Ada Juga Makam W. R. Supratman di Surabaya …

Indonesia Raya

Dalam perjalanan pulang ke Hotel Novotel – mungkin sadar tentang hobiku mengunjungi makam bersejarah – karyawan Distributor yang berperan sebagai pengantar rombongan kami selama di Surabaya tiba-tiba ‘nyeletuk bahwa tidak jauh dari tempat kami berada terdapat makam Wage Rudolf Supratman, sang penggubah lagu kebangsaan Indonesia Raya. Karena tidak mengganggu jadual, aku pun memintanya untuk mengantarkan kami ke makam dimaksud. Laksana bonus, karena tidak direncanakan sebelumnya.

Karena sudah malam, ternyata komplek makam sudah ditutup. Hanya ada tukang tempel ban, beberapa orang pengojek, dan warung rombong di sekitar makam tersebut. Mengetahui niat kami, salah seorang dari antara mereka memberi tahu bahwa di salah satu pojok di luar makam tersebut adalah rumah juru kunci (kuncen, istilahnya …) dan kami mungkin bisa meminta bantuannya untuk membuka pintu gerbang ke komplek makam. Tentu saja kesempatan ini tidak aku sia-siakan. Segera saja aku menuju arah rumah dimaksud yang diikuti oleh kawan-kawan yang lain. Celingak-celinguk sebentar, ada yang muncul. Seorang pria yang berusia relatif muda bertelanjang dada yang mengaku sebagai juru kunci makam, yang langsung bergegas mengambil kunci dan membuka semua pintu masuk (ada beberapa buah …). Kami pun segera masuk.

Makam yang luas. Ada patung W. R. Supratman (seukuran rata-rata orang Indonesia) sedang bermain biola dengan latar belakang tembok dengan teks lagu Indonesia Raya yang asli dalam tiga bait (yang ini mengingatkanku ketika masih usia Sekolah Dasar pernah menyanyikan semua baitnya …). Agak gelap, karena lampu-lampu banyak yang dipadamkan (mungkin untuk menghemat biaya listrik …). Arah ke kanan, adalah kuburan Supratman. Dilapisi dengan keramik yang mengkilat, ada anak tangga untuk mencapai kuburnya yang bagian atasnya berbentuk bayangan biola. Dalam prasastinya tercantum tahun pemugaran yang ditandatangani oleh Megawati Soekarnoputri saat menjadi presiden Republik Indonesia.

Setelah memotret, kami pun beranjak meninggalkan lokasi tersebut. Karena tidak kelihatan, aku pun melemparkan pandangan ke berbagai sudut mencari sang kuncen, yang kemudian mendatangiku (mungkin sudah menduga bahwa aku memang sedang mencarinya …). Seraya berterima kasih untuk dukungannya, aku menyalaminya yang diterima dengan sangat sukacita.

Dan makam pun kembali ditutup dengan gembok yang menempel pada setiap pintunya. Beberapa lampu kemudian dipadamkan. Lalu sepi. Jalan raya di depan makam masih berseliweran beberapa kendaraan, yang di dalamnya ada anak-anak bangsa yang besar kemungkinan sudah tidak peduli lagi dengan tokoh yang dikuburkan di situ.  Mungkin juga dengan pedagang dan penambal ban yang mencari nafkah di sekeliling komplek, yang lebih tertarik dengan pengunjung yang mampir ke tempatnya sehingga mendapatkan sedikit uang.  Sementara itu, jasad Supratman tetap terbaring kaku di bawah permukaan tanah yang sekarang tentu saja sudah tidak bisa lagi peduli apakah lagu ciptaannya masih mampu menggelorakan semangat kebangsaan di negeri ini seiring sudah semakin memudarnya orang-orang yang peduli dengan kesatuan dan persatuan.

Belajar dari sini, aku memprihatinkan banyak hal. Jangan bicara penghargaan, bahkan untuk suatu perbuatan yang menurutku baik saja pun adakalanya ditanggapi dengan sebaliknya. Tapi aku seringkali berupaya untuk tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena aku selalu berprinsip bahwa melakukan suatu perbuatan baik adalah merupakan ”tuntutan” mutlak bahwa aku memang harus melakukan perbuatan baik karena aku sudah mendapatkan anugerah dan kasih karunia yang sebenarnya aku tidak pantas menerimanya. Bukan karena ada motivasi ”aneh” di dalamnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s