Andaliman-62: Khotbah 28 Februari 2010 Minggu Reminiscere

 

Raihlah keselamatan. Tuhan menjanjikan.

 

Nas Epistel: Lukas 7:36-50

7:36 Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.

7:37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.

7:38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.

7:39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.”

7:40 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.”

7:41 “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh.

7:42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?”

7:43 Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.”

7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.

7:45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku.

7:46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.

7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.”

7:49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?”

7:50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”

 

Nas Evangelium: Nehemia 9:26-31

9:26 Tetapi mereka mendurhaka dan memberontak terhadap-Mu. Mereka membelakangi hukum-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu yang memperingatkan mereka dengan maksud membuat mereka berbalik kepada-Mu. Mereka berbuat nista yang besar.

9:27 Lalu Engkau menyerahkan mereka ke tangan lawan-lawan mereka, yang menyesakkan mereka. Dan pada waktu kesusahan mereka berteriak kepada-Mu, lalu Engkau mendengar dari langit dan karena kasih sayang-Mu yang besar Kauberikan kepada mereka orang-orang yang menyelamatkan mereka dari tangan lawan mereka.

9:28 Tetapi begitu mereka mendapat keamanan, kembali mereka berbuat jahat di hadapan-Mu. Dan Engkau menyerahkan mereka ke tangan musuh-musuh mereka yang menguasai mereka. Kembali mereka berteriak kepada-Mu, dan Engkau mendengar dari langit, lalu menolong mereka berulang kali, karena kasih sayang-Mu.

9:29 Engkau memperingatkan mereka dengan maksud membuat mereka berbalik kepada hukum-Mu. Tetapi mereka bertindak angkuh, mereka tidak patuh kepada perintah-perintah-Mu dan mereka berdosa terhadap peraturan-peraturan-Mu, yang justru memberi hidup kepada orang yang melakukannya. Mereka melintangkan bahu untuk melawan, mereka bersitegang leher dan tidak mau dengar.

9:30 Namun bertahun-tahun lamanya Engkau melanjutkan sabar-Mu terhadap mereka. Dengan Roh-Mu Engkau memperingatkan mereka, yakni dengan perantaraan para nabi-Mu, tetapi mereka tidak menghiraukannya, sehingga Engkau menyerahkan mereka ke tangan bangsa-bangsa segala negeri.

9:31 Tetapi karena kasih sayang-Mu yang besar Engkau tidak membinasakan mereka sama sekali dan tidak meninggalkan mereka, karena Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang.  

 

Ini tentang kasih karunia Tuhan kepada manusia yang berdosa. Aku menjadi semakin memahaminya setelah mencoba mendalami kisah Yesus dengan perempuan pendosa (yang beberapa orang menafsirkannya sebagai wanita tuna susila, sedangkan aku sendiri tidak terlalu menyetujuinya …) pada pesta seorang Farisi sebagaimana tercantum dalam nas yang menjadi perikop Ep Minggu Reminiscere ini (yang berarti ”ingatlah akan kasih karunia Tuhan”). Membayangkan situasi dan kondisi yang terjadi pada masa itu, peristiwa itu menjadi sangat menarik. Seorang wanita (yang karena pendosa) yang tidak diundang namun ”nekad” mendatangi perjamuan (yang biasanya hanya dihadiri oleh para pria dan yang mengklaim dirinya sebagai orang-orang suci …).

 

Apa yang mendorongnya? Menurutku karena kerinduannya pada perjumpaan dengan Yesus yang telah pernah didengarnya tentang janji-Nya akan keselamatan berdasar kasih karunia semata. Bukan karena perbuatan sebagaimana yang dipahami oleh tradisi masyarakat Yahudi selama ini. Minyak wangi yang mahal yang dikumpulkannya dalam jangka waktu lama dengan harapan suatu saat akan dipersembahkannya kepada seseorang yang menurutnya paling pantas, menjadi sesuatu yang menarik. Jika aku tarik dalam kehidupanku saat ini dan di sini, aku hampir tidak pernah melakukan ”tabungan” yang sangat istimewa untuk kemudian aku persembahkan kepada Tuhan. Kalaupun harus memaksa supaya ada, mungkin yang paling mendekati adalah persiapanku dalam menjawab kerinduan untuk menjadi pelayan tahbisan di jemaat. Sekarang aku baru dalam tahapan calon penatua setelah bertahun-tahun mempersiapkan diri. Salah satunya adalah mengikuti perkuliahan program Magister Ministri di STT Jakarta sebagai bekal yang (mudah-mudahan) memadai dalam pelayanan di kemudian hari.

 

Adalah suatu tindakan yang berani dengan menerobos keramaian pesta untuk menemui Yesus dan memenuhi kerinduan selama ini untuk mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga. Dan aku bisa bayangkan betapa lega hatinya mendapatkan kesempatan itu. Uraian air mata dan belaian rambut panjangnya mengusap kaki Yesus adalah ekspresi penyesalannya terhadap dosa-dosa yang telah dilakukannya. Dan upahnya adalah sukacita melimpah ketika Yesus dengan lugas mengatakan tentang penghapusan dosanya.    

 

Bagaimana dengan Simon, sang tuan rumah Farisi? Merasa dirinya terhormat (padahal dulunya adalah orang terkutuk karena mengidap penyakit kusta …), dia berusaha mencoba kemampuan Yesus. Membiarkan perempuan itu (yang sudah terlanjur) masuk, mempersembahkan minyak wangi, bahkan menghapus air mata di kaki Yesus (suatu tindakan yang ditafsirkan oleh kalangan tertentu bahwa perempuan itu adalah isteri Yesus karena tindakan itu hanya lazim dilakukan oleh seorang isteri terhadap suaminya …), dan mengamati tanggapan Yesus. Dan reaksi Yesus kemudian membuatnya terpana, karena Yesus mempunyai kemampuan dalam menghapus dosa: suatu tindakan yang dianggap sebagai menghujat Tuhan. Dalam pikirannya, Yesus hanyalah sekadar seorang guru ”biasa”, bukan Tuhan.

 

Alangkah indahnya pengampunan! Sekonyong-konyong aku memposisikan diriku pada peristiwa itu. Juga tentang perbandingan yang disampaikan Yesus, yakni kisah penghapusan hutang. Dengan perbuatan dan pelayanan yang aku lakukan saat ini pun sebenarnya aku masih belum pantas sebenarnya mendapatkan keselamatan dari Tuhan. Hanya berdasar kasih karunia, yaitu kesediaan Tuhan dalam melayakkan aku untuk mendapatkannya. Perbuatanku sendiri (apapun itu …), masih belum layak dipertukarkan dengan keselamatan yang dijanjikan oleh Tuhan.

 

Sungguh luar bisa kebaikan Tuhan. Nas perikop Ev tentang kedegilan orang Israel menunjukkan kesabaran Tuhan. Dan kesetiaan-Nya yang tetap berbelas kasih kepada orang-orang jahat. Mengampuni. Suatu tindakan yang tidak mudah dilakukan.   

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Ada potensi kesalah-tafsiran dalam memahami nas perikop Ep ini. Tindakan perempuan pendosa dan tanggapan Yesus bisa ditafsirkan sangat jauh berbeda. Tentang penghapusan hutang di mana yang lebih banyak berhutang akan lebih menghargai penghapusan hutangnya bisa dipahami bahwa keselamatan yang diberikan kepada orang yang lebih banyak dosanya menjadi bertambah nilainya dibanding dengan orang yang sedkit berdosa. Bahkan bisa saja ada muncul pernyataan, ”Kalau begitu, tunggu saja nanti kalau sudah semakin banyak dosa barulah bertobat. Kalau masih sedikit seperti sekarang ini, masih tanggung, jadi kurang terlalu tinggi nilainya …”.  Menjawab pertanyaan ini, bisa dilakukan dengan memberi pengertian bahwa tidak ada seorang pun yang tahu apakah dosanya sudah sangat banyak atau masih sedikit, sebagaimana juga tidak seorangpun yang tahu kapan hari kematiannya sehingga tidak tahu kapan harus mempersiapkan diri dengan menjadi orang yang patuh pada perintah Tuhan. Kalau bukan sekarang, kapan lagi mau bertobat?

