Andaliman-46 Khotbah 08 November 2009 Minggu XXII Setelah Trinitatis

Giving (301009)

Berpuasa dan memberi, motivasinya yang penting!

Nas Epistel: 2 Korintus 9:6-15

9:8 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”

9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.

9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.

9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang,

9:14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu.

9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

 

Nas Evangelium: Yesaya 58:4-12

58:4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi.

58:5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN?

58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,

58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.

58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.  

 

Banyak hal dalam hidup ini yang sudah dilakukan, namun tidak dengan cara yang benar. Meskipun melakukannya dengan sungguh-sungguh, namun karena caranya masih tidak tepat maka tidak menghasilkan secara maksimum. Contohnya jika kita masuk dalam kehidupan duniawi yang materialistis: ada orang yang sudah bekerja keras namun tidak menjadi kaya juga. Di dunia pekerjaan: ada orang bekerja habis-habisan (memang ada yang seperti ini, ya?), namun jabatannya tidak naik-naik juga. Bahkan dalam dunia kerohanian, ada pelayan yang menghabiskan banyak waktu dan tenaga dalam melayani di jemaat, tapi hidupnya sendiri tidak damai dan sejahtera (nah, kalau yang ini bolehlah dikatakan sebagai hal yang sangat menyedihkan …).

 

Perikop Minggu ini menceritakan tentang hal itu, yang secara khusus berbicara tentang berpuasa dan memberi. Keduanya adalah tindakan yang sebenarnya sangat baik, sehingga patut untuk ditiru. Namun, ternyata keduanya belum tentu memberikan kebaikan apabila tidak dilakukan dengan cara yang benar. Salah satunya adalah motivasi yang melatarbelakangi tindakan berpuasa dan memberi dimaksud.

 

Jika dilakukan untuk sok-sokan (supaya diketahui dan dipuji oleh orang lain), tindakan yang seharusnya mulia tersebut malah berpotensi menjadi nista. Tidak akan mendapat upah yang dijanjikan oleh Tuhan. O ya, pengertian upah dalam hal ini janganlah dipahami sebagai bentuk kompensasi secara materi. Bukan itu.

 

Nas perikop Ev menjelaskan bahwa dimaksud dengan berpuasa yang berkenan bagi Tuhan adalah ”membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (ayat 6 dan 7). Dan kesemuanya itu dilakukan dengan motivasi yang benar, yaitu untuk kemuliaan Tuhan.

 

Tadi malam, ketika membaca firman ini, aku menjadi tertegun dan tertegur. Aku seringkali melakukannya dengan motivasi untuk kemegahan diriku sendiri. Aku menjadi malu pada diriku sendiri. Selain karena cara berpuasa, juga karena caraku dalam hal memberi.

 

Padahal, jika memberi, sebenarnya ada tiga pihak yang menjadi tujuan pemberian itu yang menjadi dasar yang harus dipahami dalam melakukannya, yaitu:

(1)      Diri sendiri. Memberi haruslah dengan kesadaran bahwa itu harus dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur atas pemberian Tuhan yang terlebih dahulu sudah aku terima. Berkat, kasih karunia, dan … Yesus! Apalagi yang melampuai daripada itu?

(2)      Orang lain. Jelaslah ini, ya. Memberi tentulah kepada orang lain.

(3)      Allah. Jangan salah mengerti, bukan karena Tuhan berkekurangan. Tapi karena Tuhan mau memakai orang-orang yang memberi untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Pernah mendengar kisah tentang seseorang yang tiba-tiba terpikir untuk membantu anak-anak putus sekolah, lalu memberikan beasiswa melalui suatu yayasan? Besar kemungkinan pada tempat lain (mungkin ratusan atau ribuan kilometer jaraknya …) ada seorang anak yang sedang berdoa kepada Tuhan yang menyampaikan kerinduannya untuk melanjutkan sekolah, padahal orangtuanya sudah menyatakan ketidakmampuannya lagi untuk membiayai … Artinya, Allah memakai orang-orang yang belum tentu saling mengenal untuk menyatakan kuasa-Nya. Luar biasa!

