Nunga Lam Moru be di Pekanbaru …

Pada saat bertugas di Pekanbaru, aku menyempatkan diri untuk singgah di rumah namboru-ku yang lokasinya sangat berdekatan dengan Hotel Aryaduta tempatku menginap pada 19-21 Agustus 2009 yang lalu. Adik bungsu mertuaku laki-laki yang kawin dengan marga Silalahi – almarhum amangboru – yang sudah puluhan tahun tinggal di kota tersebut. Bukan sekadar namboru, adik bungsu isteriku menikah dengan anak tertua beliau. Artinya kami marpariban, dan mereka juga kawin dengan pariban, pernikahan yang masih diidamkan oleh banyak keluarga Batak.

Sebagai mantan pejabat di kantor pemerintahan, almarhum mewariskan rumah besar yang terletak di tengah kota. Artinya: sangat strategis, elit, sehingga lokasi tersebut sangat mahal harganya. Tentu saja jadi incaran orang-orang berduit untuk memiliki rumah tersebut untuk menunjukkan status sosialnya. Dibandingkan dengan rumah-rumah sekitarnya yang kebanyakan saat ini sudah berpindah tangan karena beralih kepemilikan (dari pejabat pemerintahan pada masa lalu yang kemudian pensiun, lalu dijual kepada orang-orang kaya dan atau pejabat masa kini …).

Setiap tugas ke Pekanbaru selalu aku sempatkan datang ke rumah itu. Biasanya malam setelah usai melaksanakan tugas kantor, dan syukurlah mereka memahami keadaan itu. Kadangkala tengah malam aku datang, sebagaimana yang terjadi pada kunjungan terakhir saat itu. Setelah berbagi kabar yang ditingkahi oleh keriuhan si kembar (satunya lagi sudah terlanjur tidur) yang menunjukkan kebolehannya dalam menyanyi dan menari, sebagaimana biasa, pembicaraan beralih kepada kehidupan orang Batak (dan gerejanya). Saat itulah namboru berkata, ”Nunga lam moru be hami di luat on, bapak Auli. Na masa i antar torop do hami, alai anggo nuaeng holan piga-piga halak nai nama na ro tu partangiangan wejk. Godangan angka dongannami hian nunga pinda be sian on, dungkon manggadis jabu na be. Jabu on pe nunga jotjot disungkun parjabu na balga na di bariba an na naeng dituhor asa dipadomu ibana tu jabuna si nuaeng. Ibana wakil pangulu ni pamarenta nuaeng … Timbo do nian argana, alai ndang olo dope ahu maninggalhon jabu on. Ndang huboto sahat tu andigan …”. 

Demikianlah faktanya. Orang-orang pada suatu saat akan mempertimbangkan faktor ekonomi dalam memutuskan segala sesuatunya. Dengan penghasilan yang sudah jauh menurun, dengan uang pensiun tentu semakin sulit bagi mereka untuk bertahan di tengah godaan yang mungkin saja sangat menggiurkan. Implikasinya adalah – sebagaimana yang sudah terjadi dan sudah dirasakan oleh jemaat gereja di sana – berkurangnya partisipan kegiatan ibadah yang dirancang Gereja karena anggotanya sudah pergi meninggalkan  persekutuan. Semoga saja mereka menemukan persekutuan Kristen yang sehat, bukan malah sebaliknya menjadi domba-domba yang sesat …

Iklan

One comment on “Nunga Lam Moru be di Pekanbaru …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s