Andaliman-48 Khotbah 22 November 2009 Minggu XXIV setelah Trinitatis

 

Kuburan (161109)

Percaya Yesus adalah Anak Domba Allah. Dia-lah kebangkitan dan hidup.

 

Nas Epistel: Wahyu 7: 9-17 (bahasa Batak Toba: Pangungkapon 7:9-17)

7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.

7:10 Dan dengan suara nyaring mereka berseru: “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!”

7:11 Dan semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka tersungkur di hadapan takhta itu dan menyembah Allah,

7:12 sambil berkata: “Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!”

7:13 Dan seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku: “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?”

7:14 Maka kataku kepadanya: “Tuanku, tuan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku: “Mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba.

7:15 Karena itu mereka berdiri di hadapan takhta Allah dan melayani Dia siang malam di Bait Suci-Nya. Dan Ia yang duduk di atas takhta itu akan membentangkan kemah-Nya di atas mereka.

7:16 Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.

7:17 Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka.”

 

Nas Evangelium: Yohanes 11: 25-26

11:25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”

 

Minggu ini dalam Almanak HKBP disebutkan sebagai Ujung Taon Parhuriaon. Parningotan di Angka na Monding yang berarti Akhir Tahun Jemaat, Peringatan terhadap Orang yang Meninggal. Dalam tradisi HKBP, pada Minggu ini akan dibacakan nama-nama orang yang telah meninggal dunia selama November 2008 sampai November 2009. Dan suasana pada ibadah tersebut bernuansa duka. Biasanya pemimpin ibadah menyampaikan: ”Bukan untuk membangkitkan kesedihan, melainkan untuk mengenang orang-orang yang kita kasihi yang telah pergi mendahului kita, sekaligus untuk mengingatkan kita semua yang masih hidup bahwa suatu saat kita pun akan mengalami hal yang sama dan akan berjumpa dengan mereka kemudian.” Sebagaimana bagi orang yang ditinggal mati oleh kekasih hatinya, ibadah Minggu ini menjadi sangat istimewa untuk dihadiri, mamakku pun secara khusus pulang ke Medan untuk mendengarkan nama bapakku dibacakan di gereja pada dua tahun yang lalu.

 

Berbagai reaksi orang dalam menghadapi kematian. Umumnya adalah kesedihan yang sangat mendalam karena ditinggal oleh orang yang sangat dikasihinya (yang juga mengasihinya). Meskipun secara rohani mengimani bahwa kematian adalah jalan menuju sorga, tetap saja secara jasmani (dan duniawi) kesedihan akan menghinggapi perasaan. Meskipun dalam satu sisi aku merasa puas karena sempat memberikan pelayanan perawatan di rumah sakit yang terbaik – dan selalu berupaya untuk ”melawan” ekspresi rasa sedih dengan meyakinkan diriku bahwa kematian adalah jalan terbaik dari Tuhan sekaligus satu-satunya jalan untuk kehidupan yang kekal yang juga suatu proses alamiah kehidupan – namun akhirnya air mataku tak terbendung ketika menyaksikan para parhalado memberikan penghormatan terakhir menjelang penutupan peti mati saat ibadah di gereja tempat bapakku menyelesaikan pelayanannya sampai pensiun.  Terus terang, suasana dan perasaan haru dan hormat ketika itulah salah satu yang memengaruhiku untuk kemudian menerima usulan untuk menjadi parhalado partohonan kemudian. 

 

Bagiku, keyakinan ”ke mana setelah mati” adalah suatu penghiburan yang hakiki. Memang, ketika berbagai kelompok jemaat memberikan kata-kata penghiburan, terasa sedikit membantu. Namun semua yang disampaikan oleh orang-orang tersebut akan semakin berkuasa menghibur bilamana diposisikan sebagai ”penambah” atas keyakinan bahwa orang yang meninggal memang sudah bersama dengan Yesus di sorga. Jika tidak, semua itu hanyalah sekadar – ma’af – basa-basi belaka. Itulah salah satu dasar yang mampu membuatku tetap dapat kuat sehingga tidak larut dalam dukacita berlebihan saat menghadapi kematian bapakku kala itu. Dan nas-nas penuntun ibadah Minggu ini semakin menguatkanku tentang apa yang aku yakini selama ini tentang kematian.

 

Nas perikop Ep Minggu ini merupakan penglihatan Yohanes tentang kehidupan di akhirat, yang dituliskannya berdasarkan pengilhaman dari Yesus Kristus. Bab-bab sebelumnya menjelaskan tentang situasi yang akan terjadi pada akhir kehidupan. Kelompok besar yang lain memiliki sifat universal – yang pasti tidak terbatas pada Israel, tetapi dari semua suku bangsa yang kini sudah dalam kemuliaan – sedang menyanyikan pujian agung kepada Allah dan Anak Domba bersama dengan para malaikat, tua-tua, dan keempat makhluk hidup. Dikatakan kepada Yohanes bahwa mereka ini adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. Ini adalah suatu keistimewaan alias kuasa yang luar biasa: bagaimana jubah putih dicelupkan ke dalam darah namun malah membuatnya menjadi putih. Hal ini melambangkan kuasa darah Yesus yang dilambangkan sebagai Anak Domba yang mampu menyucikan segala dosa.

