Andaliman-59: Khotbah 07 Februari 2010 Minggu Seksagesima

Tidak menggunakan dan menyalahgunakan: pelajaran kepemimpinan tentang kepatuhan yang memuliakan.

Nas Epistel: 1 Samuel 8:1-9

8:1 Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel.

8:2 Nama anaknya yang sulung ialah Yoel, dan nama anaknya yang kedua ialah Abia; keduanya menjadi hakim di Bersyeba.

8:3 Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.

8:4 Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama

8:5 dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.”

8:6 Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN.

8:7 TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.

8:8 Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu.

8:9 Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka.”

 

Nas Evangelium: Markus 10:35-45

10:35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: “Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!”

10:36 Jawab-Nya kepada mereka: “Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?”

10:37 Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.”

10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”

10:39 Jawab mereka: “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka: “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.

10:40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan.”

10:41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes.

10:42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

10:43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

10:44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.

10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

 

Ini tentang kepemimpinan. Yang satu – yakni Ep berbicara tentang kerinduan untuk memiliki pemimpin karena pemimpin yang dimiliki saat ini tidak memenuhi kriteria – sedangkan satunya lagi berbicara tentang keinginan untuk menonjolkan diri di hadapan pemimpin – yakni Ev yang berkisah tentang dua orang kakak beradik murid Yesus yang menginginkan tempat yang lebih istimewa dibandingkan kawan-kawannya. Perikop untuk Minggu Seksagesima, yang artinya enam puluh hari menjelang kebangkitan. Menurutku, ini masih dalam rangkaian persiapan pra-Paskah, Paskah, dan pasca-Paskah. Masih ada waktu …

 

Kita mulai dengan Ep di mana Samuel menjadi tokoh utamanya. Salah satu episode yang sangat mengesankan bagiku tentang nabi ini adalah ketika dengan lantang dia menunjuk kepada Daud: ”Engkaulah orangnya!”, yakni saat Daud di puncak kekuasaannya masih berupaya menghindar dari pengakuan bahwa dia berselingkuh dengan Betsyeba. Tak banyak orang seperti Samuel yang memiliki nyali yang berani mengatakan tentang keburukan seseorang yang sedang sangat berkuasa (hal ini mengingatkanku pada biografi seorang jenderal anak Tuhan yang menjadi menteri dengan berani mengingatkan Soeharto tentang kiprah dan kelakuan buruk anak-anak penguasa tunggal Orde Baru tersebut yang mulai menjadi sorotan masyarakat kala itu …).  Sayangnya, kepemimpinan yang luar biasa tersebut tidak menurunkan kepada generasi berikutnya. Malah merongrong dan menggerogoti reputasi orangtuanya. Begitulah yang terjadi dengan anak-anak Samuel, tidak satupun yang menunjukkan kelas seorang pemimpin yang layak dijadikan panutan. Dan bangsa Israel menjadikannya alasan untuk mendapatkan seorang pemimpin yang lebih sesuai dengan aspirasi mereka.

 

Dan itu menyinggung Samuel, yang selama ini mendedikasikan dirinya sebagai wakil Tuhan dalam memberikan petunjuk dan memimpin bangsa itu.  Saat itu pemerintahan Israel adalah menganut paham teokrasi (yakni Allah yang memimpin melalui wahyu yang disampaikan oleh nabi-Nya, yakni saat itu adalah Samuel). Menjadikan kekalahan perang sebagai alasan (padahal kekalahan perang tersebut lebih besar disebabkan oleh perbuatan dosa yang semakin bertambah-tambah …) untuk meminta seorang raja yang akan memerintah mereka. Tuhan mengabulkan permintaan tersebut sambil meminta Samuel memberitahu mereka tentang konsekuensi meiliki raja (yaitu wajib militer, kerja paksa di ladang-ladang milik kerajaan, penarikan bajak, perbudakan, dan sebagainya). Tuhan membesarkan hati Saumel dengan mengatakan bahwa bukan Samuel, melainkan Tuhan sendirilah yang mereka tolak. Terbukti kemudian, raja-raja yang menjadi pemimpin Israel selama puluhan tahun malah membawa mereka semakin jauh dari Tuhan dan keinginan mereka sendiri.

 

Aku mendapatkan pelajaran dari sini tentang kepemimpinan. Meskipun lebih kondusif (mendapat pengalaman dan pelajaran secara langsung dari ”mentornya”), terbukti bahwa kemampuan memimpin yang baik tidak otomatis diturunkan kepada generasi berikutnya dari seorang pemimpin yang handal. Memang, dalam sejarah kontemporer kita mengenal klan Kennedy di Amerika Serikat, Gandhi di India, Soekarno di Indonesia (apa iya?); namun belum tentu semua keturunannya punya bakat dan kemampuan yang sama. Masih ada anak-anaknya yang lain yang menjadi orang ”biasa-biasa” saja. Istilah orang sekarang, ”keturunan biologis” belum tentu menjadi ”keturunan politis”.

