Almanak, Kalender HKBP 2010, dan … Si Palas Roha!

Tadi malam (24/12/09), usai pelaksanaan ibadah Malam Natal, di konsistori (aku lebih senang menyebutnya dengan bilut parhobasan) aku mendapat satu “paket” yang diberikan oleh Calon Pendeta Pasaribu. Dalam gulungan (yang dari luar aku sudah mahfum bahwa itu adalah kalender HKBP Pusat – di atas gulungan tersebut, persisnya menempel pada bagian belakang kalender tertempel namaku yang dicetak oleh komputer, suatu kerja rapi dan bagus tahun ini, pikirku … – di dalamnya terdapat dua buah buku: Almanak HKBP 2010 dan Buku Renungan Harian Mendekatlah.

Dibanding tahun 2009, aku lebih menyukai edisi 2010 ini. Pertama, tentang kalender. Tahun ini, kami sepakat bahwa hanya ada kalender HKBP Pusat untuk dibagikan di jemaat. Baik parhalado, maupun warga jemaat (ruas). Tahun-tahun sebelumnya, di jemaat kami ada dua versi. Selain keluaran Kantor Pusat HKBP (yang ini terbatas hanya untuk pelayan jemaat), ada juga versi jemaat. Nah, yang terakhir ini aku tak pernah menyukainya. Selain aku tak merasa memerlukannya (untuk apa repot-repot punya kalender sendiri yang hampir tidak mempunyai “nilai tambah” kalau versi Kantor Pusat saja pun sudah memadai, itu selalu alasanku …), desainnya juga tidak pernah bagus. Ala kadarnya saja, alias seadanya … (asalma adong kalender ni hurianta on, begitulah sering aku dengar jawaban pengambil keputusan pembuatan kalender tersebut manakala ada yang memberi komentar).

Jemaat kami menugaskan Dewan Marturia (dan aku sekretarisnya …) untuk membuat kalender “lokal” alias keluaran jemaat. Ketika dibicarakan di rapat dan sudah ada masukan bahwa masih ada banyak sisa kalender tahun sebelumnya (tentu saja ini bisa diindikasikan kurangnya animo warga jemaat untuk memilikinya – yang sebagian besar sangat ‘ngotot untuk membuatnya, termasuk Ketua Dewan Marturia dan pelayan berusia lanjut – aku usulkan, kalau harus membuat versi jemaat, kenapa tidak dirancang yang memenuhi kebutuhan spesifik di jemaat. Aku usulkan, antara lain, di kalender tersebut tercantum jadual partangiangan wejk, latihan koor punguan kategorial (parompuan, ama, naposo bulung, dan sikola Minggu). Saat itu, rapat menyetujui. Namun pada kenyataannya yang diproduksi sangat jauh dari harapanku! Selain tidak mencantumkan hal spesifik tersebut, kesan “apa adanya” masih sangat kuat terkesan. Bayangkan, kalender dua-bulanan (maksudnya dalam satu lembar terdapat dua bulan yang berbeda) tercantum foto rame-rame ratusan warga jemaat (bisa dibayangkan betapa kecilnya orang-orang yang di dalamnya …), dan gambar yang sama dalam setiap lembarannya. Tak mengherankan kalau selama tahun 2009 ini hanya baru satu kali aku mendapati kalender 2009 tersebut terpampang di rumah salah seorang warga jemaat. Di rumah kami sampai saat ini lembaran terdepannya masih Januari-Februari alias tidak pernah disentuh, apalagi di depannya tertutupi oleh kalender lain yang lebih bagus dan lebih berbobot karena lebih fungsional. Ketika rapat Dewan Marturia terakhir tahun ini masih ada ”kerinduan” beberapa orang peserta rapat (yang sama dengan tahun sebelumnya) yang masih mencoba mempertahankan pembuatan kalender jemaat versi lokal. Syukurlah, di rapat pelayan tahbisan dengan bulat diputuskan untuk hanya mengedarkan kalender 2010 versi Kantor Pusat HKBP. Dan itulah yang menjadi kenyataan.

