Andaliman-50 Khotbah 06 Desember 2009 Minggu Adven II

Ia pasti melawat kita. Persiapkan diri dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai kesaksian selama hidup di dunia.

Nas Epistel: 1 Petrus 2:11-12

2:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.

2:12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 

Nas Evangelium: Maleakhi 3:1-4

3:1 Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.

3:2 Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.

3:3 Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.

3:4 Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah. 

Minggu Adven kedua dengan nas perikop ini mengingatkan untuk menggunakan waktu yang tersedia (maksudnya selama masih hidup di dunia) dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang diperintahkan Tuhan. Tidak sekadar baik, tetapi juga harus memulikan Allah. Nah, di sinilah aku terpaut.

Dalam kehidupan sekarang, melakukan perbuatan baik adalah suatu hal yang tidak mudah (maksudnya, tidak semudah melakukan perbuatan jahat …). Sudah begitu pun, kalau pun mampu melakukan perbuatan baik dimaksud, tetap harus mempertimbangkan motivasi di baliknya. Dengan tegas nas Ep mencantumkan syaratnya: ”memuliakan Allah”. Selanjutnya, nas Ev juga menyampaikan syarat yang sejalan dengan itu, yaitu ”menyenangkan hati Tuhan”. Tuhan tahu motivasi di balik setiap perbuatan baik, karena Ia mampu melihat sampai ke relung yang paling jauh. Layaknya ”api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu”. Analogi itu masih ditambahkan dengan ketegasan kemampuan-Nya bahkan mentahirkan orang Lewi dan menyucikan emas. Untuk kalimat yang terakhir ini, aku teras terang menjadi tertegur. Pemahamanku tentang orang Lewi adalah kaum pemimpin ibadah alias wakil Tuhan. Tentu saja, haparhaladoon-nya tidak usah diragukan lagi. Orang suci!

Namun ternyata Tuhan mampu melihat lebih jauh daripada kesucian dan kealiman yang kasat mata. Hal ini bisa saja terjadi padaku (dan jujur saja telah terjadi beberapa kali …) di mana dalam penampilanku orang-orang yang melihatku akan menganggapku sebagai orang baik dan alim. Taat beribadah. Pokoknya segala hal yang baik. Di dalamnya? Wah, hanya Tuhan-lah yang tahu …

Syukur pada Tuhan, dengan firman ini aku diingatkan untuk mengkaji-ulang pelayanan dan perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan dan yang masih akan aku lakukan di kemudian hari. Mengubah motivasinya, dari hal-hal yang lain, untuk hanya menjadi kemuliaan Tuhan. Tidak ada yang lain, karena memang tidak diperlukan dalam hal ini. Hanya Tuhan, dan untuk kemuliaan-Nya. Sampai kapan? Sampai Ia datang kembali. Kapan itu? Tidak ada yang tahu selain Ia seorang. Saatnya menjadi tidak perlu, karena memang tuntutannya jelas, yaitu siap sedia setiap waktu.       

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Inilah saatnya untuk mengkaji-ulang perbuatan-perbuatan kita selama hidup di dunia, motivasinya dan arahnya mau ke mana. Kemuliaan Tuhan, bukan untuk kemuliaan diri sendiri. Sampai tiba saatnya kita dipanggil menghadap-Nya, yaitu saat Ia melawat kita.

Ada Benda Tajam di Gigiku, Sebuah Pengalaman dengan Dokter Gigi Praktek di Apotek

Jum’at malam (201109) ketika menyikat gigi menjelang tidur, aku terperanjat. Ketika mengayunkan sikat gigi di bagian atas rongga mulut, tiba-tiba terasa ngilu yang sangat menusuk. Lebih mengejutkan lagi, ketika di cermin aku melihat ada benda kecil seperti logam (dan terdengar menimbulkan suara ketika beradu dengan lapisan gigi) yang sempat menimbulkan rasa sakit di gigiku. Sejenak aku sempat menduga bahwa aku melakukan kesalahan dalam mengoleskan odol ke permukaan sikat gigi. Tapi segera saja aku tepis dengan “ah, ‘nggak mungkin …”.

Spontan aku menghentikan kegiatan menyikat gigi, lalu perlahan memperhatikan benda aneh tersebut. Lalu aku ambil dan membersihkannya di ujung jariku. Dan baru terlihat dengan jelas, sekaligus aku tersadar bahwa tambalan gigiku sudah lepas. Tentu saja aku kaget, karena penambalan baru saja dilakukan sekira dua minggu yang lalu. Dalam sejarah penambalan gigi, baru kali inilah kualitas terburuk yang pernah aku alami.

