Nempel Kunjungan ke Makam Sunan Ampel

Makam Sunan Ampel

Melanjutkan program sosialisasi dan pelatihan untuk Distributor dan pertugas lapangan kami di Surabaya, kembali hari Minggu itu (09/08/09) aku harus meninggalkan rumah untuk melaksanakan tugas. Dengan GA314 dari Bandara Soekarno Hatta yang bertolak jam 13.00 WIB akhirnya aku (bersama dua orang kawan sekantor dari departemen yang lain, yaitu Hendy dan Yuhendi) tiba di Bandara Juanda menjelang jam tiga siang. Tak lama menunggu, jemputan kami datang, yaitu Haris (kepala wilayah) dan Kastur, seorang penyelia sebagai pemandu jalan karena Haris belum terlalu familiar dengan kota Surabaya ini. Sesuai rencana – dan “tradisi” berkunjung ke makam yang suka aku lakukan setiap berkunjung ke suatu kota –  kami segera menuju makam Sunan Ampel yang tidak terlalu jauh dari bandara.

Sebagai staf penjualan, dalam setiap kesempatan selalu menyempatkan diri untuk melihat sejauh mana distribusi produk-produk kami di tingkat pelanggan. Di wilayah sekitar lokasi wisata ziarah, ada beberapa warung penjual makanan dan minuman. Oleh sebab itu, kami berkunjung ke suatu warung yang menjadi pelanggan Distributor (yang bernama Abu Sulis yang dikenal sebagai tokoh masyarakat Madura di sana). Karena jam makan siang yang “tanggung” (naik ke pesawat jam 12 dan hanya disediakan setangkup roti tawar berkeju) sehingga hanya mengandalkan nasi uduk yang disediakan di ruang tunggu Citibank, kami semua menjadi lapar. Untuk mengatasinya, sore itu kami memakan sebungkus besar keripik  tahu sebagai penganan pendamping kopi Nescafe yang disediakan oleh isteri Abu Sulis. Selain itu, aku meminta minuman ringan dalam kemasan botol plastik rasa teh hijau untuk menghalau panasnya cuaca sore itu.

Di depan warung terlihat beberapa bis yang diparkirkan, sementara beberapa lainnya juga baru masuk dari luar kota. Semua membawa penumpang yang akan berkunjung ke makam Sunan Ampel. Dari parkiran, kami berjalan bersamaan dengan rombongan lain yang sudah membentuk barisan dalam jumlah yang besar. Menyeberang jalan raya, lalu melintasi jembatan, selanjutnya kami memasuki gerbang makam Kyai R. Rahmatulloh (ini nama sebenarnya dari  Sunan Ampel). Di kiri dan kanan, becak-becak menunggu penumpang di  antara warung-warung sederhana. Dari toko kaset yang menghadap jalan raya terdengar lantunan musik Disco Arab yang mendominasi suara-suara lainnya.

Sepanjang gang menuju masjid dan makam dipenuhi oleh toko-toko penjual barang-barang yang berhubungan dengan sholat (kopiah, minyak wangi, tasbih, tikar sembahyang), dan buku-buku agama serta makanan-minuman lainnya (buah apel, salak, sirup dingin dalam plastik, nasi soto, dan goreng-gorengan). Oh ya, ada juga pengemis (anak-anak dan orangtua) yang menyodorkan wadah penadah uang (eks gelas plastik minuman  atau panci kecil) yang terkesan memaksa dengan terus mengikuti ke mana kita pergi sampai pada suatu titik menyerah dan tak meneruskan usahanya lagi untuk mendapatkan recehan. Masih ada lagi anak-anak yang menjajakan kantongan plastik hitam untuk membungkus sandal atau sepatu bagi pengunjung yang sholat (termasuk aku juga yang terus dibuntuti seakan tak yakin dengan perkataanku yang menjawab bahwa aku tidak sholat …).    

Dari rombongan kami semobil, hanya aku yang Kristen. Karena kawan-kawan lainnya sedang sholat, aku sendirian berjalan mengitari masjid Ampel (bangunan tua yang megah dengan lantai dan dinding marmar serta tiang-tiang besar dan kosen yang terbuat dari kayu jati yang terkesan kokoh. Dibutuhkan kesabaran dan ketenangan saat berjalan di keramaian manusia tersebut yang seringkali harus bersenggolan satu sama lain karena padatnya pengunjung. Dibandingkan dengan pengalamanku dulu berziarah ke makam Sunan Gunung Jati (Syekh Siti Jenar), pengaturan pengunjung di Ampel ini adalah lebi baik. Arah perjalanan pengunjung diatur sedemikian rupa sehingga tidak berpapasan antara yang masuk dan yang keluar. Jumlah petugas pengelola juga sangat memadai untuk selalu mengawasi dan mengarahkan pengunjung supaya menjadi teratur.

Melewati bangunan masjid, akhirnya aku memasuki kawasan makam. Paling depan adalah komplek pemakaman mbah Bolong (sepertinya ini yang paling kramat di komplek makam tersebut …), lalu ada prasasti besar berjudul ”Syuhada Allah” yang ternyata adalah kenangan bagi jemaah haji yang mengalami kecelakaan pesawat di Kolombo tahun 2004 dengan nama-nama korban yang tercantum di dalamnya.