Desainnya sudah lebih bagus dan tidak terlalu ”kampungan” lagi. Dengan menampilkan gambar-gambar unit usaha dan pelayanan HKBP (rumah sakit, sekolah, dan badan sosial) yang dilengkapi dengan foto-foto beberapa gereja pilihan dari seluruh Indonesia, aku rasa kalender HKBP 2010 sekarang sudah masuk dalam tingkatan ”tidak malu-maluin” lagi. Dan aku barusan dengan bangga menggantungkannya di ruang tamu kami.

Almanak 2010 juga sudah ada kemajuan. Yang lainnya masih tetap, kecuali foto Sekjen yang sekarang sudah tersenyum sumringah. Masih terkesan ”individualis”, karena foto para pemimpin HKBP Pusat (Eforus, Sekjen, dan Kepala Departemen) ditampilkan sendiri-sendiri dan sebagian wajahnya terkesan ”serius” (tak bisa dibedakan apakah tegang atau jaga wibawa …). Sama dengan tulisanku awal tahun ini, aku sangat merindukan mereka berfoto bersama dalam suasana rileks. Bukankah mereka harus menampilkan dan mengesankan sebagai hamba Tuhan yang senantiasa bersukacita? Entahlah sampai kapan itu bisa terwujud

Nas perikop yang menjadi Epistel (seharusnya dikutip dari surat-surat rasuli sesuai arti sebenarnya …) dan Evangelium (seharusnya dikutip dari kitab-kitab Injil sesuai arti sebenarnya …) masih terjadi ”tumpang tindih”. Tidak mudah untuk berubah, memang.

Setelah pencanangan 2006 sebagai Tahun Dana Pensiun, 2007 sebagai Tahun Koinonia, 2008 sebagai Tahun Marturia, dan 2009 sebagai Tahun Diakonia, maka tahun 2010 dicanangkan sebagai Tahun Sekretariat. Mana yang benar, namun aku merasa lebih pas jika dikatakan sebagai Tahun Kesekretariatan.

Oh ya, pada malam Natal itu, selain menerima paket kalender dan almanak serta buku renungan harian, kami pelayan tahbisan semua mendapat ”paket” yang lain. Sintua Parartaon meminta kami satu per satu menandatangani selembar surat yang di dalamnya sudah tertera nama kami masing-masing. Setelah meneken, lalu disodorkan sebuah amplop yang di atasnya sudah tercantum nama masing-masing pelayan tahbisan. ”Apa ini, amang?”, tanyaku ingin tahu, lalu dijawab, ”Sipalas roha di angka parhobas”. Segera aku melirik calon sintua yang duduk di sebelahku, sambil melanjutkan bertanya: ”Bah, dapot do hami angka calon sintua on?”. ”Sude do dapot. Songon na tarsurat adong goar muna di si, amang”, jawab sintua parartaon sambil melanjutkan meminta tanda tangan kepada sintua lainnya.

Karena sama-sama merasa tidak pantas menerima ”bayaran” seperti itu (karena kami berprinsip bahwa pelayanan di jemaat adalah bagian dari pengabdian tanpa harus menerima upah nominal), kami mendiskusikannya bagaimana cara memulangkannya kembali ke jemaat. Tentu saja aku tahu caranya: usai semua kegiatan malam itu, aku langsung menjumpai bendahara huria untuk menyerahkan amplop tersebut setelah menuliskan ”persembahan ucapan syukur” di atas amplopnya. Semula terkejut, namun bendahara akhirnya bisa memahami. Lalu menyarankan untuk mengganti amplopnya dengan amplop lain yang biasa dipakai di jemaat sebagai ”standar” untuk pemberian persembahan. Di depan amplop bernomor seri tersebut telah disedikan beberapa pilihan dengan cara mencentang salah satu kotak yang tersedia saja. Lalu aku pilih ”ucapan syukur” dan menuliskan lagi ”NN” pada isian yang tersedia. Dengan bijaksana, bendahara menerima uang (yang saat itu barulah aku tahu jumlahnya dua ratus ribu rupiah …) tersebut sambil berkata: ”Songon on ma na suman. Nunga di jalo hamu amplop i, alai molo naeng paulakkon muna muse, sesuai dia na masa di hurianta on ma antong”, yang artinya “Beginilah yang cocok. Sudah kamu terima amplop itu tadi, namun kalau mau dikembalikan harus mengikuti bagaimana yang terjadi di jemaat ini”.   