Dengan perasaan sedikit geram, Sabtu-nya (21/11/09) aku segera ke tempat praktek dokter gigi yang menambal gigi dimaksud. Terletak di pertokoan yang sangat dekat dari kediaman kami di komplek perumahan, menumpang di apotek bersamaan dengan praktek dokter umum dan dokter gigi spesialis lainnya, segera saja aku mendatanginya (juga didorong oleh ketidaknyamanan gigi yang berlubang …).

Ketika ditanyakan oleh resepsionis (persisnya penjaga apotek yang sekaligus dikaryakan sebagai penerima pasien …), aku segera menyampaikan keluhanku, “Koq baru ditambal dua minggu, tambalannya sudah lepas? ‘Gimana sih ini …”. Ternyata dokter giginya sedang duduk di kursi panjang yang disediakan di apotek, mungkin menunggu pasien yang datang. Segera saja sang dokter gigi bergegas naik ke lantai atas ke ruang prakteknya. Tak lama kemudian, asistennya memanggilku untuk diperiksa.

Di ruang praktek – ketika sudah duduk di kursi perawatan pasien – kembali aku menyampaikan ”keherananku” tentang rendahnya kualitas pekerjaan penambalan yang dilakukannya minggu lalu. Padahal bayarannya aku rasa termasuk mahal untuk tindakan penambalan ringan itu. Yang membuatku bertambah kesal ketika sang dokter gigi berucap, ”Bapak aja terlalu keras menyikat gigi sehingga tambalannya bisa lepas”, yang tentu saja membuatku terpancing untuk mengatakan, ”Dok, malah setelah ditambal kemarin saya mengganti sikat gigi dengan bulu sikat yang sangat lembut dan mengganti odol gigi. Koq malah sekarang dokter bilang masih terlalu keras menyikatnya?”.

Usai melakukan penambalan-ulang, sang dokter masih membuatkan kuitansi. ”Lho, bukankah ini masih bagian dari garansi penambalan yang kemarin, dok? Saya masih perlu bayar juga?”, kataku berupaya ”menyadarkan” bahwa kedatanganku pagi itu adalah akibat kegagalannya dalam memenuhi kualitas penambalan yang memenuhi standar. ”Ya, cuma bayar biaya pekerjaan pagi ini aja, pak. Bahannya ’nggak usah dibayar.”, jawabnya tanpa ragu, apalagi malu.

Di lantai dasar, Auli dan mamaknya masih menunggu di kursi yang tadi aku duduki. Lalu aku membayar tagihan di kasir, yakni kepada ”resepsionis” yang tadi menyambut kedatanganku. Ketika menghampirinya, Auli yang sedang melihat poster iklan perawatan dan penyembuhan gigi di apotek tersebut berujar, ”Pa, di sini ada perawatan gigi juga. Lihat ini gambarnya”, yang spontan aku sambut, ”Jangan lagi ke mari, nak. Dokter giginya kerjanya ’nggak bagus.”. Seperti menangkap kekecewaanku akan pelayanan dokter gigi praktek di apotek, Auli jadi teringat pada namboru-nya yang dokter gigi di puskesmas tempatnya biasa ditangani untuk urusan gigi, lalu berkata, ”Kenapa ’nggak ke tempat bou aja, pa? Auli bagus koq di sana.”. Aku akui bahwa penanganan di puskesmas ito itu memang lebih bagus, tapi jadualnya dan jaraknya menjadi pertimbanganku untuk terpaksa datang berobat ke tempat praktek dokter gigi di apotek ini. Selain dekat rumah, praktek di apotek ini juga buka setiap hari (termasuk Sabtu dan Minggu) dari pagi sampai malam. Tapi begitulah kualitas pelayanan dan pekerjaan dokternya, sehingga membuatku bertekad untuk tidak akan pernah datang lagi ke situ.

Puji Tuhan! Sekarang Sudah (atau baru?) Satu Tahun …

Ya, kata “puji Tuhan” adalah ungkapan yang paling tepat yang aku harus ucapkan hari ini. Tak terasa, satu tahun sudah aku diberikan kesempatan untuk berbagi tentang banyak hal melalui blog yang sederhana ini.  Sebelum hadir, lebih satu tahun sebelumnya aku tergoda untuk memiliki blog seperti ini. Namun saat itu perasaan “belum bisa berbuat apa-apa” sangat kuat menghinggapiku. Hingga pada suatu hari, godaan yang lainnya: “kapan lagi mau memulai kalau bukan dari sekarang?” ternyata lebih kuat dan mampu memaksaku untuk segera memulai. Maka, jadilah demikian …

