Salamat Ulang Taon, da Inong!

Hari ini Mamak kami – satu dari tiga perempuan perkasa dalam hidupku – berulang tahun ke-75. Puji Tuhan! Beliau masih diberi umur panjang dan bertambah satu tahun lagi hari ini. Pagi-pagi sekali tadi aku menelepon ke Medan mengucapkan selamat ulang tahun sekaligus menanyakan kabar hari ini. Suaranya terdengar kurang semangat, mungkin karena baru bangun dan dibangunkan lebih pagi. Sempat aku ragu dan meminta pangurupi yang menerima panggilan telepon untuk tidak usah membangunkan. “Tak apa, Tulang, Tadi pun ompung sudah pesan untuk dibangunkan kalau ada telepon …”, katanya sambil meletakkan telepon lalu memanggil ke kamar. Lalu kami ‘ngobrol sejenak. Mamak menanyakan untuk memastikan kedatanganku akhir minggu ini ke Medan.

Ya, Sabtu nanti kami sekeluarga berencana mengadakan ibadah syukuran ulang tahun ke-75 di rumah di Medan. Panitia kecil telah dibentuk Juli tahun lalu saat aku bertugas ke Medan, lalu dimatangkan akhir tahun lalu ketika aku cuti di Medan. Ada beberapa perubahan yang dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi termutakhir.

Pagi tadi pun aku sudah memesan tiket ke Medan. Air Asia, karena satu-satunya maskapai penerbangan yang melayani jalur Bandung-Medan. Saat di kantor penerbangan tersebut (di Hotel Serela) petugasnya memberi penjelasan, ada beberapa “keunikan” yang aku rasakan: tiketnya hanya kertas selembar, bayar enam puluh ribu rupiah kalau ada bagasi (karena cuma tujuh kilo sebagai batas tentengan yang bisa dibawa ke kabin), dilarang membawa makanan dan minuman (karena sudah disediakan oleh crew di pesawat, namun penumpang harus membeli), dan slip pembayaran dengan kartu kreditku pun tak perlu aku tandatangani …

Di boncengan sepeda motor, ponselku berdering. Ternyata dari salah seorang ito-ku, lalu aku katakan bahwa nanti akan aku telepon karena suaranya tidak jelas terdengar. Saat tiba di kantor, lalu aku menelepon-balik. Ternyata si ito memberi tahu bahwa tulang si ampudan yang tinggal di Bekasi terkena stroke ringan dan sebagian badannya sudah lumpuh. Duh! Padahal abangku tertua kemarin menelepon dari Jakarta bahwa tulang tersebut terkena tifus. Mungkin karena tekanan darah yang sangat rendah akibat tifus menyebabkan stroke?

Satu hari sebelumnya aku menelepon tulang-ku yang lain di Jember untuk menanyakan kabar sekaligus mengundang (dan mengajak) beliau ke Medan untuk menghadiri partangiangan syukuran ulang tahun Mamak ini. Jawabannya: “Mohon ma’af, bere … saya sudah tidak yakin lagi bakal mampu meninggalkan Jember ini. Kondisi kesehatan saya semakin memburuk. Mungkin akibat serangan stroke yang dulu, malah sekarang Tulang menjadi pikun luar biasa …”.

Padahal, kehadiran mereka berdua sangat diharapkan dalam perayaan ini. Dan Mamak sudah memesankan sejak acara ini mulai dirancang untuk memastikan Tulang hadir. Hari Minggu yang lalu aku sudah menyampaikan kepada ito yang tinggal di Medan bahwa tudu-tudu sipanganon harus dipersiapkan untuk disampaikan oleh Tulang ini nantinya. Juga ulos untuk diberikan kepada Mamak.

Beberapa detik yang lalu aku menelepon Tulang untuk mengetahui kondisi terkini. Puji Tuhan, kondisi beliau sudah semakin membaik. Tergantung terapi yang akan dijalani besok. Kalau ada kemajuan, maka beliau akan ikut.

Doa dan harapanku, kedua Tulang itu semakin baik kondisi kesehatannya. Mamakku bisa bersukacita pada hari ulang tahunnya hari ini. Dan Sabtu nanti sukacita yang baru menyelimuti dan meliputi keluarga besar kami.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s