak tahulah aku. Waktu rombongan datang ke rumah, tak ada pemberitahuan harus berjas. ‘Gimana, ya? 

Benhur         : Marboha bahenon ma … Apa boleh buatlah …

Menjelang mulai ibadah, kami pun ke bilut parhobasan alias konsistori. Di depan pintu, aku bertemu dengan sintua senior yang juga sama kagetnya ketika melihatku tidak berjas. Tentu saja aku ingatkan pembicaraan di rumah saat itu yang aku sampaikan bahwa aku lebih memilih batik daripada jas, dan juga tidak ada pemberitahuan tentang keharusan berjas pada hari itu. Tawarannya untuk meminjamkan jas yang dipakainya (karena nanti saat ibadah dia akan menggunakan toga sebagai par-agenda) tentu saja aku tolak. Di konsistori pun, beberapa parhalado sempat bertanya (dan tertanya-tanya dalam hati, mungkin …) melihatku. Menyadari hal itu, mak Auli yang berdiri di sampingku sempat berbisik,”Cuma papa aja yang tidak memakai jas. ‘Gimana itu?”. Lalu aku jawab,”Tenang saja, bukan pakaian yang dipakai bertugas itu yang paling perlu … Lagian, ‘kan sudah dibicarakan saat rombongan datang ke rumah.”.

Lalu pembagian tugas dan penjelasan liturgi oleh pendeta resort. Lalu prosesi memasuki ruang ibadah. Dari tatapan warga jemaat yang hadir, aku sempat menangkap nada bertanya di mata mereka. Saat punguan koor ama kami bernyanyi, aku juga menjadi satu-satunya peserta paduan suara yang tidak berjas. Ternyata kawan-kawanku itu sepakat berjas (sesuatu yang belum pernah terjadi tahun ini, dan tidak pula diberitahu padaku …).

Usai ibadah – yang di dalamnya diisi dengan penahbisan sintua baru yang sebelumnya didahului dengan pengenalan calon sintua (kami ada tiga orang …) – dilanjutkan dengan makan bersama sekaligus ucapan syukur ulang tahun gereja yang ke-22.

Sebagaimana lazimnya, beberapa kenalan menyampaikan ucapan selamat menjadi calon sintua yang aku balas dengan mengucapkan terima kasih. Yang mengesankan bagiku adalah saat seorang ibu setengah baya datang menyalam sambil mengucapkan: “Selamat, amang. Aku bersyukur pada Tuhan karena amang bersedia menjadi calon sintua. Aku banyak berharap pada amang untuk melakukan perbaikan dan perubahan di gereja ini. Jangan mau terbawa dengan yang lainnya. Doa khususku pada amang aku sampaikan kepada Tuhan supaya amang diberkati, disertai-Nya selalu dengan diberikan kekuatan dan kemampuan.”.  Beliau aku kenal sebagai isteri dari donatur gereja yang juga aktivis (kami sama-sama pelayan di Dewan Marturia), yang juga setia dan teratur beribadah di denominasi lain sebagaimana suami dan anak-anaknya (karena merasa lebih pas pelayanannya dibanding di HKBP). Beliau juga tahu aku alumni STT yang dosenku adalah pendeta yang dikaguminya di gereja non-HKBP tersebut …

Karena terasa “berlebihan” (jujur saja, terasa berat bagiku untuk mewujudkannya ‘dalam tempo yang sesingkat-singkatnya’ meskipun itu adalah mimpi yang selalu menantangku untuk membuatnya menjadi kenyataan …), aku hanya tersenyum dan memohon agar beliau selalu mendoakan. Ketika duduk di bangku paling belakang di ruang pertemuan itu, di tengah hiruk pikuknya orang-orang yang berbicara satu sama lain dan diimbangi suara protokol acara (yang juga kawanku di koor ama sekaligus calon sintua se-wejk) yang berusaha mengatur hadirin, aku bertanya dalam hati sejenak: “Mungkinkah inang itu tadi menangkap ‘gelagat’ bahwa aku adalah seseorang yang ‘berbeda’ dengan parhalado lainnya? Apakah ada orang-orang yang lain yang menangkap kesan yang sama dengan beliau?” Mudah-mudahan saja …

Yang penting bagiku, bukan sekadar berbeda. Tapi harus lebih baik segala-galanya dalam pelayanan jemaat. Dan paling penting, bukan aku, melainkan untuk kemuliaan nama-Nya. Do’akan saja!