 

Ada lagi. Perkataan Tuhan yang menyatakan bahwa dosa perempuan itu telah diampuni sebagai reaksi terhadap perbuatannya dalam meminyaki kaki Yesus, bisa jadi ditafsirkan bahwa perbuatannya itulah yang menyelamatkannya. Padahal tentu saja bukan itu! Lalu, bagaimana menjelaskannya? Aku pernah membaca buku yang ”merekonstruksi” kejadian itu. Disebutkan bahwa perempuan itu (dalam Injil lainya disebutkan sebagai Maria Magdalena) sudah mengumpulkan hasil jerih payahnya dari hari ke hari dengan membeli dan menyimpan minyak wangi yang mahal (narwastu disebutkan di Injil sinoptik lainnya), dengan harapan suatu hari nanti dapat mempersembahkannya kepada Yesus. Motivasi itulah yang sudah terlebih dahulu diketahui oleh Yesus. Dan juga terlihat dari kegigihannya untuk dapat bertemu dengan Yesus dalam perjamuan yang sebenarnya tidak pantas diikutinya.

Yesus yang Menangis. Menangislah juga Pencinta HKBP … (2): Kronologi Kasus Pelecehan Seksual di Sekolah Bibelvrouw HKBP Laguboti

 

KRONOLOGIS PELECEHAN SEKSUAL

OKNUM PDT. XXX

DI SEKOLAH BIBELVROUW HKBP

 