 

Dari pengalaman, aku ingin berbagi tentang hal-hal sebagai berikut:

(1)    Memberi bukanlah dari kelebihan, apalagi dari sisa-sisa, melainkan dari hasil yang disisihkan sejak awal, atau spontanitas sesuai dorongan hati. Banyak orang beranggapan bahwa memberi merupakan suatu kerugian, karena melihatnya sebagai ”pengurangan dari apa yang dimilik saat ini”. Menurutku, sebaiknya memberilah dengan ”terluka”, dalam arti dapat merasakan dampak dari perbuatan saat memberi ini. Belakangan ini aku sudah mulai meneladani sikap ini, yakni dengan cara tidak lagi memesan jus buah saat makan siang di kantor (karena sudah ”menghitung” bahwa kebutuhan serat dan vitamin sudah terpenuhi dari makanan lainnya …), dan uang yang berhasil dihemat tersebut akan aku kumpulkan untuk diberikan kepada orang-orang yang sudah menyampaikan kerinduannya untuk membeli sesuatu yang berguna.

(2)    Memberi bukanlah karena diiming-imingi oleh janji tentang perlipatan pemberian, tetapi memberilah dengan kesadaran bahwa pemberian harus dilakukan karena Tuhan sudah memberikan terlebih dahulu. Jadi, pemberian dilakukan sebagai bentuk pengembalian dari apa yang telah diberikan Tuhan. Jangan ”berdagang” dengan Tuhan melalui pemberian! Apalagi memaksa-Nya! Belakangan ini ada pemahaman, kalau memberi persembahan dalam jumlah besar maka Tuhan akan mengabulkan semua permohonannya (ini pemaksaan namanya …) dengan memberikan berkat berlimpah-limpah, 20 kali lipat, 40 kali lipat, atau 100 kali lipat (ini bisnis namanya …). Aku pernah mendengar pendoa yang berulangkali mengatakan seperti ini saat mendoakan persembahan: ”Kami mau Tuhan melipatgandakan persembahan ini dan memberkati orang-orang yang telah memberikannya kepada Tuhan dengan mengabulkan semua permohonan …”.       

(3)    Perpuluhan tidaklah selalu berarti sepersepuluh dari penghasilan. Keragu-raguan dalam menghitungnya (misalnya 10% dari mana, setelah dipotong pajak atau tidak, bagaimana penghasilan yang tidak menentu, dan lain-lain). Menurutku, bukanlah jumlah itu yang terpenting, melainkan cara memberikannya. Berapapun yang kita berikan, jika dengan sukacita dan memberikan damai sejahtera yang sesungguhnya, itulah yang paling pas.

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Topik ini termasuk hal yang sensitif untuk dibahas di kalangan warga jemaat. Mudah sekali orang tersinggung jika khotbah tentang hal ini diutarakan. Ada jemaat yang sampai saat ini pendetanya menjadi trauma tentang hal ini karena diprotes keras oleh ”tokoh-tokoh jemaat” karena salah satu khotbahnya yang menyampaikan kerinduan untuk tidak mendapati lagi uang pecahan seribu rupiah di kantong persembahan.

 

Sebagai warga jemaat, yang penting kita ingat adalah – sekali lagi – motivasi dalam melakukan puasa dan juga pemberian. Sebagai pelayan jemaat, kita harus menyampaikan teologi yang benar kepada warga jemaat agar memiliki pemahaman yang benar tentang hal ini. Jangan sampai terkontaminasi oleh ajaran-ajaran yang semakin menjamur belakangan ini yang menekankan tentang persembahan (agar warga jemaat memberikan lebih banyak …) dengan iming-iming berkat yang melimpah-limpah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s