“Oleh-oleh” dari National Distributor Convention (1): Telat, Kelas Eksekutif, dan Koper Kapolda

Selama hampir seminggu (05-10 Desember 2009) aku berada di Surabaya. Sebagaimana tahun 2007 yang lalu di Denpasar, kali ini aku didaulat kembali untuk menjadi Ketua Panitia National Distributor Convention (selanjutnya disingkat saja dengan NDC), yakni pertemuan akbar yang mengumpulkan semua Distributor yang menjual produk-produk kami di seluruh Indonesia. Ada sekitar 250 orang yang terlibat (terdiri dari Presiden Direktur, beberapa Direktur dan Head of Business Unit, pemimpin wilayah, dan tentu saja pemilik perusahaan yang ditunjuk sebagai Distributor) yang semuanya berkumpul dan menginap di Hotel Shangri- La, Surabaya.

Telat Karena Telat

Semula jadual pesawatku yang dikonfirm oleh Sekretaris Departemen kami adalah Sabtu 05 Desember 2009 jam tiga siang bersama dengan dua orang anggota Panitia lainnya. Dan ini cocok dengan keinginanku, karena itu berarti aku masih punya waktu untuk bersama keluarga. Seperti biasanya, kami akan pergi berenang bersama yang dilanjutkan dengan jalan-jalan ke toko buku. Selain itu, pada hari itu ada juga pesta pertumpolon anak sintua wejk kami di Depok. Sesuai perhitungan, aku masih bisa mengatur supaya tidak kehilangan semuanya.

Tiba-tiba saat makan siang di luar kantor sehari sebelum berangkat, si mbak sekretaris menelepon mengabari bahwa dia (dengan inisiatif sendiri!) mengubah jadual penerbanganku menjadi jam satu siang. Alamak … dari mana pula dia belajar sampai bisa melakukan pekerjaan seperti ini!? ”Aku kira bapak lebih menyukai berangkat lebih pagi supaya bisa lebih banyak dikerjakan di Surabaya. Ma’af, ya pak”, katanya mencoba mengantisipasi emosiku ketika kemudian mengabarkan kegagalannya menjadualkan-kembali penerbanganku ke jam tiga, sesuai konfirmasi awal. Masih taraf memprihatinkan memang kualitas pekerjaan (bukan pelayanan …) sekretaris kami ini. Ketika berangkat haji tahun lalu, kami semua berharap akan terjadi perbaikan kinerjanya dari yang semula sangat parah sehingga semua karyawan di departemen kami mengeluh. Saking parahnya, malah ada sebagian yang mengatakan mendingan dia tidak masuk kerja dan kami kerjakan sendiri daripada melihat dia ada di kantor dengan kualitas pekerjaan yang buruk …

Sabtu paginya aku sudah bersiap-siap. Semua dokumen dan keperluan di Surabaya sudah aku masukkan ke koper cokelat tua (ma’af, demi alasan etika, tidak usah disebutkan mereknya …) yang baru beberapa bulan yang lalu. Koper yang sederhana, namun elegan, dan sudah aku idam-idamkan agak lama sebelum akhirnya aku “berani” memutuskan untuk membelinya.  Karena terbang lebih awal, kami tidak berenang dan tidak pergi ke mana-mana bersama. Jam sembilan aku telepon taksi langgananku supaya menjemputku ke rumah pada jam sepuluh. Dari rumah ke bandara cukuplah tiga jam, pikirku. Apalagi Sabtu. Biasanya aku memesan taksi satu hari sebelum berangkat, namun kali ini tidak, karena aku mengira mak Auli akan mengantarku ke suatu tempat yang dekat ke bandara yang sejalan dengan arah perjalanan mereka (bersama pariban-ku) hari itu ke luar rumah.  Ternyata sang adik terlambat, sehingga aku buru-buru memesan taksi. Dan di sinilah ”petaka” mulai timbul.

