Andaliman-46 Khotbah 08 November 2009 Minggu XXII Setelah Trinitatis

Giving (301009)

Berpuasa dan memberi, motivasinya yang penting!

Nas Epistel: 2 Korintus 9:6-15

9:8 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”

9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.

9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.

9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,

9:14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.

9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

 

Nas Evangelium: Yesaya 58:4-12

58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.

58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?

58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,

58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.

58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.  

 

Banyak hal dalam hidup ini yang sudah dilakukan, namun tidak dengan cara yang benar. Meskipun melakukannya dengan sungguh-sungguh, namun karena caranya masih tidak tepat maka tidak menghasilkan secara maksimum. Contohnya jika kita masuk dalam kehidupan duniawi yang materialistis: ada orang yang sudah bekerja keras namun tidak menjadi kaya juga. Di dunia pekerjaan: ada orang bekerja habis-habisan (memang ada yang seperti ini, ya?), namun jabatannya tidak naik-naik juga. Bahkan dalam dunia kerohanian, ada pelayan yang menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam melayani di jemaat, tapi hidupnya sendiri tidak damai dan sejahtera (nah, kalau yang ini bolehlah dikatakan sebagai hal yang sangat menyedihkan …).

 

Perikop Minggu ini menceritakan tentang hal itu, yang secara khusus berbicara tentang berpuasa dan memberi. Keduanya adalah tindakan yang sebenarnya sangat baik, sehingga patut untuk ditiru. Namun, ternyata keduanya belum tentu memberikan kebaikan apabila tidak dilakukan dengan cara yang benar. Salah satunya adalah motivasi yang melatarbelakangi tindakan berpuasa dan memberi dimaksud.

 

Jika dilakukan untuk sok-sokan (supaya diketahui dan dipuji oleh orang lain), tindakan yang seharusnya mulia tersebut malah berpotensi menjadi nista. Tidak akan mendapat upah yang dijanjikan oleh Tuhan. O ya, pengertian upah dalam hal ini janganlah dipahami sebagai bentuk kompensasi secara materi. Bukan itu.

 

Nas perikop Ev menjelaskan bahwa dimaksud dengan berpuasa yang berkenan bagi Tuhan adalah ”membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (ayat 6 dan 7). Dan kesemuanya itu dilakukan dengan motivasi yang benar, yaitu untuk kemuliaan Tuhan.

 

Tadi malam, ketika membaca firman ini, aku menjadi tertegun dan tertegur. Aku seringkali melakukannya dengan motivasi untuk kemegahan diriku sendiri. Aku menjadi malu pada diriku sendiri. Selain karena cara berpuasa, juga karena caraku dalam hal memberi.

 

Padahal, jika memberi, sebenarnya ada tiga pihak yang menjadi tujuan pemberian itu yang menjadi dasar yang harus dipahami dalam melakukannya, yaitu:

(1)      Diri sendiri. Memberi haruslah dengan kesadaran bahwa itu harus dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur atas pemberian Tuhan yang terlebih dahulu sudah aku terima. Berkat, kasih karunia, dan … Yesus! Apalagi yang melampuai daripada itu?

(2)      Orang lain. Jelaslah ini, ya. Memberi tentulah kepada orang lain.

(3)      Allah. Jangan salah mengerti, bukan karena Tuhan berkekurangan. Tapi karena Tuhan mau memakai orang-orang yang memberi untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Pernah mendengar kisah tentang seseorang yang tiba-tiba terpikir untuk membantu anak-anak putus sekolah, lalu memberikan beasiswa melalui suatu yayasan? Besar kemungkinan pada tempat lain (mungkin ratusan atau ribuan kilometer jaraknya …) ada seorang anak yang sedang berdoa kepada Tuhan yang menyampaikan kerinduannya untuk melanjutkan sekolah, padahal orangtuanya sudah menyatakan ketidakmampuannya lagi untuk membiayai … Artinya, Allah memakai orang-orang yang belum tentu saling mengenal untuk menyatakan kuasa-Nya. Luar biasa!