  1. Tanggal 18 Januari 2010 para korban mahasiswi sekolah bibelvrouw melaporkan perlakuan pelecehan seksual yang memakan korban 19 orang oleh Pdt. XXX kepada bapak Direktur sekolah bibelvrouw.Pdt. Manarias Sinaga, MTh. Berdasarkan laporan pengaduan para mahasiswi sekolah biblevrow dan para korban, pelaku melakukan pelecehan dengan cara meditasi dan cara magis yakni hipnotis kepada para korban, sehingga para korban tidak bisa melawan dan hanya menuruti perintah si pelaku yang bebas melampiaskan hawa nafsunya yang sangat bejat. Dalam setiap aksinya pelaku memberikan janji-janji dan memperingatkan para untuk tidak memberitahukan perbuatanmnya itu kepada orang lain. Jika para korban memberitahukan hal itu maka dianggapnya sebagai kesombongan rohani, sehingga korban dilarang agar jangan memberitahukan kepada siapapun hingga perbuatan bejat itu terkuak.
  2. Tanggal 19 January 2010 bapak direktur langsung mengadakan rapat kilat dengan seluruh dosen di sekolah bibelvrow di kantor sekolah bibelvrow di Laguboti; dan memperhadapkan pelaku dengan 19 korban dan seluruh mahasiswi sekolah bibelvrow di aula sekolah bibelvrow.
  3. Tanggal 20 Januari 2010 berdasarkan hasil rapat tersebut maka Direktur sekolah bibelvrow mengambil tindakan. Pertama menon-aktifkan pelaku Pdt XXX sebagai pengajar dari sekolah bibelvrow; dan pada saat itu juga Direktur sekolah bibelvrow melapor ke Pearaja kepada Ephorus dan Sekjen meminta pelaku agar meninggalkan kampus sekolah bibelvrow dan pergi ke Jetun Silangit. Malam itu juga pelaku keluar dari kampus tsb membawa keluarganya.
  4. Menurut informasi dari bapak direktur sekolah bibelvrow, bahwa tanggal 25 Januari 2010 (setelah 5 hari laporan direktur sekolah bibelvrow ke Pearaja), Ephorus dan Sekjen membentuk team, dan pembentukan team ini terasa sangat lama, karena setelah 5 hari laporan dari sekolah bibelvrow diterima. Team tersebut diketuai oleh Pdt. DR. Jamilin Sirait dengan anggota-anggotanya Praeses Humbang Habinsaran Pdt. Debora Sinaga, MTh, Praeses Distrik Toba Pdt. Parulian Sibarani, Pdt. Donal Sipahutar, STh, Biv. Bunga Pola Simanjuntak. Dan menurut informasi dari bapak Direktur yang diterimanya dari Pdt. Dr. Jamilin Sirait bahwa team ini dikatakan bekerja 2 minggu terhitung sejak 25 January 2010.
  5. Tanggal 25 Januari 2010 pada malam harinya sejumlah pendeta HKBP berkunjung ke Sekolah Bibelvrow di Laguboti untuk menanyakan berita yang berkembang tidak mengenakkan tentang perilaku seorang oknum pendeta HKBP. Para pendeta tersebut adalah Pdt.Anton Pasaribu, STh, Pdt. Hotmalan Sihite, STh, Pdt. Melvin Simanjuntak, STh, MSi, Pdt. Andy Lumbangaol, STh, dan Pdt. Nekson Simanjuntak, MTh. Kedatangan mereka disambut ramah dan hangat oleh Direktur Sekolah Bibelvrow Pdt. Manarias Sinaga, MTh. Direktur membenarkan telah terjadi perilaku penyimbangan susila yang dilakukan oleh seorang oknum pendeta yang juga pengajar di situ.
  6. Tanggal 25 Januari 2010 team berjanji datang ke sekolah bibelvrow, namun ditunggu-tunggu team tidak datang. Demikian juga tanggal 26 January 2010 team juga berjanji akan datang ke sekolah bibelvrow namun ditunggu-tunggu tidak datang juga. Dan pada tanggal 26 January 2010, saya bersama Pdt. Melvin Simanjuntak dan Pdt. Andi Lumbangaol datang ke sekolah bibelvrow, kami diterima dengan baik oleh bapak direktur, para dosen dan ibu asrama. Saya juga diijinkan untuk bertemu dengan seorang korban dan mendoakannya. Saya tidak bisa bertemu dengan semua korban karena waktu itu ada beberapa orang korban yang sakit. Dan saya meminta kesaksian tertulis dari para korban melalui ibu Bib. Roslinda br. Sihombing dan saya membacanya. Sambil berbincang-bincang dengan beberapa orang adek-adek di sana, saya menerima dan mendengar informasi dari salah seorang mahasiswi yaitu Posma br. Sitorus bahwa pada hari itu dia berbicara langsung dengan bapak Pdt. Armada Sitorus. Mahasiswi tersebut menginformasikan bahwa Pdt. Armada Sitorus mengatakan kepadanya bahwa bukan hak para mahasiswi untuk membuat Surat kepada pimpinan HKBP agar Pdt. XXX dipecat dari HKBP dan dicabut tohonannya, sebab mereka masih mahasiswi. Namun si mahasiswi tetap menolak apa yang dikatakan pdt. Armada Sitorus dan tetap mengatakan bahwa metreka berhak memberikan himbauan kepada pimpinan HKBP agar si pelaku pelecehan seksual yang memakan korban 19 orang mahasiswi harus dipecat dari HKBP dan dicabut tohonannya Kemudian menurut informasi yang saya terima dan dengar dari salah seorang dosen sekolah bibelvrow Pdt. Santawaty Sirait, M Si.mendapatkan intimidasi. Ibu itu mengatakan bahwa ketika Pdt. Armada Sitorus, STh pada tanggal 26 Jenuary 2010 berbicara dengannya di salah satu ruangan kuliah di sekolah bibelvrow, Pdt. Armada Sitorus mengatakan kepada Pdt. Santawaty bahwa Bib. Sentiria mengatakan bahwa jika si XXX dipecat maka semuanya korban akan dipecat, karena jika mereka nanti sudah menjadi Bibelvrow maka pelayanan mereka juga tidak akan bagus di jemaat. Informasi ini tentu saja mau tidak mau sampai ke telinga paa mahasiswi dan korban, sebab ibu dosen Pdt. Santawaty Sirait juga adalah seorang yang membela para korban. Mendengar informasi itu maka seluruh mahasiswi sekolah bibelvrow menjadi sangat marah dan mengatakan bahwa semua mereka akan meninggalkan sekolah bibelvrow jika korban diperlakukan dengan tidak adil. Pada malam harinya saya bersama Pdt. Andi Lumbangaol dan Pdt. Melvin Simanjuntak kembali ke Siantar.
  7. Tanggal 27 Januari 2010 pada jam 05.00 pagi buta seluruh mahasiswa sekolah bibelvrow melarikan diri ke tempat bibelvrow pensiun di Ebenezer Sinaksak Pematangsiantar, dengan harapan bahwa mereka akan bisa didukung untuk pergi ke Pearaja Tarutung menuntut agar si pelaku dipecat dan dicabut tohonannya dari HKBP; juga sekaligus mengadukan kejadian itu kepada Polisi di Polres Tobasa supaya si pelaku ditangkap. Di tempat itu mereka diterima dengan baik namun mereka tidak mendapatkan dukungan untuk berangkat ke Pearaja dan ke Polisi. Saya ada di Sinaksak karena dipanggil mereka, juga Pdt. Andi Lumbangaol dan Pdt. Melvin Simanjuntak. Pada tanggal yang sama, bapak direktur dan seluruh dosen sekolah bibelvrow melapor ke Pearaja karena seluruh mahasiswi sudah meninggalkan asrama akibat intimidasiyang berdar terhadap mereka yang mereka dengar Hari Selasa tanggal 26 January 2010. Dalam percakapan bapak direktur dan seluruh dosen dengan Pdt. Jamilin Sirait menurut informasi justru Pdt. Jamilin Siarit mengatakan kalau seluruh mahasiswi meninggalkan sekolah bibevrow maka lebih baik mereka dipecat saja semuanya dan dibuat lagi penerimaan mahasiswa baru. Mendengar perkataan itu maka ibu dosen Bib. Roslinda br. Sihombing (dosen sekolah bibelvrow) langsung menjawab bahwa “tidak akan ada seorangpun jemaat HKBP dan gereja lainnya yang mau mengijinkan putrinya untuk masuk sekolah bibelvrow jika pimpinan HKBP bertindak tidak adil dengan memecat semua mahasiswi dan justru melindungi si pelaku, tidak seorangpun yang mau lagi datang ke sekolah bibelvrow dan sekolah bibelvrow akan tutup”. Namun ucapan ibu Bib. Roslinda itu tidak diperdulikan Pdt.DR.Jamilin Sirait. Apakah ucapan salah seorang Pimpinan Pusat HKBP tersebut mencerminkan citra seorang gembala TUHAN yang berhati nurani atau justru sangat merusak bahkan mencemarkan citra HKBP yang sejogyanya dipelihara dengan baik dan santun? Pencitraan yang tidak baik itu dinilai para mahasiswi Bibelvrow bahwa ternyata seorang pimpinan pusat HKBP bukan untuk mencari solusi melainkan telah meletupkan api kekecewaan mereka sehingga mereka tidak lagi sungkan dan takut.
  8. Tanggal 28 Januari 2010 dengan perjuangan yang berat seluruh mahasiswi berangkat dari Sinaksak ke Peraja Tarutung dan ingin bertemu dengan Pimpinan Pusat HKBP. Kami berangkat dari Sinaksak menuju Pearaja jam 11. 00 Wib dan tiba di Peraja jam 14.15 Wib. Namun pimpinan HKBP tidak mau menerima mereka. Tak disangka setelah kami tiba di kantor Pust HKBP ternyata telah banyak wartawan media cetak dan media elektronik di sana, dan sejumlah pasukan keamanan aparat kepolisian. Akhirnya semuanya mahasiswi yang datang ke Pearaja menginap diteras kantor pusat HKBP di Pearaja beralaskan tikar dan kedinginan. Kami (saya, Pdt. Andi Lumbangaol dan Pdt. Melvin Simanjuntak) ada di sana. Kemudian beberapa pendeta HKBP yang terlihat; yakni Pdt.Hotmalan Sihite, Pdt.Anton Pasaribu, Pdt.Bintahan Harianja, STh, dan Pdt. Jusden Sinaga, STh, dan Pdt. Thomson Sinaga turut memberikan rasa empati dan dukungan moral dengan ikut serta berjaga malam pada saat itu. Pada malam itu juga jam 21.30 wib 4 orang korban berangkat ke Polres Tobasa di Porsea mengadukan peristiwa yang mereka alami.
  9. Kemudian saya Pdt. DR. Dewi Sri Sinaga berangkat bersama mereka (4 orang korban) dan mendampingi mereka selama proses BAP (Berita Acara Perkara) mulai jam 22.30 wib hingga tanggal 29 Januari jam 03.00 pagi subuh BAP selesai. Perlu diketahui bahwa sejak kami tiba di Polres Tobasa sampai BAP selesai kami dilayani dengan sangat baik oleh bapak Kapolres dan staffnya. Kami berangkat dari Porsea pada jam 03.00 pagi dan tiba di Pearaja jam 05.30 subuh bergabung dengan seluruh mahasisiwi yang masih di Peraja. Kami tidak tidur sama sekali. Kami diantar oleh Pdt. Jusden Sinaga ketika berangkat ke Polres Tobasa dan kembali lagi ke Pearaja.
