“Oleh-oleh” dari National Distributor Convention (3): Tuhan, Aku Tidak Mau Berdusta Untuk Hal Ini …

Malam kedua (08/12/09) dari rangkaian National Distributor Convention (NDC) saat menjelang makan malam, kami – Panitia, yang utama terdiri dari tiga orang – dipanggil oleh Direktur Penjualan. Beberapa jam sebelum penutupan untuk siang harinya kami sudah mendapatkan pesan-pendek dari beliau yang meminta waktu kami untuk ’ngobrol. Jika sekadar ’ngobrol adalah hal yang biasa, yaitu melakukan evaluasi singkat setiap hari untuk pelaksanaan program hari tersebut dan persiapan untuk program hari berikutnya. Dan itu sudah menjadi semacam acara rutin sehingga jarang sekali (bahkan hampir tidak pernah pada tahun-tahun belakangan ini …) diagendakan karena formatnya adalah sekadar obrolan ringan sembari menikmati makan malam. Selain karena medianya yang pesan-pendek, juga isi pesannya yang bersifat undangan, mengesankan ada yang sangat serius. Dan itulah yang ditangkap oleh salah seorang di antara kami Panitia sehingga dia lebih banyak diam di dalam bis  yang membawa kami ke tempat acara makan malam di club house salah satu milik Ciputra di Surabaya malam itu. ”Ada apa gerangan?”, begitulah pertanyaan yang bergelayut di benaknya saat itu sembari mengantisipasi jawaban yang akan diberikan nantinya.

Sampai di tempat acara yang telah didekor dengan sangat meriah dengan asesori produk kopi instan yang malam itu menjadi sponsor utama (dan semua peserta menggunakan kaos merah menyala), aku sempat duduk di salah satu meja bundar bersama  beberapa orang pemilik usaha yang menjadi rekan bisnis kami sebagai Distributor, ketika ’kurasakan ponselku bergetar (yang sengaja aku buat dalam posisi silent sebagai kelanjutan pelaksanaan tata-tertib meeting …). Baru mulai menyahut dan berbicara, secara refleks aku memandang lambaian tangan dari salah satu pojok. Ternyata kawanku sesama panitia yang menelepon untuk mengajakku mendatanginya. Setelah dekat, barulah aku tahu ternyata pak Direktur Penjualan sudah ada bersama mereka yang lantas mengajak kami menjauhi hingar-bingar sound system untuk ’ngobrol berempat.

”Ada tiga hal yang ingin saya sampaikan kepada kalian”, kata pak direktur membuka pembicaraan, ”Ini berdasarkan masukan yang saya dengar dari sebagian besar peserta, terutama para tamu kita Distributor. Pertama, tentang pisau lipat yang dijadikan suvenir bagi semua peserta agar jangan sampai lupa untuk dimasukkan ke dalam bagasi masing-masing ketika pulang dengan pesawat agar tidak disita oleh petugas di bandara. Yang kedua, tentang  kamar yang mana mereka harus sharing dengan orang lain. Bahkan ada seorang ibu yang sudah mengeluhkan hal ini kepada suaminya di Jakarta yang lalu disarankan suaminya untuk pindah hotel saja dengan membayar sendiri. Mohon dicari tahu dan beritahu bahwa kita akan mengganti biaya menginapnya di hotel tersebut. Dan yang ketiga tentang sepatu yang dipakai oleh mereka dan kita semua tadi pagi saat berkunjung ke pabrik. Banyak yang protes saat diminta untuk mengembalikan sepatu tersebut kepada kita. Supaya jangan merusak suasana, bagi yang terlanjur membawanya, tak usahlah dimintakan lagi. Jadi perlu besok pagi sebelum acara meeting dimulai Panitia menyampaikan ma’af tentang hal ini sambil memberitahu bahwa sepatu tersebut kita pinjam dari pabrik sehingga harus dikembalikan. Ini hal yang sensitif, jadi sangat diperlukan keahlian dalam menyampaikannya kepada semua peserta agar jangan sampai merusak suasana convention ini …”. Walau tidak menyebut nama, aku tahu bahwa akulah yang diharapkan untuk menyampaikan hal tersebut kepada semua peserta. Selain karena ketua panitia (jadi harus bertanggung jawab terhadap semua hal selama berlangsungnya convention, ’kan?), aku bisa merasakan kekurang-percayaan diri kawan-kawanku lainnya dalam menghadapi situasi seperti ini. ”Baik, pak, besok pagi aku yang akan menyampaikannya sebelum acara dimulai”, jawabku mantap yang kemudian aku lihat rona cerah pada wajah-wajah sekelilingku. Obrolan tersebut diakhiri dengan ajakan makan malam oleh pak direktur. ”Wah, untung ada abang. Gue jadi bisa makan dengan tenang, nih …”, kata kawanku yang tadi sempat tegang memikirkan obrolan singkat itu.  