 

Dari pengalaman, aku ingin berbagi tentang hal-hal sebagai berikut:

(1)    Memberi bukanlah dari kelebihan, apalagi dari sisa-sisa, melainkan dari hasil yang disisihkan sejak awal, atau spontanitas sesuai dorongan hati. Banyak orang beranggapan bahwa memberi merupakan suatu kerugian, karena melihatnya sebagai ”pengurangan dari apa yang dimilik saat ini”. Menurutku, sebaiknya memberilah dengan ”terluka”, dalam arti dapat merasakan dampak dari perbuatan saat memberi ini. Belakangan ini aku sudah mulai meneladani sikap ini, yakni dengan cara tidak lagi memesan jus buah saat makan siang di kantor (karena sudah ”menghitung” bahwa kebutuhan serat dan vitamin sudah terpenuhi dari makanan lainnya …), dan uang yang berhasil dihemat tersebut akan aku kumpulkan untuk diberikan kepada orang-orang yang sudah menyampaikan kerinduannya untuk membeli sesuatu yang berguna.

(2)    Memberi bukanlah karena diiming-imingi oleh janji tentang perlipatan pemberian, tetapi memberilah dengan kesadaran bahwa pemberian harus dilakukan karena Tuhan sudah memberikan terlebih dahulu. Jadi, pemberian dilakukan sebagai bentuk pengembalian dari apa yang telah diberikan Tuhan. Jangan ”berdagang” dengan Tuhan melalui pemberian! Apalagi memaksa-Nya! Belakangan ini ada pemahaman, kalau memberi persembahan dalam jumlah besar maka Tuhan akan mengabulkan semua permohonannya (ini pemaksaan namanya …) dengan memberikan berkat berlimpah-limpah, 20 kali lipat, 40 kali lipat, atau 100 kali lipat (ini bisnis namanya …). Aku pernah mendengar pendoa yang berulangkali mengatakan seperti ini saat mendoakan persembahan: ”Kami mau Tuhan melipatgandakan persembahan ini dan memberkati orang-orang yang telah memberikannya kepada Tuhan dengan mengabulkan semua permohonan …”.       

(3)    Perpuluhan tidaklah selalu berarti sepersepuluh dari penghasilan. Keragu-raguan dalam menghitungnya (misalnya 10% dari mana, setelah dipotong pajak atau tidak, bagaimana penghasilan yang tidak menentu, dan lain-lain). Menurutku, bukanlah jumlah itu yang terpenting, melainkan cara memberikannya. Berapapun yang kita berikan, jika dengan sukacita dan memberikan damai sejahtera yang sesungguhnya, itulah yang paling pas.

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Topik ini termasuk hal yang sensitif untuk dibahas di kalangan warga jemaat. Mudah sekali orang tersinggung jika khotbah tentang hal ini diutarakan. Ada jemaat yang sampai saat ini pendetanya menjadi trauma tentang hal ini karena diprotes keras oleh ”tokoh-tokoh jemaat” karena salah satu khotbahnya yang menyampaikan kerinduan untuk tidak mendapati lagi uang pecahan seribu rupiah di kantong persembahan.

 

Sebagai warga jemaat, yang penting kita ingat adalah – sekali lagi – motivasi dalam melakukan puasa dan juga pemberian. Sebagai pelayan jemaat, kita harus menyampaikan teologi yang benar kepada warga jemaat agar memiliki pemahaman yang benar tentang hal ini. Jangan sampai terkontaminasi oleh ajaran-ajaran yang semakin menjamur belakangan ini yang menekankan tentang persembahan (agar warga jemaat memberikan lebih banyak …) dengan iming-iming berkat yang melimpah-limpah.