  10. Tanggal 29 January 2010 seluruh mahasiswi tetap berharap dan menunggu agar pimpinan mau menerima mereka. Namun sampai jam 13.00 wib tidak seorangpun pimpinan yang mau menerima mahasiswi. Justru bapak Kapolres Taputlah yang menerima mahasiswi dan memberangkatkan kami pulang ke Laguboti dengan kekuatan doa agar si pelaku segera ditangkap. Para mahasiswi melihat dan mengatakan bahwa bapak Kapolres Taputlah yang berhati gembala dan bukan ephorus dan sekjen HKBP dan 3 pimpinan HKBP lainnya, mereka tidak berhati gembala sedikitpun, tetapi justru bapak Kapolreslah yang berhati gembala yang mau mendengarkan jeritan para korban pelecean seksual dan seluruh mahasiswi.. Kami berangkat dari Pearaja jam 13.00 wib dan tiba di Laguboti jam 15.30 wib. Pada pukul 16.00 wib (30 menit kemudian) bapak Kapolres Tobasa beserta jajarannya langsung tiba di sekolah bibelvrow dan membuat olah TKP (Tempat Kejadian Perkara). Saat itu juga BAP dilanjutkan untuk korban yang lain mulai jam 16.00 wib sampai dengan Sabtu jam 04.00 pagi subuh di kantor sekolah bibelvrow. Para bapak polisi sangat baik melayani seluruh korban membuat BAP. Seluruh dosen dan bapak direktur sangat berterimakasih kepada pelayanan dari Polres Tobasa yaitu bapak Musa Tampubolon yang juga kata para mahasiswi benar-benar sangat berhati gembala. Pada hari ini juga bapak Polisi dari Polres Tobasa membawa korban yang paling parah untuk divisum di Rumah Sakit Balige. Dan hasil Visum keluar pada hari itu juga dan ada di tangan bapak polisi Polres Tobasa. Pada malam itu juga para pemerhati dari Jakarta bapak Pdt. Anson Tambunan, STh dan ibu dan partohonan dari berbagai tempat yang prihatin terhadap korban dan seluruh mahasiswi sekolah bibelvrow datang berkunjung ke kampus sekolah bibelvrow.
  11. Pemerikasaan BAP kembali dilanjutkan tanggal 1 February hingga tanggal 3 Febuary 2010. Surat Tanda penerimaan Laporan No: STPL/ 21/ I/ 2010/TBS. Dan pada tangggal 3 February 2010 Surat panggilan dilayangkan oleh Polres Tobasa diantar langsung kepada Ephorus HKBP di Pearaja agar si pelaku diperintahkan menyerahkan diri ke Polres Tobasa paling lama Jumat 5 February 2010. Tembusan Surat panggilan juga diberikan langsung oleh polisi kepada si pelaku di Jetun Silangit sebagai tersangka pelaku pelecehan seksual terhadap 19 korban mahasiswi bibelvrow. Pada hari yang sama sampai tanggal 3 February bapak Jose T.P. Silitonga, SH  seorang pengacara sekaligus pemerhati terhadap korban juga datang dari Jakarta untuk memberikan kekuatan dan pendampingan kepada para korban dan seluruh mahasiswi sekolah bibelvrow. Kehadiran beliau sangat berarti bagi korban dan bagi semuanya mahasiswi sekolah bibelvrow dan juga bagi pimpinan dan para dosen di sekolah bibelvrow, karena beliau memiliki hati seorang gembala (menurut pengakuan adek-adek di sekolah bibelvrow).
  12. Tanggal 3 February 2010 pada siang hari Pdt. Jamilin Sirait, Praeses Toba Pdt.Parulian Sibarani, Pdt. Donal Sipahutar dan Pdt. Freddy Tinambunan datang ke sekolah biblevrow bertemu dengan seluruh korban dan mahasiswi, namun kedatangan mereka tidak memberikan solusi apapun. Karena kalimat-kalimat yang dilontarkan di dalam pertemuan terhadap seluruh mahasiswi sepertinya tidak memihak kepada korban tetapi memihak kepada si pelaku. Bahkan menurut informasi dari para mahasiswi mereka duianggap seperti orang bodoh, dan karena sikap itu akhirnya membuat seluruh mahasiswi menyoraki mereka. Para mahasiswi justru meminta kepastian tanggal yaitu kapan rapat pendeta distrik Toba untuk memperoses pemecatan si pelaku dari HKBP dan pencabutan tohonannya sebagai pendeta. Namun pertanyaan tentang kapan kepastian tanggal rapat pendeta distrik yang ditanyakan oleh mahasiswi tidak ditanggapi. Pada hari yang sama bapak Pdt. W.T.P. Simarmata, MA sebagai Ketua Rapat pendeta (KRP) pada pagi hari jam 07.30 – 09.00 WIB juga datang ke Sekolah bibelvrow untuk memberikan penguatan terhadap para korban dan seluruh mahasiswi dengan harapan bahwa kasus ini harus diselesaikan sampai tuntas. Menurut adek-adek sekolah bibelvrow, kedatangan KRP menjumpai mereka juga memberikan kepada mereka kekuatan dari seorang hamba Tuhan yang mau melihat dan memahami perasaan mereka yang sangat terluka.
  13. Tanggal 4 February 2010 Pdt. DR. Jamilin Sirait kembali datang bersama Praeses Humbang Habinsaran Pdt. Debora Sinaga, Praeses Toba Parulian Sibarani, Pdt. Donal Sipahutar dan Biv. Bunga Pola Simanjuntak. Kedatangan mereka meminta bertemu langsung dengan korban, dan diijinkan bapak Direktur sekolah Bibelvrow. Lalu korban dibagi dalam 2 ruangan didampingi dosen mereka setiap ruangan 2 dosen perempuan sekolah bibel dan tiap ruangan didampingi 1 orang senat mahasisiwi. Dalam pertemuan itu menurut laporan senat mahasiswi bahwa Pdt Debora Sinaga dan Bunga Pola Simanjuntak tidak menunjukkan sikap yang membela korban, tetapi justru sepertinya menyudutkan korban, dan tidak ada menunjukkan agar ada tindakan sangsi kepada pelaku sesuai norma gereja HKBP. Mendengar hal itu maka seluruh mahasiswi sangat marah, dan mereka semua langsung membawa poster-poster melakukan unjuk rasa terhadap team yang datang yang tidak memberikan solusi apapun, namun justru seperti mengintimidasi korban, sebagaimana informasi yang saya terima dari korban yang diwawancarai. Kedatangan team tidak membawa hasil apapun. Dan justru menurut informasi dari senat mahasiswi ketika unjuk rasa saat itu, Praeses Toba mengatakan bahwa mereka akan bekerja lagi 2 minggu sejak tanggal 4 Februari. Dengan mengulur-ulur waktu terbukti bahwa kelihatan tidak ada niat baik pimpinan HKBP untuk memecat dan mencabut tohonan kependetaan si pelaku dari HKBP. Kenapa pelaku begitu sangat penting bagi HKBP sehingga sangat sulit untuk memberi sangsi kepadanya? Ada apa semua itu?
  14. Tanggal 5 February 2010 si pelaku datang menyerahkan diri ke polres Tobasa dan sampai sekarang ditahan di sel Polres Tobasa. Proses Hukum berjalan dengan sangat baik, apalagi karena negara kita adalah negara hukum. Maka diharapkan tidak seorangpun yang takut untuk mengatakan kebenaran dan keadilan, apalagi para bapak polisi di Polres Tobasa yang dipimpin oleh bapak Kapolres Tobasa bapak Musa Tampubolon beserta seluruh jarannya sungguh-sungguh melindungi korban dan akan menindak si pelaku sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini. Diharapkan semua jemaat mendukung dan mendoakan proses hukum yang sedang berjalan dan tidak boleh seorang pun yang berusaha untuk menghalang-halangi proses hukum pidana yang sedang berjalan, karena negara kita adalah negara hukum. Ketentuan hukum di negara kita mengatakan barangsiapa yang mengintimidasi korban pelecehan seksual dan melindungi si pelaku sama dengan telah melindungi tindakan kriminal dan menghalang-halangi penegakan hukum, maka ada KUHP yang mengatakan bahwa orang-orang tsb bisa dilaporkan ke Polisi dan dikenakan hukuman karena membuat persekongkolan dengan pelaku tindak kriminal.
  15. Seluruh mahasiswi bibelvrow, seluruh jajaran pengajar sekolah bibelvrow dan Direktur Sekolah Bibelvrow tetap berprinsip bahwa si pelaku harus dipecat dan dicabut tohonan kependetaannya dari HKBP. Tidak cukup si pelaku hanya ditangkap dan dipenjarakan sesuai dengan proses hukum yang berlaku di negara ini, tetapi si pelaku juga harus dipecat dan dicabut tohonannya dari HKBP sesuai proses hukum gereja yang berlaku di HKBP. Inilah yang menjadi penantian panjang perjuangan keadilan dan kebenaran para mahasiswi Bibelvrow HKBP. Sampai saat ini Pimpinan Pusat HKBP tidak mengambil tindakan apapun terhadap pelaku. Hanya Sekjen HKBP yang mengeluarkan surat persetujuan atas tindakan yang sudah diambil oleh Direktur Sekolah Bibelvrow. Lagi-lagi jemaat dibuat kecewa karena keadilan tidak ada sama sekali.
