Pelatihan Pelayan Tahbisan: Mana Apinya?

Logo HKBP

Tadi malam (17/09/09) aku kecewa di gereja. Dengan beberapa hal, dan oleh karena beberapa penyebab.

Sesuai tingting Minggu lalu (dan sudah didengungkan beberapa kali pada sermon parhalado), tadi malam itu parhalado partohonan dijadualkan mengikuti pembinaan di salah satu ruangan gereja. Pembicaranya adalah Pdt. DR. Ir. Fridz Sihombing, dosen STT HKBP di Pematang Siantar. Judulnya sangat menarik: Posisi, Tugas, dan Spiritualitas Penatua.

Dijadualkan jam tujuh, maka aku – setelah “berjuang” di perjalanan – sudah tiba di komplek gereja lima belas menit sebelumnya. Gereja sepi. Tak lama kemudian, datang seorang kawan sesama calon penatua yang ternyata pikiran kami sama, yaitu jam tujuh dimulai sermon yang kemudian akan dilanjutkan dengan kegiatan pembinaan tersebut. Setelah lama menunggu, dan orang-orang mulai berdatangan, akhirnya jam delapan kurang sepuluh menit ada tanda-tanda akan dimulai pertemuan. Pembicara yang diikuti calon pendeta memasuki ruangan di lantai dua tempat kami sebagian peserta parhalado sudah berkumpul. Lalu muncul pendeta resort. Melihat LCD-projector yang baru tiba dibawa calon pendeta masih teronggok di salah satu kursi, maka aku berinisiatif memasangkannya sampai siap-untuk- dipakai.

Jam delapan lewat, sermon dimulai. Bisa dibayangkan, sebagian besar dilakukan dengan terburu-buru karena masih ada acara pelatihan yang menjadi lebih prioritas. Tidak ada pembahasan mengenai rancangan khotbah yang sudah dipersiapkan oleh saleh seorang penatua yang sebelumnya sudah ditunjuk. Dilanjutkan dengan pembagian tugas untuk Minggu mendatang. Saat itu diputuskan untuk meniadakan partangiangan wejk karena diduga akan sangat sedikit warga jemaat yang hadir karena masih sibuk dengan liburan Lebaran (!). Padahal di ruang konsistori di lantai dasar sebelumnya aku sudah usulkan untuk menggabungkan saja semua wejk dalam satu partangiangan yang dilaksanakan di gereja.

Jam sembilan kurang beberapa menit, barulah acara pelatihan dimulai. Melihat slide pertama yang ditampilkan di dinding ruangan yang menarik dan diimbuhi dengan lagu seriosa salah satu lagu dari Buku Ende, aku berharap akan mendapatkan banyak pengetahuan baru dari pelatihan ini. Melihat track record pembicaranya yang disampaikan di awal (masih muda, punya kerinduan menjadi pendeta sejak tamat SMP, sempat kuliah di IPB dan menjadi insinyur, lalu kuliah di Fakultas Teologi UKDW Yogyakarta, kursus bahasa di Jerman dan lalu mengambil doktor di Jerman …), tentulah tak salah kalau aku mengharap mendapatkan hal-hal yang baru dari pembekalan kali ini.

Namun, sampai selesai, aku harus menelan kekecewaan. Ada beberapa hal yang membuatku menjadi seperti itu, yaitu:

–        hampir semua slide dipenuhi oleh huruf-huruf, dan sebagian besar di antaranya adalah kutipan dari dokumen resmi HKBP (padahal dalam kehidupan profesionalku ada ketentuan dalam melakukan presentasi: “sedikit huruf (pada slide), dan lebih banyak kata (melalui ucapan untuk menjelaskan setiap slide)”.

–        sangat dihargai upaya pembicara untuk menampilkan power point dengan slide show yang bervariasi, tapi menampilkan gambar boneka kuning dan bunga mawar yang bergerak ke sana ke mari tentulah tidak relevan dengan topik yang sedang dibahas saat itu …

–        memang – sebagaimana diakui oleh pembicara – tidak ada sesuatu yang baru yang dibicarakan, yakni: definisi gereja, tujuh tugas pelayanan penatua ditambah empat “tugas tambahan”, semuanya persis dengan apa yang disampaikan oleh pendeta resort saat kami mengikuti learning sintua pada Jum’at minggu lalu. Tentang spiritualitas penatua? Apakah karena aku sudah terlanjur “tidak nyaman” di awal, sampai akhir slide aku tidak mendapatkan hal yang fokus untuk spiritualitas ini. Sayang sekali …

Semula, pendeta resort – yang berperan layaknya “moderator” – mengatakan bahwa semua peserta dapat langsung bertanya kepada pembicara tanpa harus menunggu selesai penyampaian materi, namun hanya aku yang bertanya (“Kenapa penatua bertanggung jawab kepada Gereja yang tidak jelas maksudnya apa dan siapa, dan bukan kepada Rapat Jemaat yang sudah jelas bentuknya?”, yang dijawab dengan “Saya mengerti maksud pertanyaannya, tapi masih beginilah dulu situasinya saat ini”) di tengah presentasi. Setelah selesai presentasi, barulah ada dua orang penatua yang bertanya. Pertama bertanya tentang bagaimana menjamin bahwa penatua bisa hidup tidak tercela, lalu bagaimana konsekuensi bagi penatua yang anaknya tidak beriman, kemudian pertanyaan yang ketiga adalah apa yang harus dilakukan penatua dalam menyampaikan teguran kepada warga jemaat agar tidak tersinggung, dan terakhir bagaimana penatua dalam memainkan perannya di tengah-tengah “serbuan” gereja-gereja non-HKBP). Penatua yang kedua bertanya tentang periodisasi penatua di HKBP.

