Andaliman-37 Khotbah 06 September 2009 Minggu XIII setelah Trinitatis

Ut omnes unum sint (310809)

Satu untuk Kemuliaan Allah

Nas Epistel: Roma 15:5-9

Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.”  

Nas Evangelium: Yohanes 17:14-23

Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.  

Perikop yang menjadi Ep Minggu ini adalah surat Paulus kepada jemaat di Roma yang saat itu terdapat dua poros, yaitu antara yang kuat dan yang lemah, antara Kristen Yahudi dan Kristen non-Yahudi. Dua kubu tersebut tentu saja tarik-menarik dalam memahami ajaran kekristenan, terlebih ketika harus menjalankannya dalam kehidupan yang baru. Menyadari perbedaan tersebut yang berpotensi pada perpecahan, Paulus mengingatkan jemaat tersebut untuk selalu berupaya dan mempertahankan hidup rukun. Bagaimana caranya? Dengan menjadikan Kristus sebagai teladan! Semua latar belakang yang membedakan antara golongan yang satu dengan yang lain, selayaknya dijadikan sebagai modal  untuk memperkokoh persekutuan, bukan malah merusak kerukunan. Itu semua hendaknya diarahkan untuk kemuliaan Allah.

Tidak jauh berbeda dengan pengalamanku berjemaat. Di berbagai tempat, semuanya menunjukkan pola yang hampir sama. Jemaat dibentuk oleh individu-individu dengan latar belakang yang berbeda. Masing-masing datang dengan pemahaman dan pengalaman hidup persekutuan yang berbeda. Sebaliknya, mereka juga datang dengan potensi (yang besar) yang juga berbeda. Potensi tersebut secara positif dapat digunakan untuk memperkaya persekutuan, yang pada akhirnya manfaat dapat dirasakan oleh semua warga jemaat. Sebaliknya – jika tidak dikelola dengan baik dan proporsional – perbedaan tersebut juga memiliki potensi yang sama dahsyatnya dalam menimbulkan perpecahan dan rusaknya persekutuan.

Contoh sederhananya adalah tentang pemusik untuk ibadah Minggu dan pemandu lagu (song leader). Beberapa kali pengurus Seksi Musik dalam rapat Dewan Marturia di jemaat kami mengeluhkan tentang sulitnya mendapatkan orang yang mau dibina menjadi pemusik dan pemandu lagu (karena seringnya – dan selalu – membahas topik yang sama ini, aku pernah ’nyeletuk:”Koq masalahnya ini ini saja yang kita bahas, ya? Apa ’nggak ada masalah lain yang ’lebih sulit’ yang lebih layak kita bicarakan daripada tentang ini terus ..? Kenapa kesepakatan yang sudah kita putuskan bersama pada rapat sebelumnya tidak dilaksanakan dengan konsisten?”. Sebaliknya, dalam beberapa kesempatan aku sering mendapat masukan dari beberapa warga jemaat seperti: ”Amang, aku (atau kadangkala menjadi ”anakku” manakala orangtuanya yang ’curhat’ …) sebenarnya kepingin melayani dalam ibadah sebagai pemusik (atau pemandu lagu …), tapi aku lihat mereka yang mengurus ini tidak cocok dengan cara berpikirku selama ini”. Kontradiksi, ’kan? Mana yang benar? Tidak perlulah kita harus tahu semuanya, ya karena itu bisa saja bukan menjadi yang paling penting, karena yang terutama adalah kedua belah pihak punya keinginan yang sama untuk melayani di jemaat. Jadi, apalagi?

Jemaat harus mengelolanya dengan baik. Cuma sayangnya, dalam pengelolaannya acapkali terjadi kesalahpahaman sehingga yang diperkirakan akan menghasilkan pelayanan yang baik ternyata ditanggapi sebaliknya oleh orang lain. Tak ada cara lain yang lebih efektif selain meneladani Yesus Kristus dan menjadikannya sebagai motivasi persekutuan dalam jemaat.  Saling menerima keberadaan satu sama lain (sebagaimana Yesus menerima semua orang yang berasal dari semua golongan dan latar belakang …), melayani secara sungguh-sungguh (sebagaimana Yesus menjadikan diri-Nya sebagai pelayan bagi semua orang …), dan semua itu akan terlihat dengan nyata sebagai suatu kemuliaan bagi Tuhan. Bukan kemuliaan orang per orang, karena cuma Tuhan sajalah yang pantas menerimanya.  

Prinsip tersebut di atas menyokong semangat persatuan dan kesatuan dalam persekutuan sebagaimana dimaksudkan oleh nas perikop Ev Minggu ini. Doa Yesus kepada Allah Bapa untuk pengikut-Nya. Dunia memang membenci (karena firman yang disampaikan), dan Tuhan – jika mau – mudah saja menghindarkan anak-anak-Nya dari celaka dengan cara menarik mereka dari dunia yang jahat. Mudah, ’kan? Namun Yesus tidak mau yang seperti itu. Anak-anak-Nya ”hanya” perlu dilindungi, disertai, dan dikuatkan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Untuk menghadapinya, anak-anak Tuhan harus bersatu dalam semangat kasih Kristus. Dengan kekuatan itu, kemuliaan Tuhan dinyatakan.  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Hampir tidak ada lagi jemaat yang benar-benar homogen. Pastilah terdiri dari berbagai latar belakang yang berbeda. Perbedaan itu semua janganlah sampai dijadikan sebagai pembeda pelayanan antara yang satu dengan yang lain. Pembedaan hendaknya hanyalah berdasarkan perbedaan kebutuhan pelayanan. Pada sisi yang lain, kesempatan melayani diberikan berbeda semata-mata juga berdasarkan perbedaan kemampuan, talenta, dan panggilan masing-masing warga jemaat yang bersedia mengabdikan dirinya sebagai pelayan di jemaat.

Iklan

One comment on “Andaliman-37 Khotbah 06 September 2009 Minggu XIII setelah Trinitatis

  1. thx a lot bwt masukan yang berharga yang amang berikan. setidaknya ada kata-kata kunci tertentu yang bisa saya gali melalui halaman khotbah amang ini untu menambah kekayaan khotbah saya. salam Ara Tambunan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s