Selamat Ulang Tahun, Auli Hasian …

Hari ini adalah hari terakhir aku ada di Medan setelah sejak Jum’at ,minggu lalu berada di kota ini. Cuti dari kantor, khusus menghadiri perayaan ulang tahun ke-75 Mamak. Dan aku punya beberapa pengalaman baru kali ini.

Setelah ditempatkan bertugas di Bandung, inilah pertama kali aku naik pesawat ke Medan dari Bandung. Pulang-pergi.

Subuh tadi jam 6 aku mengikuti ibadah Minggu di gereja HKBP Simpang Limun Medan. Beberapa menit sebelumnya Auli menelepon (setelah aku telepon untuk menyampaikan ucapan selamat ulang tahun sebelumnya dan mak Auli mengatakan Auli masih tidur)kembali menanyakan hadiah ulang tahunnya. Tentu saja aku jawab sudah tersedia dan akan diberikan nanti di Bandung, karena mereka juga pagi naik mobil dari Jakarta ke Bandung. Aku akan dijemput mereka dari Bandara Hussein Sastranegara.

Terima kasih, Tuhan untuk ulang tahun Auli hari ini …

Andaliman-66 Khotbah 28 Maret 2010 Minggu Palmarum

Persembahkanlah Selalu yang Terbaik kepada Tuhan

Nas Epistel: Imamat 23:39-44 (bahasa Batak: 3 Musa 23:39-44)

23:39 Akan tetapi pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya; pada hari yang pertama haruslah ada perhentian penuh dan juga pada hari yang kedelapan harus ada perhentian penuh.

23:40 Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya.

23:41 Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya.

23:42 Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun,

23:43 supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah TUHAN, Allahmu.”

23:44 Demikianlah Musa menyampaikan kepada orang Israel firman tentang hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN.

Nas Evangelium: Markus 14:3-9

14:3           Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.

14:4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?

14:5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu.

14:6 Tetapi Yesus berkata: /”Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.*

14:7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.*

14:8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.*

14:9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”*

Setelah membolak-balik dan membaca berulang-ulang, pesan yang akan disampaikan oleh kedua perikop ini adalah tentang memberikan sesuatu alias persembahan. Nas Ep yang diambil dari Perjanjian Lama adalah dengan latar belakang bangsa Israel, sedangkan nas Ev dikutip dari Perjanjian Baru. Keduanya mengajarkan bahwa pemberian haruslah yang terbaik. Kepada Tuhan, pun kepada sesama manusia.

Memberikan bukan yang terbaik, adalah hal yang sangat sering aku lakukan. Apalagi dulu, sekarang sudah lebih baik (sedikit, tapi yang penting ada kemajuan, ‘kan? Salah satunya adalah bila ada acara makan bersama di rumah. Kalau dulu, yang tersisa (setelah para tamu pulang …) yang akan kami berikan kepada petugas satpam; kalau sekarang kami memang sudah mengalokasikannya buat mereka sejak awal. Bahkan kadangkala kami ajak ikut makan bersama.

Di gereja, juga masih terdapat praktik yang hampir sama. Masih ada warga jemaat yang memberikan suatu barang ke gereja setelah dia tidak memerlukannya lagi. Misalnya memberikan komputer (personal computer) yang masih dengan aplikasi lawas karena sudah memiliki laptop dengan aplikasi Windows Vista. Gereja menerima saja  komputer tersebut karena memang belum memiliki perangkat yang lebih maju tersebut pada saat itu.

Di rumah, aku juga sudah memulai semangat untuk memberikan yang terbaik. Kepada Auli anakku, selalu aku ingatkan untuk memberikan miliknya (mainan, misalnya) jika ada beberapa unit, selagi masih baru. Bukan setelah dia bosan memilikinya dan tidak memerlukannya lagi. Memang seringkali terlihat rona sedih dan keberatan di wajahnya, tetapi seketika menjadi sirna ketika aku memberitahukan bahwa anak-anak yang akan menerimanya pasti lebih berbahagia bila mendapatkan mainan dalam kondisi yang lebih baik dan sama seperti yang dimilikinya.

