Selamat Ulang Tahun, Hasian …

Hari ini (03/11/09) salah seorang dari tiga perempuan perkasa dalam hidupku berulang tahun. Ke-41, suatu tahun yang tidak bisa lagi dibilang singkat. Apalagi jika mengingat betapa banyak berkat Tuhan yang telah diterimanya. Juga yang sudah kami sekeluarga terima melalui dirinya.

Tadi malam sebelum tidur, aku dan Auli sudah mendiskusikan perayaan yang akan kami lakukan. Memang, hampir setiap malam aku sempatkan ‘ngobrol dengan gadis kecilku ini. Tentang apa saja hal yang menarik untuk kami bicarakan pada malam itu. Biasanya menjelang tertidur, yaitu usai mendaraskan do’a yang biasanya dipimpin oleh Auli. Melanjutkan diskusi sebelumnya – karena membicarakan hal “rahasia” beberapa malam ini kami berdua tidur di kamar Auli sementara mak Auli di kamarnya – tadi malam kami merencanakan untuk bangun lebih pagi (sebelum mak Auli terbangun …) lalu memasak nasi goreng (spesial, kata Auli, karena dicampur dengan nugget kesukaannya …) untuk dihidangkan. Setelah tersedia di meja, barulah kami bangunkan yang berulang tahun. Auli juga sudah menyiapkan tiga kertas warna-warni yang berisi ucapan selamat ulang tahun dalam dua bahasa. Lalu makan malam di Mal Kelapa Gading. Itulah rencana kami untuk bersyukur atas ulang tahun mak Auli hari ini. Oh ya, saat berdoa, Auli mengucapkan, “Untuk mama Auli yang mau berulang tahun besok, Tuhan, berikan kesehatan. Dan kesabaran juga untuk mau mengajari Auli supaya makin pintar …”.

Faktanya ternyata jadi berbeda. Jam lima pagi tadi suara alarm di ponselku berbunyi, dan aku pun terbangun. Walau sudah berbisik berulangkali ke telinganya, Auli ternyata tidak bergeming, masih terlelap. Dari dapur kedengaran suara menggoreng di dapur. Ternyata mak Auli sudah bangun dan buru-buru menyiapkan sarapan. ”Wah, batal deh rencana kami pagi ini”, pikirku dalam hati. Sendirian, aku ke dapur untuk menyampaikan selamat ulang tahun. Hari ini aku tidak ke kantor Pasar Minggu seperti biasanya, melainkan berkantor di Kantor Wilayah (State) di Rawamangun, jadi aku bisa pergi dari rumah lebih lambat karena rapat dimulai jam sembilan pagi. Artinya, aku punya waktu lebih banyak untuk tinggal di rumah pagi ini.

Tak lama kemudian, mertuaku dari Medan menelepon dan dengan fasilitas video call mereka berbicara untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada mak Auli. Karena di kamarnya, Auli jadi terbangun. Usai bertelepon, kami bertiga pun berdoa. Lalu Auli memberikan kertas warna-warni ucapan selamat ulang tahunnya pada mak Auli yang dibacakan mak Auli dengan terharu. Kemudian ditempel di pintu kamar.

Ketika akan ke mobil untuk ke kantor, aku sampaikan rencana untuk makan malam bertiga karena aku sore bisa pulang lebih cepat, yang ditolak oleh mak Auli. Alasannya, mukanya lagi jelek karena sedang mengalami perawatan wajah. Sesuatu yang baru aku tahu pagi ini, ternyata wajah isteriku itu terdapat bintik-bintik layaknya penderita cacar. ”Supaya lebih puas, Sabtu pagi aja pa.”, yang lalu aku sahut, ”Aku tak bisa karena mau survai ke Pasirmukti sama kawan-kawanku koor ama:”.

Sekarang ini aku sudah mulai rampung bekerja. Tinggal merapikan sedikit, lalu sudah bisa pulang ke rumah untuk besok aku akan lanjutkan di kantor. Ayam kampung dengan masakan na pinadar yang tadi pagi dikatakan mak Auli sebagai hidangan utama makan malam mengajakku untuk segera beranjak setelah semua bisa aku bereskan sore ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s