Andaliman-61 Khotbah 21 Februari 2010 Minggu Invokavit

 

Berjuang bersama Tuhan! Bagi Dia-lah kemuliaan dan hormat. Eits, hati-hati dengan berhala …!

 

Nas Epistel: Yeremia 10: 6-10

10:6 Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya TUHAN! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh keperkasaan.

10:7 Siapakah yang tidak takut kepada-Mu, ya Raja bangsa-bangsa? Sungguh, kepada-Mulah seharusnya sikap yang demikian; sebab di antara semua orang bijaksana dari bangsa-bangsa dan di antara raja-raja mereka tidak ada yang sama seperti Engkau!

10:8 Berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia, karena ia hanya kayu belaka. —

10:9 Perak kepingan dibawa dari Tarsis, dan emas dari Ufas; berhala itu buatan tukang dan buatan tangan pandai emas. Pakaiannya dari kain ungu tua dan kain ungu muda, semuanya buatan orang-orang ahli. —

10:10 Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya.

 

Nas Evangelium: 1 Timotius 6: 11-16

6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.

6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

6:13 Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu:

6:14 Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya,

6:15 yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan.

6:16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.  

 

Bulan aku diminta untuk menyampaikan khotbah di salah satu partangiangan bulanan satu ompung di Jakarta untuk Sabtu, 20 Februari nanti. Walau diberi kebebasan untuk memilih firman yang akan disampaikan, tapi sebagai pelayan yang ”setia”, aku dengan bulat hati akan menyampaikan perikop ini yang sesuai dengan tanggal dalam Almanak HKBP. Selain kepraktisan (koq mesti mencari perikop yang lain kalau memang sudah ada yang paling sesuai, ’kan?), aku juga bermaksud ”menjual” HKBP kepada hadirin (yang datang dari berbagai denominasi) dengan salah satu ciri khasnya adalah penyampaian firman yang telah terencana dengan jadual yang terstruktur. Sesuatu yang belum tentu dimiliki oleh gereja-gereja lainnya, terutama yang semakin menjamur belakangan hari ini dengan segala ”kelebihannya”. Bukan untuk menyombongkan diri, tentunya.

 

Aku melihat perikop Minggu ini lebih banyak berbicara tentang Tuhan yang dibandingkan dengan berhala-berhala, dan bagaimana orang percaya harus menyikapinya.

 

Alkitab bercerita tentang berhala pada mulanya adalah ketika bangsa Israel dalam perjalanan pulang ke Kanaan dan meminta Harun untuk membuatkan patung lembu jantan dari emas sebagai pengganti Tuhan karena Musa sudah lama tidak kembali dari gunung untuk menghadap Allah. Mereka menginginkan suatu kekuatan yang dapat dilihat dan diraba, dan berhala itulah yang menjadi keinginan mereka. Itulah yang kemudian membuat Musa sangat murka. Dan kehidupan yang mengandalkan berhala sebagai pengganti Tuhan itulah yang berulang kemudian dalam kehidupan manusia sebagaimana dikisahkan dalam berbagai peristiwa yang dicatat di Alkitab. Juga yang kemudian memasuki kehidupan nenek moyang kita, bangsa Batak. Bahkan masih menyisakannya sampai saat ini.

 

Aku sangat menyukai pernyataan Yeremia dalam nas Ep Minggu ini yang dengan tegas mengingatkan bahwa berhala-berhala itu tidak ada kekuatannya sama sekali. Apakah terbuat dari kayu, batu, emas, atau perak, dan bahkan dihiasi dengan pakaian yang mahal dan yang sangat indah, berhala tetaplah berhala: suatu benda mati. Hanya sekadar buatan manusia, tentu saja tidaklah ada apa-apanya dibandingkan Tuhan sang pencipta manusia.    

 

Bagaimana dengan zaman sekarang ini? Meskipun semakin jarang, tetap saja kadangkala terdengar masih ada sebagian orang yang masih ”mewarisi” pemujaan berhala sebagaimana dilakukan oleh nenek moyang yang belum mengenal Tuhan dalam kehidupannya. Masih beberapa kali pula terdengar orang-orang yang pulang ke bona pasogit untuk berdoa di kuburan nenek moyang untuk mendapatkan apa yang diinginkan, misalnya berkah, kemajuan usaha, jodoh, kesembuhan dari penyakit, dan lain-lain.

