Andaliman-38 Khotbah 13 September 2009 Minggu XIV setelah Trinitatis

Janda dari Sarfat (040909)

 

Tuhan itu ajaib! Ayo memberi …

 

Nas Epistel: 1 Raja-raja 17:7-16

Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: “Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan.” Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: “Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum.” Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: “Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti.” Perempuan itu menjawab: “Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati.” Tetapi Elia berkata kepadanya: “Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.” Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

 

Nas Evangelium: Kisah Rasul 28:1-10 (bahasa Batak: Ulaon par-Apostel 28:1-10)

Setelah kami tiba dengan selamat di pantai, barulah kami tahu, bahwa daratan itu adalah pulau Malta. Penduduk pulau itu sangat ramah terhadap kami. Mereka menyalakan api besar dan mengajak kami semua ke situ karena telah mulai hujan dan hawanya dingin. Ketika Paulus memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkannya di atas api, keluarlah seekor ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya. Ketika orang-orang itu melihat ular itu terpaut pada tangan Paulus, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Orang ini sudah pasti seorang pembunuh, sebab, meskipun ia telah luput dari laut, ia tidak dibiarkan hidup oleh Dewi Keadilan.” Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api, dan ia sama sekali tidak menderita sesuatu. Namun mereka menyangka, bahwa ia akan bengkak atau akan mati rebah seketika itu juga. Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat, bahwa ia seorang dewa. Tidak jauh dari tempat itu ada tanah milik gubernur pulau itu. Gubernur itu namanya Publius. Ia menyambut kami dan menjamu kami dengan ramahnya selama tiga hari. Ketika itu ayah Publius terbaring karena sakit demam dan disentri. Paulus masuk ke kamarnya; ia berdoa serta menumpangkan tangan ke atasnya dan menyembuhkan dia. Sesudah peristiwa itu datanglah juga orang-orang sakit lain dari pulau itu dan merekapun disembuhkan juga. Mereka sangat menghormati kami dan ketika kami bertolak, mereka menyediakan segala sesuatu yang kami perlukan.

 

Aku sudah beberapa kali membaca kisah tentang perempuan janda di Sarfat dan anaknya ini sebagaimana yang menjadi nas Ep Minggu ini, namun baru kali ini aku dapat melihat lebih banyak hal daripada sekadar keajaiban yang diperbuat oleh Nabi Elia.

 

Mari kita lihat janda tersebut. Status yang disandangnya menjadikannya bukan siapa-siapa dalam strata sosial Yahudi. Sudah janda, (ma’af) miskin pula … Dia belum mengenal Tuhan (sesuatu yang tidak aneh pada masyarakatnya zaman itu), dan juga belum mengenal Elia. Dengan persediaan yang hanya cukup untuk satu kali makan saja lagi bersama anaknya (lalu mereka akan mati …), eh … masih ”nekad” memberikan tumpangan pada Elia, orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Dan patuh pada perintah Elia dengan memberikan apa yang diminta sang nabi. Upah yang diterimanya kemudian adalah kehidupan yang lebih panjang (dan iman percaya kepada Tuhan sebagaimana kita lihat pada lanjutannya tatkalan anaknya dihidupkan-kembali dari kematian oleh Elia).

 

Kita lihat juga Elia. Dengan status kenabiannya, dia percaya kepada ”skenario” Tuhan yang menyuruhnya pergi dan percaya bahwa akan ada orang yang memelihara hidupnya. Tapi, janda miskin? Kalau janda kaya, besar kemungkinan banyak orang yang dengan mudahnya percaya. Tapi itulah yang terjadi, dengan taat kepada perintah Tuhan, Elia menuruti kemauan-Nya. Dan dia mampu bersaksi kepada janda miskin dan anaknya tersebut tentang betapa berkuasanya Tuhan.