Kawanku yang Casi satunya yang dari tadi mengikutiku, tidak ikut cara yang aku tempuh itu. Dia hanya mengatakan, ”Ndang tabo molo dipaulak muse, lae. Tu petugas parkir ma annon hulehon”. (= Tak enak kalau dipulangkan. Kepada petugas parkirlah nanti aku berikan). Aku tersenyum saja sambil mempersilakannya melaksanakan pilihannya. Perasaanku menjadi sangat tenang karena melakukan hal yang tepat.

Andaliman-54 Khotbah 03 Januari 2010 Minggu Setelah Tahun Baru

 

Kristus adalah batu penjuru, kita – aku dan kau – adalah bait Allah. Batu penjuru atau batu sandungan?

 

Nas Epistel: 1 Petrus 2: 4-8

2:4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.

2:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

2:6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.

2:7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.

2:8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

 

Nas Evangelium: 1 Korintus 3: 10-17

3:10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.

3:11 Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

3:12 Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami.

3:13 Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab Ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu.

3:14 Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.

3:15 Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.

3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?

3:17 Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.

 

Selamat Tahun Baru! Minggu pertama tahun 2010 ini – diberi tema Ojahan ni Hakristenon, yang diartikan sebagai dasar kekristenan – sangat pas sebagai landasan atau bekal ketika berada dalam minggu pertama tahun yang sangat menjanjikan. Tahun 2010 masih penuh misteri. Sampai saat ini aku belum mendengar atau melihat ramalan di televisi (biasanya sudah sangat ramai dengan ramalan-ramalan para ahli yang biasanya mengklaim bahwa banyak ramalannya untuk tahun 2009 dan tahun-tahun yang lalu terbukti menjadi kenyataan …), dan memang tidak pernah memasukkannya sebagai sesuatu yang “wajib” untuk dijadikan referensi. Jika kebetulan melihatnya pun, biasanya malah membuatku menjadi tersenyum geli.

 

Yang paling banyak diulas dalam ramalan biasanya adalah hal-hal negatif (bencana, kesulitan, kehilangan, kematian, perceraian, dan lain-lain …), dan sangat sedikit yang mengajak untuk optimis. Itulah salah satu sebabnya mengapa aku menjadi tidak begitu tertarik dengan ramalan, karena aku tidak mau kalau di awal tahun sudah dicekoki dengan hal-hal yang pesimis. Aku punya Tuhan yang selalu menyertaiku kemanapun aku pergi, lalu kenapa aku mesti menyediakan diri untuk hal-hal yang tidak membangun?

 

Nas perikop ini mengingatkanku bahwa diriku adalah bait Allah, dan harus selalu memastikan bahwa Allah selalu berada di dalam diriku. Dia tidak akan membiarkanku binasa, sebaliknya Dia akan membinasakan orang-orang dan upaya-upaya yang mencoba membinasakan diriku.  Syaratnya cuma satu: hal itu bisa terjadi kalau Allah yang berkuasa di dalam diriku. Jika Kristus satu-satunya yang menjadi landasan atau batu penjuru dalam setiap gerak langkah hidupku.

 

Dihubungkan dengan nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini, menganalogikan kehidupan berjemaat. Ada dua istilah yang berdekatan, namun sangat kontradiktif, yaitu batu penjuru dan batu sandungan. Batu yang terpilih yang sangat berharga adalah batu penjuru, dan siapa yang percaya kepadanya tidak akan dipermalukan. Sebaliknya, batu tersebut dapat menjadi batu sentuhan alias batu sandungan jika tidak taat kepada firman Allah. Perikop ini membawaku pada pelayanan yang aku jalankan saat ini: apakah itu menjadi batu penjuru, atau sebaliknya malah menjadi batu sandungan? Tidak tertutup kemungkinan, pelayanan yang seharusnya untuk memuliakan Tuhan (sebagai batu penjuru) malah menjadi batu sandungan manakala motifnya bukan lagi untuk kemuliaan Tuhan. Kabar baik yang aku beritakan dengan Yesus sebagai fokus (batu penjuru) menjadi hambar karena tidak didukung oleh perlakuanku yang sejalan dengan firman yang aku sampaikan (batu sandungan).