Usai acara malam itu, kembali ke Hotel Shangri-la tempat kami semua menginap, aku langsung masuk ke kamar. Di meja aku bolak-balik mencorat-coret di mini block note yang disediakan Hotel tentang kalimat yang akan aku sampaikan besok paginya. Tentang pisau lipat adalah hal yang sangat mudah karena kau juga memang sudah berjanji kepada salah seorang peserta paling senior – yaitu Distributor dari Yogyakarta yang dua kali menyampaikan kepadaku – untuk mengingatkan hal itu.

Tentang kamar peserta yang harus sharing dengan peserta lainnya, bagiku bukanlah hal yang sangat sulit. Dengan memohon ma’af secara tulus, aku yakin sebagian besar peserta akan bisa menerima keadaan ini. Sejak awal, aku memang sudah menganjurkan agar peserta sebaiknya disediakan kamar sendiri-sendiri. Tidak berbagi dengan orang lain, karena akan mengganggu privacy pemilik usaha yang jadi distributor kami saat ini. Sebagai pemilik perusahaan, tentu saja mereka adalah orang-orang kaya, jadi tidak pantas diperlakukan seperti itu. Dengan alasan efisiensi – lebih tepatnya sebenarnya adalah pelit, kata sebagian orang … – pak direktur tidak setuju dan bersikeras untuk mengisi setiap kamar dengan dua orang, Malam itu beliau sadar tentang kekeliruannya sehingga meminta kami semua karyawan perusahaan (panitia dan manajemen) untuk memberikan kamar kami kepada para Distributor agar mereka bisa menginap di kamar sendirian. Beliau lupa, bahwa kamipun sudah sharing, sehingga masih harus menambah extra-bed agar dapat memberikan kamar kami kepada peserta lainnya. Lagian, paling hanya beberapa kamar yang bisa kami ”hibahkan” kepada mereka, yang tentu saja tidak sebanding dengan kebutuhan semua orang bila harus dipenuhi permintaannya. Dengan keterbatasan itu, lantas siapa yang akan diberikan dan siapa yang tidak akan diberikan. Tentu saja hal ini lebih punya potensi menimbulkan persoalan baru. Menerima penjelasan tersebut, pak direktur dapat memahami dan mengurungkan niatnya.

Nah, yang ketiga ini yang paling berat bagiku. Tentang sepatu keselamatan (safety shoes) yang harus dipakai karena menjadi persyaratan mutlak bila berkunjung ke pabrik. Selama persiapan, aku sudah usulkan ke pak direktur untuk membagikan saja kepada semua peserta untuk dibawa pulang. Selain sebagai ”suvenir”, sepatu khusus itu juga bisa dijadikan model bagi para Distributor untuk menyediakan sepatu bagi karyawannya di gudang masing-masing. Pernah disetujui, lalu kemudian dibatalkan, yang artinya diputuskan bahwa sepatu tersebut harus dikembalikan kepada panitia begitu usai acara berkunjung ke pabrik. Bagi kami yang mendengarnya, tentu saja mengejutkan. ’Koq sepatu yang harganya sepasang cuma seratus empat puluh tujuh ribu rupiah itu mesti diambil kembali dari mitra bisnis kami tersebut, tapi begitulah instruksinya. Meski harus mengorbankan ”harga diri”, yang namanya perintah tentu harus dilaksanakan. Dan itulah yang terjadi, sebagian besar peserta berkeberatan mengembalikan sepatu yang sudah sempat dipakai tersebut. Panitia yang masih ”waras”, tentu saja segan untuk mengambil-paksa dari kaki dan tangan peserta …

Yang membuatku sangat berat adalah harus menyampaikan sesuatu yang tidak benar. Pak direktur memesankan agar aku mengatakan kepada semua peserta bahwa sepatu-sepatu tersebut adalah dipinjamkan oleh pabrik sehingga harus dikembalikan ke pabrik kemudian. Ini jelas-jelas suatu kebohongan! Sebagai ketua panitia, aku sangat mengetahui bagaimana proses pengadaan sepatu-sepatu itu. Hanya karena alasan pelitlah sehingga sepatu pun harus dikembalikan. Jujur saja, kami panitia pun sempat kewalahan memikirkan akan dikemanakan sepatu itu kemudian. Untunglah, setelah melalui negosiasi, akhirnya pabrik dan gudang di Surabaya bersedia menerima sepatu yang jumlahnya lebih dua ratus pasang itu sebagai ”titipan”.