Jujur saja, tanpa malu aku mengungkapkan bahwa ada dua kegagalanku untuk memenuhi komitmen. Pertama, menampilkan kartun atau karikatur yang sampai sekarang sudah berbulan-bulan tidak pernah lagi aku posting. Kedua, resensi kecil-kecilan tentang buku, dan atau rekaman dalam KOLEKSI yang juga nasibnya berbulan-bulan ini tidak pernah muncul lagi. Jujur saja, kesibukanku belakangan ini semakin menjadi-jadi. Aku baru tersadar, bahwa belakangan ini hanya Selasa saja aku yang pasti tidak punya kegiatan setelah usai jam kantor. Kadang kala Senin kosong, kalau tidak ada rapat pengurus, eh pelayan … untuk wilayah Jakarta Utara. Namun, acapkali pula diminta untuk berdiskusi.

Oleh sebab itu,  Sabtu dan Minggu aku dedikasikan untuk keluarga. Kalau pun ada kegiatan, aku usahakan yang juga melibatkan Auli dan mamaknya (maksudnya, mengikutkan mereka ke mana aku pergi dengan kegiatan itu …). Kalau memang benar-benar kosong, biasanya Sabtu pagi kami berenang lalu pergi ke toko buku sampai sore atau malam. Hari Minggu, tentu saja ke gereja, yang biasanya diikuti melakukan kunjungan ke rumah keluarga. Kalau tidak, ya ke toko buku lagi, atau ke kolam renang lagi …

Ketiadaan supir keluarga sejak Juli yang lalu juga mempengaruhi produktivitasku dalam mem-posting ke blog ini. Karena harus menyetir sendiri pagi-pagi ke kantor, maka aku mengurangi tidur pada larut malam. Padahal biasanya lewat tengah malam (kadang sampai dini hari …) adalah saat produktivitas dan kreativitasku lebih meningkat. Saat itu aku biasanya menggambar dan menulis. Atau, paling tidak, membaca buku yang kemudian aku buatkan resensinya untuk aku posting ke KOLEKSI.

Di luar ketidakkomitmetan (ma’af jika membuatnya menjadi rumit …), aku masih bisa memenuhi janjiku: mem-posting minimal sepuluh setiap bulannya, menampilkan refleksi khotbah Minggu dalam ANDALIMAN, dan menjawab semua komentar dari pembaca. Oh ya, terima kasih untuk pembaca dan pengunjung blog ini yang jumlahnya selalu meningkat dari bulan ke bulan. Kiranya masih dapat memberi manfaat sesuai yang dirindukan pengunjung, yang juga sejalan dengan tagline dari blog ini yang “berkat engkau aku diberkati untuk menjadi berkat”. Jika tidak menjadi berkat, mudah-mudahan masih bisa memenuhi relung kekosongan pengunjungnya. Ataupun sekadar menjadi inspirasi. Dalam bentuk sekecil apapun, itu tetaplah menyukacitakan bagiku.

Suatu hari ada yang bertanya untuk apa sebenarnya aku repot-repot  membuat blog.  Untuk hal ini, aku memberikan jawaban, “Untuk ditinggalkan kelak supaya ada yang baik yang akan dikenang tentang aku”. Aku tak tahu, tapi aku rasa jawaban spontan itulah kalimat yang paling pas yang bisa aku sampaikan saat itu …

Mohon ma’af untuk kawan-kawan yang harus terluka (itu pun bila ada …). Aku tak pernah bermaksud seperti itu. Janji untuk menghindari hal-hal negatif dari kehadiran blog ini masihlah tetap menjadi prioritas utama bagiku.

Salam.

Andaliman-49 Khotbah 29 November 2009 Minggu Adven-I

Percayalah akan penglihatan ini, jangan menambahi dan atau mengurangi. Waktunya akan datang … 

Nas Epistel: Wahyu 22: 16-20

22:16 “Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang.”

22:17 Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: “Marilah!” Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!

22:18 Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.

22:19 Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

22:20 Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!

Nas Evangelium: Bilangan 24: 15-17

24:15 Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: “Tutur kata Bileam bin Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya;

24:16 tutur kata orang yang mendengar firman Allah, dan yang beroleh pengenalan akan Yang Mahatinggi, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa, sambil rebah, namun dengan mata tersingkap.

24:17 Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set.