 

Kesusahan yang besar ini tidak lain adalah yang disebutkan dalam khotbah Yesus tentang akhir zaman di Bukit Zaitun (Matius 24:9, 21, 29). Seluruh pemandangan ini terjadi di surga. Anak Domba disimpulkan sebagai gembala atau penguasa mereka; kepada mereka juga diucapkan janji bahwa Dia akan menuntun mereka kepada mata air kehidupan; dan, mengantisipasi gambaran yang rinci belakangan tentang ”kota kudus” (bukan kota Kudus di Jawa Tengah …), kepada mereka dikatakan bahwa Allah akan menghapus segala air mata mereka (21:4). Tidak ada lagi kesusahan di sorga.

 

Nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini adalah bagian dari kisah Yesus dengan orang-orang yang dikasihi-Nya, yaitu Maria, Marta, dan Lazarus. Sebagai tanggapan atas kematian Lazarus (yang kemudian dihidupkan kembali oleh Yesus) ucapan-ucapan ini kemudian disampaikan-Nya kepada Marta, salah seorang saudara yang dikasihi dan mengasihi Lazarus. Inilah Kristus! Pribadi-Nya tiada bandingnya! Ia mau menekankan bahwa segala kuasa tinggal di dalam diri-Nya. Orang percaya memiliki hidup yang kekal, yang tidak dapat dipindah-tangankan kepada orang lain, yaitu hidup dari juru selamat yang bangkit dan tak akan mati lagi. Kristus adalah kebangkitan karena Ia adalah kehidupan itu sendiri, dan Ia sendiri adalah kehidupan karena Ia itu adalah kebangkitan.

 

Setelah berbicara tentang kematian badani, pada ayat 26 Yesus berbicara tentang kematian yang kekal. Jika pada ayat sebelumnya, Ia berbicara tentang orang-orang percaya yang sedang ”tidur”, mereka akan bangkit, maka pada ayat 26 ini Ia berbicara mengenai orang-orang percaya yang masih hidup yang sekali-kali tidak akan mati (yang kedua).

 

Pertanyaan terakhir ”Percayakah engkau akan hal ini?” merupakan pernyataan ilahi yang selalu menantang untuk percaya. Apakah engkau sungguh mengerti perkataan ini? Betapa sering aku yang sedikit sekali mengerti tentang apa yang disodorkan kepadaku. Bagaimana dengan engkau …?

     

 

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Ketika memimpin ibadah persekutuan doa Sabtu yang lalu, salah seorang ibu menyampaikan tentang kematian salah satu keluarga anggota persekutuan parsahutaon kami. Hal yang biasa, namun menjadi sedikit luar biasa ketika beliau mendahuluinya dengan mengatakan ”Santabi jabu on” (ma’af kepada rumah ini). Lebih sepuluh tahun yang lalu ketika masih di Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam, ucapan yang sama seringkali aku dengar manakala ada yang berbicara tentang kematian. Aku kemudian memahaminya sebagai tolakan bala alias musibah agar kematian tidak menimpa keluarga yang tinggal di rumah tersebut. Tapi di Jakarta? Dan diucapkan oleh seorang ibu generasi yang lebih muda dari orang-orang yang dulu pernah mengucapkannya, apakah tidak memancing rasa penasaran? 

 

Bisa jadi, ini disebabkan oleh pemahaman kematian dengan sudut pandang sebagai sesuatu yang menakutkan, bahkan mencelakakan (sebagaimana disampaikan oleh kalangan non-kristiani sebagai musibah dan kesialan sehingga harus dihindari, bahkan jangan sampai sekali-kali mengucapkannya …). Sudah saatnya kita mengubah pandangan, dan menerima kematian sebagai sesuatu yang indah (sebagaimana banyak disampaikan oleh beberapa filsuf dan penyair); sebagaimana kita mengimani bahwa dengan kematian jalan, menuju kehidupan kekal bersama Yesus menjadi terbuka. Tidak mudah, memang karena tidak semudah mengucapkannnya. Namun ”tidak mudah” bukan berarti ”tidak mungkin”. Dasarnya adalah iman percaya kepada Yesus. Pertanyaan ”percayakah engkau akan hal ini?” seharusnya mengusik kita kembali untuk merenungkan dan memberi jawab yang paling pas dalam menyikapi hal ini.

Iklan

One comment on “Andaliman-48 Khotbah 22 November 2009 Minggu XXIV setelah Trinitatis

  1. manusia takut akan kematian karena dia orang kaya mungkn jg dia orang hebat. dan bisa jg takut mati karena dosa2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s