 

Lalu tentang bangsa Israel yang hanya ”sekadar ikut-ikutan” untuk memiliki seorang raja sebagaimana bangsa-bangsa lainnya. Padahal saat itu Tuhan dengan nyata keberadaannya yang juga sangat dekat dalam memimpin mereka melalui nabi yang ditunjuk-Nya. Namun godaan mendapatkan ”sesuatu yang lain” (yang menjadikan pemisahan antara kehidupan politis dan kehidupan spiritual) tetap mampu menaklukkan mereka. Apa bedanya dengan yang acapkali aku alami dalam kehidupanku? Sudah nyata Tuhan mengatakan akan selalu menyertaiku sepanjang hidupku bilamana menjadikan-Nya sebagai pemimpin dalam kehidupan, namun tetap saja ”sesuatu yang lain” acapkali menggodaku. ’Gimana hasilnya? Yah, tidak jauh berbedalah dengan apa yang dialami oleh bangsa Israel itu …     

 

Secara lugas, nas perikop Ep Minggu ini membicarakan tentang tidak menggunakan, yaitu kesempatan yang diberikan Tuhan bagi bangsa Israel untuk tetap di bawah pimpinan Tuhan. Mereka malah lebih memilih untuk dipimpin oleh manusia. Berbeda dengan Ep, nas perikop Ev membicarakan tentang penyalahgunaan, yaitu tentang posisi yang diharapkan oleh dua orang bersaudara murid Yesus untuk mendapatkan posisi yang utama di kerajaan yang sedang dibicarakan oleh Yesus pada saat itu.

 

Pada Injil Matius, disebutkan bahwa mereka berdua ”memanfa’atkan” ibunya sebagai ”penyambung lidah”. Jadi, tidak secara langsung, melainkan ibunya yang menjadi juru bicara mereka untuk menyampaikan aspirasi tersebut. Hal yang juga masih terjadi saat ini, bahkan dalam kehidupan kontemporer bangsa kita saat ini ’kan?

 

Kedua murid itu salah paham tentang konsep kerajaan yang disampaikan Yesus, sehingga membayangkan akan menjadi ”menteri utama” dalam ”kabinet” Yesus yang akan datang. Murid-murid lainnya menjadi marah dengan ucapan tersebut (bisa jadi mereka juga sebenarnya menginginkan posisi yang sama …).

 

Yesus menegur mereka dengan menanyakan kesanggupan mereka untuk sama-sama menderita dengan-Nya. Mereka menjawab: ”sanggup” (hal yang biasa terjadi juga bilamana dipertanyakan komitmen pada orang yang sangat berambici dan sedang mengincara suatu posisi yang diidam-idamkan …), namun Yesus menjawab dengan sangat elegan, bahwa syarat untuk menjadi orang yang terutama dan terbesar adalah bilamana sanggup menjadi hamba dan pelayan bagi orang lain. Alangkah ironisnya, dan tentu saja mengagetkan semua pendengar-Nya saat itu. Tidak ada yang menduga akan mendapat jawaban seperti itu!

 

Dan ini sekali lagi mengingatkanku tentang komitmen dalam melayani. Di kantor, maupun di jemaat: harus menjadi hamba bagi orang lain. Artinya, menjadikan orang lain sebagai yang utama daripada kemuliaan diri sendiri.     

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kehidupan berbangsa dan bernegara di republik yang kita cintai ini dapat menjadi ilustrasi yang relevan dalam memahami perikop Minggu ini. Utamanya tentang anak, dan kepemimpinan. Betapa seringnya kita mendengar bahwa ada beberapa orang yang sangat menonjol dalam pelayanannya, namun ternyata di rumah tangga sendiri bukanlah menjadi seorang pemimpin sebagaimana yang dibayangkan oleh orang-orang pada umumnya. Kita patut menjadi teladan bagi anak-anak kita sebagaimana kita juga bertanggung jawab atas masa depan mereka. Campur tangan Tuhan dalam setiap sendi kehidupan kita dan anak-anak kita patut menjadi andalan dalam memastikan bahwa kita dan anak-anak kita adalah pemimpin yang ”diurapi” Tuhan.

 

Sebagai pelayan jemaat, inilah saatnya kembali untuk mengingatkan komitmen kita tentang posisi yang sebenarnya diinginkan Yesus bagi kita. Tidak ada yang lain, jadilah hamba yang menjadi pelayan bagi orang-orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s