Malam itu, setelah berdoa kepada Tuhan dengan memohon petunjuk (”Aku tidak mau berdusta, Tuhan dengan mengatakan yang tidak benar hanya untuk menyenangkan hati boss-ku. Ajari aku untuk menyampaikannya kepada semua orang besok dengan tidak menyakiti hati siapapun …”) aku mendapatkan kalimat yang tepat, pas menjelang terlelap. Pagi harinya, dengan tergesa aku tuliskan di secarik kertas kecil dan menyelipkannya di balik kantong plastik badge tanda pengenal yang aku gantungkan di leher agar tidak tercecer saat aku berbicara nantinya.

Tibalah saatnya aku berbicara. Pasangan master of ceremony (MC) sudah memanggilku untuk tampil ke panggung, dan dengan diiringi musik Toba Dream theme (ini permintaan khususku kepada event organizer agar diiringi dengan alunan musik khas ini setiap aku akan tampil di panggung …) dengan langkah mantap dan agak cepat aku bergegas naik ke pentas. Sejenak ’kusapu pandanganku ke sekeliling ruangan ballroom yang sangat luas itu dan tertumbuk sejenak ke pak direktur yang memandang ke arahku yang sangat kelihatan harap-harap cemas tentang apa yang akan aku ucapkan. Dengan sedikit menarik nafas sejenak, maka aku pun berbicara dengan jernih dan jelas: ”Bapak-bapak dan ibu-ibu, kawan-kawanku semua. Atas nama panitia, saya menyampaikan ma’af yang sedalam-dalamnya untuk kegagalan kami dalam memuaskan Anda. Kami sudah berjanji untuk melayani Anda semua dengan upaya terbaik kami, namun kami masih belum mampu mewujudkannya. Yang saya maksud adalah keharusan Anda dan kita semua untuk sharing dengan orang lain di kamar tidur sehingga mengganggu kenyamanan sebagian besar peserta. Ma’afkanlah kami untuk ketidakmampuan ini …”. Sengaja aku berhenti sejenak untuk menangkap suasana hati hadirin dalam menanggapi pernyataanku tersebut. Hening.  

Lalu aku melanjutkan sambil menunjukkan sesuatu yang aku ambil dari goody bag yang aku bawa ke panggung. ”Yang kedua yang ingin aku sampaikan adalah tentang pisau-lipat seperti ini. Kita semua mendapatkannya. Suvenir yang sangat bagus dan serba guna. Harganya mahal. Namun jangan tanya aku apa hubungan pisau lipat ini dengan produk susu pertumbuhan anak yang sudah memberikannya kepada kita semua …” Terdengar tawa hadirin, lantas aku lanjutkan lagi, ”Sesuai peraturan keselamatan penerbangan, jangan lupa untuk memasukkan pisau ini ke dalam koper masing-masing dan masukkan ke dalam bagasi. Jangan dikantongi agar tidak disita oleh petugas di bandara. Terima kasih untuk bapak Sugiarto yang telah mengingatkan panitia untuk mengingatkan semua peserta tentang hal ini. Sampai di rumah, mohon digunakan sesuai dengan keperluannya. Jauhkan dari orang-orang yang putus asa agar jangan sampai di kemudian hari menjadi barang bukti di kepolisian atau di kejaksaan …:”.  Kali ini terdengar tawa yang lebih keras yang membuatku merasa nyaman.

Terdiam sejenak. Lantas aku meneruskan, ”Yang terakhir, tentang sepatu keselamatan atau safety shoes. Panitia sudah berjanji untuk mengembalikan sepatu tersebut kepada kawan-kawan di pabrik dan gudang yang sudah kita kunjungi kemarin dalam jumlah yang sesuai. Aku menyukai sepatu baru tersebut karena merasa aman dan nyaman saat memakainya. Terus terang, aku termasuk salah seorang yang sangat berat ketika diminta untuk mengembalikannya kemarin itu di bis. Biasanya memang begitu, kalau sudah menyentuh kulit dan pas dengan hati, pasti sangat sulit untuk dilepas. Tapi aku tetap harus mengembalikannnya juga. Ada pelajaran berharga yang bisa aku ambil dari sini, yaitu bahwa tidak semua yang kita sukai harus kita miliki. Apa yang kita pegang saat ini harus bersedia pula kita lepaskan suatu saat nanti. Bukan hanya sepatu, bisa saja harta, pangkat, jabatan, dan hal-hal lainnya …”  Dan tepuk tangan meriah pun terdengar di seluruh ruangan. Sorakan gemuruh terdengar membahana dan aku melihat beberapa orang spontan berdiri sambil melambai-lambaikan tangan. Dalam hati, aku mengucap syukur dan berulang-kali memuji Tuhan sambil turun dan meninggalkan panggung untuk kembali ke tempat dudukku di barisan paling belakang. Salah seorang manajemen senior (boss dari Pet Care business unit) berdiri menyalamiku sambil berujar, ”Luar biasa, bang. Anda bisa menyampaikan hal yang sulit seperti itu tanpa menyinggung perasaan orang, bahkan semua bisa menerimanya dengan gembira …”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s