 

Teguran yang aku rasakan menohok padaku secara langsung dengan meneladani tindakan sang janda dan sang nabi adalah:

(1)    Memberi dari kekurangan, bukan karena kelebihan, apalagi sisa! Janda tersebut bukan hanya memberi sisa hidupnya, bahkan memberi seluruh hidupnya! Betapa seringnya aku mengeluh saat orang-orang memohon bantuan padaku dan aku menolak memberikannya dengan alasan keterbatasan uang yang aku miliki saat itu. Dan betapa seringnya aku jika pada akhirnya mau memberi setelah melakukan kalkulasi yang ”ketat” bahwa aku tetap masih punya uang berlebih kalaupun harus dikurangi dengan memberikan kepada orang yang memohonnya kepadaku. Jika tidak yakin dengan saldo positif, maka pemberian akan ditangguhkan dulu.

(2)    Membantu orang tidak peduli dengan status orang tersebut. Acapkali pertanyaan ”siapa dia?” adalah yang pertama kali muncul padaku saat kesempatan itu datang. Jika tidak yakin bahwa orang tersebut adalah ”masih kita”,  pastilah aku selalu menemukan alasan untuk tidak memberikan bantuan pada saat itu, dan pada orang itu.

(3)    Iman yang luar biasa. Sang janda tidak kenal dengan Elia, namun patuh pada perintah ”orang asing” tersebut. Bahkan dengan rela mempertaruhkan nyawanya dan nyawa anaknya. Begitu juga Elia, yang patuh sepenuhnya (dengan tidak menghitung resiko akan menanggung kelaparan dan kehausan karena hanya mengandalkan diri pada janda miskin …).Berapa kali aku dalam hidupku meragukan pertolongan dan campur tangan Tuhan setiap ada persoalan yang datang. Memang ada beberapa kali percaya, namun persentasinya sangat sangat sangat kecil …   

(4)    Tidak egois. Bayangkan, tinggal sekali makan, tapi masih bersedia berbagi dengan orang lain. Ini lagi yang paling sulit. Dalam setiap kejadian, kecenderunganku selalu mengutamakan diriku sendiri.

 

Puji Tuhan, dengan pertolongan-Nya  – dan yang setiap hari aku sisipkan dalam doaku: ”bentuklah aku seturut dengan kehendak-Mu dan berikan aku ketaatan dan tunduk sungguh pada pimpinan-MU …” aku merasakan perbaikan kehidupan kekristenanku belakangan hari ini.

 

Bagaimana hubungannya dengan nas Ev Minggu ini? Ya, Tuhan masih tetap berkuasa dalam setiap keadaan. Dan Tuhan bisa memakai siapa saja. Bisa itu seorang janda miskin, nabi, atau rasul. Dan Tuhan juga memakai mereka untuk menjadi saksi akan kebesaran-Nya. Lihatlah, tepung dan minyak yang mampu mencukupi kebutuhan keluarga janda tersebut. Lalu patukan ular berbisa yang tidak mematikan Paulus. Itu semua menjadi kesaksian yang terbukti kemudian membawa orang-orang yang menyaksikannya kemudian mempersaksikan imannya dengan menjadi pengikut-Nya.

      

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Hal memberi adalah sesuatu yang seringkali menarik untuk didiskusikan (yang cenderung kemudian diperdebatkan …), yang sayangya sangat jarang kemudian dilaksanakan dalam kehidupan. ”Memberi dengan terluka” sebagaimana yang dipraktikkan oleh sang janda tersebut di atas, adalah konsepsi yang menggugah spiritualitasku. Dan tak jemu-jemu aku menyampaikannya kepada orang-orang yang seringkali mereka terima dengan kening berkerut. Tak usah jauh-jauh mengambil contoh, isteriku di rumah saja seringkali tak setuju dengan argumentasi yang aku sampaikan, dan cenderung mencap aku sebagai ”sombong rohani” dengan dalih yang seringkali dipakainya adalah: ”Tuhan juga mengajarkan kepada kita untuk memakai pikiran supaya kita jangan kekurangan di masa depan. Bukan menyuruh untuk memberi, padahal (baca: walau) sudah tahu bahwa uang kita sekarang ini tidak cukup lagi untuk diberikan kepada orang lain. Jangan sok-sokan …”.