 

Ada yang masih menjadi pergumulanku saat ini, yaitu kewajiban berpakaian yang seturut dengan “tradisi” yang berlaku di jemaat (entah oleh siapa dan entah sejak kapan …). Menurut pemahaman sebagian besar orang (katanya begitu …), seorang pelayan jemaat (termasuk calon sintua seperti aku ini) adalah wajib hukumnya untuk berpakaian lengkap (kemeja dan berdasi) setiap Minggu. Karena menurutku tidak terlalu relevan (apa hubungannya antara berdasi dengan pelayanan?), saat pendeta dan semua sintua wejk datang ke rumah pertama kali memintaku untuk menjadi calon sintua, ini menjadi topik yang dibicarakan. Saat itu aku sampaikan bahwa aku akan lebih banyak memakai kemeja batik dalam bertugas. Jas lengkap hanya untuk momen-momen tertentu (misalnya saat prosesi untuk ibadah khusus sintua yang memasuki masa pensiun karena calon sintua belum berhak memakai toga …). Dan yang hadir saat itu tidak menyatakan keberatan (lihat Jas, Batik, dan Batak …).

 

Dalam perjalanannya kemudian, saat sermon parhalado, ada sintua senior yang protes yang meminta agar calon sintua pun berdasi setiap Minggu dan tidak memakai kemeja batik karena tidak sesuai dengan tradisi. Selain itu, agar kelihatan berbeda dengan warga jemaat (???). Bahkan – untuk lebih mayakinkan – beliau menceritakan pengalaman pribadinya yang bukan saja berdasi, malah berjas lengkap saat menjadi calon sintua. Sesuatu yang membuatku rada shock. Selain karena baru menyadari bahwa tingkatan pemahaman para pelayan tahbisan di jemaat kami masih dalam tingkatan berpakaian (belum pada kualitas pelayanan jemaat), ternyata pak pendeta sebagai pemimpin jemaat juga tidak bereaksi dengan tegas (apalagi bila mengingat tiadanya tanggapan keberatan saat pertama kali datang ke rumah memintaku menjadi calon penatua …).

 

Setelah berdebat, akhirnya kami calon sintua menyatakan akan berdasi saat ibadah berbahasa Batak dan berbatik saat ibadah berbahasa Indonesia. Prinsip kami berdua (karena kami hanya ada dua orang yang berpendapat yang sama) yang penting adalah kualitas pelayanan, bukan pakaian yang dikenakan. Batik dan kemeja berdasi adalah sama bagusnya. Bukan berhubungan dengan tradisi Batak, karena keduanya (batik dan dasi) bukanlah yang diwariskan oleh budaya Batak.

 

Perkembangan terakhir adalah saat perayaan Natal minggu lalu di mana kawanku sesama calon penatua menyampaikan keinginannya bahwa kami “menyerah” saja untuk berdasi dan berjas sesuai tradisi yang berlaku di jemaat kami. “Jangan sampai menjadi batu sandungan kepada jemaat, lae …”, katanya mencoba mempengaruhiku dengan menceritakan adanya beberapa orang yang menyampaikan keberatan kepadanya karena kami tidak mematuhi tradisi dimaksud. Aku hanya menjawab bahwa ini adalah komitmen bersama yang saat itu kami sepakati untuk menunjukkan bahwa kami “berbeda” dengan penatua lainnya yang terlanjur dicap kurang memuaskan pelayanannya. Saat itu, kami berdua bermoto: “bukan pakaian, melainkan pelayanan terbaik bagi jemaat”. Batu sandungan? Entahlah, aku sendiri belum mampu menjawabnya karena sejauh ini sangat sedikit yang menyampaikan keberatannya padaku, Kalaupun ada, aku selalu menjawabnya bahwa hal berpakaian ini tidak ada diatur dalam peraturan resmi jemaat. Jadi, tidak bisa dikatakan melanggar peraturan. Sebaliknya, aku meminta para “pemberi masukan” tersebut untuk memberikan penilaian terhadap pelayanan yang sudah aku jalankan yang (sayangnya …) semuanya menjawab baik.