Sampai sekarang aku masih punya “hutang”, yakni menyimpan kerinduan yang dalam untuk dapat mempelajari Kitab Wahyu dengan cara lebih serius. Ini sejak beberapa tahun yang lalu, namun sampai hari ini aku belum mampu mewujudkannya. Komitmenku saat ini, nanti ketika cuti Desember, aku akan mewujudkannya dengan tidak mau menunda-nunda lagi. Aku melihat bahwa Kitab Wahyu sangat dipenuhi oleh banyak misteri dan hal-hal yang membutuhkan konsentrasi yang lebih untuk dapat memahami maksud dan isinya.

Memanglah tidak mudah untuk memahami isi Kitab Wahyu. Pesan yang ingin disampaikannya sangat jarang menggunakan kata-kata yang lugas, melainkan penuh dengan simbol dan isyarat. Hal ini berpotensi dalam ”menggoda” orang-orang untuk menafsirkannya sesuai dengan batas kemampuannya (yang lebih repot lagi kalau ada yang menafsir sesuai dengan selera dan keinginan pribadinya!). Hal itulah yang coba diingatkan dalam nas yang menjadi perikop Minggu Adven pertama ini.

Jangan menambah-nambahi, dan jangan pula mengurang-ngurangi. Tuhan akan menambahkan malapetaka bagi yang menambahi pesan firman ini, sebaliknya akan mengurangi berkat bagi orang-orang yang menguranginya.

Sudan nonton film 2012? Hari-hari ini pemutaran film tentang hari kiamat yang diramalkan akan terjadi pada Desember 2012 (berdasarkan nubuatan suku bangsa Maya ratusan tahun yang lalu) menimbulkan kehebohan. Pro dan kontra, seperti biasanya. Yang kontra mengatakan bahwa isinya menyesatkan. Yang pro mengatakan bahwa pemutaran film ini dapat menyadarkan orang-orang untuk bertobat. Yang ini juga masih bisa diperdebatkan, karena ”ancaman” kiamat sejak dari dulu sudah disampaikan (aku ingat pengenalan pertamaku tentang kiamat adalah ketika di Sekolah Minggu, yang ketika itu bu guru Sekolah Minggu mengajarkan pada kami tentang konsep surga dan neraka).

Ketika ada yang menanyakan pendapatku tentang pemuatan filem ini, aku sampaikan bahwa sebaiknya tidak usah dilarang secara membabi buta. Memang, jika disalahpahami dapat saja mempengaruhi orang untuk menjadi panik, lalu melakukan apa saja dalam ”menyambut” kiamat 2012. Yang ini belum tentu semuanya berdampak positif, bahkan sangat berpotensi dalam menimbulkan kekacauan sosial. Yang aku sarankan adalah mendampingi penonton, misalnya dengan menambahkan pengarahan dari imam dan atau alim ulama yang kompeten sehingga dipercaya oleh masyarakat penjelasannya dalam setiap pemutaran film dimaksud. Aku sendiri, akan lebih terkesima dengan teknologi pembuatan film-nya daripada isi cerita film dimaksud. Untuk goyah dan berlaku di luar nalar? Pasti jauhlah dari itu semua. Walaupun dikatakan bahwa pembuatan film itu berdasarkan suatu penglihatan, tetapi tidaklah mudah bagiku untuk mempercayainya seratus persen.

Kedua nas perikop Minggu ini – baik Epistel maupun Evangelium – dengan tegas menyampaikan bahwa kita harus mempercayai penglihatan. Bukan sembarang penglihatan, melainkan penglihatan alkitabiah. Artinya yang benar-benar tertulis dalam Alkitab. Salah satunya adalah penglihatan Yohanes tentang kedatangan Yesus yang sudah pasti. Waktunya tidak perlu tahu, bagiku tidak terlalu perlu tahu pastinya kapan, karena yang penting bagiku adalah harus selalu siap sedia kapan pun tiba saatnya. Adakalanya rasa ketidaktahuan merangsang produktivitas, salah satunya ya tentang hari kedatangan Yesus ini …        

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Istilah penglihatan dan nubuatan belakangan hari ini semakin sering kita lihat dan dengar melalui berbagai media. Bahkan ada beberapa orang yang mengklaim telah mendapat nubuatan yang (mereka kira dan mereka yakini) yang sah yang datangnya dari Tuhan. Tentang kebenarannya, tentu membutuhkan waktu untuk membuktikannya kemudian.

Berdasarkan pengalaman, hampir semua tidak terbukti. Dan bagi penyampai nubuatan, selalu saja alasan untuk dalih dari penglihatannya yang melenceng. Yang anehnya, tetap saja masih ada orang yang mempercayainya. Bagi sebagian yang mengklaim bahwa nubuatannya terbukti, juga berupaya bahwa hal itu adalah sesuai dengan apa yang pernah disampaikannya sebelumnya (tentu saja dengan melakukan berbagai revisi dan improvisasi agar lebih mendekati kejadian yang sebenarnya …).