 

Di jemaat kami yang terkenal di luaran sebagai jemaat yang berkelimpahan, berdasarkan hasil observasiku adalah golongan yang sulit dalam memberi. Setiap kali ada kegiatan (yang tentu saja membutuhkan dana), pastilah masalah keuangan (yang cenderung mengandalkan sumbangan warga jemaat) menjadi pergumulan yang sangat serius pada Panitia. Sayangnya – entah mengapa – pola berpikir bahwa warga jemaat pelit terlanjur tertanam kuat dalam diri parhalado (pelayan tahbisan) sehingga ikut-ikutan pesimis. Dan lebih disayangkan lagi, setiap ide yang baru untuk merubah situasi buruk tersebut selalu dimentahkan oleh mereka, kelompok yang seharusnya mampu memotivasi warga jemaat agar bergairah dalam memberi. Terang saja tidak mampu karena mereka juga dalam kondisi tidak termotivasi! Oleh sebab itu, sebagai pelayan jemaat seharusnyalah lebih optimis dalam memandang persoalan yang terjadi di jemaat dengan tetap mengandalkan campur tangan Tuhan.

 

Beberapa minggu lalu, melalui khotbahnya di mimbar, pak pendeta resort menyampaikan kerinduannya tentang tidak adanya lagi durung-durung (kolekte = persembahan) berupa uang kertas seribuan rupiah. Meskipun disampaikan ”mulai berlaku minggu depan”, faktanya sampai Minggu lalu aku masih melihat denominasi (pecahan) seribuan itu masih mendominasi meja tempat uang kolekte dituangkan untuk kemudian kami menghitung jumlahnya. Ada ”perubahan” sedikit, yaitu mulai muncul uang pecahan dua-ribuan yang langsung saja inang sintua buru-buru memintaku untuk menukarkannya dengan uang sepuluh ribuan miliknya … Lalu ada lagi, di jemaat kedengaran pembahasan bernada miring tentang khotbah himbauan pak pendeta yang menganggap himbauan tersebut adalah tidak pantas …

 

Ada lagi. Memberilah tanpa harus memandang siapa yang akan diberi. Kita juga punya kecenderungan melihat siapa yang akan diberi dengan berbagai alasan: bukan Kristen, bukan Batak, bukan HKBP, bukan warga jemaat kita, bukan kawan se-kampung, bukan kawan se-marga, bukan keluarga dekat, bukan saudara kandung, yang terakhir adalah ”bukan prioritas” … Bahkan untuk menolong saudara kandung pun selalu saja kita punya kemampuan untuk mencari dalih untuk menolaknya.

 

Masih ada lagi, yaitu tentang sikap egois alias mementingkan diri sendiri. ”Aku saja masih kekurangan, ’gimana mau membantu dia?”, itulah ucapan ”ke-manusia-an” kita. Dan lihatlah gempa yang kita alami Rabu (02/09/09) yang lalu, orang-orang pada berdesakan untuk menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Begitu banyak orang yang menjadi korban karena ketakutannya tertimpa reruntuhan sehingga menderita (terinjak, depresi, bahkan tewas), padahal gempanya sendiri tidak benar-benar meruntuhkan bangunan yang ada di bawah dan di atasnya …

 

Inilah saatnya bagi kita – pelayan dan warga jemaat ”biasa” – untuk mengubah diri dengan cara menjadikan semangat ”memberi dengan terluka” menjadi bagian dari kehidupan keseharian kita. Dengan tetap percaya bahwa Tuhan masih tetap memiliki kemampuan untuk mencukupkan ”tepung dan minyak” bagi kita meskipun kecenderungan kekurangan itu hanyalah sekadar perasaan kita saja. Dan rasakan betapa nikmatnya!

Iklan

4 comments on “Andaliman-38 Khotbah 13 September 2009 Minggu XIV setelah Trinitatis

  1. Tuhan adalah Maha Besar untuk membuat kita aman, dan penyayang, tetapi kita selalu lupa mengucapkan Terima Kasih Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s