  16. Oleh sebab itulah maka mahasiswa/i STT-HKBP yang prihatin dengan keadaan ini berusaha menjumpai pimpinan HKBP yang pada tanggal 6 February 2010 datang ke HKBP Martoba, yaitu Sekjen HKBP Pdt Ramlan Hutahaean, MTh. Mahasiswa/i datang ke HKBP Martoba bukan mau mendemo jemaat tetapi melakukan aksi damai terhadap Sekjen HKBP. Apakah karena dongan tubu-nya maka Pdt Ramlan Hutahaean melindungi si pelaku? Atau ada apa di balik semuanya itu? Keprihatinan mahasiwa STT HKBP sebagai bentuk refleksi kritis terhadap kebijakan Pimpinan Pusat HKBP yang belum bertindak juga, malah telah beberapa kali sepertinya mengintimidasi para korban dan seluruh mahasiswi sekolah bibelvrow. Bersamaan dengan itu pula patut dipertanyakan kenapa Praeses Distrik Toba Pdt Parulian Sibarani tidak berusaha untuk memanggil para pendeta yang ada di distrik Toba dan melaksanakan rapat pendeta Distrik Toba untuk memproses pemecatan si pelaku dari Pdt HKBP dan mencabut tohonannya sesuai dengan RPP dan AP HKBP?  Sesuai ketentuan hukum gereja HKBP, apalagi oknum pendeta berbuat asusila dan menyimpang dari ajaran gereja dengan memakai cara magis hipnotis yang dilarang gereja maka rekan pendeta di distrik itulah yang manimbangi oknum tersebut sesuai dengan tingkat kesalahannya. Karena fakta dan peristiwa di Sekolah Bibelvrow Laguboti sangat mencemarkan citra HKBP dan telah menimbulkan tingkat keresahan yang meluas kepada jemaat-jemaat HKBP maka sudah sepatutnya Praeses HKBP Distrik Toba mengundang Rapat Pendeta HKBP, yang dihadiri Ketua Rapat Pendeta untuk memberi penilaian tingkat kesalahan dan hukuman penggembalaan yang patut diterimanya. Namun ternyata sampai kini belum juga tampak keinginan dan kebijakan yang benar atas kasus itu? Apa sebanarnya yang membuat Pimpinan Pusat HKBP dan Praeses HKBP Distrik Toba enggan bahkan terkesan tidak punya nyali untuk menangani pergumulan hebat tersebut? Bukankah HKBP memiliki perangkat hukum dan disiplin gereja yang cukup memadai terhadap perilaku asusila atau ketentuan hukum gereja tersebut hanya berlaku kepada para sintua dan warga jemaat? Banyak jemaat sekarang mulai berkomentar kenapa kalau jemaat salah sedikit saja lalu langsung dikenakan di-ban alias kena RPP (Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon), dipecat dari HKBP bahkan sampai dikeluarkan? Lalu kenapa kalau Pendeta melakukan pelecehan seksual melakukan perbuatan bejat tidak dikenakan RPP dan tidak dipecat dari HKBP??? Apakah RPP HKBP hanya berlaku kepada jemaat saja?? Kalau seperti itu maka 10 tahun lagi HKBP akan tutup, karena semua jemaat tidak akan pernah percaya lagi kepada para pendeta yang hanya berkhotbah tetapi tidak melakukan apa yang dikhotbahkannya, jemaat akan meninggalkan HKBP karena bahkan kebejatan moral akan semakin bertambah-tambah di HKBP jika si pelaku tidak dipecat dan dicabut tohonan kependetaannya.
  17. Hal yang paling aneh dan penuh pertanyaan adalah para pimpinan HKBP membuat kalimat di surat kabar, terutama Sekjen Pdt Ramlan selalu berkata “harus sabar dan ada proses”, di mana kalimat ini hanya mau meninabobokan para korban dan seluruh jemaat dengan berusaha menutup-nutupi kasus ini supaya kasus ini tidak sipersoalkan oleh korban dan seluruh mahasiswi dan jemaat HKBP. Berapa lama proses yang tidak jelas akan ditunggu warga jemaat kita, hai Sekjen HKBP dan Kadep Koinonia? Kalau boru kandung kalian melapor kepada kalian karena mereka diperkosa oknum pendeta bejat, apakah kalian akan berkata “tunggulah proses dulu, 2 minggu lagi, atau 1 bulan lagi atau 3 bulan lagi baru lapor polisi dan baru pelakunya dipecat dan dicabut tohonannya? Kalian akan mengamankan oknum pelaku atau membela keadilan bagi boru kalian? Di mana hati nuranimu dan rasa takutmu akan Tuhan, hai Pdt Ramlan dan Pdt Jamilin???
  18. Kami semakin menjerit meminta pertolongan karena sampai sekarang ini para korban, terutama korban yang paling parah mengalami diintimidasi oleh pendeta resort dimana keluarga korban berada. Menurut informasi bahkan ompung si korban yang paling parah dipengaruhi/dibujuk oleh Pdt. Resortnya agar ompung si korban membujuk korban agar menarik pengaduannya dari polisi. Hal ini terjadi pada tanggal 6 February 2010 terhadap keluarga korban yang paling parah. Ada orang-orang yang menyudutkan korban dengan menyebarkan berita bahwa 18 korban sudah menarik pengaduan mereka kepada polisi, sehingga korban yang paling parah dibujuk agar mau menarik pengaduannya. Namun setelah ditelepon langsung ke Polres Tobasa, ternyata diperoleh informasi bahwa tidak seorangpun korban yang menarik pengaduannya dari Polres Tobasa. Itu berarti ada orang-orang yang mau mempengaruhi dan mengintimidasi agar para korban menarik pengaduannya dari polisi. Intimidasi dan cara-cara untuk mempengaruhi korban agar menarik pengaduannya kepada polisi merupakan tindakan yang menghalang-halangi penegakan hukum, dan orang-orang tersebut bisa saja akan berhadapan dengan polisi karena melanggar hukum. Oleh sebab itu meskipun ada intimidasi, semuanya korban tetap pada prinsip bahwa mereka tidak akan pernah menarik pengaduan mereka dari polisi sebab apa yang mereka alami adalah benar, dan hukum di negara ini harus berjalan dengan baik. Siapakah pendeta resort yang tega melakukan intimidasi secara halus itu?? Apakah mereka tidak memiliki hati nurani, tidak memiliki rasa takut akan Tuhan?? Dan apakah mereka tidak memiliki saudari perempuan atau ito perempuan dan tidak memiliki ibu?? Apakah mereka tidak memiliki boru atau putri?? Bagaimana jika saudari atau ito atau putri mereka mengalami pelecehan seksual atau diperkosa oleh oknum laki-laki bejat atau oleh oknum pendeta yang bejat?? Apakah mereka akan diam saja dan tidak akan melapor kepada Polisi??? Benar-benar sangat memalukan sikap pendeta resort yang mengintimidasi para korban. Jika intmidasi masih terus berlangsung maka kami akan melaporkan orang-orang yang mengintimidasi para korban. Berhati-hatilah karena Tuhan akan murka terhadap orang-orang yang mengintimidasi para korban dan seluruh mahasiswi sekolah bibelvrow.
  19. Juga menurut informasi dari sekolah bibelvrow, Kamis 11 February 2010, Pdt. Debora Sinaga dan Bib. Bunga Pola Simanjuntak datang lagi ke sekolah bibelvrow dengan tujuan katanya mencari fakta yang lebih kuat. Kedatangan mereka diterima dengan baik oleh bapak direktur dan para dosen sekolah bibelvrow. Menurut informasi dari adek-adek bahwa pertemuan diadakan di aula dengan seluruh mahasiswi. Dalam pertemuannya dengan seluruh mahasiswi justru Pdt. Debora meminta para korban agar mau menambah-nambahi kesaksian mereka dengan tujuan untuk memperkuat kesaksian para korban. Mendengar perkataan itu maka para korban sangat marah dengan mengatakan bahwa kesaksian yang sudah mereka tuliskan dan laporkan kepada polisi itulah yang benar, tidak perlu ditambah-tambahi dan tidak perlu dikurang-kurangi. Menurut mereka kedatangan team itu tidak memberikan solusi tetapi justru semakin membingungkan para korban dan seluruh mahasiswi, karena di dalamnya terkandung intimidasi yang halus.
  20. Statement: Supaya preses distrik Toba segera secepatnya membuat rapat distrik dan harus mengundang KRP (Ketua Rapat Pendeta) dan seluruh pendeta yang ada di distrik Toba  untuk manimbangi dan memecat Pdt XXX dari pendeta HKBP dan mencabut tohonannya sebagai pendeta. Dan supaya ephorus dan sekjen dan Pdt. Jamilin Sirait dan seluruh praeses mendukung diadakannya Rapat Pendeta Distrik Toba, dan jangan seorangpun yang menghalang-halangi diadakannya rapat pendeta distrik Toba oleh Praeses Toba Pdt Parulian Sibarani. Seluruh jemaat HKBP perlu mengetahui semua kejadian ini dan menimbang di dalam hati dan imannya yang murni kepada Yesus Kristus, apakah seorang Pdt pelaku pelecehan seksual patut dipelihara di HKBP? Hendaknya supaya semua jemaat HKBP bertindak untuk mendesak diadakannya rapat distrik toba untuk memecat pelaku dan mencabut tohonannya.
  21. Dalam hal ini kami menghimbau seluruh jemaat HKBP di mana pun berada untuk segera bertindak, berbuat untuk menegakkan kebenaran dan keadilan Firman Tuhan terhadap kasus yang mengandung unsur kebejatan, dan kejahatan susila. Sebab gereja HKBP bukan gereja yang mempersubur dan mengindahkan perbuatan-perbuatan asusila, tetapi sebagai sumber kebenaran dan penegakkan keadilan. Kami membutuhkan pertolongan seluruh jemaat untuk menerobos kekuasaan tirai besi di HKBP yang selama ini juga memelihara pelaku pelecehan seksual di HKBP dan melindunginya. Hai seluruh jemaat HKBP tolonglah kami, tolonglah para korban, tolonglah semua mahasiswi sekolah bibelvrow, keadaan ini tidak bisa lagi dibiarkan berlama-lama, kita harus bertindak dan berbuat menyelamatkan korban, dan supaya korban tidak semakin berjatuhan lagi akibat ulah para pendeta pelaku pelecehan seksual di HKBP. Hai jemaat tolonglah kami para pendeta yang berjuang untuk mereformasi HKBP agar jangan ada perbuatan-perbuatan bejat di dalam Tubuh Kristus. Sungguh sangat memalukan HKBP saat ini di mata masyarakat dan di mata dunia. Kami berteriak meminta pertolongan seluruh jemaat HKBP, tolonglah kami, kami menjerit meminta pertolongan kepada seluruh jemaat..
  22. Saya dan beberapa orang teman Pendeta yang membuat kronologis kejadian mulai dari masuknya laporan para korban ke sekolah bibelvrow sampai hari ini. Saya adalah Pdt. Dr. Dewi Sri Sinaga dan teman-teman yang terus mendampingi para korban dan seluruh mahasiswi sekolah bibelvrow mulai mereka memanggil saya ke Sinaksak sampai hari ini. Saya dan teman-teman bertanggungjawab menuliskan dan melaporkan semuanya yang terjadi ini. Saya dan teman-teman tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Tuhan Allah Bapa yang Maha Kuasa yaitu Yesus Kristus Tuhan kita. Saya dengan beberapa orang pendeta dan Bibelvrow dan para mahasiswa/i STT HKBP yang terus medampingi adik-adik dari dekat maupun dari jauh, kami benar-benar sangat prihatin dengan keadaan ini. Kami berharap agar seluruh jemaat HKBP memberikan perhatian dan mau berpartisipasi untuk menyelesaikan kasus ini sampai tuntas. Agar HKBP sebagai gereja dan Tubuh Kristus dibersihkan dari kebejatan moral dari para pendeta yang melakukan pelecehan seksual. Demikianlah peristiwa ini diberitahukan kepada seluruh jemaat HKBP, karena tidak adanya tindakan dari ephorus, sekjen dan para kadep, beserta jajaran para praeses HKBP. Sekali lagi kami memohon bantuan dan pertolongan jemaat untuk menyuarakan hal ini dan menolong kami. Mohon maaf jika ada yang salah ketik dan ada kata-kata yang tidak berkenan di dalam tulisan ini.