Jember, setelah Lebih 15 Tahun yang Lalu. Kerinduanku Terjawab Sudah …

Aku selalu percaya bahwa Tuhan senang mendengarkan doaku. Apalagi kalau memintanya dengan motivasi yang sungguh-sungguh. Memang tidak semua yang aku minta dikabulkan-Nya, namun pengalaman hidupku seringkali mengajarkan bahwa Tuhan  mengasihiku. Pernah beberapa kali aku mendapatkan jawaban spontan dari Tuhan untuk sesuatu yang pernah aku minta (dan sedikit harapan bakal menjadi kenyataan bila hanya sekadar mengandalkan perhitungan pikiran manusia.

Begitulah yang terjadi dengan Jember. Sejak Juni yang lalu aku sangat merindukan bisa ke kota di provinsi Jawa Timur ini. Untuk menemui tulang-ku. Pernah sudah mantap dengan membawa mamakku, namun terpaksa dibatalkan karena keraguan saudara-saudaraku lain akan kondisi fisik Mamak yang harus melakukan perjalanan berjam-jam yang tentu saja menuntut kesiapan fisik yang memadai. Waktu libur sekolah (bersama Auli dan mamaknya) yang lalu juga batal karena aku ditugaskan ke Aceh. Tanpa diduga, sepulang dari Aceh saat hari pertama masuk kantor kembali, aku disodorkan jadual sosialisasi dan pelatihan yang aku harus jalankan ke berbagai kota sejak akhir Juli sampai akhir Agustus. Dan di dalamnya ada jadual untuk ke Jember. Luar biasa memang!

Setelah selesai dengan pekerjaan di Surabaya, maka Selasa (11/08/09), aku beserta rombongan  bermobil ke Jember. Berangkat pagi jam 10 (karena pak Makruf, Kepala Wilayah yang membawahi sebagian Provinsi Jawa Timur harus mengantarkan isterinya untuk pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu ke rumah sakit), kami pun tiba di Jember hampir jam tiga sore. Berjalan nonstop kecuali untuk makan siang di Restoran Rawon ’Nguling (yang di sekeliling dindingnya ditempeli foto-foto SBY dan isterinya saat bersantap di restoran tersebut pada suatu saat …), restoran yang saat kami makan siang itu banyak dihinggapi lalat ( di makanan, di meja, bahkan di tubuh kami …).

Sampai Jember, kami singgah sebentar di kantor dan gudang Distributor yang terletak di Jl. Imam  Bonjol. Usai berdiskusi dan observasi, kami  pun sore itu ke Hotel Bintang Mulia untuk check-in.  Hotel ini baru diresmikan tahun 2008 yang lalu sehingga kesan barunya masih terasa di mana-mana. Tak ’kusangka kalau aku bisa menginap di tempat penginapan yang sangat memadai tersebut (karena membandingkan tempatku menginap sebelumnya yang dalam beberapa hal masih lebih jelek padahal di kota besar …). Kolam renangnya dengan air yang jernih tentu saja memancingku untuk berenang (dan aku manfaatkan waktu yang sempit petang itu untuk berenang-renang sebentar …).

Kembali ke kerinduan untuk ketemu Tulang. Sempat mendua hatiku: apakah berkunjung hari ini, atau menunggu besok. Beberapa orang yang sempat aku tanyakan sebelumnya, tidak satu pun yang memberikan jawaban yang memuaskan tentang lokasi rumah Tulang itu. Dari semua jawaban, semua mengatakan bahwa tidak mudah untuk menjangkau lokasi tersebut jika tidak berkendaraan pribadi. Taksi pun tidak mudah didapatkan (relatif mudah untuk memesan taksi dari hotel untuk menuju ke sana, tapi untuk pulangnya pasti ada kerepotan yang lain (karena pasti sudah lewat tengah malam ,..). Naik becak? Wah kejauhan, tidak ada yang mau mendayung sampai ke sana (apalagi pulang-pergi …).