Kontroversi Pesan-pendek Firman Tuhan

Pagi ini begitu sampai di kantor dan saat akan membasuh muka di kamar mandi, ponselku berbunyi menandakan ada pesan-pendek (= SMS = short message service) masuk. Sekilas sempat aku lihat isinya tentang Tuhan dan pengirimnya dari orang yang sangat aku kenal. Jika firman Tuhan dari orang yang aku tahu disiplin dalam menjalankan kebiasaan bersaat teduh, bukanlah sesuatu yang sangat luar biasa. Belakangan ini semakin banyak saja orang-orang yang suka mem-forward pesan–pendek berisi firman Tuhan kepadaku yang sebagian besar mungkin berasal dari pelayan Tuhan (yang selebritis, karena sering muncul di layar televisi dan ikut-ikutan ”latah” membuat langganan pengiriman firman Tuhan setiap hari dengan cara mengetik kode tertentu sehingga hampir tidak dapat dibedakan dengan yang dilakukan oleh peramal, paranormal, dan artis-artis lainnya …). Lalu kegiatan membasuh muka aku lanjutkan yang kemudian terdengar lagi suara tanda pesan-pendek masuk lagi.

 

Saat minum susu cokelat Milo hangat di vending-machine (bagian dari rutinitas pagiku kalau ada di kantor), ponselku berdering. Dari pengirim pesan-pendek tadi. Langsung menanyakan, ”Sudah baca isi SMS tadi, amang?”, lalu aku jawab, ”Sudah, inang dan terima kasih sudah mengirim firman. Tapi, koq ’nggak biasa-biasanya pakai ’ngirim firman Tuhan hari ini? Pagi-pagi lagi …”. Dan dijawab, ”Bukan aku yang bikin itu, amang. Aku terima dari adik kita (sambil menyebutkan nama seseorang yang juga sangat aku kenal sebagai orang yang seringkali menimbulkan masalah dalam keluarga besar kami). Barusan aku telepon dia untuk minta penjelasan apa maksudnya mengirimkan yang seperti itu. Dia bilang dia baru membaca Alkitab dan khotbah dari pendetanya dan cocok sekali untuk dibagi kepada keluarga. Tapi aku curiga maksudnya sebenarnya menyindir kami tentang tanah yang …” Lalu pembicaraan menjadi sangat panjang (hampir satu jam …) tentang tanah di kampung warisan orangtua yang satu yang dibeli oleh orang tua satunya lagi tanpa diskusi dengan adik kami tersebut yang tersinggung sehingga merasa tanah yang seharusnya diwariskan padanya (sebagai anak tertua dari orangtuanya tersebut) dicaplok oleh abang dari orang tuanya, yakni mertua dari orang yang mengirim pesan-pendek dan menelepon aku, yang aku panggil dengan ”inang” tersebut. Padahal inang tersebut (menurut pengakuan yang disampaikannya padaku) juga tidak tahu-menahu tentang mertuanya yang sudah membeli tanah warisan tersebut.

 

Karena pagi-pagi sudah ”terganggu” dengan pembicaraan tersebut, membuatku menjadi semakin tertarik untuk mengetahui dengan lebih jelas apa sebenarnya isi pesan-pendek dimaksud. Beginilah bunyinya: ”Tuhan adalah pemberi, & jika km menginginkan Dia mencurahkan berkat & kemurahannya dlm hidup km, km hrs belajar menjadi seorang pemberi bkn pengambil. G. B. U”. Pesan yang bagus sebenarnya, tapi sayang waktunya dan sasarannya tidak tepat sehingga berpotensi menimbulkan kontroversi.

Andaliman-45 Khotbah 01 November 2009 Minggu XXI setelah Trinitatis

231009

Beribadahlah kepada Tuhan. Lakukan dengan tulus ikhlas dan setia, sebagai ibadah yang sejati!

Nas Epistel: Yosua 24:14-24

24:14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.

24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

24:16 Lalu bangsa itu menjawab: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!

24:17 Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui,

24:18 TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita.”

24:19 Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.

24:20 Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu.”

24:21 Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua: “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.”

