Andaliman-39 Khotbah 20 September 2009 Minggu-XV setelah Trinitatis

 

Jeremiah (140909)

Dicari: Suara Kenabian!

 

Nas Epistel: Yeremia 26:7-14

Para imam, para nabi dan seluruh rakyat mendengar Yeremia mengucapkan perkataan-perkataan itu dalam rumah TUHAN. Lalu sesudah Yeremia selesai mengatakan segala apa yang diperintahkan TUHAN untuk dikatakan kepada seluruh rakyat itu, maka para imam, para nabi dan seluruh rakyat itu menangkap dia serta berkata: “Engkau harus mati! Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?” Dan seluruh rakyat berkumpul mengerumuni Yeremia di rumah TUHAN. Ketika para pemuka Yehuda mendengar tentang hal ini, pergilah mereka dari istana raja ke rumah TUHAN, lalu duduk di pintu gerbang baru di rumah TUHAN. Kemudian berkatalah para imam dan para nabi itu kepada para pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: “Orang ini patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah bernubuat tentang kota ini, seperti yang kamu dengar dengan telingamu sendiri.” Tetapi Yeremia berkata kepada segala pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: “Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu. Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu. Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu.

 

Nas Evangelium: 2 Korintus 11:7-16

Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma? Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu! Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorangpun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian. Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapapun di daerah-daerah Akhaya. Mengapa tidak? Apakah karena aku tidak mengasihi kamu? Allah mengetahuinya. Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan. Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. Kuulangi lagi: jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Dan jika kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya akupun boleh bermegah sedikit.

 

Ini bukan tentang terorisme dengan Nurdin Muhamad Top sebagai gembongnya yang telah memorakporandakan situasi keamanan di negara yang kita cintai ini. Bukan, bukan tentang ekspatriat yang semakin ’nge-top dengan fotonya semakin banyak dipampang di tempat-tempat keramaian (Oh ya, di bandara Soekarno-Hatta minggu lalu aku membaca pesan yang ”aneh” tentang hal ini yang tertera pada salah satu X-banner yang terletak di eskalator saat baru mendarat dari penerbangan Balikpapan yang berbunyi: ”Terorisme adalah musuh kita bersama. Tidak satupun agama yang mengajarkan tentang permusuhan.”. Terasa ’nggak ”keanehan” pesannya?). Dan kemarin malam saat berkunjung di toko buku Gramedia di Mall of Indonesia Kelapa Gading Jakarta, aku juga melihat semakin banyak buku yang menceritakan terorisme dengan memampangkan foto penjahat dari Malaysia ini.

 

Ini adalah tentang hal penting yang sudah semakin langka sehingga sulit didapatkan belakangan hari ini, yaitu suara kenabian.

 

Nas Ep menceritakan tentang nabi Yeremia yang dengan lantang menyuarakan apa yang dimaui oleh Tuhan yang harus disampaikannya kepada masyarakat Israel pada saat itu yang sedang dilanda degradasi moral dan kehancuran secara politis. Suara kenabian yang disampaikannya ternyata tidak berkenan bagi kalangan pemimpin agama yang mendengarnya. Bukan karena kebenaran yang disampaikan oleh Yeremia, namun isinya yang tidak menguntungkan bagi mereka sehingga mereka berniat untuk membunuh Yeremia yang sangat berani untuk berbeda dengan kalangan umum pada saat itu.

 

Hal yang sama seringkali terjadi saat ini. Beberapa kali aku mengetahui bahwa di beberapa jemaat khotbah yang disampaikan di mimbar adalah hanya hal-hal yang menyenangkan bagi jemaat. Hal-hal yang enak didengar, bukan yang harus didengar. Khotbah-khotbah yang disampaikan didominasi oleh berkat-berkat dan janji-janji Tuhan tentang kelimpahan, tanpa dibarengi dengan mempersiapkan pendengarnya untuk lebih kuat dalam menghadapi ujian iman (sebagaimana kita ketahui, iman itu perlu ada latihan juga, ’kan?). Bahkan ada kesan bahwa penyampai firman ”memaksa” Tuhan untuk hanya bisa memberi berkat, dengan memanjatkan do’a yang kira-kira begini bunyinya: ”Kami tahu, Tuhan pasti akan memberikan apa yang kami minta, anak-anak-Mu ini. Engkau adalah Bapa yang penuh anugerah yang selalu memberkati hidup kami dengan kelimpahan. Kami juga menolak roh kemiskinan, roh dukacita, dan roh-roh lainnya di dalam nama Yesus …”.  

 

Masih ada lagi, seorang penyampai firman tidak berani menyampaikan sesuatu hal karena dia mengetahui bahwa ada orang (atau orang-orang) yang akan tersinggung dengan isi khotbahnya. Misalnya tidak berani membahas tentang perjudian dan ilegal logging karena tahu bahwa warga jemaatnya yang hadir saat itu adalah pelaku bisnis yang berhubungan dengan kedua hal tersebut.

 

Selain karena ketakutan ditinggalkan warga jemaat (yang biasanya adalah orang berpengaruh di jemaat …), pengkhotbah tersebut juga mungkin takut akan kehilangan ”sandaran hidupnya” karena selama ini mendapatkan banyak santunan dari oknum tersebut. Memprihantinkan, memang!

 

Itulah yang diingatkan oleh Paulus kepada jemaat Korintus sebagaimana dapat dibaca pada nas Ev Minggu ini. Untuk menjaga independensinya, Paulus berupaya untuk tidak menjadi beban kepada jemaat yang dilayaninya, Dalam memenuhi kebutuhannya, Paulus bekerja sebagai pembuat tenda dan mencukupkan dirinya dengan apa yang dapat diterimanya dari pekerjaannya tersebut. Jangan sampai ”dibeli” oleh oknum-oknum yang pasti punya kepentingan tertentu dalam pelayanannya.

      

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Tanpa kita sadari, sama seperti pemimpin agama dalam nas perikop di atas, sebagai pelayan jemaat kita juga punya potensi sebagai penghambat kemajuan jemaat. Dengan hanya menyampaikan hal-hal yang enak dan menyenangkan didengar oleh jemaat – dan melupakan menyampaikan kebenaran yang lain – itu sama saja dengan menghambat pertumbuhan iman warga jemaat. Mereka menjadi tidak siap dalam menghadapi kondisi-kondisi yang kurang menyenangkan.

 

Selain tidak menyampaikan perbuatan-perbuatan yang tidak disukai Tuhan (dosa, hukuman kekal, misalnya) ada juga yang lebih mengutamakan tradisi daripada prinsip alkitabiah. Misalnya membentuk pandangan jemaat bahwa warga jemaat harus  memakai jas (untuk kaum bapak) dan berkebaya (untuk kaum ibu) bila mengikuti ibadah Minggu. Padahal tidak satupun ayat dalam Alkitab yang menyatakan tentang ketentuan seperti itu.

 

Sebagai pelayan jemaat, kita harus berani menyatakan ajaran Alkitab tanpa ketakutan akan hal-hal yang dapat ditimbulkannya. Kebenaran adalah kebenaran, tanpa membedakan satu dengan yang lainnya. Walaupun kadangkala pahit, tetaplah harus disampaikan.

 

Sebagai warga jemaat, kita harus menguji diri kita sendiri: apakah kita masih bisa mendengarkan suara kenabian pada saat ini? Atau memang tidak ada lagi suara kenabian? Jangan-jangan kitanya sendiri yang sudah tidak punya kepekaan lagi? Silakan saja berintrospeksi dan berefleksi …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s