Godaan untuk tidak memberikan yang terbaik memang masih seringkali menghinggapi diriku. Tetapi kekuatannya berangsur-angsur menurun setelah makin terbiasa melakukan pemberian yang terbaik. Misalnya ketika pertama kali memberikan baju untuk kenang-kenangan. Saat akan pindah dari Palembang, di rumah kami ada anak muda yang tinggal bertahun-tahun yang sudah kami anggap sebagai anggota keluarga sendiri. Ketika akan pindah, aku berikan kesempatan baginya untuk melihat lemari pakaianku dan memilih beberapa potong kemeja yang terbaik sesuai yang dikehendakinya sebagai kenang-kenangan. Semula dia heran – juga mak Auli, istriku yang tidak menduga aku akan melakukan yang seperti itu karena dia juga sudah menyiapkan kemeja yang akan diberikan sebelumnya – dan memintaku untuk memilih dan memberikan saja padanya. Tapi aku menolak, dan setengah memaksa untuk dia pilih sendiri. Tahu bagaimana situasinya saat itu? Kami – aku dan mak Auli – menahan nafas saat anak muda tersebut memilih-milih dan akhirnya menentukan kemeja yang akan dimintanya. Tentu saja yang dipilihnya adalah yang terbaik! Dan itu adalah sedikit dari kemeja yang menjadi kesukaanku! Tetapi kami kemudian lega dan tersenyum bahagia manakala melihat dan menyaksikan rasa sukacita anak muda saat menerima pemberian kenang-kenangan tersebut …

Apakah pemberian terbaik selalu mendatangkan sukacita? Tidak selalu! Berdasarkan pengalamanku, meskipun aku sangat bersukacita, ternyata belum tentu pada orang lain. Sama seperti yang tercantum dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Sudah jelas-jelas Yesus sangat bersukacita menerima persembahan minyak narwastu dari perempuan tersebut (dalam tradisi Gereja ada yang menyebutkan perempuan itu sebagai Maria Magdalena), dari kalangan terdekat-Nya sendiri (dalam tradisi Gereja ada yang menyebutkan orang itu sebagai Yudas Iskariot) terdengar protes. Alasannya sih kelihatan masuk akal, tapi motivasi di baliknya mungkin saja sangat berbeda.

Betapa sering terdengar bahwa warga jemaat kapok untuk memberikan sesuatu kepada Gereja karena bersamaan dengan itu selalu terdengar nada sinis dari warga gereja yang lainnya. “Ah, sok-sokan dia itu”, “Apalah itu baginya. Cuma segitu aja yang dia berikan, padahala masih lebih banyak lagi dari itu yang bisa diberikannya”, adalah contoh tanggapan sinis yang seringkali terdengar sebagai tanggapan akan pemberian tersebut. Dan itu aku rasakan juga. Namun, hatiku selalu menjadi terhibur manakala ada suara dari dalam yang mengingatkanku untuk selalu menjaga motivasi pemberian tersebut, bahwa itu aku lakukan hanyalah untuk kemuliaan Tuhan. Bukan untuk puja-puji dari orang-orang.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Minggu Palmarum ini selalu mengingatkan kita untuk bersukacita menyambut kedatangan Yesus sang juru selamat. Dan persembahan adalah bagian dari rasa syukur dan perwujudan sukacita tersebut. Untuk itulah, dalam ibadah yang mengiringi ritual persembahan selalu diingatkan bahwa kita harus memberikannya dengan sukacita. Bukan karena besarnya pemberian, melainkan motivasi pemberiannya itulah yang utama.

Jawaban Yesus yang besar kemungkinan mengagetkan sang penanya, memberikan pesan bahwa ada saatnya memberi bukan untuk orang yang memang berkekurangan. Padahal selama ini dalam pikiran para pendengarnya saat itu (yang juga tidak jauh bedanya dengan situasi dan kondisi zaman sekarang …), memberi dilakukan bagi orang yang memang membutuhkannya karena tidak memilikinya. Tapi untuk Yesus? Apakah Yesus kekurangan? Sudah pasti tidak!

