Ada Benda Tajam di Gigiku, Sebuah Pengalaman dengan Dokter Gigi Praktek di Apotek

Jum’at malam (201109) ketika menyikat gigi menjelang tidur, aku terperanjat. Ketika mengayunkan sikat gigi di bagian atas rongga mulut, tiba-tiba terasa ngilu yang sangat menusuk. Lebih mengejutkan lagi, ketika di cermin aku melihat ada benda kecil seperti logam (dan terdengar menimbulkan suara ketika beradu dengan lapisan gigi) yang sempat menimbulkan rasa sakit di gigiku. Sejenak aku sempat menduga bahwa aku melakukan kesalahan dalam mengoleskan odol ke permukaan sikat gigi. Tapi segera saja aku tepis dengan “ah, ‘nggak mungkin …”.

Spontan aku menghentikan kegiatan menyikat gigi, lalu perlahan memperhatikan benda aneh tersebut. Lalu aku ambil dan membersihkannya di ujung jariku. Dan baru terlihat dengan jelas, sekaligus aku tersadar bahwa tambalan gigiku sudah lepas. Tentu saja aku kaget, karena penambalan baru saja dilakukan sekira dua minggu yang lalu. Dalam sejarah penambalan gigi, baru kali inilah kualitas terburuk yang pernah aku alami.

Dengan perasaan sedikit geram, Sabtu-nya (21/11/09) aku segera ke tempat praktek dokter gigi yang menambal gigi dimaksud. Terletak di pertokoan yang sangat dekat dari kediaman kami di komplek perumahan, menumpang di apotek bersamaan dengan praktek dokter umum dan dokter gigi spesialis lainnya, segera saja aku mendatanginya (juga didorong oleh ketidaknyamanan gigi yang berlubang …).

Ketika ditanyakan oleh resepsionis (persisnya penjaga apotek yang sekaligus dikaryakan sebagai penerima pasien …), aku segera menyampaikan keluhanku, “Koq baru ditambal dua minggu, tambalannya sudah lepas? ‘Gimana sih ini …”. Ternyata dokter giginya sedang duduk di kursi panjang yang disediakan di apotek, mungkin menunggu pasien yang datang. Segera saja sang dokter gigi bergegas naik ke lantai atas ke ruang prakteknya. Tak lama kemudian, asistennya memanggilku untuk diperiksa.

Di ruang praktek – ketika sudah duduk di kursi perawatan pasien – kembali aku menyampaikan ”keherananku” tentang rendahnya kualitas pekerjaan penambalan yang dilakukannya minggu lalu. Padahal bayarannya aku rasa termasuk mahal untuk tindakan penambalan ringan itu. Yang membuatku bertambah kesal ketika sang dokter gigi berucap, ”Bapak aja terlalu keras menyikat gigi sehingga tambalannya bisa lepas”, yang tentu saja membuatku terpancing untuk mengatakan, ”Dok, malah setelah ditambal kemarin saya mengganti sikat gigi dengan bulu sikat yang sangat lembut dan mengganti odol gigi. Koq malah sekarang dokter bilang masih terlalu keras menyikatnya?”.

Usai melakukan penambalan-ulang, sang dokter masih membuatkan kuitansi. ”Lho, bukankah ini masih bagian dari garansi penambalan yang kemarin, dok? Saya masih perlu bayar juga?”, kataku berupaya ”menyadarkan” bahwa kedatanganku pagi itu adalah akibat kegagalannya dalam memenuhi kualitas penambalan yang memenuhi standar. ”Ya, cuma bayar biaya pekerjaan pagi ini aja, pak. Bahannya ’nggak usah dibayar.”, jawabnya tanpa ragu, apalagi malu.

Di lantai dasar, Auli dan mamaknya masih menunggu di kursi yang tadi aku duduki. Lalu aku membayar tagihan di kasir, yakni kepada ”resepsionis” yang tadi menyambut kedatanganku. Ketika menghampirinya, Auli yang sedang melihat poster iklan perawatan dan penyembuhan gigi di apotek tersebut berujar, ”Pa, di sini ada perawatan gigi juga. Lihat ini gambarnya”, yang spontan aku sambut, ”Jangan lagi ke mari, nak. Dokter giginya kerjanya ’nggak bagus.”. Seperti menangkap kekecewaanku akan pelayanan dokter gigi praktek di apotek, Auli jadi teringat pada namboru-nya yang dokter gigi di puskesmas tempatnya biasa ditangani untuk urusan gigi, lalu berkata, ”Kenapa ’nggak ke tempat bou aja, pa? Auli bagus koq di sana.”. Aku akui bahwa penanganan di puskesmas ito itu memang lebih bagus, tapi jadualnya dan jaraknya menjadi pertimbanganku untuk terpaksa datang berobat ke tempat praktek dokter gigi di apotek ini. Selain dekat rumah, praktek di apotek ini juga buka setiap hari (termasuk Sabtu dan Minggu) dari pagi sampai malam. Tapi begitulah kualitas pelayanan dan pekerjaan dokternya, sehingga membuatku bertekad untuk tidak akan pernah datang lagi ke situ.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s