Jam sepuluh lewat lima belas menit, pesanan taksi belum muncul (biasanya mereka sudah tiba di rumah setengah jam sebelum jadual yang disepakati). Lalu aku berinisiatif berjalan kaki mencari taksi di pangkalan taksi di dekat komplek perumahan kami. Tidak seperti biasanya, hanya ada satu yang nongkrong di sana. Segera saja aku naik sambil mengatakan tujuanku ke Bandara Soekarno Hatta. Biasanya aku naik taksi lewat tol Sunter/Cempaka Putih, namun kali itu sang supir mengarahkan (dengan alasan macet) via Grogol. Karena percaya saja, seperti biasanya aku serahkan kepada supir dengan catatan yang paling cepat dan tidak terlambat, eh malah supirnya balik bertanya saat jalan yang direncanakannya ternyata malah makin macet. Karena kesal, aku katakan padanya seraya bertanya, ”Sudah berapa lama bawa taksi di Jakarta, pak? Atau bapak memang ’nggak tahu jalan ke bandara?”.  Malah dijawab pak supir (tanpa ekspresi bersalah …), ”Kemarin saya juga baru mengantar tamu ke bandara melalui jalan ini, pak.”. Dalam hati aku ’ngedumel, ”Siapa sih orang di Jakarta ini yang berkendaraan, tidak tahu bahwa tol Pondok Gede Timur itu adalah jalur sangat macet?”. Tapi, ya sudahlah, tokh berdebat pun tidak ada lagi artinya. Lalu aku berupaya untuk tidur-tidur ayam sambil berusaha fokus pada rencana dan acara yang akan aku jalankan di Surabaya.

Jam 12.45 aku tiba di konter GFF Garuda untuk check-in. Petugas memberitahu bahwa sudah telat untuk penerbangan jam 13.00 dan menganjurkanku untuk mendaftar ke konter penumpang cadangan yang terletak di ujung bandara. Di sana sudah ada beberapa orang yang mendaftar dengan kasus yang sama denganku. Ternyata hujan yang mengguyur Jakarta siang itu membuat macet di banyak jalan-jalan utama di Jakarta sehingga banyak calon penumpang yang terlambat. Ketika setengah jam kemudian diumumkan bahwa penerbangan ke Surabaya jam 14.00 hanya ada 3 kursi yang kosong dan semuanya adalah kelas eksekutif, segera saja ada seorang perempuan muda yang mengambil kesempatan tersebut. Saat itu aku tidak bereaksi karena tidak entitle (= tidak memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku di Perusahaan, karena sejaka krisis ekonomi yang berhak duduk di kelas eksekutif hanya tingkatan Management Committee yang terdiri dari para Direktur). Aku pun berdiri mengantri di barisan sambil berharap ada kursi kosong untuk penerbangan jam 15.00 untuk kelas ekonomi.  

Ketika menunggu, dua orang kawanku yang juga Panitia NDC datang dengan menunjukkan bahwa mereka sudah check-in untuk penerbangan jam tiga, dan menegurku, ”Lho, bang … koq masih ’ngantri? Bukan jam satu terbangnya, bang?”.  Lalu aku jawab dengan sekenanya saat mereka mau pamit untuk menunggu di Citi Emerald Sky Lounge, tempatku juga biasa menunggu penerbangan sambil beristirahat dan menikmati penganan yang disediakan di ruangan eksklusif tersebut. Ketika mereka sudah tidak kelihatan – dan konter penumpang cadangan belum mengumumkan kursi yang tersedia – terbersit di benakku untuk menumpang bersama mereka di ruang tunggu tersebut. ”Numpang makan siang …”, kataku ketika bertemu dengan mereka sambil mengatakan bahwa aku menunggu panggilan dari konter penumpang cadangan (biasanya diumumkan setengah jam sebelum pesawat terbang/boarding). Salah seorang di antaranya menganjurkan, ”Kasih tambahan aja, bang supaya bisa ikut penerbangan jam tiga sama-sama dengan kami”.  Yang ini membuatku terpikir untuk ”naik kelas”, apalagi mengingat kawan-kawan di Surabaya sudah bolak-balik bertanya tentang kepastian jadual pesawatku. Setelah makan sekenyangnya, dan jam setengah tiga, aku pun beranjak ke konter penumpang cadangan.

Ketika diumumkan ada kursi yang tersedia (dan kelas bisnis …), segera saja ada yang langsung mengambilnya. Aku pun melapor kembali ke petugas untuk memesankan bagiku, yang segera ditanggapi dengan memintaku membayar selisih harga antara tiketku yang semula kelas ekonomi menjadi kelas eksekutif. Agak terkejut juga aku ketika kasir mengatakan bahwa aku harus membayar Rp 1.295.200,-  (semula aku kira hanya perlu menambah ratusan ribu …).  Ya sudahlah, yang penting aku bisa tiba di Surabaya sore itu untuk menjalankan rencana persiapan menjelang hari-H NDC itu.