Di sisi yang lain, jawaban Yesus tersebut bisa disalahpengertiankan bahwa Yesus bukanlah tokoh yang pro pada orang miskin.

Nah, bolehlah itu didiskusikan pada partangiangan wejk minggu ini …

Persembahkanlah Selalu yang Terbaik kepada Tuhan

Nas Epistel: Imamat 23:39-44 (bahasa Batak: 3 Musa 23:39-44)

23:39 Akan tetapi pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya; pada hari yang pertama haruslah ada perhentian penuh dan juga pada hari yang kedelapan harus ada perhentian penuh.

23:40 Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya.

23:41 Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya.

23:42 Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun,

23:43 supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah TUHAN, Allahmu.”

23:44 Demikianlah Musa menyampaikan kepada orang Israel firman tentang hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN.

Nas Evangelium: Markus 14:3-9

14:3           Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.

14:4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?

14:5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu.

14:6 Tetapi Yesus berkata: /”Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.*

14:7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.*

14:8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.*

14:9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”*

Setelah membolak-balik dan membaca berulang-ulang, pesan yang akan disampaikan oleh kedua perikop ini adalah tentang memberikan sesuatu alias persembahan. Nas Ep yang diambil dari Perjanjian Lama adalah dengan latar belakang bangsa Israel, sedangkan nas Ev dikutip dari Perjanjian Baru. Keduanya mengajarkan bahwa pemberian haruslah yang terbaik. Kepada Tuhan, pun kepada sesama manusia.

Memberikan bukan yang terbaik, adalah hal yang sangat sering aku lakukan. Apalagi dulu, sekarang sudah lebih baik (sedikit, tapi yang penting ada kemajuan, ‘kan? Salah satunya adalah bila ada acara makan bersama di rumah. Kalau dulu, yang tersisa (setelah para tamu pulang …) yang akan kami berikan kepada petugas satpam; kalau sekarang kami memang sudah mengalokasikannya buat mereka sejak awal. Bahkan kadangkala kami ajak ikut makan bersama.

Di gereja, juga masih terdapat praktik yang hampir sama. Masih ada warga jemaat yang memberikan suatu barang ke gereja setelah dia tidak memerlukannya lagi. Misalnya memberikan komputer (personal computer) yang masih dengan aplikasi lawas karena sudah memiliki laptop dengan aplikasi Windows Vista. Gereja menerima saja  komputer tersebut karena memang belum memiliki perangkat yang lebih maju tersebut pada saat itu.

Di rumah, aku juga sudah memulai semangat untuk memberikan yang terbaik. Kepada Auli anakku, selalu aku ingatkan untuk memberikan miliknya (mainan, misalnya) jika ada beberapa unit, selagi masih baru. Bukan setelah dia bosan memilikinya dan tidak memerlukannya lagi. Memang seringkali terlihat rona sedih dan keberatan di wajahnya, tetapi seketika menjadi sirna ketika aku memberitahukan bahwa anak-anak yang akan menerimanya pasti lebih berbahagia bila mendapatkan mainan dalam kondisi yang lebih baik dan sama seperti yang dimilikinya.

Godaan untuk tidak memberikan yang terbaik memang masih seringkali menghinggapi diriku. Tetapi kekuatannya berangsur-angsur menurun setelah makin terbiasa melakukan pemberian yang terbaik. Misalnya ketika pertama kali memberikan baju untuk kenang-kenangan. Saat akan pindah dari Palembang, di rumah kami ada anak muda yang tinggal bertahun-tahun yang sudah kami anggap sebagai anggota keluarga sendiri. Ketika akan pindah, aku berikan kesempatan baginya untuk melihat lemari pakaianku dan memilih beberapa potong kemeja yang terbaik sesuai yang dikehendakinya sebagai kenang-kenangan. Semula dia heran – juga mak Auli, istriku yang tidak menduga aku akan melakukan yang seperti itu karena dia juga sudah menyiapkan kemeja yang akan diberikan sebelumnya – dan memintaku untuk memilih dan memberikan saja padanya. Tapi aku menolak, dan setengah memaksa untuk dia pilih sendiri. Tahu bagaimana situasinya saat itu? Kami – aku dan mak Auli – menahan nafas saat anak muda tersebut memilih-milih dan akhirnya menentukan kemeja yang akan dimintanya. Tentu saja yang dipilihnya adalah yang terbaik! Dan itu adalah sedikit dari kemeja yang menjadi kesukaanku! Tetapi kami kemudian lega dan tersenyum bahagia manakala melihat dan menyaksikan rasa sukacita anak muda saat menerima pemberian kenang-kenangan tersebut …