Setelah mandi, sambil menunggu kawan-kawan yang lain untuk makan malam di luar hotel, aku ke minimarket dengan berjalan kaki. Membeli beberapa produk yang diproduksi oleh perusahaan kami yang aku rasa cocok sebagai oleh-oleh. Aku sudah mantap untuk tidak usah ikut makan malam dengan mereka karena mau ke rumah Tulang. Kalau sampai harus ’nginap di sana, apa boleh buat (meskipun sebenarnya aku sangat ingin untuk bermalam di sana …) subuhnya aku kembali ke hotel untuk bersiap-siap ke tempat acara pelatihan. Ternyata ketika memasuki lobby hotel, Makruf sang Kepala Wilayah Madura bertanya ketika melihat aku menenteng bawaan yang tentu saja aku jawab dengan jujur. Tak disangka, beliau menawarkan diri (dan juga memaksaku untuk menerimanya, padahal sudah berulangkali aku menolaknya dengan halus …) mengantarkanku ke rumah Tulang yang sekaligus juga menelepon penyelia di  Jember agar tak usah menunggu kami untuk makan malam bersama. Kami akan menyusul mereka.   

Setelah berulangkali bertanya kepada orang-orang yang kami jumpai – dan tak satupun yang paham mengenai alamat yang kami tuju – akhirnya dengan terpaksa aku harus menelepon ke rumah Tulang yang dijawab oleh Nantulang dengan telepon yang terputus-putus sampai tiga kali (karena baterainya sudah mulai rusak, kata beliau ketika kami sudah berjumpa …). ”Terpaksa”, karena sejak awal aku memang berencana untuk memberikan kejutan kepada Tulang dengan cara tidak memberitahukan kedatanganku. Bahkan kepada keluarga pun tidak aku beritahu.

Sampai di rumah, hanya ada Nantulang karena Tulang sedang ikut partangiangan dan biasanya akan kembali ke rumah setelah jam sepuluh. Masih ada lagi, malam ini rencananya Tulang akan ke Surabaya untuk menghadiri pemakaman saudara dekat teman semarga yang meninggal sehari sebelumnya. Ini artinya aku hanya punya kesempatan beberapa jam untuk ketemu beliau sebelum berangkat dengan kereta api ke Surabaya jam sebelas malam. Setelah ’ngobrol beberapa jenak, akhirnya aku berinisiatif untuk pamitan dulu kepada Nantulang, sambil meminta nomor telepon seluler Tulang yang baru (nomor yang lama yang ada padaku ternyata sudah hilang dicuri bersama teleponnya …). Lalu kami ke Restoran Lanny di Jl. Selamat Ryadi yang dekat dengan lokasi perumahan itu. Tak lupa aku kirim pesan-pendek (SMS) kepada Tulang untuk memberitahu kedatanganku.

Tak lama bergabung dengan kawan-kawan lainnya yang sudah selesai makan, dan aku pun sudah kenyang menyantap hidangan yang ada, pesan-pendek dari Tulang masuk ke ponselku yang menyebutkan bahwa beliau sudah pulang dan ada di rumah. Lalu aku diantarkan pak Kepala Wilayah ke rumah Tulang untuk ditinggal sesuai saranku karena aku lihat beliau sudah mulai mengantuk. Penjemputan selanjutnya akan dilakukan oleh penyelia kami yang ditempatkan di Jember.  

Betul saja, pintu rumah telah terbuka dan Tulang menyambutku dengan sukacita karena tidak menyangka aku datang pada hari itu (karena tiada berita sebelumnya). Aku yakin, beliau sebenarnya tidak persis ingat lagi padaku selain kabar dan teleponan yang sangat jarang yang pernah kami lakukan sebelumnya. Wajahnya sudah tua (sesuai usia yang sudah lewat masa pensiun), namun semangatnya tidak jauh berbeda dibandingkan dengan terakhir kali kami bertemu. Hanya Tulang dan Nantulang yang tinggal di rumah, karena kedua anak mereka (lae-ku) sudah tamat sekolah dan bekerja di Madiun dan di Jakarta. Tentang anak yang menurutku sudah saatnya untuk menikah, terpaksa aku urungkan bertanya lebih lanjut karena tanggapan beliau yang kurang positif dengan menyatakan kekecewaannya terhadap jodoh yang belum didapatkan oleh si sulung.