Masih ada lagi komplek kuburan dari ”orang-orang tak dikenal” (karena pada nisannya tidak tercantum nama almarhum/almarhumah, apalagi tanggal lahir dan tanggal meninggal, tidak ada keterangan sama sekali). Berjalan terus, lalu memasuki komplek makam utama dengan melewati gerbang dengan tembok sekelilingnya. Itulah komplek makam Sunan Ampel. Dari gerbang, ke kiri ada lagi makam kuburan dari ”orang-orang tak dikenal”.  Di sebelah kanan adalah komplek makam Sunan Ampel dengan makam isterinya di kanannya dan sekelilingnya adalah makam ”lingkaran satunya”. Aku beranjak mengambil buku yang terdapat pada rak besar dan dengan sekenanya mengambil salah satu buku. Lalu duduk bersila di antara kuburan dari ”orang-orang tak dikenal” yang dinaungi sebatang pohon, dan terkejut dan merasa menyesal tidak memeriksa buku yang aku ambil karena ternyata isinya adalah Surat Yasin yang 100% berbahasa Arab. Untunglah tak lama kemudian datang kawan-kawanku yang sudah selesai sholat dan mengambil beberapa buku dari rak yang tadi tempat aku mengambil buku tadi, langsung saja aku tukarkan dengan buku lainnya yang dwibahasa. Kelihatannya buku-buku tersebut adalah berasal dari sumbangan pengunjung. Godaan ”riya” ternyata lebih kuat sehingga penyumbang tetap ingat mencantumkan namanya. Hal ini jelas terlihat pada sebagian besar buku-buku yang ada pada rak yang tersusun acak-acakan.

Lalu kami berempat duduk berdampingan dengan arah menghadap makam Sunan Ampel. Yang duduk di sebelah kiriku mulai menggumamkan doa. Tak lama salah seorang lainnya mulai mengaji dengan suara pelan. Yang duduk di sebelah kananku mulai ’ngobrol dengan yang duduk di sebelahnya. Dari sebelah sana, kumandang ayat-ayat Yasin bergema seakan sahut-menyahut antara satu rombongan dengan rombongan lainnya. Untuk menjaga kekhusyukan, aku tenang membaca buku yang ada pada tanganku. Isinya Surat Yasin, lalu tuntunan doa berziarah kubur, dan ayat-ayat pendukung lainnya. Oh ya, pada halaman terdepan terdapat khasiat membaca Surat Yasin dengan cara mengumandangkannya puluhan kali maka semua permintaan akan dipenuhi …

Sebelum pulang, aku mengajak kawan-kawanku itu untuk mendekati makam Sunan Ampel. Berjalan lambat bersama barisan pengunjung lain, akhirnya kami sampai pada jarak terdekat yang kami bisa karena sudah sangat banyak orang yang duduk bersimpuh memanjatkan doa sambil mengaji di sekeliling makam utama tersebut. Saat itu barulah aku tahu, bahwa di bagian ujung (dekat pintu gerbang keluar) ada lokasi yang hanya boleh ditempati oleh pengunjung wanita. Hanya makam Sunan Ampel yang bisa kau lihat ada tulisan namanya, sedangkan yang lainnya adalah kuburan dari ”orang-orang tak dikenal”. Dipagari besi yang kokoh yang berbeda dengan makam lainnya, hiasan-hiasan layaknya umbul-umbul pada kedua kubur tersebut membuatnya menjadi semakin berbeda dengan yang lainnya.

Lalu kami beranjak meninggalkan komplek makam, lalu keluar, kembali ke tempat parkiran mobil.  Bis-bis yang baru datang membawa rombongan semakin menambah sesaknya tempat itu, dan mobil kami  – satu-satunya yang bukan bis – menjadi sangat kecil di kepungan belantara bis yang parkir di lokasi tersebut.  Dalam perjalanan pulang, aku sempat merenungkan beberapa pelajaran yang aku dapatkan dengan berkunjung ke makam kali ini:

(1)    Tidak semua (bahkan bagian terbesar) dari pengunjung adalah umat yang fasih dan memahami bahasa Arab, namun mereka tetap taat memanjatkan doa sambil berharap akan dikabulkan. Ini menarik untuk didiskusikan dalam konsep keimanan: percaya dulu, atau mengerti dulu?

(2)    Dalam perjalanan menuju makam, berulangkali aku menanyakan kawan-kawanku tentang ”keabsahan” dalam berdoa ke makam. Bagaimana mungkin mengharap berkah dari orang-orang yang sudah mati? Ini menyangkut kepada kepercayaan, sekali percaya kepada suatu hal maka itu akan sangat sulit untuk diubah kemudian (walaupun kadangkala belum tentu sesuai dengan keimanan …).

(3)    Jika ”sekadar” mengenang jasa para penyiar agama secara teratur, aku sangat mendukung kegiatan ini. Bahkan menjadi prihatin pada diri sendiri (baca: orang-orang Kristen) membandingkan perlakuan terhadap makam para penginjil perintis jalan kekristenan (si totas nambur), Ompu DR. I. L. Nommensen misalnya.

(4)    Aku sempat merindukan nyanyian memuji Tuhan Yesus saat mendengarkan betapa gemuruhnya para pengunjung makam saat mengumandangkan ayat-ayat Yasin. Orang Kristen punya banyak koleksi nyanyian yang indah-indah yang layak dinyanyikan dalam setiap kesempatan, termasuk saat ziarah ke makam. Ini dapat merubah persepsi tentang kuburan yang sering dibayangkan hanya dengan hal-hal yang seram.  

(5)    Wisata ziarah ini menghidupi  banyak orang dan masyarakat sekitar makam (dan aku juga melihat potensi bisnis perusahaan kami di sana dan sudah mendiskusikannya dengan tim lokal). Hal yang sama mungkin bisa diterapkan di makam bersejarah para penginjil jika dikelola dengan baik dan profesional.

Sebagaimana setiap berkunjung ke ”dunia lain”, setelah setiap melakukan kegiatan seperti ini rasa rinduku menjadi semakin memuncak. Dan aku menjadi tersadar bahwa kematian adalah saudara kembar kehidupan, sehingga aku harus selalu bersiap kapan pun saatnya tiba.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s