  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Batu penjuru dan batu sandungan, adalah istilah yang sangat besar kemungkinannnya sudah sangat akrab di telinga kita. Pun dalam hal yang berhubungan dengan pelayanan di jemaat: “jadikan Kristus sebagai batu penjuru”, sebaliknya “jangan sampai menjadi batu sandungan”, adalah kalimat yang acapkali kita dengar dan kita perdengarkan di gereja.

 

Nas perikop ini mengingatkan kita untuk menelisik, di tataran manakah pelayanan yang kta jalankan saat ini. Batu penjuru atau batu sandungan?

 

Kadangkala kita mengira bahwa apa yang kita kerjakan saat ini adalah sudah sangat baik, dan tak terduga ternyata punya potensi menjadi batu sandungan. Pernahkah kita berpikir bahwa dengan menjadi pelayan jemaat ternyata malah menjauhkan kita dari semangat pengabdi Kristus? Hati-hati (dan mudah-mudahan ini tidak terjadi pada diri kita …), kita juga bisa dipakai oleh iblis sebagai alatnya! Karena merasa diri kita suci (atau, paling tidak, lebih suci daripada orang-orang lain …) menjadikan diri kita hanya pantas bergaul dengan “orang-orang suci” lainnya.

 

Ingatlah, kita semua akan ditampi dan diuji oleh api yang dari itu akan terlihat yang mana yang layak mendapat upah kekal di sorga. Kita juga akan mempertanggungjawabkan diri kita, apakah sudah sesuai penggunaannya sebagai bait Allah sebagaimana dimaksud oleh firman Allah tersebut.

Wuihhh … Meriahnya di Pasirmukti … Ah, Masa’ Koor Ama Kami Liar?

Bertepatan dengan libur Lebaran Idul Adha 1430 H (27/11/09) yang lalu, perkumpulan paduan suara kaum bapak (Koor Ama) jemaat kami beserta keluarga mengadakan rekreasi di Kawasan Wisata Pasirmukti di Cibinong, Jawa Barat. Rencana ini sudah dibicarakan berbulan-bulan yang lalu saat diadakan perkumpulan partangiangan di rumah salah seorang anggota. Saat itu ada yang iseng mengingatan bahwa perkumpulan kami itu sudah lama tidak mengadakan rekreasi, yang langsung saja bersambut kepada hal-hal yang berhubungan dengan itu. Mungkin karena kawan-kawan tahu bahwa aku baru saja selesai membawa rombongan parhalado partohonan melaksanakan pembinaan, spontan aku pun diminta untuk menjadi ketua panitia. Karena fasilitas di Pasirmukti itu sangat cocok dengan kegiatan rekreasi keluarga, maka aku pun mengiyakan saja. Tak ada yang susah kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh, ‘kan?

Perkumpulan koor kami ini adalah sekumpulan kaum bapak yang usianya masih relatif muda. Relatif muda, maksudnya dibandingkan dengan perkumpulan paduan suara kaum bapak yang sebelumnya sudah ada. Secara guyon, orang-orang di jemaat akan dengan mudah mengatakan bahwa perkumpulan paduan suara satunya lagi adalah dikhususkan bagi bapak-bapak yang sudah punya cucu.

Dalam perkembangan persiapan kegiatan rekreasi ini, kemudian muncul ideku untuk sekalian saja mengadakan acara perayaan ulang tahun paduan suara kami ini (yang anehnya, barulah kemudian orang-orang sadar bahwa paduan suara kami ini memang dilahirkan bulan November sembilan tahun yang lalu …). Klop-lah sudah.

Sebagai ketua panitia – dan sudah punya hubungan sebelumnya dengan Pasirmukti – aku pun melakukan negosiasi untuk mendapatkan fasilitas yang lebih memadai untuk acara ini. Namun saat itu belum dapat diputuskan, karena jumlah peserta yang final masih belum didapatkan (yang benar-benar final barulah satu minggu sebelum hari-H …).

