Andaliman-65 Khotbah 21 Maret 2010 Minggu Judika

Diuji, dan Dibenarkan Hanya di Dalam Kristus Karena Kasih Karunia

Nas Epistel: Kejadian 22: 9-14 (bahasa Batak: 1 Musa 22:9-14)

22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

22:13 Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.

22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: “TUHAN menyediakan”; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: “Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Nas Evangelium: Roma 3:21-26

3:21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi,

3:22 yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.

3:23  Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

3:24  dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

3:25  Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.

3:26  Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Suatu kali aku menahan nafas ketika seorang motivator melontarkan pertanyaan kepada hadirin yang berasal dari berbagai kalangan sosial dan agama, “Menurut Anda, siapakah yang dikorbankan dan disembelih oleh Abraham alias nabi Ibrahim?”. Ini pertanyaan yang sensitif, dan segera saja terdengar jawaban sambil berteriak keras (kaum mayoritas) dan beberapa orang bersungut-sungut bahwa jawabannya akan menimbulkan reaksi negatif. Ada yang jawab “Ishak”, dan sebagian besar menjawab “Ismail”.  Dan aku kemudian merasa lega dan tertawa gembira ketika sang motivator menjawab, “Tidak ada jawaban yang benar. Bukan Ishak, dan bukan pula Ismail, karena tidak ada seorang pun yang akhirnya dikorbankan karena Tuhan hanya menguji imannya, dan menggantikan anak yang dikasihi tersebut dengan seekor domba”.

Begitulah yang seringkali terjadi dalam hidup keseharianku. Langsung merespon tanpa mencerna dan memahami terlebih dahulu pertanyaan. Dan juga persoalan yang aku hadapi. Seringkali dengan mudah aku memahami – atau persisnya “menghakimi” – suatu kesulitan sebagai pencobaan semata. Bahkan adakalanya dengan mudah mengutuki nasib (untungnya tidak sampai mengutuki Tuhan!) dengan menyimpulkan sendiri bahwa kesulitan yang sedang dihadapi adalah karena Tuhan tidak menyukaiku. Padahal, bisa jadi karena aku sedang diuji, dan itu adalah untuk meningkatkan kelas keimananku!

Aku tak sanggup membayangkan kalau aku harus menggantikan posisi Abraham manakala Tuhan memintaku untuk mengorbankan anakku. Jangankan anak, yang jauh lebih rendah nilainya daripada itu pun, aku pasti akan sangat sulit untuk mempersembahkannya. Jujur saja, untuk memberikan persembahan/kolekte sedikit lebih besar daripada yang biasanya saja seringkali dalam batinku terjadi “pertarungan sengit”. Bagaimana pula kalau lebih besar daripada itu?

Dan dalam sejarah Alkitab, memang terbukti hanya Allah yang mampu mempersembahkan anak satu-satu-Nya sebagai bagian dari sejarah penebusan manusia atas dosa-dosanya. Itu semua adalah karena kasih karunia, bukan karena kepantasan manusia, apalagi karena kehebatan manusia. Dan dengan gratis pula! Ingat, karena kemurahan Allah, bukan karena Allah murahan …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Allah telah menjanjikan berkat kepada Abraham berupa keturunan yang sangat banyak. Anehnya, Tuhan meminta Abraham untuk mengorbankan anak satu-satunya yang sudah lama ditunggu-tunggunya. Lebih aneh lagi, Abraham bersedia melakukannya! Tidak ada hal lain yang mendorongnya melakukan itu selain karena imannya kepada Tuhan.

Karena iman pulalah kita beroleh keselamatan dengan pengorbanan Yesus yang anak tunggal Allah – sebagaimana Ishak adalah anak tunggal Abraham – rela wafat di kayu salib sebagai penebus dosa kita. Bukan semata-mata karena perbuatan, melainkan kasih karunia Allah.

Punyakah kita iman seperti Abraham?

Iklan

9 comments on “Andaliman-65 Khotbah 21 Maret 2010 Minggu Judika

  1. Horas Amang, saya heran setiap membaca tulisan Amang. Biasanya Khotbah itu harus diambil dari Evangelium apalagi kalau untuk khotbah hari Minggu kecuali hari lain selain hari Minggu atau hari besar lainnya. Apakah maksudnya tersebut???

    • Terima kasih untuk tanggapan yang sudah diberikan. Salah satu semangat yang ingin aku raih untuk “Andaliman” adalah mencari benang merah antara Ev dan Ep. Memang benar, kalau Ibadah Minggu nas yang dikhotbahkan adalah Ev. Sebaliknya, di partangiangan wejk (persekutuan wilayah setiap minggu) yang dkhotbahkan adalah nas perikop Ep dengan cara mempertukarkan satu sama lain.

      Nah, “Andaliman” ini aku harapkan dapat membantu warga jemaat sebagai bekal dalam mengikuti khotbah, baik di Ibadah Minggu maupun partangiangan wejk; karena biasanya (baca: kecenderungan) pembawa firman adalah hanya membahas nas khotbah, bukan menghubungkan antara Ep dan Ev. Padahal keindahan khotbah adalah apabila pengkhotbah dapat melihat ketersambungan Ep dan Ev sebagaimana mungkin dimaksud oleh pembuat Almanak HKBP itu sendiri.

      Horas!

  2. Menurut saya ada baiknya dalam kotbah antara epistel dan evangelium ada benang merahnya. Karena itu dibuat pasti ada hubungannya. Dan bagi orang muda seperti saya, membaca tulisan amang lebih mudah dicerna. Apalagi disela2 tulisan ada kesaksian dari penulis. Semoga tulisan amang selalu diberkati Tuhan.Horas

  3. Sangat setuju, ito. Dan itulah salah satu yang selalu aku upayakan dalam “Andaliman” yang kecil dan sederhana ini. Sekadar info, salah satu “kekayaan” HKBP adalah Almanak yang ternyata belum semua denominasi memilikinya. Sayangnya nas Ep dan nas Ev seringkali tidak sejalan dengan pengertian yang sebenarnya, yaitu Ep harusnya diambil dari surat-surat rasuli (Korintus, Roma, Galatia, Filipi, dll) dan Ev dari Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes).

    Horas!

  4. horas
    halo amang, hami sian kepri/batam, naeng memesan BE dht Bible terbitan Yasuma. Ninna boi do sian hamu hami memesan. ate na toho do i? molo boi do sadia ma argana, ai antar miduk do angka ruasta na naeng marnampubahon sisongon i. Mohon konfirmasina amang. Mauliate

  5. horas Amang,

    Seingat saya, pada awalnya epistel memang diambil dari surat rasul, tapi tidak lagi. Juga, nas epistel dikhotbahkan terpisah sebagai pengantar untuk khotbah dari nas evangelium. Jadi ada 2 khotbah setiap minggunya. Tapi kemudian nas epistel cukup dikhotbahkan pada ‘partangiangan’, itu sebabnya sering pengkhotbah mengatakan ‘seperti yang akan kita dengar pada hari minggu nanti’. Keduanya memiliki benang merah, tapi saya rasa fungsi/kedudukannya dalam ibadah tidak sama.
    salam hangat.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s