Setelah ’ngobrol ’ngalor  ’ngidul tentang keluarga, komunitas Batak, gereja, dan kerinduan untuk mengadakan pertemuan keluarga akhir tahun ini, aku pun bersiap untuk pulang ke hotel. Sudah hampir jam sebelas ketika penyelia setempat kami datang menjemputku. Karena membatalkan keberangkatan ke Surabaya malam itu (dengan alasan masih capek, kepastian keberangkatan kereta api sebagai akibat anjlog beberapa hari sebelumnya, lalu kelayakan menginap di rumah keluarga yang kemalangan karena hidup almarhum masih memprihatinkan …), tawaranku untuk mengantarkan Tulang ke stasiun pun otomatis tidak bersambut. Aku sudah tak perlu kecewa akan hal itu. Tokh sudah ketemu dan berbincang-bincang dengan Tulang dan Nantulang malam itu. Cukuplah …

Sampai di kamar hotel, aku berulang-ulang mengucap syukur pada Tuhan. Untuk kesempatan yang diberikan kepadaku sehingga bisa berada di Jember (gratis pula, karena abidin alias atas biaya dinas …). Juga kegigihanku untuk tidak mendengarkan suara-suara untuk menunda kunjunganku ke rumah Tulang pada malam itu. Kalau tidak malam itu, tentulah kesempatan bertemu Tulang  masih harus menunggu waktu berbulan-bulan yang belum tahu entah kapan. Oh ya, aku juga bersyukur kepada Tuhan untuk kawan-kawan yang baik yang bersedia mendampingi dan mengantarkanku pada malam itu.

Andaliman-36 Khotbah 30 Agustus 2009 Minggu-XII setelah Trinitatis

 

Isaac & Ishmael Rivalry

Mujizat, Anak Daging dan Anak Janji. Kita Ada di Antaranya.

Nas Epistel: Galatia 4:22-28

Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak, seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka? Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji. Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar– Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab–dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang, karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya. Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita. Karena ada tertulis: “Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami.” Dan kamu, saudara-saudara, kamu sama seperti Ishak adalah anak-anak janji.

 

Nas Evangelium: Kejadian 17:15-27 (bahasa batak: 1 Musa 17:15-27)

Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.” Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?” Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!” Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.” Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham. Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat. Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia.

 

Untuk memahami perikop ini, aku berusaha menempatkan diriku dalam posisi Abraham: usia tua 100 tahun dengan isteri 90 tahun plus janji Allah untuk keturunan yang sangat banyak (laksana butiran pasir di pantai dan bintang-bintang di langit …). Bagaimana mungkin? Mendapatkan satu saja pun sudah tidak masuk akal! Tapi Allah sudah menjanjikan. Bagaimana pula ini?

 

Membaca salah satu biografi tokoh besar dalam Alkitab ini, aku sempat terpana: ternyata dia bukanlah manusia sempurna. Pun jika bicara tentang keimanannya yang suatu waktu bisa juga goyah. Coba ingat kembali, Allah sudah menjanjikan keturunan yang sangat banyak dan akan menjadikannya sebagai bapa segala bangsa dan orang percaya. Namun, tahun-tahun berlalu, dan tidak ada tanda-tanda akan mendapatkan anak sehingga mengambil ”terobosan” dengan cara memakai Hagar – salah seorang budak Sara, isterinya – untuk meneruskan keturunannya. Lahirlah Ismael, sehingga Abraham menganggap bahwa itulah anak yang akan mewarisi semua harta miliknya. Dengan demikian ceritanya berakhir sampai di sini, sudah happy ending,’kan?

 

Namun Tuhan bukanlah pelupa (karena Tuhan bukan manusia seperti aku ini …). Janji-Nya tentu saja diingat dan diwujudkan. Dan tepat sesuai rencana-Nya semula: kelahiran Ishak yang menjadi pewaris. Sama dengan Sara yang tertawa ketika mendengar janji Allah, Abraham juga melakukan hal yang sama. Aku pun sudah pasti akan tertawa pula, mungkin lebih keras (atau bahkan sedikit sinis dengan bergumam,”Tuhan, Tuhan, … ah, ada-ada saja, nih Tuhan …”). Tertawa dalam bahasa Ibrani adalah shahaq yang kemudian berasal Ishak.