Seksi Acara Punya Kawan …

Untuk mengatur kegiatan dan acara selama di Pasirmukti ditunjuklah pak Silalahi sebagai penangggung jawabnya. Karena membatalkan jadual survai lokasi secara mendadak (karena beliau “tiba-tiba” diajak bermain golf oleh rekanan perusahaannya) dan aku sudah punya kegiatan lainnya, maka untuk survai lokasi aku serahkan saja selanjutnya kepada mereka. Nah, ternyata General Manager (GM) Pasirmukti adalah bekas kawan kerjanya yang mengundurkan diri dari perusahaan beberapa tahun yang lalu. Dan dengan bangga beliau mengatakan mendapat banyak kemudahan dari pertemanan itu.

Sayangnya hal tersebut kemudian terbukti tidak semuanya benar. Bahkan dibandingkan dengan negosiasi awal yang aku lakukan bukan dengan GM dan dibandingkan saat kami melakukan pelatihan parhalado partohonan sebelumnya, yang kami dapatkan jauh lebih baik. “Tapi sudahlah, kita sudah mempercayakan kepada lae itu untuk mengurus, jadi kita terima saja semua itu sebagai yang terbaik untuk saat ini”, kataku menenteramkan keluhan salah seorang kawan setelah mengetahui paket yang kami terima kali ini ternyata tidak lebih baik dari sebelumnya.

Tidak Ada Api Unggun Karena Bakalan Turun Hujan

Salah satu yang membuatku terheran-heran adalah saat mengetahui bahwa kegiatan api unggun yang sudah disusun jauh-jauh hari ternyata ditiadakan, dengan alasan bahwa hujan akan turun pada malam hari. ”Dari mana kalian tahu?”, kataku coba bertanya, yang kemudian dijawab oleh beliau dan panitia seksi acara lainnya: ”Dari orang Pasirmukti di sini, lae. Tiap malam pasti turun hujan, karena lokasinya sangat dekat dengan Bogor”. Jawaban itu memancingku untuk mengingatkan mereka, ”Tidak semua mereka tahu tentang lokasi ini. Kalau kita semua meminta sungguh-sungguh kepada Tuhan untuk menunda turunnya hujan supaya kegiatan yang sudah dirancang sedemikian rupa agar dapat berjalan dengan baik, masakkan Dia tidak mendengarkan permohonan kita? Lagian, tidak ada resikonya bagi kita karena kalaupun hujan turun kita tidak harus membayar ongkos penyiapan api unggun, koq. Kami sudah pengalaman saat pelatihan bulan lalu di sini”.

Kelihatannya mereka memang tidak terlalu serius mempersiapkan acara api unggun (yang sebelumnya mereka sendiri sudah rancang), akhirnya memang tidak dipersiapkan api unggun tersebut. Dan terbukti bahwa hujan memang datang pada hari itu, namun setelah lewat tengah malam ketika kami mulai memadamkan api panggangan dan bakaran ikan dan daging untuk kemudian bersiap-siap pergi istirahat dan tidur …

Semua Gembira … Auli juga!

Karena acaranya yang bagus, terlihat semua peserta bersukacita. Terlebih anak-anak yang kegiatannya diisi oleh banyak permainan dan pengetahuan: lomba tarik tambang, memancing ikan, membajak sawah, bermain di lumpur, melukis caping, dan lain-lain. Bapak-bapak dan ibu-ibu juga terlibat perlombaan tarik tambang dan lomba bakiak.

Ada tambahan sukacita bagiku, yaitu tatkala melihat Auli mulai berinteraksi dengan anak-anak lainnya yang kebanyakan adalah baru dikenalnya hari itu. Selama ini Auli tidak mudah menemukan kawan yang cocok untuk diajak bermain. Berulangkali aku mengingatkannya untuk menjadi pemberani, karena memang tidak ada yang perlu ditakutkan dari semua kegiatan itu. Dan aku membuktikan dengan selalu mendampinginya dan anak-anak serta peserta lainnya untuk memastikan bahwa semuanya beraktivitas dalam keadaan aman dan nyaman. Mungkin ini bagian dari naluri sebagai petugas SHE (safety, health, and environment) di kantor …

Renungan Singkat yang Sangat Singkat

Malamnya aku mendapat tugas (atau kepercayaan?) untuk memimpin ibadah malam sekaligus menyampaikan renungan singkat. Dan waktunya sangat singkat, karena panitia acara sudah menyampaikan bahwa waktu sudah sangat terlambat dari jadual sebelumnya. Bayangkan saja, ibadah yang dijadualkan jam 20.00 akhirnya baru ada kesempatan setelah jam 22 lewat beberapa menit. Dan itulah saatnya aku menyampaikan renungan singkat dari perikop yang sangat panjang yang dipesankan oleh panitia seksi acara.