Pesawat tertunda setengah jam. Karena penumpang kelas eksekutif, aku mendapat kemudahan untuk memasuki pesawat kapan pun (sesudah penumpang kelas ekonomi, maupun sebelumnya …). Di dalam pesawat, aku duduk di barisan depan dengan kursi yang sangat besar dan lega. Lalu petugas datang memberikan perlengkapan makan, handuk hangat pengelap muka (yang segera terasa menyegarkan …). Selama penerbangan, pramugari dan pramugara juga berulang kali menanyakan apa lagi yang mereka bisa lakukan untuk kenyamanan penumpang dan menawarkan hal-hal lainnya. Dengan Garuda, memang baru kali inilah aku duduk di kelas eksekutif. Jadi ini memang pengalaman pertama bagiku.

Tas Koper Kapolda?

Ketika di eskalator hendak turun ke tempat pengambilan bagasi di Bandara Juanda Surabaya, pandanganku tertumbuk pada dua orang yang sedang mengerubuti sebuah tas koper. Karena terbiasa duduk di kelas ekonomi – dan bagasinya selalu belakangan baru muncul di troli bagasi yang berputar – aku tidak terlalu hirau dengan mereka. Namun setelah mendekat dan mendengar perbincangan mereka, aku menjadi tertarik untuk ”masuk”. Beginilah pembicaraannya:

A        : Ini pasti koper pak Kapolda. Pas dengan ciri-cirinya.

B          : Bukan, mas. Ini nomernya berbeda dengan nomer bagasi yang  tadi diberitahu saya.

A          : ’Ndak, ini pasti koper bapak. Nomornya itu salah. Lha wong saya selalu ditugaskan menjemput kopernya, koq.

                Ayo, ambil dan bawa saja ke mobil.

B        : Yakin, mas? Saya masih ragu …

Setelah mengamat-amati koper tersebut dan punya banyak kemiripan dengan koperku, aku pun semakin mendekat kepada kedua orang yang berseragam a la pampres tersebut. Setelah melirik ciri-ciri khasnya yang aku yakini sebagai koperku, aku pun berujar, “Ma’af, pak … ini milik saya”. Aku sempat meilhat mereka tertegun sejenak. Mungkin terpana melihat “keberanianku” mencampuri persoalan mereka, atau malah ‘nggak yakin melihat penampilanku sebagai penumpang kelas eksekutif, tak tahulah … Salah seorang kemudian ‘nyeletuk: “Ini koper pak kapolda. Saya tahu persis.” Bah, bandal kali pak ajudan kapolda ini, pikirku. Bahkan ketika aku tunjukkan nomor bagasinya yang sama dengan nomor pada potongan kartu yang aku pegang, masih juga ‘ngotot mempertahankan koper itu sebagai milik Kepala Polisi Daerah. Untunglah, tak lama kemudian ada datang petugas bandara menengahi dan menegaskan bahwa koper itu adalah milikku karena sesuai dengan bukti kartu bagasi yang aku pegang yang memang cocok dengan yang tertera pada koper.

Aneh juga ajudan-ajudan kapolda ini, pikirku. Tadi mengatakan bahwa nomor bagasi salah ( = menuduh tanpa bukti), lalu sudah ada bukti pun masih belum percaya (= tidak percaya bukti). Apakah ini cerminan petugas penegak hukum kita saat ini? Kalau melihat dan mendengar apa yang ditampilkan oleh beberapa oknum sebagaimana muncul di media massa, ya sepatutnya kita tidak lagi heran. Atau, jangan-jangan ini cerminan anak bangsa saat ini? Jawab sendirilah, ya …

Ketika sampai di hotel dan menceritakan hal ini, kawan-kawanku pada tertawa terkekeh-kekeh. ”Kayaknya cobaan selalu datang kalau mau mendapatkan tingkatan yang lebih baik, bang …”, kata mereka yang langsung ditimpali atasan langsungku, ”Lihat positifnya saja. Artinya koper kamu itu sama bagusnya dengan apa yang dimiliki oleh kapolda di sini.”. Aku tersenyum saja di dalam hati, sambil bergumam, ”Jangan-jangan memang belum pantas aku di kelas eksekutif sehingga mengalami hal yang seperti ini.”. Kembali ke kelas ekonomi sajalah …, memang masih di sana koq tempatku …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s