Andaliman-40 Khotbah 27 September 2009 Minggu-XVI setelah Trinitatis

Ruth & Boaz (180909)

Sehati sepikir berbelas kasih dalam persekutuan. Jadi hamba? Bagaimana bisa? Tiru saja Kristus! 

Nas Epistel: Filipi 2:1-11

Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Nas Evangelium: Rut 2:8-16

Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: “Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan. Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu.” Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: “Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?” Boas menjawab: “Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung.” Kemudian berkatalah Rut: “Memang aku mendapat belas kasihan dari padamu, ya tuanku, sebab tuan telah menghiburkan aku dan telah menenangkan hati hambamu ini, walaupun aku tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan.” Ketika sudah waktu makan, berkatalah Boas kepadanya: “Datanglah ke mari, makanlah roti ini dan celupkanlah suapmu ke dalam cuka ini.” Lalu duduklah ia di sisi penyabit-penyabit itu, dan Boas mengunjukkan bertih gandum kepadanya; makanlah Rut sampai kenyang, bahkan ada sisanya. Setelah ia bangun untuk memungut pula, maka Boas memerintahkan kepada pengerja-pengerjanya: “Dari antara berkas-berkas itupun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu; bahkan haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia.”

Sehati sepikir, merendahkan diri dan menganggap orang lain lebih penting dari diri sendiri, itulah pesan yang disampaikan oleh nas Ep Minggu ini. Siapa lagi kalau bukan Yesus yang dipakai oleh Paulus sebagai model yang patut diteladani oleh jemaat di Filipi (yang juga tentunya masih sangat relevan dengan kehidupan jemaat saat ini). Dengan segala kemuliaan-Nya, Yesus bersedia merendahkan diri sebagai hamba dan mengambil rupa sama seperti manusia.

Tak terbayangkan kalau aku berada pada posisi itu. Dengan sangat sedikit kemuliaan duniawi yang aku miliki sekarang ini pun (ma’af, kalau masih ada …), masih sangat sulit bagiku untuk mendekati apa yang Yesus sudah lakukan sejak ribuan tahun yang lalu. Mengosongkan diri, berarti menganggap diri bukanlah siapa-siapa sehingga tidak “gengsi” untuk menjadi hamba alias pelayan bagi orang lain yang mungkin saja posisi duniawinya lebih rendah dari diriku. Mulialah Tuhan dengan kerelaan-Nya meninggalkan kemuliaan itu untuk menjadi sama seperti manusia yang hina …

Untuk melakukan pekerjaan yang sangat sederhana saja pun, aku masih seringkali tergoda untuk berkecil hati. Misalnya dalam ibadah Minggu di mana jumlah warga jemaat yang hadir mengikuti ibadah harus dihitung untuk kemudian diumumkan Minggu berikutnya. Sejak menerima penunjukan sebagai calon penatua, setiap Minggu aku selalu mendapatkan kehormatan untuk melakukan pekerjaan ini (yang juga diselingi dengan menggantikan penatua yang seharusnya bertugas mengumpulkan persembahan, namun tidak hadir dengan alasan tertentu …). Penghitungan dilakukan dengan counter, suatu alat sederhana dalam menghitung yang digemgam dengan cara memencet tombol dengan jari. Penghitungan dengan alat sederhana ini baru dilakukan tahun lalu, sejak aku menyumbangkan beberapa buah sebagai rasa syukurku setelah lulus ujian meja hijau di STT Jakarta. Sebelumnya tidak pernah dilakukan. Suatu kali untuk keperluan tugas kuliah, ketika aku meminta data jumlah rata-rata hadirin yang mengikuti ibadah Minggu, pak pendeta menjawab: ”Ya … sekitar 200-an oranglah, amang”. Bagaimana cara menghitungnya? Dengan cara menduga, yakni mengurangkan jumlah kertas acara ibadah yang dicetak dengan yang masih tersisa di meja penerima tamu … Tentu saja itu mengagetkanku! Bagaimana mungkin gereja yang berusia lebih 20 tahun yang terletak di tengah kota Jakarta masih menggunakan cara “primitif” (ma’af) seperti itu?

Nah, belakangan ini setiap Minggu aku yang ditugaskan menghitung jumlah hadirin. Mulanya, sih, sukarela karena calon pendeta yang sebelumnya bertugas untuk itu berhalangan sehingga aku berinisiatif mengambil alih. Namun akhirnya malah menjadi tugas rutin. Tak apalah, cuma begitu aja … Biasanya aku minta bantuan salah seorang calon penatua lain untuk membantu, jadi kami selalu berdua, karena kursi di gereja juga disusun dalam 4 barisan.  

