Dipatota dan Diririt untuk Jadi (Calon) Sintua … Eh, Ada Konde untuk Kaum Ibu.

Logo HKBP

Sabtu (01/08/09) malam, rumah kami kedatangan rombongan parhalado dari gereja dan wejk. Rabu malam sebelumnya, saat partangiangan wejk, sudah diusulkan dua orang untuk menjadi calon sintua (alias penatua) untuk tahun ini. Yaitu aku dan kawanku sesama parende ama yang saat itu menyediakan rumahnya untuk tempat partangiangan. Lalu disepakati jadual untuk patotahon sekaligus mangaririt secara resmi kepada keluarga untuk berdoa bersama supaya Tuhan memberikan kemampuan kepada sang calon sintua (disebut dengan Casi; berbeda dengan jemaat kami dulu di Medan yang menyebutnya dengan Cdt. St. sebagai singkatan “candidate sintua” yakni suatu ‘bahasa gado-gado’ yang pengertiannya sama dengan istilah di banyak tempat sebagai ‘sintua lerning’ …).

Karena jadualku yang akan bertugas di luar kota sejak akhir Juli sampai pertengahan Agustus), maka disepakati bahwa rombongan resmi dari gereja akan datang pada Sabtu malam itu. Konfirmasi (setelah diskusi dan mencocokkan dengan jadual Pendeta Resort) akan diberitahukan amang Lumbantoruan, sintua paling senior di wejk kami kemudian (yang ternyata kabarnya datang via pesan-pendek (SMS) pada Sabtu menjelang siang …, padahal aku Jum’at sebelumnya sudah menjadualkan pertemuan dengan kawan-kawan sekantor yang tinggal pada tetangga komplek perumahan untuk bersilaturahim Sabtu sore pukul lima). Karena molor waktunya, maka kami (aku, Auli, dan mamaknya) tertahan di rumah kawan yang menjadi tetangga komplek kami itu. Hampir jam setengah delapan, tiba-tiba masuk SMS dari inang sintua wejk yang menanyakan alamat lengkap rumah kami agar memberitahunya kepada pak pendeta resort. Meskipun sudah beberapa kali partangiangan wejk di rumah, terbukti tetap juga diperlukan alamat lengkap. Lalu aku kirim balasan. Tak lama kemudian pak pendeta menelepon menanyakan ke mana arah mereka selanjutnya agar sampai ke rumah kami, yang aku beritahu cara praktisnya. Bersamaan dengan itu aku ajak mak Auli dan Auli untuk pulang ke rumah, lalu permisi kepada kawanku sekantor yang jadi tuan rumah sore itu.

Dalam perjalanan, ada lagi masuk telepon dari pak pendeta. Karena sedang menyetir mobil, aku tidak jawab sambil meminta mak Auli untuk menelepon balik dan memberi tahu bahwa kami akan segera sampai. Meskipun kami sudah terburu-buru, ternyata pak pendeta sudah mendahului kami dan sudah duduk di ruang tamu bersama inang (calon) sintua (yang akan ditahbiskan bulan ini bertepatan dengan perayaan ulang tahun gereja yang jatuh tanggal 16 Agustus). Tak lama kemudian ada lagi seorang inang (calon) sintua (yang juga akan ditahbiskan bulan ini) beserta suaminya. Lalu datang seorang amang sintua senior kawanku semarga. Selanjutnya masih menunggu amang sintua yang paling senior yang setelah ditelepon berulangkali yang setengah jam kemudian barulah tiba di rumah. Sekarang lengkaplah sudah: semua sintua wejk kami (dua amang sintua dan dua inang calon sintua), amang pendeta resort, plus amang calon pendeta.

Tak berapa lama, pembicaraan pun dimulai. Amang sintua paling senior membuka kata, lalu berdoa, lalu menyampaikan-ulang hasil pembicaraan dan pengutusan jemaat wejk untuk menjadi sintua learning. Lantas kesempatan diberikan kepada amang pandita resort untuk berbicara, lalu disambut yang intinya seperti ini: “Na naeng rap martangiang do binahen na ro hami di bagas tingki on. Hami ndang be laho manungkun haradeon ni amang na naeng raphat mangula dohot hami di ulaon haparhaladoon, ala nunga tangkas diboto hami panghobasion ni amang saleleng on di piga-piga ulaon di hurianta. Jala nunga tibu dipasahat sintuanta sihol ni rohamuna na naeng gabe parhalado partohonan, alai ala ni paraturan dohot birokrasi ni na masa dope nuaeng di HKBP hudongkon hami do na masa i ala jolo dohotma gabe calon sintua nang pe anggo sian parbinotoan ala nunga wisuda sian STT nunga suman amang nang maniop hapanditaon. Jadi, molo naeng mangido haradeon ni amang, ninna rohanami ndang pola sungkunon be. Holan tu inang nama, asa pasahathon inang na rade do inang mandongani amang on laho gabe parhalado ni hurianta, manghobasi ulaon ni Debata …”.   