24:22 Kemudian berkatalah Yosua kepada bangsa itu: “Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya.” Jawab mereka: “Kamilah saksi!”

24:23 Ia berkata: “Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.”

24:24 Lalu jawab bangsa itu kepada Yosua: “Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan.”

Nas Evangelium: Roma 12:1-3

12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.   

Membaca perikop yang menjadi nas Ep Minggu ini menimbulkan pertanyaan bagiku. Aku rencananya akan menanyakannya pada saat sermon parhalado, tapi sayang sekali Kamis malam tadi tidak ada sesi diskusi karena diselenggarakan kebaktian bulanan parhalado partohonan di rumah salah seorang sintua sehingga pembahasan khotbah ditiadakan. Karena alasan waktu, maka acaranya adalah pembagian tugas Minggu nanti, pengumuman, kebaktian keluarga, lalu ditutup dengan makan bersama.

Pesannya secara umum adalah tentang keharusan beribadah hanya kepada Tuhan, Allah Israel dan satu-satunya yang benar. Bukan dewa-dewa. Meskipun peristiwanya terjadi abad-abad yang lalu, tentu saja itu sangat relevan dengan iman kepercayaanku saat ini. Tapi, ucapan Yosua pada ayat 15 yang mengatakan “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah …”, tentu saja mengusik aku. Terkesan bahwa dia fleksibel tentang kepercayaan kepada Tuhan yang satu, karena seakan-akan memberikan kelonggaran bagi umat Israel untuk memilih allah yang lain selain Allah Israel.

Setelah aku baca berulang kali dan merenungkannya, aku dapat menangkap maksudnya (eksegese) dengan cara menarik kalimat itu dalam kehidupan saat ini. Memang setiap orang diberikan pilihan: mau ikut Tuhan atau tidak, namun orang seperti aku ini memilih untuk mengikuti Tuhan dan menyembah-Nya. Sekilas terlihat bahwa Yosua memberikan kelonggaran pilihan, tapi kalimatnya “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”, merupakan suatu “pesan sponsor” yang sekaligus mengarahkan agar bangsa Israel memilih Allah sebagaimana Yosua menjatuhkan pilihannya beserta seisi rumahnya.

Selanjutnya nas Ev memberitahukan bagaimana beribadah yang sejati, yaitu dengan cara mempersembahkan tubuh yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Berubahlah dengan melakukan pembaharuan budi agar tidak sama dengan dunia ini, bahkan mampu menguasai diri. Pengalaman aktual seorang pendeta (yang sudah aku dengarkan sampai lebih dari tiga kali selama dua bulan belakangan ini …) mungkin menjadi ilustrasi yang menarik dan pas dengan topik ini.

Saat berpraktek sebagai pendeta muda di salah satu jemaat HKBP di Jakarta, beliau diundang oleh salah satu persekutuan mahasiswa untuk memimpin ibadah di kampus. Sebagai pendeta yang baru keluar dari bangku kuliah, tentu saja beliau menyampaikan khotbah dengan sangat semangat dan menarik. Dan para mahasiswa sangat tertarik dengan penyampaian khotbahnya sehingga sempat terbersit kerinduan untuk menjadikannya sebagai pendeta pendamping mereka.

Sayangnya, tatkala usai ibadah dan diajak berisitirahat di kantin, beliau dengan gagahnya menghisap rokok dan menariknya dalam-dalam. Melihat pendetanya belum “hidup baru” (karena masih merokok), para pengurus persekutuan mahasiswa tersebut mengingatkan (tepatnya mempertanyakan …) tentang ayat yang mengatakan bahwa tubuh adalah bait Allah sehingga tidak pantas dikotori dengan nikotin, eh pak pendeta malah menantang: “Bukan karena merokok itu menandakan seseorang sudah hidup baru atau tidak. Saya punya dasar alkitabiahnya.”. Sikap seperti itu malah membuat persekutuan mahasiswa tersebut memutuskan untuk tidak akan pernah lagi mengundang beliau dalam pelayanan di kampus. Kesan pertama yang tadinya sudah baik, langsung runtuh berkeping-keping dengan sikap dan pernyataan seperti itu.