Sejak semula bertugas sampai Minggu lalu, aku selalu “menangkap basah” orang yang ketawa (kadang cekikikan kecil …) saat melihatku memencet-mencet alat hitung itu sambil melihat hadirin satu per satu. Yang paling sering adalah perempuan usia muda. Dari penampakan yang aku lihat, aku merasakan seolah-olah mereka mengatakan: “Kasihan banget orang ini, kerjaannya hanya begitu aja …”. Sempat juga “ciut” nyaliku sebentar, namun – puji Tuhan – selalu ada suara hati kecilku yang mengatakan: “Tak usahlah kecil hati segitu aja. Katanya hamba, masak masih ‘gitu aja sudah langsung ciut …”.

Begitulah … Sangat jauh ‘kan kualitas kehambaannya dibandingkan kehambaan Yesus? ‘Gimana pula kalau yang lebih berat daripada itu, atau bahkan sampai mengorbankan nyawa, misalnya? Luar biasa Yesus!

Lalu apa hubungannya dengan perikop yang menjadi Ev, yakni tentang kisah Boas dan Rut? Jujur saja, semula aku sulit menemukan benang merahnya antara Ep dan Ev kali ini; selain Yesus adalah garis keturunan dari Boas dan Rut yang kemudian membentuk mahligai perkawinan. Tapi – aha ! – aku dapat akhirnya. Perlakuan Boas terhadap Rut yang datang dengan latar belakang yang berbeda (dari bangsa lain, strata sosial yang “bukan siapa-siapa”, menempatkan Rut pada posisi yang terhormat …) dan sikap lainnya adalah merupakan sebagian dari sikap teladan Yesus bagi kita. Pada sisi yang lain, Rut juga layak menjadi teladan.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Di mana kita dapat menemukan jemaat seperti yang diidam-idamkan Paulus itu? Sulit menemukannya, walau mungkin saja ada. Yang mirip atau yang mendekati seperti itu? Pastilah ada, walaupun dengan kadar atau presentasi yang berbeda. Tapi bukan berarti tidak bisa diciptakan. Perbedaan dan konflik yang menciptakan ketegangan di kalangan jemaat, seringkali menghasilkan persekutuan yang lebih baik. Bukankah cobaan dan ujian yang kita lalui (apalagi berhasil mengatasinya …) selalu meningkatkan kualitas keimanan kita? Yang perlu selalu diingat adalah, sepanjang konflik tersebut terjadi untuk kebaikan bersama dan penyelesaiannya selalu diupayakan di dalam Tuhan, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Sebagai pelayan di jemaat, tak ada yang perlu diragukan untuk selalu memosisikan diri kita sebagai hamba. Jadi, kondisikan diri untuk selalu siap untuk “diganggu” (baca: ketenangan dan kenyamanan kita yang selalu berpotensi terganggu oleh warga jemaat untuk melayani mereka memenuhi kebutuhan mereka …). Contoh sederhana, jangan duduk manis di tempat yang telah disediakan untuk pelayan (di beberapa gereja biasanya di kursi depan yang dirancang dalam posisi menyamankan …) sementara masih ada warga jemaat yang “gugup” sambil celingukan mencari tempat duduk untuknya karena yang hadir pada ibadah saat itu lebih banyak daripada biasanya.

Sulit? Ya, memang sulit. Tapi jangan ragu, sudah ada contohnya, koq. Jadikan saja Yesus sebagai teladan kita. Merasa tidak mampu? Mohonlah kekuatan dari-Nya …

Tambahan 300909:

Baru saja kemarin aku mendapat cerita dari seorang kerabat yang mengikuti ibadah Minggu di Medan ketika nas perikop ini disampaikan sebagai khotbah di mimbar. Karena pendeta lebih fokus pada hubungan antara menantu dan mertua, seorang ibu terisak-isak lalu menangis dengan mengeluarkan suara bahwa kisah itu mengingatkannya pada para parumaen-nya. Besar kemungkinan, hubungan yang kurang harmonis menjadikan sang ibu terisak-isak. Bahkan berlanjut hingga usai ibadah sehingga beberapa orang yang hadir sempat datang menanyakannya. Dua orang anak perempuan beliau segera membujuk, menenteramkan, lalu menuntun sang ibu meninggalkan gereja bersama seorang menantu laki-lakinya yang saat itu sedang berkunjung ke Medan.

Hubungan anak-menantu, entah kenapa, seringkali menjadi topik yang “miring”. Sayangnya di kalangan orang Batak pada umumnya, kondisi ini seakan-akan menjadi sesuatu yang diyakini pasti terjadi, yang tentu saja memengaruhi pola pikir dan pola tindakan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Baik mertua, menantu, dan – sayangnya … – orang-orang di sekitarnya, sehingga bilamana hubungan simatua-parumaen tidak harmonis orang-orang menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, apa iya? Aku tak percaya kalau relasi simatua-parumaen dan relasi kekerabatan apapun dan yang bagaimanapun ditentukan oleh “tradisi” yang dipercayai turun-temurun seperti ini. Tidak! Hubungan bisa dijalin harmonis, terpulang kepada individu-individu yang terlibat di dalamnya. Di mana Kristus, kalau kita sendiri “pasrah” menerima (dan mungkin mewarisi …) anggapan negatif seperti ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s