Karena kita memiliki Alkitab yang kita yakini dan akui kebenarannya yang mutlak, tetaplah kita jadikan satu-satunya referensi dalam menyikapi tentang hal ini. Tidak perlu menjadi goyah dengan godaan pernyataan dari orang-orang yang mengaku sebagai penubuat sejati dan pelihat apa yang akan terjadi di masa depan. Tetap saja fokus pada pengajaran Alkitab, dengan Yesus sebagai fokus utamanya!

Sebagai pelayan di jemaat, kita harus menguatkan keimanan kita dan warga jemaat bahwa Alkitab adalah jawaban untuk semua hal dalam kehidupan. Termasuk di dalamnya tentang kedatangan Yesus. Itu pasti, dan waktunya akan tiba sehingga kita semua harus selalu siap sedia … Setiap saat!

Bah, Jadi Juga Rapat Rupanya …

Ketika datang ke gereja karena diundang berdiskusi dengan pemimpin jemaat pada Senin, 16 November 2009 yang lalu, aku sangat terkejut ketika mendapati di salah satu ruang rapat ada sekelompok  orang yang mengadakan rapat. Waktu aku tanya ke koster, beliau menjawab: “Rapat pengurus wilayah Jakarta apa namanya itu, pak saya kurang paham. Saya juga baru saja malam ini dikasih tahu untuk menyiapkan ruangan buat mereka. Bukan bapak biasanya ikut rapat dengan mereka itu?”.

Nah, ini yang membuatku terkejut. Saat rapat pengurus terakhir bulan Oktober lalu memang disepakati untuk mengadakan rapat pada Senin itu. Sebagai Sekretaris, pada Minggu berikutnya aku pun sudah mengirimkan undangan via pesan-pendek kepada semua pengurus untuk hadir. Hal ini biasa aku lakukan sebagai pengganti undangan konvensional yaitu pemberitahuan dengan selembar surat. Selain repot, ini juga menyulitkan untuk mengirimkan kepada semua pengurus. Lagian, ‘kan lebih hemat kalau pakai pesan-pendek alias SMS karena semua pengurus sudah punya ponsel. Satu lagi, semangat untuk mengurangi penggunaan kertas untuk menyelamatkan lingkungan hidup memang sangat merasuki aku karena sejalan dengan nilai-nilai hidup yang aku yakini kebenarannya. 

Tak disangka, inang Ketua membalas pesan-pendekku itu dengan mengatakan bahwa rapat ditunda (tanpa menyebutkan tanggal penggantinya) karena rencana seminar seksi musik juga ditunda (karena pembicaranya ternyata berhalangan untuk tanggal yang sudah disepakati). Pada Minggu berikutnya, Wakil Sekretaris memberitahu aku tentang tanggal rapat yang baru sekalian memintaku untuk meralat. Aku katakan, supaya beliau saja yang meralat sekaligus membuatkan surat undangan. Ini memang biasa dilakukannya, dan salah satu perbedaan nyata denganku tentang hal ini. 

Minggu, 15 November 2009 aku masih dikirimi pesan-pendek  oleh Wakil Sekretaris untuk mengirimkan pemberitahuan pembatalan rapat tanggal 16. Karena sudah kami sepakati bersama bahwa beliau yang meng-handle itu, aku tak tanggapi lagi. Sudah aku coba untuk bertelepon, tapi tak diangkat. Dalam pemahamanku, rapat tanggal 16 November pastilah batal. 

Tentu saja aku menjadi kaget ketika datang ke gereja dan menemukan bahwa rapat pengurus ternyata tetap berlangsung! Ada apa dan bagaimana ini? Karena tujuanku datang ke gereja malam itu adalah untuk berdiskusi dengan pemimpin jemaat, maka begitu usai dari bilut parhobasan aku langsung pulang ke rumah. Setelah sebelumnya sempat tercenung sambil memandangi para tukang yang sedang mengecat dinding bangunan gereja, dalam perjalanan aku sempat merenung: koq masih ada yang seperti ini ya? Bagaimana bisa berharap hasil yang baik kalau pengelolaan organisasi masih seperti ini? Tiba-tiba pikran “nakal” aku muncul, jangan-jangan memang aku sudah tidak dibutuhkan lagi di kepengurusan ini. Artinya memang para pengurus lainnya sudah makin dewasa dan makin mandiri. Artinya lagi, aku bisa berkonsentrasi pada jenis pelayanan lainnya …