Kami yang membuat kronologis peristiwa ini: Pdt. Dr. Dewi Sri Sinaga,  Pdt. Anson Roland. Tambunan, STh., MA., Pdt. Andi Lumbangaol, STh., Pdt. Melvin Simanjuntak, STh, Msi., Pdt. Anton Pasaribu STh., para Pendeta dan Bibelvrow yang mendukung diberbagai tempat bersama para mahasiswa/i STT HKBP yang prihatin terhadap korban dan seluruh mahasiswi sekolah Biblevrow di Laguboti.

Yesus yang Menangis. Menangislah juga Pencinta HKBP …

Setelah banyak mendengar pembicaraan orang-orang, hari ini aku mendapati kiriman beberapa e-mail dari kawan-kawan yang berkompeten tentang kronologis pelaku pelecehan seksual terhadap 19 orang mahasiswi di Sekolah Bibelvrouw HKBP di Laguboti. Pelakunya adalah dosen yang notabene adalah seorang pendeta HKBP. Sangat menyedihkan! Bukan hanya karena pelaku (dan terutama korbannya), namun yang makin membuat prihatin adalah tanggapan para gembala senior yang seharusnya mampu melaksanakan perannya dalam membuat kasus ini menjadi jernih dengan menempatkan kebenaran di atas segala-galanya. Rujukan kebenarannya tentu saja harus Alkitab yang diadopsi dalam peraturan penggembalaan di HKBP.

 

Mencoba menafsirkan tanggapan petinggi HKBP yang sangat terkesan “jauh panggang dari api” membuatku menjadi bertanya-tanya: “Ada apa di HKBP? Dan ada apa dengan para gembalanya? Dan ada apa pula dengan para pemimpinnya?”.

 

Ironisnya lagi, kabar tentang pelecehan seksual di Laguboti ini semakin mencuatkan kabar-kabar yang tidak sedap bahwa kejadian seperti ini bukanlah yang pertama. Pelakunya adalah praeses, orang-orang kantor pusat, dan lain-lain yang umumnya memanfaatkan kekuasaannya dengan menjadikan “bawahannya” sebagai korban kebiadabannya. Hampir tidak pernah kedengaran mencuat ke permukaan (atau hanya timbul sejenak, lalu tenggelam), mungkin karena dilindungi oleh orang-orang berpengaruh lainnya di HKBP.

 

Menurutku, inilah saatnya HKBP berbenah. Inilah saatnya HKBP dibersihkan dan membersihkan diri dari hal-hal yang memalukan dan sangat tidak pantas! Tahun 2010 sebagai Tahun Penatalayanan harus dijadikan momentum. Dengan besar hati harus mengakui telah terjadinya kebejatan moral di kalangan gembalanya, dan dengan besar hati pula harus merelakan orang-orang di dalamnya yang melakukan kebejatan moral untuk menerima tindakan hukum. Bukankah ranting-ranting yang tidak menghasilkan buah lagi harus dipotong dan dibuang?

 

Jangan sampai omongan sinis dari warga HKBP sendiri yang mengkritisi situasi dan kondisi yang sangat memprihatinkan ini menjadi sebuah bukti penguatan bahwa jika dibuka, akan terbukti bahwa kejahatan ini sudah merambah sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Artinya yang terlanjur terbuka saat ini hanyalah “sekadar” mencontoh kejadian dulu dan yang sudah pernah dilakukan oleh kalangan dalam tingkatan yang lebih atas (dan tidak pernah dihukum!).

 

Beranikah?

Andaliman-61 Khotbah 21 Februari 2010 Minggu Invokavit

 

Berjuang bersama Tuhan! Bagi Dia-lah kemuliaan dan hormat. Eits, hati-hati dengan berhala …!

 

Nas Epistel: Yeremia 10: 6-10

10:6 Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya TUHAN! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh keperkasaan.

10:7 Siapakah yang tidak takut kepada-Mu, ya Raja bangsa-bangsa? Sungguh, kepada-Mulah seharusnya sikap yang demikian; sebab di antara semua orang bijaksana dari bangsa-bangsa dan di antara raja-raja mereka tidak ada yang sama seperti Engkau!

10:8 Berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia, karena ia hanya kayu belaka. —

10:9 Perak kepingan dibawa dari Tarsis, dan emas dari Ufas; berhala itu buatan tukang dan buatan tangan pandai emas. Pakaiannya dari kain ungu tua dan kain ungu muda, semuanya buatan orang-orang ahli. —

10:10 Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya.

