Kontroversi Pesan-pendek Firman Tuhan

Pagi ini begitu sampai di kantor dan saat akan membasuh muka di kamar mandi, ponselku berbunyi menandakan ada pesan-pendek (= SMS = short message service) masuk. Sekilas sempat aku lihat isinya tentang Tuhan dan pengirimnya dari orang yang sangat aku kenal. Jika firman Tuhan dari orang yang aku tahu disiplin dalam menjalankan kebiasaan bersaat teduh, bukanlah sesuatu yang sangat luar biasa. Belakangan ini semakin banyak saja orang-orang yang suka mem-forward pesan–pendek berisi firman Tuhan kepadaku yang sebagian besar mungkin berasal dari pelayan Tuhan (yang selebritis, karena sering muncul di layar televisi dan ikut-ikutan ”latah” membuat langganan pengiriman firman Tuhan setiap hari dengan cara mengetik kode tertentu sehingga hampir tidak dapat dibedakan dengan yang dilakukan oleh peramal, paranormal, dan artis-artis lainnya …). Lalu kegiatan membasuh muka aku lanjutkan yang kemudian terdengar lagi suara tanda pesan-pendek masuk lagi.

 

Saat minum susu cokelat Milo hangat di vending-machine (bagian dari rutinitas pagiku kalau ada di kantor), ponselku berdering. Dari pengirim pesan-pendek tadi. Langsung menanyakan, ”Sudah baca isi SMS tadi, amang?”, lalu aku jawab, ”Sudah, inang dan terima kasih sudah mengirim firman. Tapi, koq ’nggak biasa-biasanya pakai ’ngirim firman Tuhan hari ini? Pagi-pagi lagi …”. Dan dijawab, ”Bukan aku yang bikin itu, amang. Aku terima dari adik kita (sambil menyebutkan nama seseorang yang juga sangat aku kenal sebagai orang yang seringkali menimbulkan masalah dalam keluarga besar kami). Barusan aku telepon dia untuk minta penjelasan apa maksudnya mengirimkan yang seperti itu. Dia bilang dia baru membaca Alkitab dan khotbah dari pendetanya dan cocok sekali untuk dibagi kepada keluarga. Tapi aku curiga maksudnya sebenarnya menyindir kami tentang tanah yang …” Lalu pembicaraan menjadi sangat panjang (hampir satu jam …) tentang tanah di kampung warisan orangtua yang satu yang dibeli oleh orang tua satunya lagi tanpa diskusi dengan adik kami tersebut yang tersinggung sehingga merasa tanah yang seharusnya diwariskan padanya (sebagai anak tertua dari orangtuanya tersebut) dicaplok oleh abang dari orang tuanya, yakni mertua dari orang yang mengirim pesan-pendek dan menelepon aku, yang aku panggil dengan ”inang” tersebut. Padahal inang tersebut (menurut pengakuan yang disampaikannya padaku) juga tidak tahu-menahu tentang mertuanya yang sudah membeli tanah warisan tersebut.

 

Karena pagi-pagi sudah ”terganggu” dengan pembicaraan tersebut, membuatku menjadi semakin tertarik untuk mengetahui dengan lebih jelas apa sebenarnya isi pesan-pendek dimaksud. Beginilah bunyinya: ”Tuhan adalah pemberi, & jika km menginginkan Dia mencurahkan berkat & kemurahannya dlm hidup km, km hrs belajar menjadi seorang pemberi bkn pengambil. G. B. U”. Pesan yang bagus sebenarnya, tapi sayang waktunya dan sasarannya tidak tepat sehingga berpotensi menimbulkan kontroversi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s