 

Ada pula berhala modern sebagai ciptaan manusia modern yang semula dipakai sebagai alat, namun ”beralih fungsi” sebagai hal yang utama seakan-akan sebagai sesuatu yang sangat dipuja. Misalnya, pangkat (sehingga rela menjual imannya dengan beralih agama), uang (dengan cara melakukan apa saja untuk mendapatkannya, meskipun harus melanggar peraturan), harta, dan kuasa. Bahkan ponsel dan alat sejenisnya pun mulai memikiki kecenderungan diperlakukan sebagai berhala: berapa banyak orang yang mengutamakan membaca facebook daripada membaca Alkitab setiap hari?

 

Yang lebih ironi adalah pemberhalaan di kalangan gereja. Misalnya para pengkhotbah yang sangat populer yang cenderung menjadi kultus individu dan memosisikan dirinya menjadi lebih utama dibandingkan firman Tuhan yang harus disampaikannya, bahkan menyimpang dari Alkitab. Pernah dengar ada seorang pengkhotbah yang mengklaim selalu mendapat penglihatan dan mendengar ucapan Tuhan, bahkan naik turun dari sorga kapan saja dia mau? Celakanya, di kalangan warga jemaat dia menjadi segala-galanya sehingga tidak bakalan mau menghadiri ibadah kalau tidak dilayani oleh pengkhotbah penghuni surga tersebut.

 

Masih ada lagi, yaitu minyak urapan. Minyak goreng yang didoakan itu seakan menjadi jimat yang sangat ampuh untuk digunakan dalam banyak keperluan. Bahkan hal yang sama juga menimpa roti dan anggur perjamuan kudus. Menyedihkan sekali, iman yang seharusnya membebaskan malah menjadi belenggu untuk kembali ke alam pemujaan berhala!

 

Nas Ev semakin menguatkan bahwa orang percaya harus menjauhkan diri dari hal-hal yang menyimpang dari kemuliaan Allah. Bertindaklah sebagai orang yang menerima pembaptisan dengan meneladani sikap Kristus. Menjadi saksi, dan hidup dengan tidak bercela sampai akhir hayat. Hanya Tuhan satu-satunya yang layak disembah karena kuasa yang dimiliki-Nya sebagai satu-satunya Tuhan yang paling berkuasa atas kehidupan.     

 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Hidup kita masih dikelilingi dengan situasi dan kondisi yang mengarah kepada penyembahan berhala. Ada yang disadari, adapula yang tidak kita sadari. Kalau yang disadari, biasanya adalah pemujaan berhala dalam bentuk benda-benda yang seakan-akan memiliki kekuatan supranatural. Masih terdapat pula praktik yang dianggap sebagai mewarisi tradisi nenek moyang yang cenderung sebagai dinamisme dan animisme.

 

Kehidupan modern yang sangat mengidolakan sesuatu yang instan yang memiliki kekuatan supranatural juga acapkali menjadi godaan untuk memberhalakan semuanya yang dijadikan sebagai yang utama dalam kehidupan. Anggapan bahwa itu semua sebagai solusi, menjadikannya sebagai dasar untuk pemujaan. Karena Tuhan punya ketentuan waktu untuk bertindak (yang selalu tepat pada waktunya) yang seringkali dianggap sangat lambat oleh manusia, menjadikan kuasa Tuhan sebagai alternatif kedua atau ketiga atau urutan berikutnya setelah kekuatan supranatural yang menjanjikan efektivitas dalam waktu singkat.

 

Inilah saatnya kita untuk kembali dan mempercayai firman Tuhan sebagai satu-satunya pedoman untuk dijadikan sandaran dan landasan dalam menghadapi masalah dalam kehidupan. Termasuk menjauhkan diri dari keterlibatan pemberhalaan (apapun itu!) maupun menjadikanya sebagai alternatif solusi. Selayaknyalah kita menanggapi panggilan-Nya, karena Dia telah terlebih dahulu memanggil kita sebagaimana arti dari nama Minggu ini: Invokavit yang dalam bahasa Batak disebutkan ”Jouon-Na ma ahu, jadi alusanku ma Ibana, yang artinya: ”Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s