Dari pengalaman pak pendeta tersebut aku belajar bahwa kalaupun punya dasar alkitabiah untuk membenarkan sesuatu, tetapi kalau punya potensi menjadi batu sandungan, lebih baik ditinggalkan. Kalaupun bertentangan dengan “keyakinan”, tapi dengan iman dan akal budi (misalnya dengan berpikiran bahwa tidak merokok adalah lebih baik daripada merokok) kesempatan berubah alias bertransformasi menjadi terbuka, kenapa tidak melakukan perubahan saja?       

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Pernyataan Yosua dengan memberikan kebebasan memilih antara allah dan Allah sebagaimana tercantum pada ayat 15 di atas, pastilah menarik untuk didiskusikan. Meskipun mengarahkan pilihan kepada beribadah kepada Allah, tetapi Yosua tetap kembali menanyakan komitmen bangsa Israel kepada Allah. Dan harus konsisten, karena Allah yang mendampingi bangsa Israel dengan berbagai mujizat dalam membebaskan mereka dari perbudakan Mesir, adalahh Dia juga yang pencemburu dan yang akan menghukum orang-orang yang tidak setia pada-Nya.

Coba tanyakan pada diri kita sendiri. Tentu saja kita harus mengakui penyertaan Allah dalam hidup kita dengan berbagai “mujizat” sehingga kita bisa seperti apa kita sekarang ini. Tapi apakah kita juga masih mantap dengan pilihan kita untuk menyembah-Nya semantap jawaban bangsa Israel atas pertanyaan Yosua? Dan sedemikian jugakah keimanan kita sebagaimana bangsa Israel yang juga berulang kali meninggalkan Tuhan karena tantangan dan cobaan yang mereka hadapi?

Sebagai pelayan jemaat, prinsip yang terkandung dalam nas Ev kali ini juga sangat relevan: jadikanlah pelayanan sebagai persembahan yang hidup dan sebagai ibadah yang sejati. Dengan menjadikan iman sebagai landasan, maka kita dijanjikan untuk punya kemampuan mengetahui mana yang menjadi kehendak Allah, menguasai diri agar tidak terbawa kepada dunia (serupa dengan dunia), bahkan akan menjadi lebih besar daripada dunia ini.

Kabinet Indonesia Bersatu-2 & ‘Ndang Adong Nanggo Sada Be Hita-2

Na sogot di pardalanan laho tu kantor, hupatinggil do si pareonku tu barita na pinaboa ni penyiar radio i, i ma angka goar ni halak na masuk tu kabinet ni paresiden SBY tu taon 2009-2014. Songon naung taboto, na bodari pukul 10 do dipaboa SBY di Istana Merdeka, i ma boa-boa na parjolo.

Nang pe di piga-piga hali punguan halak Batak na Karisten – isara ni partangiangan nang pe di parsermonan – sanga do adong na manghatai taringot tu sihol ni roha asa adong ma nian sian “hita” (lapatanna: Batak jala Karisten muse …) na masuk gabe menteri. Di bagas rohangku, sai adong do soara na mandok: “Ndang mungkin i, ai so pos roha ni si SBY tu hita”. Dibahen i, tingki sae umbege angka goar i na sogot, ndang pola tarsonggot be ahu.

“Kabinet minus-hita” ndang apala on dope na parjolo. Saleleng gabe paresiden, ndang hea dope dipamasuk SBY hita gabe menteri. Taon na salpu nunga be huarsakhon taringot tu son, i ma marhite karikatur di https://tanobato.wordpress.com/2008/12/11/ndang-adong-ianggo-sada-pe/ Ndang Adong Nanggo Sada (111208)Ala masa do muse songon i di bagasan sadari on (nang tu lima taon haduan …), ninna rohangku porlu do muse pinamasuk asa lam tamba hita na umbotosa.