Dalam situasi seperti itu, akhirnya aku punya ide: tidak berkhotbah, tetapi berinspirasi. Usai membaca perikop, kemudian aku bercerita tentang apa yang dirindukan seorang anak terhadap bapaknya, dan sebaliknya. Menyadari situasinya saat itu, aku pun tidak terlalu banyak berharap bahwa semua pesan yang aku sampaikan akan dapat diterima dengan baik oleh pendengar (saat itu sudah mulai banyak anak-anak yang tertidur di pangkuan orangtuanya, dan beberapa orang dewasa juga sudah menampakkan tanda-tanda kelelahan …). Itulah sebabnya aku jadi kaget, ketika esok paginya ada seorang bapak yang berkata, ”Kita harus rajin latihan koor supaya lebih sering tampil di gereja saat ibadah. Dan anak-anak kita pun akan berteriak dengan bangga kepada kawan-kawannya: ’Itu bapakku …”. Aku jadi tersenyum dalam hati mengingat bahwa kebanggaan akan anak terhadap orangtuanya adalah salah satu pesan yang aku sampaikan malam sebelumnya.

Kita Bukan Organisasi Resmi di Gereja. Bah, Macam Mana Pula Itu ?!

Sesuai permintaanku pada masa-masa persiapan sebelumnya, pengurus memanfaatkan satu jam lebih untuk berdiskusi tentang perkumpulan ini dan rencana ke depannya. Sebenarnya yang aku bayangkan adalah, pak ketua Simanjuntak akan menampilkan analisa SWOT (strength, weakness, opportunity, threatment yaitu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman). Ternyata tidak. Lebih banyak dimanfa’atkan untuk mencurahkan isi hatinya terhadap kejadian-kejadian di masa lalu. Salah satu pernyataannya yang membuatku tersengat adalah, “Meskipun kita akui bahwa organisasi kita ini tidak diakui di tengah-tengah gereja kita karena tidak terdaftar sebagai perkumpulan kaum bapak…”.

Begitu kesempatan pertama datang, segera aku sambar dengan mengatakan, “Aku tidak terima dengan pernyataan pak ketua yang mengatakan bahwa organisasi kita ini tidak terdaftar dan tidak diakui di gereja. Padahal kita ini sudah banyak berkontribusi dalam banyak kegiatan di gereja. Kalau tidak diakui, itu berarti kita ini liar. Apa iya memang begitu? Bukankah tidak sebaiknya kita bubar saja, ’ngapain masuk organisasi liar … Kalau pun dirasakan perlu, kenapa kita tidak mendaftar saja. Di tengah-tengah kita ada pak pendeta sebagai uluan huria, mari kita tanyakan syarat-syarat pendaftarannya …”. Sudah tentu hal ini membuat riuh suasana pada tengah malam itu dan sebagian besar menyesalkan pernyataan pak ketua tersebut, sampai akhirnya ditengahi oleh beberapa orang dan disimpulkan oleh pak pendeta.

Untuk mencairkan suasana sekaligus memberikan penekanan untuk mendapatkan dukungan, aku sampaikan ”pesan khusus” kepada kaum ibu: ”Untuk ibu-ibu, percayalah bahwa kami setiap Jum’at malam di gereja benar-benar kami manfa’atkan untuk latihan koor. Kalau belum latihan, biasanya kami pakai untuk membicarakan hal-hal apa yang bisa kami lakukan untuk kebaikan di jemaat. Oleh sebab itu, aku sarankan agar ibu-ibu mengusir kami kaum bapak jika masih ada di rumah pada Jum’at malam agar pergi latihan koor di gereja.”. Dan benarlah, semua menjadi tertawa sambil manggut-manggut. Mudah-mudahan pesan yang ini masuk juga dalam pikiran semua ibu-ibu sehingga kami pun menjadi lebih bersemangat untuk latihan koor di gereja.