Apakah pemberian terbaik selalu mendatangkan sukacita? Tidak selalu! Berdasarkan pengalamanku, meskipun aku sangat bersukacita, ternyata belum tentu pada orang lain. Sama seperti yang tercantum dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Sudah jelas-jelas Yesus sangat bersukacita menerima persembahan minyak narwastu dari perempuan tersebut (dalam tradisi Gereja ada yang menyebutkan perempuan itu sebagai Maria Magdalena), dari kalangan terdekat-Nya sendiri (dalam tradisi Gereja ada yang menyebutkan orang itu sebagai Yudas Iskariot) terdengar protes. Alasannya sih kelihatan masuk akal, tapi motivasi di baliknya mungkin saja sangat berbeda.

Betapa sering terdengar bahwa warga jemaat kapok untuk memberikan sesuatu kepada Gereja karena bersamaan dengan itu selalu terdengar nada sinis dari warga gereja yang lainnya. “Ah, sok-sokan dia itu”, “Apalah itu baginya. Cuma segitu aja yang dia berikan, padahala masih lebih banyak lagi dari itu yang bisa diberikannya”, adalah contoh tanggapan sinis yang seringkali terdengar sebagai tanggapan akan pemberian tersebut. Dan itu aku rasakan juga. Namun, hatiku selalu menjadi terhibur manakala ada suara dari dalam yang mengingatkanku untuk selalu menjaga motivasi pemberian tersebut, bahwa itu aku lakukan hanyalah untuk kemuliaan Tuhan. Bukan untuk puja-puji dari orang-orang.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Minggu Palmarum ini selalu mengingatkan kita untuk bersukacita menyambut kedatangan Yesus sang juru selamat. Dan persembahan adalah bagian dari rasa syukur dan perwujudan sukacita tersebut. Untuk itulah, dalam ibadah yang mengiringi ritual persembahan selalu diingatkan bahwa kita harus memberikannya dengan sukacita. Bukan karena besarnya pemberian, melainkan motivasi pemberiannya itulah yang utama.

Jawaban Yesus yang besar kemungkinan mengagetkan sang penanya, memberikan pesan bahwa ada saatnya memberi bukan untuk orang yang memang berkekurangan. Padahal selama ini dalam pikiran para pendengarnya saat itu (yang juga tidak jauh bedanya dengan situasi dan kondisi zaman sekarang …), memberi dilakukan bagi orang yang memang membutuhkannya karena tidak memilikinya. Tapi untuk Yesus? Apakah Yesus kekurangan? Sudah pasti tidak!

Di sisi yang lain, jawaban Yesus tersebut bisa disalahpengertiankan bahwa Yesus bukanlah tokoh yang pro pada orang miskin.

Nah, bolehlah itu didiskusikan pada partangiangan wejk minggu ini …

Salamat Ulang Taon, da Inong!

Hari ini Mamak kami – satu dari tiga perempuan perkasa dalam hidupku – berulang tahun ke-75. Puji Tuhan! Beliau masih diberi umur panjang dan bertambah satu tahun lagi hari ini. Pagi-pagi sekali tadi aku menelepon ke Medan mengucapkan selamat ulang tahun sekaligus menanyakan kabar hari ini. Suaranya terdengar kurang semangat, mungkin karena baru bangun dan dibangunkan lebih pagi. Sempat aku ragu dan meminta pangurupi yang menerima panggilan telepon untuk tidak usah membangunkan. “Tak apa, Tulang, Tadi pun ompung sudah pesan untuk dibangunkan kalau ada telepon …”, katanya sambil meletakkan telepon lalu memanggil ke kamar. Lalu kami ‘ngobrol sejenak. Mamak menanyakan untuk memastikan kedatanganku akhir minggu ini ke Medan.