Aha do alana? Dia do parbonsirna? Ingkon ise do na mansoarahon hasiholan ni roha angka halak Batak na Karisten di negaranta on? HKBP? Punguan marga-marga? Punguan raja-raja adat? Tarimang-rimangi ma di bagasan rohanta be … 

Las huhut ma taboan di tangiangta asa dipangke Debata nasida gabe ula-ula ni Debata laho pasauthon lomo ni roha-Na. Marpos ni roha ma hita di si …   

Lebih Tua Belum Tentu Tidak Lebih Baik …

Tadi malam (19/10/09) aku menghadiri rapat penetapan pengurus baru dan penyusunan program kerja Seksi Pekabaran Injil untuk tahun 2010 di jemaat kami. Sebagai sekretaris Dewan Marturia, tentulah aku harus menghadiri rapat yang penting ini. Kalau mengingat kondisi kesehatanku saat itu, sebenarnya aku lebih memilih pulang saja ke rumah. Tapi panggilan dan rasa tanggung jawab, aku pun memaksakan diri untuk hadir.

 

Dijadualkan jam delapan, dan aku hadir sebelumnya. Seperti biasa, belum ada yang hadir. Ketika membasuh wajah di kamar mandi, aku berjumpa dengan salah seorang ibu yang ternyata “salah jadual”: beliau mengira Rapat Marturia Wilayah Kerja beberapa jemaat (yang aku juga ditunjuk sebagai Sekretaris) berlangsung malam itu. Ternyata beliau salah membaca pesan-pendek dariku yang sudah aku kirim ke setiap pelayan setiap Minggu untuk mengingatkan supaya hadir pada hari Senin, 26 Oktober 2009 yang akan datang. Ya sudah, akhirnya kami ‘ngobrol tentang pengalaman beliau dalam menjalankan pelayanan di rumah sakit yang tentu saja menarik bagiku.

 

Setelah beliau pamit pulang, aku pun menuju ruang rapat yang sudah dihadiri oleh (hanya) lima orang. Ada tiga wajah baru, dalam artian bukanlah pengurus yang selama ini ditunjuk sebagai pelayan Seksi Pekabaran Injil dan Dewan Marturia. Singkat cerita – karena yang lainnya kemungkinan sudah tidak akan hadir – inang Ketua Dewan Marturia membuka rapat dengan nyanyian dan doa.

 

Dari kata pembukaan yang disampaikan inang Ketua Dewan yang dilanjutkan dengan paparan amang Ketua Seksi Pekabaran Injil, barulah aku tahu ternyata minggu lalu mereka telah melakukan “rapat kordinasi” (yang tidak bisa aku hadiri karena bertugas ke Balikpapan) dengan agenda memilih calon pengurus baru untuk periode dua tahun mendatang. “Dan keputusan kita pada saat itu adalah bahwa pengurus yang lama tetap melanjutkan tugasnya dalam kepengurusan baru untuk dua tahun mendatang.” Dheg! Aku sempat tertegun sejenak. Pertama, aku tersadar kembali ternyata dua tahun sudah berlalu dengan cepatnya, dan aku hampir tidak memberikan kontribusi untuk kemajuan pelayanan seksi ini. Ini disebabkan oleh ideku untuk melakukan perubahan tidak berterima oleh para pengurus yang cenderung mempertahankan hal-hal yang mereka klaim sebagai keberhasilan mereka di masa lalu. Padahal aku tahu persis tidak satupun ide yang dulunya aku tidak sepakati itu memberikan hasil yang cukup lumayan. Kedua, pernyataan/ kalimat tersebut yang sempat aku pahami bahwa tidak akan ada perubahan kepengurusan. Bah, macam mana pula ini? Sudah dua tahun tidak menunjukkan hasil yang efektif, koq masih harus dipertahankan? Dan aku pun terpaksa harus mempertahankan partisipasi tanpa kontribusi lagi untuk dua tahun mendatang? (untuk hal yang terakhir ini adalah sikap kurang terpuji, jadi jangan ditiru …)