 

Akal manusia seringkali jauh di bawah kemampuan dalam memahami rencana Allah, apalagi mengerti tentang perbuatan-Nya yang luar biasa. Itulah yang seringkali dikatakan dengan mujizat. Allah membuktikan kesetiaan-Nya akan janji-Nya, sekaligus mengingatkan Abraham bahwa Tuhan punya skenario sendiri tentang keselamatan. Dengan bukti kelahiran Ishak, Abraham digerakkan oleh iman dan ketaatan untuk melaksanakan perintah Allah. Langsung saja dia memberlakukan upacara sunat bagi semua anggota kawanannya. Dengan Abraham, rencana Tuhan untuk menjangkau dan memberkati semua bangsa di dunia bergerak menuju penggenapan.

 

Ilustrasi dalam perikop Ev inilah yang dipakai oleh Paulus kemudian ketika menyadari bahwa jemaat Galatia condong untuk kembali kepada hukum Taurat sebagaimana disampaikan dalam Ep Minggu ini. Kecenderungan untuk fanatik kepada legalitas yang melanda jemaat Galatia tersebut ditangkal Paulus dengan mengingatkan mereka tentang kelahiran Ishak dan Ismael. Yang satu – Ismael yang dilahirkan oleh Hagar, sang budak – adalah anak daging (prosesnya mengutamakan hasrat dan nalar manusia) sehingga melahirkan keturunan yang masih dilingkupi oleh perbudakan, sedangkan satunya lagi – Ishak yang dilahirkan Sara (nama baru yang berarti ’puteri raja’ sebagai permulaan perwujudan sebagai ibu dari semua bangsa-bangsa) adalah anak janji (sangat melibatkan campur tangan Tuhan dalam setiap prosesnya sebagai perwujudan janji-Nya) sebagai orang merdeka pewaris keselamatan.

 

Dengan tegas Paulus mengatakan bahwa orang-orang percaya adalah anak-anak janji. Aku pun termasuk di dalamnya. Jadi, aku hidup dengan mengandalkan janji Tuhan akan keselamatan dan kehidupan kekal. Apalagi yang kurang dari itu?

      

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kita bisa belajar banyak dari kisah Abraham ini, teladan orang percaya. Sebagai manusia, episode kehidupannya juga seringkali tidak berbeda dengan kita yang hidup pada zaman sekarang. Keraguan terhadap perwujudan janji, misalnya. Bukan pada sesama manusia, bahkan janji Allah juga! Atau sebaliknya, kita seringkali lebih percaya kepada janji manusia daripada janji Allah?

 

Paulus menggunakan dua kiasan untuk membandingkan antara Hagar dan Sara. Hagar adalah Yerusalem di bumi (sama dengan gunung Sinai di Arab) yang melahirkan anak-anak dalam perhambaan, sedangkan Sara adalah Yerusalem sorgawi sebagai ibu dari semua bangsa-bangsa yang hidup dalam kemerdekaan. Menarik, ’nggak?

 

Masih ada lagi, yakni tentang Ishak dan Ismael. Menurut tradisi gereja, Ismael inilah yang diyakini sebagai nenek moyang bangsa Arab (sebagaimana juga tercantum dalam perikop di atas) yang juga diberkati dengan keturunan yang sangat banyak dan menghasilkan dua belas raja-raja yang berkuasa. Lalu Ishak adalah nenek moyang bangsa Ibrani yang kemudian menjadi Israel. Pengetahuan kontemporer memberitakan pertentangan antara kedua bangsa-bangsa keturunan masing-masing yang tetap mewarisi konflik sampai saat ini. Terlepas dari pemahaman agama lain, membahas situasi yang berkembang saat ini tetaplah sebagai sesuatu yang menarik untuk dicermati …

 

Oh ya, sebagai anak-anak janji, kita hidup dalam perjanjian, dan mengandalkan janji-janji Tuhan dalam kehidupan kita. Pengharapan akan janji tersebutlah yang seharusnya menjadi motivasi bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Fokus pada-Nya dalam menjalani kehidupan dengan tetap setia berpegang pada firman-Nya. Jangan pernah goyah!