Ya, Sabtu nanti kami sekeluarga berencana mengadakan ibadah syukuran ulang tahun ke-75 di rumah di Medan. Panitia kecil telah dibentuk Juli tahun lalu saat aku bertugas ke Medan, lalu dimatangkan akhir tahun lalu ketika aku cuti di Medan. Ada beberapa perubahan yang dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi termutakhir.

Pagi tadi pun aku sudah memesan tiket ke Medan. Air Asia, karena satu-satunya maskapai penerbangan yang melayani jalur Bandung-Medan. Saat di kantor penerbangan tersebut (di Hotel Serela) petugasnya memberi penjelasan, ada beberapa “keunikan” yang aku rasakan: tiketnya hanya kertas selembar, bayar enam puluh ribu rupiah kalau ada bagasi (karena cuma tujuh kilo sebagai batas tentengan yang bisa dibawa ke kabin), dilarang membawa makanan dan minuman (karena sudah disediakan oleh crew di pesawat, namun penumpang harus membeli), dan slip pembayaran dengan kartu kreditku pun tak perlu aku tandatangani …

Di boncengan sepeda motor, ponselku berdering. Ternyata dari salah seorang ito-ku, lalu aku katakan bahwa nanti akan aku telepon karena suaranya tidak jelas terdengar. Saat tiba di kantor, lalu aku menelepon-balik. Ternyata si ito memberi tahu bahwa tulang si ampudan yang tinggal di Bekasi terkena stroke ringan dan sebagian badannya sudah lumpuh. Duh! Padahal abangku tertua kemarin menelepon dari Jakarta bahwa tulang tersebut terkena tifus. Mungkin karena tekanan darah yang sangat rendah akibat tifus menyebabkan stroke?

Satu hari sebelumnya aku menelepon tulang-ku yang lain di Jember untuk menanyakan kabar sekaligus mengundang (dan mengajak) beliau ke Medan untuk menghadiri partangiangan syukuran ulang tahun Mamak ini. Jawabannya: “Mohon ma’af, bere … saya sudah tidak yakin lagi bakal mampu meninggalkan Jember ini. Kondisi kesehatan saya semakin memburuk. Mungkin akibat serangan stroke yang dulu, malah sekarang Tulang menjadi pikun luar biasa …”.

Padahal, kehadiran mereka berdua sangat diharapkan dalam perayaan ini. Dan Mamak sudah memesankan sejak acara ini mulai dirancang untuk memastikan Tulang hadir. Hari Minggu yang lalu aku sudah menyampaikan kepada ito yang tinggal di Medan bahwa tudu-tudu sipanganon harus dipersiapkan untuk disampaikan oleh Tulang ini nantinya. Juga ulos untuk diberikan kepada Mamak.

Beberapa detik yang lalu aku menelepon Tulang untuk mengetahui kondisi terkini. Puji Tuhan, kondisi beliau sudah semakin membaik. Tergantung terapi yang akan dijalani besok. Kalau ada kemajuan, maka beliau akan ikut.

Doa dan harapanku, kedua Tulang itu semakin baik kondisi kesehatannya. Mamakku bisa bersukacita pada hari ulang tahunnya hari ini. Dan Sabtu nanti sukacita yang baru menyelimuti dan meliputi keluarga besar kami.

Andaliman-65 Khotbah 21 Maret 2010 Minggu Judika

Diuji, dan Dibenarkan Hanya di Dalam Kristus Karena Kasih Karunia

Nas Epistel: Kejadian 22: 9-14 (bahasa Batak: 1 Musa 22:9-14)

22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.

22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Nas Evangelium: Roma 3:21-26

3:21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi,

3:22 yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.

