Ketemu Kawan Lama, dan Calon Walikota

Di sela cuti pulang kampung di Medan, tanggal 07 Januari 2010 yang lalu aku diminta menyampaikan materi pelatihan di Hotel Santika Jakarta. Pesertanya adalah para Head of Area (supervisory level) yang baru direkrut oleh Nestle. Jadi, ini sebagai pembekalan bagi mereka sebelum diterjunkan menjadi penyelia lapangan di berbagai kota di seluruh Indonesia. Orang-orangnya muda-muda dan pintar-pintar, karena memang merekalah diharapkan untuk menjadi penerus dan memberikan kesegaran baru di bidang penjualan. Dibekali selama seminggu, aku ditugaskan untuk membekali mereka tentang hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan dengan Distributor. Aku rasa, cocok sekali sekaligus sebagai “pemanasan” setelah cuti panjang sebelum terjun kepada pekerjaan yang “sebenarnya”.

 

Usai sesi pertama, tibalah saatnya makan siang. Biasanya aku mencari tempat di meja tengah, dengan maksud agar dapat mengamat-amati kegiatan para peserta yang makan siang (yang biasanya mereka malah yang mendatangi mejaku untuk ’ngobrol-’ngobrol menanyakan pengalamanku bergaul dengan Distributor …). Kali ini tidak seperti biasanya. Aku duduk menyendiri dan mengambil posisi agak ke pinggir (mungkin karena lama istirahat dari kegiatan ”jualan obat”, aku menjadi merasa cepat letih.

 

Ketika asyik menikmati makan siang dan melihat-lihat para peserta bersenda gurau dengan makan siangnya, tiba-tiba aku melihat ada orang yang mendatangiku sambil tersenyum. Karena tidak familiar dengan wajahnya, aku menjadi ragu untuk membalas senyumannya, dan dengan ragu-ragu melihat sekelilingku siapa tahu senyuman tersenyum memang bukan ditujukan padaku (malu ’kan …). Eh, orang tersebut malah semakin mendekat ke mejaku. Dan dengan mantap berkata, ”Pasti sudah lupa samaku”.

 

Dengan ragu aku pun menjawab dan bertanya, ”Ma’af, aku memang tidak ingat. Di mana kita pernah bertemu, ya?” . Lalu orang tersebut menjelaskan tentang dirinya dan yang segera saja membuatku menjadi ingat siapa dia. ”Kita dulu bertetangga di Medan. Sering main bola kaki bersama. Aku sekelas dengan abangmu, si Lolo. Namaku Gogo …”

 

Setelah menanyakan kabar, dan menjelaskan keperluanku di hotel itu, dia pun bercerita, ”Aku tahu kabarmu dari si Eddy, kawanku satu kampus di Fakultas Pertanian UISU. Dia banyak bercerita tentang dukunganmu padanya sehingga usahanya menjadi sangat maju. Aku ada di Jakarta ini sebagai tim sukses pak Pohan. Kenal, kan? Beliau mencalonkan diri sebagai walikota Medan. Sebaiknya kita dukung supaya terjadi perubahan di Medan. Tidak seperti sekarang ini, masak walikota dan wakilnya sama-sama masuk penjara, malu ’kan?”.

 

Karena baru saja tiba dari Medan, aku pun punya pandangan tentang pilkada dan calon-calonnya. Dengan lancar aku bercerita bahwa sudah ada calon yang gencar berkampanye dengan tampil di banyak baliho di kota Medan. Salah satunya adalah pasangan calon yang sekarang menjadi rektor perguruan tinggi swasta di Medan (mohon ma’af, aku lupa sama sekali siapa namanya …). Juga ada beberepa pasangan lain yang ”malu-malu kucing” dengan poster berbagai ukuran yang terkesan apa adanya (karena belum yakin dengan parpol yang akan mendukungnya, barangkali …). Lalu pak Rudolf Pardede, sang mantan wakil gubernur Sumatera Utara yang juga sekaligus mantan Gubernur Sumatera Utara yang menurutku paling punya kans untuk saat itu. Sebab selain pengalaman, dari segi finansial – karena anak almarhum orang terkaya di Sumut pada era yang lalu –  tentulah beliau paling berjaya.

 

Argumentasiku ini berusaha dipatahkan oleh kawanku itu. Mungkin itu suatu syarat mutlak tim sukses, ya? Harus mendukung calonnya, bila perlu secara membabi-buta …

 

Tak lama kemudian dia pamit setelah meminta nomor ponselku dan memberikan nomor ponselnya. Aku pun melanjutkan makan siangku sambil mengingat-ingat pengalamanku kami dulu waktu di Medan. Sebagai orang Aceh dan muslim, tentu saja keluarga mereka menjadi ”makhluk aneh” bagi kami yang anak-anak Batak dan (puji Tuhan!) Kristen pula. Secara kasat mata, status sosial mereka lebih tinggi daripada kami. Ini terlihat dari rumah mereka yang lebih teratur dan bersih sebagaimana juga mereka dalam kesehariannya. Berpakaian lebih rapi dan punya jadual makan, mandi sore, nonton teve, dan belajar yang teratur. Pertemanan kami lebih banyak disebabkan oleh kegiatan bermain bola a la ”kaki-ayam”. Dan aku tahu persis mereka (dia dan abangnya) boleh ikut bermain bola karena berharap mereka akan mengajak kami singgah ke rumahnya untuk minum air es dalam botol yang diambil dari kulkas. Sesuatu yang sangat mahal bagi kami saat itu. Itu kalau bermain di lapangan dekat rumah mereka. Kalau jauh? Ternyata mereka masih punya ”nilai tambah”, karena punya uang jajan yang lebih banyak, maka mereka diharapkan (tepatnya: sedikit dipaksa!) untuk membayar uang taruhan kalau gawang kami kemasukan gol. Oleh sebab itu, mereka menjadi rebutan untuk masuk dalam tim. Biasanya, pemimpin kelompok mengajak untuk ikut masuk dalam tim masing-masing. Dan ini sering berpotensi menjadi keributan karena saling memperebutkan. Kalau sudah begini, biasanya diambil jalan-tengah. Yang satu kebagian dia, satunya lagi kebagian abangnya …

 

Mengingat itu aku menjadi tersenyum. Kabar yang aku dengar, dia kemudian menikah dengan teman sekampusnya yang puteri kolonel, pejabat militer di Kodam Bukit Barisan. Bagaimana kehidupannya selanjutnya, ada yang bilang tidak tamat kuliah dan kemudian bercerai, aku tidak terlalu mengetahuinya. Menjadi tim sukses calon walikota Medan tetap saja mengejutkan bagiku. Selain karena ketemu denggannya yang sudah lebih sepuluh tahun tidak bertemu, tentunya.

 

Tak lama kemudian, pikiranku pun kembali beralih pada kegiatan pelatihan hari itu, dengan mengingat dan membayangkan-kembali materi dalam bentuk slides yang nantinya akan aku sampaikan. Eh, tiba-tiba ada lagi yang mendatangiku. Kawanku yang tadi, tapi kali ini bersama seseorang dengan senyum sumringah berkemeja batik. ”Ini dia pak, kawanku orang Medan yang tadi aku ceritakan …” . Lalu pria berkemeja batik itu mengulurkan tangannya, ”Perkenalkan, saya Maulana Pohan, temannya Gogo”. Bah, tentu saja aku terkejut. Sang calon walikota!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s