 

Nas Evangelium: 1 Timotius 6: 11-16

6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

6:13 Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu:

6:14 Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya,

6:15 yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.

6:16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.  

 

Bulan aku diminta untuk menyampaikan khotbah di salah satu partangiangan bulanan satu ompung di Jakarta untuk Sabtu, 20 Februari nanti. Walau diberi kebebasan untuk memilih firman yang akan disampaikan, tapi sebagai pelayan yang ”setia”, aku dengan bulat hati akan menyampaikan perikop ini yang sesuai dengan tanggal dalam Almanak HKBP. Selain kepraktisan (koq mesti mencari perikop yang lain kalau memang sudah ada yang paling sesuai, ’kan?), aku juga bermaksud ”menjual” HKBP kepada hadirin (yang datang dari berbagai denominasi) dengan salah satu ciri khasnya adalah penyampaian firman yang telah terencana dengan jadual yang terstruktur. Sesuatu yang belum tentu dimiliki oleh gereja-gereja lainnya, terutama yang semakin menjamur belakangan hari ini dengan segala ”kelebihannya”. Bukan untuk menyombongkan diri, tentunya.

 

Aku melihat perikop Minggu ini lebih banyak berbicara tentang Tuhan yang dibandingkan dengan berhala-berhala, dan bagaimana orang percaya harus menyikapinya.

 

Alkitab bercerita tentang berhala pada mulanya adalah ketika bangsa Israel dalam perjalanan pulang ke Kanaan dan meminta Harun untuk membuatkan patung lembu jantan dari emas sebagai pengganti Tuhan karena Musa sudah lama tidak kembali dari gunung untuk menghadap Allah. Mereka menginginkan suatu kekuatan yang dapat dilihat dan diraba, dan berhala itulah yang menjadi keinginan mereka. Itulah yang kemudian membuat Musa sangat murka. Dan kehidupan yang mengandalkan berhala sebagai pengganti Tuhan itulah yang berulang kemudian dalam kehidupan manusia sebagaimana dikisahkan dalam berbagai peristiwa yang dicatat di Alkitab. Juga yang kemudian memasuki kehidupan nenek moyang kita, bangsa Batak. Bahkan masih menyisakannya sampai saat ini.

 

Aku sangat menyukai pernyataan Yeremia dalam nas Ep Minggu ini yang dengan tegas mengingatkan bahwa berhala-berhala itu tidak ada kekuatannya sama sekali. Apakah terbuat dari kayu, batu, emas, atau perak, dan bahkan dihiasi dengan pakaian yang mahal dan yang sangat indah, berhala tetaplah berhala: suatu benda mati. Hanya sekadar buatan manusia, tentu saja tidaklah ada apa-apanya dibandingkan Tuhan sang pencipta manusia.    

 

Bagaimana dengan zaman sekarang ini? Meskipun semakin jarang, tetap saja kadangkala terdengar masih ada sebagian orang yang masih ”mewarisi” pemujaan berhala sebagaimana dilakukan oleh nenek moyang yang belum mengenal Tuhan dalam kehidupannya. Masih beberapa kali pula terdengar orang-orang yang pulang ke bona pasogit untuk berdoa di kuburan nenek moyang untuk mendapatkan apa yang diinginkan, misalnya berkah, kemajuan usaha, jodoh, kesembuhan dari penyakit, dan lain-lain.

 

Ada pula berhala modern sebagai ciptaan manusia modern yang semula dipakai sebagai alat, namun ”beralih fungsi” sebagai hal yang utama seakan-akan sebagai sesuatu yang sangat dipuja. Misalnya, pangkat (sehingga rela menjual imannya dengan beralih agama), uang (dengan cara melakukan apa saja untuk mendapatkannya, meskipun harus melanggar peraturan), harta, dan kuasa. Bahkan ponsel dan alat sejenisnya pun mulai memikiki kecenderungan diperlakukan sebagai berhala: berapa banyak orang yang mengutamakan membaca facebook daripada membaca Alkitab setiap hari?

 

Yang lebih ironi adalah pemberhalaan di kalangan gereja. Misalnya para pengkhotbah yang sangat populer yang cenderung menjadi kultus individu dan memosisikan dirinya menjadi lebih utama dibandingkan firman Tuhan yang harus disampaikannya, bahkan menyimpang dari Alkitab. Pernah dengar ada seorang pengkhotbah yang mengklaim selalu mendapat penglihatan dan mendengar ucapan Tuhan, bahkan naik turun dari sorga kapan saja dia mau? Celakanya, di kalangan warga jemaat dia menjadi segala-galanya sehingga tidak bakalan mau menghadiri ibadah kalau tidak dilayani oleh pengkhotbah penghuni surga tersebut.

 

Masih ada lagi, yaitu minyak urapan. Minyak goreng yang didoakan itu seakan menjadi jimat yang sangat ampuh untuk digunakan dalam banyak keperluan. Bahkan hal yang sama juga menimpa roti dan anggur perjamuan kudus. Menyedihkan sekali, iman yang seharusnya membebaskan malah menjadi belenggu untuk kembali ke alam pemujaan berhala!

 

Nas Ev semakin menguatkan bahwa orang percaya harus menjauhkan diri dari hal-hal yang menyimpang dari kemuliaan Allah. Bertindaklah sebagai orang yang menerima pembaptisan dengan meneladani sikap Kristus. Menjadi saksi, dan hidup dengan tidak bercela sampai akhir hayat. Hanya Tuhan satu-satunya yang layak disembah karena kuasa yang dimiliki-Nya sebagai satu-satunya Tuhan yang paling berkuasa atas kehidupan.     

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Hidup kita masih dikelilingi dengan situasi dan kondisi yang mengarah kepada penyembahan berhala. Ada yang disadari, adapula yang tidak kita sadari. Kalau yang disadari, biasanya adalah pemujaan berhala dalam bentuk benda-benda yang seakan-akan memiliki kekuatan supranatural. Masih terdapat pula praktik yang dianggap sebagai mewarisi tradisi nenek moyang yang cenderung sebagai dinamisme dan animisme.

 

Kehidupan modern yang sangat mengidolakan sesuatu yang instan yang memiliki kekuatan supranatural juga acapkali menjadi godaan untuk memberhalakan semuanya yang dijadikan sebagai yang utama dalam kehidupan. Anggapan bahwa itu semua sebagai solusi, menjadikannya sebagai dasar untuk pemujaan. Karena Tuhan punya ketentuan waktu untuk bertindak (yang selalu tepat pada waktunya) yang seringkali dianggap sangat lambat oleh manusia, menjadikan kuasa Tuhan sebagai alternatif kedua atau ketiga atau urutan berikutnya setelah kekuatan supranatural yang menjanjikan efektivitas dalam waktu singkat.

 

Inilah saatnya kita untuk kembali dan mempercayai firman Tuhan sebagai satu-satunya pedoman untuk dijadikan sandaran dan landasan dalam menghadapi masalah dalam kehidupan. Termasuk menjauhkan diri dari keterlibatan pemberhalaan (apapun itu!) maupun menjadikanya sebagai alternatif solusi. Selayaknyalah kita menanggapi panggilan-Nya, karena Dia telah terlebih dahulu memanggil kita sebagaimana arti dari nama Minggu ini: Invokavit yang dalam bahasa Batak disebutkan ”Jouon-Na ma ahu, jadi alusanku ma Ibana, yang artinya: ”Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab”.