Setelah agak lama ditunggu jawaban tentang kesediaannya, akhirnya mak Auli pun menjawab,”Dari saya pasti mendukung. Tapi untuk mendampingi semua kegiatannya, saya belum bisa karena masih harus selalu menemani Auli setiap hari. Termasuk untuk hadir dalam partangiangan wejk. Nantilah dilihat dulu, kapan bisa, saya pasti akan hadir.”. Lalu aku berikan kesempatan kepada Auli untuk menjawab, yang dengan malu-malu setelah diminta berulang-ulang, menjawab,”Bingung …”, yang spontan disambut dengan tertawa keras dari yang hadir. Jawaban Auli ini agak mengagetkanku karena malam sebelumnya saat ”sesi diskusi” menjelang tidur hal ini sudah kami bicarakan berdua, di mana Auli menjawab,”Apa yang dijawab mama aja itu yang akan Auli bilang. Kalau mama bilang setuju, Auli juga akan bilang setuju, pa …”.  Apakah karena grogi, tetapi menurutku besar kemungkinannya kalau sebagian besar percakapan dilakukan dalam bahasa Batak yang tidak dimengerti oleh Auli.

Ketika diberi kesempatan berbicara, aku sampaikan bahwa kerinduanku ini memang sudah lama ada. Dengan pengetahuan yang aku miliki saat ini, aku tetap masih membutuhkan bimbingan dari parhalado yang lebih senior untuk memperlancar dalam mar-hakabepe. Sambil memohon kiranya Tuhan memberikan kemampuan dan kekuatan, aku berterima kasih untuk kepercayaan yang telah diberikan jemaat.

Lalu percakapan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh pak pendeta resort. Karena mi goreng yang dipesan mak Auli dari restoran dekat rumah sudah siap, maka do’a makan pun aku minta untuk dipimpin oleh mak Auli. Sambil makan, pembicaraan tentang jemaat dilanjutkan. Salah satunya tentang berpakaian yang mana aku menyampaikan pandanganku bahwa pelayan jemaat tidak perlu harus memakai jas setiap Minggu karena tidak sesuai dengan kondisi Jakarta yang panas (dan gereja kami yang tidak berpendingin udara …). Ber-batik cukuplah, kataku (dan ini yang akan aku jalankan kemudian …) sambil memberikan beberapa alasan, antara lain membuat parhalado menjadi eksklusif (yang tentu saja lebih banyak negatifnya dengan ekslusivitas yang diciptakannya …), tidak efisien (sambil membayangkan aku harus menjahitkan jas-jas baru, dan juga jasa laundry (karena jas membutuhkan cara pencucian yang berbeda dengan jenis pakaian lain), dan menghambat kekebasan dalam mengambil tindakan spontan (misalnya ada seorang anak terjatuh di gereja yang bisa saja pak penatua menjadi ”ragu” untuk menolongnya segera karena takur jasnya akan rusak seterikaannya …). Eh, ternyata bersambut, di mana pak pendeta menyampaikan bahwa ketika Sinode Godang yang terakhir ini beliau dan sintua senior yang turut hadir di rumah kami malam itu adalah bagian dari segelintir orang yang tidak memakai jas saat SG berlangsung di Tarutung. Jadi klop-lah, pikirku.

Eh, ternyata setelah mereka semua pulang dari rumah, mak Auli menyampaikan bahwa salah seorang inang sintua tadi membisikkan agar mak Auli berkebaya dan berkonde sebagaimana ibu-ibu parhalado lainnya yang akan ditampilkan di hadapan jemaat saat ibadah Minggu, 16 Agustus yang akan datang. Padahal, aku sudah berencana bahwa kami bertiga (aku, Auli, dan mak Auli) akan memakai ”batik keluarga”, yaitu batik dengan corak seragam yang memang dirancang untuk bapak, ibu, dan anaknya. Lalu bagaimana? Aku tetap dengan prinsipku, yakni aku akan berbatik. Sekalian menunjukkan, (calon) sintua yang satu ini memang berbeda …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s