 

Puji Tuhan, ternyata masih ada kalimat-kalimat selanjutnya yang melegakan hatiku. ”Untuk dua tahun mendatang, ada perubahan struktur, yaitu ada ketua dan wakil ketua. Selain itu, ada sekretaris satu dan sekretaris dua. Kami pengurus lama hanya akan menjadi anggota.” Lalu ada tanya-jawab antara pengurus baru yang menanyakan keterpilihan mereka yang dijawab dengan normatif oleh hampir semua orang yang memberikan komentar dan jawaban.

 

Pembicaraan selanjutnya adalah tentang program yang masih disusun oleh pengurus lama yang sekilas tidak mencantumkan hal-hal yang baru. Ketika aku menyampaikan ide baru (membuat kartu pembatas halaman Alkitab untuk perikop Epistel dan Evangelium, dan membagikannya secara gratis kepada semua warga jemaat) menggantikan program lama (membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu untuk memperebutkan hadiah sertifikat) yang menurutku sudah tidak relevan lagi namun tidak disetujui oleh pengurus lama yang didukung oleh Ketua Dewan Marturia, maka aku pun memutuskan untuk tidak memberikan komentar untuk hal-hal lainnya sampai rapat ditutup, ”Karena hari sudah malam …”, alasan ketua seksi yang lama. Oh ya, masih ada lagi: usulanku untuk tidak usah membuat lagi kalender khusus jemaat (karena hampir tidak ada alasan yang tepat kenapa harus membuat kalender ”eksklusif” padahal ada kalender ”resmi” HKBP yang dikeluarkan Kantor Pusat di Tarutung) akhirnya diterima.

 

Usai rapat, aku masih ’ngobrol panjang dengan ketua yang baru. Ternyata kami memiliki beberapa ide yang sama untuk dijalankan. Antara lain program kerja yang sudah disusun pengurus lama dijalankan saja dulu sambil nanti dilihat perkembangannya. Setiap program harus jelas anggaran dan tanggal pelaksanaan. Lalu harus ada rapat bulanan untuk mengevaluasi pelaksanaan setiap program dan dengan jujur dan transparan disampaikan ke Rapat Parhalado untuk diwartakan melalui tingting supaya warga jemaat mengetahui pelayanan seksi ini. Tak usah malu mengakui kalau memang ada program yang tidak bisa dijalankan, sekaligus meminta ”izin” untuk melakukan revisi. Tentang pengurus lama yang cenderung menarik-ulang ke masa lalu daripada menatap ke masa depan, pak ketua setuju bahwa secara alamiah mereka nanti akan berkurang keterlibatannya karena selanjutnya pengurus baru yang akan mengendalikan setiap program. Ini yang membangkitkan semangatku sekaligus sebagai penebus kesalahan selama dua tahun yang lalu yang hampir tidak terlibat sama sekali dalam kegiatan pelayanan seksi Pekabaran Injil ini (sekali lagi: jangan ditiru perbuatanyang kurang terpuji ini …).

 

Sekadar perbandingan usia. Pengurus lama (ketua dan sekretaris) dipercayakan kepada dua orang sintua yang sudah pensiun, jadi berusia di atas 65 tahun. Ketua yang baru, berusia 67 tahun. Jadi lebih tua daripada ketua yang lama. Namun, dibandingkan dengan yang lama, aku lebih banyak berharap pada ketua yang baru untuk melakukan perubahan ke arah perbaikan pada pelayanan seksi ini yang menurutku selama dua tahun belakangan ini tidak dapat dibanggakan (bahkan aku seringkali malu pada diriku sendiri yang tidak melakukan apa pun untuk seksi yang sebenarnya sangat menentukan dalam membawa orang-orang pada Kristus …). Mudah-mudahan ini bukan sekadar sindrom yang biasanya  berlaku bahwa yang baru akan lebih disukai daripada yang lama.