3:23  Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

3:24  dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

3:25  Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

3:26  Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Suatu kali aku menahan nafas ketika seorang motivator melontarkan pertanyaan kepada hadirin yang berasal dari berbagai kalangan sosial dan agama, “Menurut Anda, siapakah yang dikorbankan dan disembelih oleh Abraham alias nabi Ibrahim?”. Ini pertanyaan yang sensitif, dan segera saja terdengar jawaban sambil berteriak keras (kaum mayoritas) dan beberapa orang bersungut-sungut bahwa jawabannya akan menimbulkan reaksi negatif. Ada yang jawab “Ishak”, dan sebagian besar menjawab “Ismail”.  Dan aku kemudian merasa lega dan tertawa gembira ketika sang motivator menjawab, “Tidak ada jawaban yang benar. Bukan Ishak, dan bukan pula Ismail, karena tidak ada seorang pun yang akhirnya dikorbankan karena Tuhan hanya menguji imannya, dan menggantikan anak yang dikasihi tersebut dengan seekor domba”.

Begitulah yang seringkali terjadi dalam hidup keseharianku. Langsung merespon tanpa mencerna dan memahami terlebih dahulu pertanyaan. Dan juga persoalan yang aku hadapi. Seringkali dengan mudah aku memahami – atau persisnya “menghakimi” – suatu kesulitan sebagai pencobaan semata. Bahkan adakalanya dengan mudah mengutuki nasib (untungnya tidak sampai mengutuki Tuhan!) dengan menyimpulkan sendiri bahwa kesulitan yang sedang dihadapi adalah karena Tuhan tidak menyukaiku. Padahal, bisa jadi karena aku sedang diuji, dan itu adalah untuk meningkatkan kelas keimananku!

Aku tak sanggup membayangkan kalau aku harus menggantikan posisi Abraham manakala Tuhan memintaku untuk mengorbankan anakku. Jangankan anak, yang jauh lebih rendah nilainya daripada itu pun, aku pasti akan sangat sulit untuk mempersembahkannya. Jujur saja, untuk memberikan persembahan/kolekte sedikit lebih besar daripada yang biasanya saja seringkali dalam batinku terjadi “pertarungan sengit”. Bagaimana pula kalau lebih besar daripada itu?

Dan dalam sejarah Alkitab, memang terbukti hanya Allah yang mampu mempersembahkan anak satu-satu-Nya sebagai bagian dari sejarah penebusan manusia atas dosa-dosanya. Itu semua adalah karena kasih karunia, bukan karena kepantasan manusia, apalagi karena kehebatan manusia. Dan dengan gratis pula! Ingat, karena kemurahan Allah, bukan karena Allah murahan …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Allah telah menjanjikan berkat kepada Abraham berupa keturunan yang sangat banyak. Anehnya, Tuhan meminta Abraham untuk mengorbankan anak satu-satunya yang sudah lama ditunggu-tunggunya. Lebih aneh lagi, Abraham bersedia melakukannya! Tidak ada hal lain yang mendorongnya melakukan itu selain karena imannya kepada Tuhan.

Karena iman pulalah kita beroleh keselamatan dengan pengorbanan Yesus yang anak tunggal Allah – sebagaimana Ishak adalah anak tunggal Abraham – rela wafat di kayu salib sebagai penebus dosa kita. Bukan semata-mata karena perbuatan, melainkan kasih karunia Allah.

Punyakah kita iman seperti Abraham?

Nyepi di Bandung …

Setelah tanggal 01 Maret 2010 yang lalu serah-terima ala kadarnya, kemarin adalah hari pertamaku untuk permanen bertanggung jawab untuk wilayah penjualan di bawah kantor Bandung. Permanen, maksudnya sudah bertanggung jawab penuh sampai ada perintah pindah tugas berikutnya … Tanggal 01 yang lalu benar-benar timbang-terima yang sangat sekadarnya. Dan baru kali ini aku alami selama bekerja di perusahaan ini. Dalam dua hari yang tidak penuh, pemimpin yang lama hanya mengenalkanku pada anggota tim dan membawaku ke lokasi Distributor di Bandung dan Sukabumi. Salaman, lalu disampaikan, “Efektif hari ini yang akan menggantikan saya adalah bapak ini yang sudah pasti sangat Bapak kenal sebelumnya …”. Lalu komputer-jinjing alias laptop alias notebook diserahkan padaku. “Di dalamnya terdapat semua file yang selama ini aku pergunakan untuk bekerja. Silakan pelajari sendiri, karena saya juga sudah ditunggu untuk pekerjaan yang baru di Jakarta …”, demikianlah yang disampaikan oleh orang yang aku gantikan pada sore hari kedua sebelum beliau meninggalkan Kantor Bandung untuk bertugas di Jakarta.