Janda, Ma’afkanlah Aku …

Salah satu hal utama yang mendorong kami sekeluarga untuk mudik ke Medan pada tahun baru yang lalu adalah kerinduan untuk bersama-sama mengikuti partangiangan parsirangan ni taon di rumah mertuaku, yaitu ibadah tanggal 01 Januari jam nol nol lewat nol nol. Dalam usia perkawinan kami yang menginjak15 tahun, tak pernah sekalipun kami mengikuti acara yang biasanya terkesan “sakral” itu di rumah mertuaku. Selain karena kami biasanya di luar kota (karena penugasan dari kantor dan tidak mudik …), juga kecenderungannya kami mengikuti acara tersebut di rumah orangtuaku. Kalaupun kami di Medan, selalunya mertuaku yang perempuan menganjurkan kami untuk mengikuti acara tersebut di rumah orangtuaku dengan alasan jumlah yang hadir lebih sedikit (sementara kalau di rumah mertua biasanya penuh sesak dengan anak, menantu, dan cucu-cucu …).

Tahun ini mak Auli “protes”: “Harus di rumah mamak kamilah tahun ini, masak ‘nggak pernah sih …”. Aku setuju saja pada mulanya dan mempersiapkan diri untuk itu. Ternyata menjelang jam-J, pikiran mak Auli sedikit berubah. Mempertimbangkan jumlah yang diperkirakan hadir di rumah mamak kami semakin sedikit (paling ada sekitar lima orang jika tanpa kehadiran kami …), membuatnya sedih (prihatin, persisnya …), sehingga memutuskan kami melanjutkan tradisi yang ada sebagaimana lazimnya, yaitu mengikuti acara di rumah mamak kami saja. Supaya tidak terlalu merasa bersalah, maka aku usulkan untuk mengikutinya di rumah kedua keluarga: rumah mamakku dan rumah mamaknya alias mertuaku.

Keduanya? Ya, mulai di rumah mertuaku dulu, lalu dilanjut dengan di rumah mamakku. Toh jaraknya tidak terlalu jauh. Walau agak terlambat sedikit, paling tidak, kehadiran kami dapat meramaikan dan memgurangu kesunyian di rumah mamakku. Begitulah, tepat jam nol nol lewat nol nol kami yang sudah berkumpul mulai bersiap-siap mengadakan ibadah. Lembaran acara yang sudah disiapkan dari gereja sudah dibagi kepada semua peserta. Tak dinyana, mertuaku laki-laki malah menunjukku menjadi pemimpin ibadah. Bah! Karena ada pariban-ku bermarga Sibarani (suami kakakku yang sulung) yang ikut acara di situ, aku pun meminta izin dari beliau. Dan diizinkan, tentu saja.

Usai ibadah, kamipun bergegas ke rumah mamakku. Bagusnya, ada pula keluarga yang bersedia mengantarkan kami dengan mobil sehingga kami tiba lebih cepat. Dan mamakku pun tersenyum melihat kedatangan kami sambil berujar, “Disangahon ho do hape, amang tu jabunta on. Nunga parmisi hamu nangkin tu simatuam, kan? Mauliatema, jala nunga hupangan hami pe pizza na tabo na nipesanmi nangkin”. Aku melihat orangtua tersebut dengan lahap memakan makanan favoritnya itu yang sudah aku pilih menunya yang cocok dengan penderita gula.

Besok sorenya (01/01/10) ketika kami bermobil ke Berastagi, di tengah perjalanan ponsel mak Auli berbunyi. Dari pariban-ku satunya yang kawin dengan marga Simanjuntak, memintaku untuk menyampaikan firman Tuhan pada acara partangiangan bona taon keluarga di rumah mertuaku besoknya. Tak bisa menolak, aku iyakan saja. Dalam perjalanan aku berpikir thema khotbah yang akan aku sampaikan yang cocok dengan suasana keluarga saat itu. Untunglah ada Andaliman, yaitu pemahaman sederhana tentang khotbah mingguan sesuai Almanak HKBP yang selalu aku buat dan aku posting di blog pribadiku ini. Untung pula aku membawa laptop-ku. Dan coba mengingat dari koleksi yang ada, dan aku putuskan yang paling pas adalah tentang janda di Sarfat 1 Raja-raja 17:7-16). Sifatnya yang suka memberi dari keterbatasannya karena sangat percaya kepada nabi Elia dan kuasa Allah, menurutku sangat cocok untuk menyemangati memasuki tahun baru.

Ketika tiba saatnya – suhu udara di ruangan sangat panas karena banyaknya yang hadir, dan ada ”pesanan” dari adik mertua untuk menggunakan waktu dengan ”baik” karena menjelang makan siang – akupun menyampaikan khotbah dengan sangat fokus. Karena menangkap suasana yang rada tegang dan serius, aku berupaya untuk mencairkannya dengan menyebutkan kalimat, ”Ini tentang janda miskin. Hidupnya sangat sulit, hanya ada sedikit tepung dan minyak untuk dibuat roti untuk satu kali makan sebelum akhirnya dia beserta anaknya akan mati karena tidak punya persediaan makanan lagi. Sudah janda, miskin pula. Kalau janda kaya, pastilah jadi rebutan …”. Waktu aku sampaikan di gereja pada bulan September yang lalu, itu berhasil memancing tawa (paling tidak, senyum) dari orang-orang yang mendengarnya. Namun pada ibadah kali itu, tanggapan yang aku terima tidak seperti yang aku harapkan. Untuk menyampaikan pesan, barulah agak berhasil ketika aku berbagi tentang rencana perpindahanku bekerja yang aku percaya bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagiku dan keluargaku.

Usai ibadah dan makan siang, akupun bergegas ke rumah orangtuaku untuk pertemuan lainnya. Acara spontan dengan  bernyanyi per keluarga sore itu yang diiringi dengan keyboard tunggal tidak lama aku saksikan. Malam harinya ketika aku kembali ke rumah mertua, barulah aku mendengar tanggapan dari orang-orang. Ternyata kalimatku ’Sudah janda, miskin pula’ menjadi pembahasan setelah aku pergi tadi. Ternyata ada salah seorang anak dari keluarga besar kami satu ompung itu yang baru bercerai lalu menikah dengan seorang janda. Belakangan ”ketahuan”, bahwa janda tersebut tidak segemerlap penampilannya di awal sebelum menikah dengan anak uda-ku itu. Tentu saja banyak yang tidak setuju dengan pernikahan itu (termasuk uda dan inanguda-ku itu yang adalah pensiunan sintua dan aktivis gereja pula …), karena yang namanya perceraian pastilah hal yang tidak pantas karena tidak sesuai dengan iman Kristen. Nah, keluarga yang lain yang tidak setuju lalu mencibir. Mendengar kabar itu aku jadi kaget karena tidak menyangka akan ada tanggapan sejauh itu, dan berencana untuk segera berkomunikasi dengan parabangan-ku itu.

Besoknya ketika bertamu di rumah pariban-ku yang lain (bermarga Hutapea) aku juga mendengar hal yang sama. Dan itu semakin membangkitkan keinginanku untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah aku buat terganggu itu. Namun, pariban-ku itu mencegah dengan mengatakan, ”Tak perlu minta ma’af. Untuk apa, karena itu bukan kesalahan. Khotbah memang harus seperti itu, harus punya kuasa untuk menegur. Apalagi itu disampaikan bukan dengan maksud untuk menyinggungnya, untuk semua orang yang hadir ’kan? Lagian, mana semua orang tahu kalau janda yang dinikahinya itu bagaimana kondisinya, kaya atau miskin, atau apapun itu.”.

Tapi di bandara Polonia, ketika akan kembali ke Jakarta aku merenung sejenak dan memutuskan untuk mengirim kabar melalui facebook di komputer yang tersedia di ruang tunggu. Sekalian meminta ma’af karena khotbah yang aku sampaikan membuat parabangan-ku itu terluka. Itu pada Januari 2010, sekarang sudah Februari, dan aku belum tahu apa dan bagaimana tanggapan parabangan-ku itu karena sampai detik ini pun aku belum pernah lagi membuka facebook-ku karena sejak beberapa bulan ini sudah ditutup aksesnya oleh perusahaan tempatku bekerja dengan alasan mencegah karyawan ber-fesbuk-ria sehingga lupa bekerja …