Masih ada “jatah” satu pertanyaan lagi, dan itu aku manfaatkan dengan mengajukan pertanyaan yang sudah aku siapkan ketika mengetahui riwayat pembicara yang ada sedikit kemiripan denganku: bercita-cita jadi pendeta namun kuliah di IPB, bekerja sebagai profesional selama dua tahun sebelum kemudian kuliah teologi yang dilanjutkan dengan menjadi pendeta kemudiannya yang sesuai dengan cita-citanya sejak SMP! Aku bertanya: “Pernahkah Amang menjadi sintua?”, yang dijawab dengan “Tidak”. Lalu aku lanjutkan bertanya: “Kalau tamat SMA lalu masuk STT dan menjadi pendeta, pertanyaan itu tadi tidak akan saya ajukan karena itu adalah hal yang biasa. Namun mengingat riwayat amang yang sejak SMP sudah bercita-cita menjadi pendeta, namun baru terwujud setelah jadi insinyur dan bekerja sebagai profesional bertahun-tahun, ada yang menggelitik:’Koq selama belum menjadi pendeta itu Amang tidak punya ketertarikan pada dunia penatua?”. Nah, di sini bertambah lagi satu kekecewaanku, karena jawaban beliau yang tidak fokus dengan bercerita tentang masa SMP-nya yang memelihara babi di Duri, dan keterbatasan biaya, dan lain-lain yang menurutku sama sekali tidak nyambung …

Untuk menjelaskan maksud pertanyaanku, aku harus menjelaskannya berulang kali yang di sela dengan perkataan pendeta resort: “Maksud pertanyaannya adalah dari segi struktur jabatan, kenapa Amang langsung jadi pendeta tanpa harus melalui penatua terlebih dahulu?” (yang ini tentu saja jauh dari apa yang aku maksud dengan pertanyaanku itu!), dan celetukan salah seorang penatua: “Bisa saja tidak jadi sintua terlebih dahulu karena tidak dipilih oleh jemaat” (yang ini lebih tidak masuk akal, kan?).     

Sambil menyetir pulang sendirian ke rumah, aku sempat merenung dan berupaya mengobati rasa kecewaku. Aku jadi membandingkan apa yang biasanya aku lakukan saat memberikan presentasi, baik berupa ceramah maupun pelatihan. Sudah menjadi standar bagiku untuk memberikan tampilan paling menarik (dan relevan) untuk setiap slide dengan sedikit huruf namun banyak penjelasan dengan ucapan, tidak membaca slide karena sudah menguasai materi presentasi, dan pasti berinteraksi dengan hadirin (dengan dialog yang menyegarkan). Tentu saja topiknya harus benar-benar ‘nyambung dan sesuai. Minimnya interaksi dengan hadirin pada malam itu (yang lebih banyak dengan mendengarkan pasif …), juga menjadi pertanyaan bagiku: apakah materinya yang tidak pas, atau (jangan-jangan …) memang kami sebagai peserta adalah penatua yang sudah tidak punya ketertarikan dengan hal-hal seperti itu lagi. Atau bahkan sudah menjadikan penatua adalah suatu jabatan layaknya pegawai gajian rendah motivasi (bukan pelayanan jemaat …) yang bangga dengan segala atributnya (terlebih saat ibadah di gereja …) yang akan dibawa sampai mati. Jika itu terjadi, alangkah menyedihkannya. Dan alangkah malangnya warga jemaat yang seharusnya mendapatkan pelayanan optimal dari kami!

Aku yakin, pembicara pada pelatihan malam itu pasti punya banyak hal yang bisa dibagi dengan kami. Namun dengan berbagai faktor yang memengaruhinya, faktanya begitulah situasi dan kondisi yang terjadi. Atau aku memang menempatkan harapan (ekspektasi) yang terlalu tinggi? Atau – ini yang paling aku takutkan jangan sampai terjadi! – aku ini sudah jadi orang sombong? Merasa diri paling hebat dan paling mampu? Malam itu aku berdoa, janganlah semua kekecewaan yang aku rasakan malam itu sebagai akibat kesombonganku. Dengan membawa pertanyaan pada Tuhan aku terlelap dalam tidurku.

Iklan

2 comments on “Pelatihan Pelayan Tahbisan: Mana Apinya?

  1. Hmmm, menarik juga pengalaman amang.

    kebetulan semasa kuliah dulu saya pernah menjadi ‘asisten’ beliau (FPS). soal presentasi memang selalu jadi masalah bagi beliau. kualitas slidenya kebanyakan ditentukan oleh kreativitas si mahasiswa menyiapkan presentasi beliau. jadi kalau kebetulan slidenya gak matching, mungkin karena keterbatasan seperti itu. hehe

    btw, pertanyaan kritis amang itu jadi menyadarkan satu hal. jadi muncul pertanyaan, seberapa besarkah keinginan warga jemaat untuk menjadi penetua dan apa motif yang melatarinya? mengapa misalnya (seperti kasus) seseorang lebih tertarik menjadi penetua daripada jd penetua?

    salam.

  2. Sabar ma amang, pagodang hita ma martangiang tu Debata. Ai hira ndang Debata be nampuna Huria i, nunga gabe jolma. Hape, sasintongna, Debata do nampuna Huria i, hita jolma holan parhobasNa do. Jadi sabar ma ate amang. Tatangianghon ma asa sude sadar paboa ndang na laho manghobasi jolma hita umbahen na pinillitNa, alai laho manghobasi IBANA do hita umbahen na pinillitNa, i ma mangaramoti artaNa na ummarga i, “huria na pinapunguNa” (huria dison ndang na fisikna, alai jolma na do; taingot ma ende na mandok: “kamu gereja, aku gereja, kita sama-sama gereja”. Horas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s