Ya sudah, aku pun tak mau kecil hati. Toh semua bisa dipelajari, asalkan ada keinginan yang kuat. Besoknya (Rabu) aku minta semua anggota tim hadir jam delapan pagi. Rapat konsolidasi pertama. Aku tekankan untuk tidak dating terlambat (karena Senin sebelumnya aku lihat rapat dimulai terlambat sampai beberapa jam, dan semua santai saja seolah-olah tidak ada masalah …). Dan Rabu memang semua datang tepat waktu, hanya satu orang yang terlambat karena baru tiba dari Sukabumi. Tapi aku kembali menegaskan bahwa disiplin sangat penting bagiku. Jam delapan tepat, rapat aku mulai.

Minggu yang lalu aku serahterimakan pekerjaanku di Kantor Pusat kepada penggantiku. Satu minggu penuh, yaitu sejak Senin sampai Jum’at sesuai peraturan hari kerja di Kantor Pusat, dan Sabtunya aku memimpin rapat kecil di Kantor Wilayah dengan tiga orang anggota tim yang baru mengikuti pelatihan di Kantor Pusat. Dengan tepat waktu.

Dan sejak kemarin aku sudah berada kembali di Bandung. Fokus utama adalah mencari kontrakan untuk kantor dan rumah. Kantor yang sekarang kami tempati ternyata sudah habis masa kontraknya sejak Desember tahun lalu. Masih diberi kesempatan sampai 31 Maret 2010 ini untuk mencari penggantinya sesuai “ultimatum” surat Ketua RW yang menyatakan keberatan kami berkantor di lingkungan tersebut karena warga terganggu dengan aktivitas kantor kami selama ini (parkir dan jumlah orang yang relatif banyak lalu-lalang …). Sudah ada calon pengganti yang sempat dicari oleh pemimpin sebelumnya), tapi karena masih di lingkungan sekitar (dan kondisi bangunannya tidak sesuai menurutku dan anggota timku di sini …), maka aku putuskan untuk mencari yang lain di luar komplek yang ada sekarang.

Kemarin aku sudah melihat beberapa, dan hanya ada dua yang bisa dijadikan pilihan (sesuai kebutuhan dan sesuai pula dengan anggaran). Untuk kantor, aku sudah sedikit lega. Tinggal mencari untuk rumah kontrakan tempat kami nanti tinggal. Auli sudah menyampaikan kerinduannya untuk tinggal di rumah berlantai dua (entah dari mana pula inspirasi ini …), dekat dengan sekolahnya dan tempat les musiknya (melanjutkan yang selama ini diikutinya). Kemarin aku melihat lokasi yang pas adalah di daerah Batu Nunggal. Mudah-mudahan kerinduan Auli (yang juga pernah didaraskannya dalam do’a menjelang tidur) dapat terpenuhi.

Hari ini libur Nyepi alias Tahun Baru Saka. Sejak pagi tadi aku di kantor. Benar-benar menyepi karena kantor juga sepi. Sebelum sarapan di penginapan yang sederhana yang lokasinya dekat kantor (sehingga aku bisa berjalan kaki saja …) aku sudah menelepon Auli menanyakan kabarnya yang kami tinggalkan sejak kemarin. Aku ke Bandung dan mak Auli ke Medan menghadiri pasahat sulang-sulang pahompu dari keluarga ito-ku nomor empat. Rencananya Auli dan mak Auli akan ke Bandung bersama Jum’at nanti untuk menetapkan pilihan rumah yang akan kami kontrak.