Andaliman-66 Khotbah 28 Maret 2010 Minggu Palmarum

Persembahkanlah Selalu yang Terbaik kepada Tuhan

Nas Epistel: Imamat 23:39-44 (bahasa Batak: 3 Musa 23:39-44)

23:39 Akan tetapi pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya; pada hari yang pertama haruslah ada perhentian penuh dan juga pada hari yang kedelapan harus ada perhentian penuh.

23:40 Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya.

23:41 Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya.

23:42 Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun,

23:43 supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah TUHAN, Allahmu.”

23:44 Demikianlah Musa menyampaikan kepada orang Israel firman tentang hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN.

Nas Evangelium: Markus 14:3-9

14:3           Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.

14:4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?

14:5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu.

14:6 Tetapi Yesus berkata: /”Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.*

14:7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.*

14:8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.*

14:9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”*

Setelah membolak-balik dan membaca berulang-ulang, pesan yang akan disampaikan oleh kedua perikop ini adalah tentang memberikan sesuatu alias persembahan. Nas Ep yang diambil dari Perjanjian Lama adalah dengan latar belakang bangsa Israel, sedangkan nas Ev dikutip dari Perjanjian Baru. Keduanya mengajarkan bahwa pemberian haruslah yang terbaik. Kepada Tuhan, pun kepada sesama manusia.

Memberikan bukan yang terbaik, adalah hal yang sangat sering aku lakukan. Apalagi dulu, sekarang sudah lebih baik (sedikit, tapi yang penting ada kemajuan, ‘kan? Salah satunya adalah bila ada acara makan bersama di rumah. Kalau dulu, yang tersisa (setelah para tamu pulang …) yang akan kami berikan kepada petugas satpam; kalau sekarang kami memang sudah mengalokasikannya buat mereka sejak awal. Bahkan kadangkala kami ajak ikut makan bersama.

Di gereja, juga masih terdapat praktik yang hampir sama. Masih ada warga jemaat yang memberikan suatu barang ke gereja setelah dia tidak memerlukannya lagi. Misalnya memberikan komputer (personal computer) yang masih dengan aplikasi lawas karena sudah memiliki laptop dengan aplikasi Windows Vista. Gereja menerima saja  komputer tersebut karena memang belum memiliki perangkat yang lebih maju tersebut pada saat itu.

Di rumah, aku juga sudah memulai semangat untuk memberikan yang terbaik. Kepada Auli anakku, selalu aku ingatkan untuk memberikan miliknya (mainan, misalnya) jika ada beberapa unit, selagi masih baru. Bukan setelah dia bosan memilikinya dan tidak memerlukannya lagi. Memang seringkali terlihat rona sedih dan keberatan di wajahnya, tetapi seketika menjadi sirna ketika aku memberitahukan bahwa anak-anak yang akan menerimanya pasti lebih berbahagia bila mendapatkan mainan dalam kondisi yang lebih baik dan sama seperti yang dimilikinya.

Godaan untuk tidak memberikan yang terbaik memang masih seringkali menghinggapi diriku. Tetapi kekuatannya berangsur-angsur menurun setelah makin terbiasa melakukan pemberian yang terbaik. Misalnya ketika pertama kali memberikan baju untuk kenang-kenangan. Saat akan pindah dari Palembang, di rumah kami ada anak muda yang tinggal bertahun-tahun yang sudah kami anggap sebagai anggota keluarga sendiri. Ketika akan pindah, aku berikan kesempatan baginya untuk melihat lemari pakaianku dan memilih beberapa potong kemeja yang terbaik sesuai yang dikehendakinya sebagai kenang-kenangan. Semula dia heran – juga mak Auli, istriku yang tidak menduga aku akan melakukan yang seperti itu karena dia juga sudah menyiapkan kemeja yang akan diberikan sebelumnya – dan memintaku untuk memilih dan memberikan saja padanya. Tapi aku menolak, dan setengah memaksa untuk dia pilih sendiri. Tahu bagaimana situasinya saat itu? Kami – aku dan mak Auli – menahan nafas saat anak muda tersebut memilih-milih dan akhirnya menentukan kemeja yang akan dimintanya. Tentu saja yang dipilihnya adalah yang terbaik! Dan itu adalah sedikit dari kemeja yang menjadi kesukaanku! Tetapi kami kemudian lega dan tersenyum bahagia manakala melihat dan menyaksikan rasa sukacita anak muda saat menerima pemberian kenang-kenangan tersebut …

Apakah pemberian terbaik selalu mendatangkan sukacita? Tidak selalu! Berdasarkan pengalamanku, meskipun aku sangat bersukacita, ternyata belum tentu pada orang lain. Sama seperti yang tercantum dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Sudah jelas-jelas Yesus sangat bersukacita menerima persembahan minyak narwastu dari perempuan tersebut (dalam tradisi Gereja ada yang menyebutkan perempuan itu sebagai Maria Magdalena), dari kalangan terdekat-Nya sendiri (dalam tradisi Gereja ada yang menyebutkan orang itu sebagai Yudas Iskariot) terdengar protes. Alasannya sih kelihatan masuk akal, tapi motivasi di baliknya mungkin saja sangat berbeda.

Betapa sering terdengar bahwa warga jemaat kapok untuk memberikan sesuatu kepada Gereja karena bersamaan dengan itu selalu terdengar nada sinis dari warga gereja yang lainnya. “Ah, sok-sokan dia itu”, “Apalah itu baginya. Cuma segitu aja yang dia berikan, padahala masih lebih banyak lagi dari itu yang bisa diberikannya”, adalah contoh tanggapan sinis yang seringkali terdengar sebagai tanggapan akan pemberian tersebut. Dan itu aku rasakan juga. Namun, hatiku selalu menjadi terhibur manakala ada suara dari dalam yang mengingatkanku untuk selalu menjaga motivasi pemberian tersebut, bahwa itu aku lakukan hanyalah untuk kemuliaan Tuhan. Bukan untuk puja-puji dari orang-orang.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Minggu Palmarum ini selalu mengingatkan kita untuk bersukacita menyambut kedatangan Yesus sang juru selamat. Dan persembahan adalah bagian dari rasa syukur dan perwujudan sukacita tersebut. Untuk itulah, dalam ibadah yang mengiringi ritual persembahan selalu diingatkan bahwa kita harus memberikannya dengan sukacita. Bukan karena besarnya pemberian, melainkan motivasi pemberiannya itulah yang utama.

Jawaban Yesus yang besar kemungkinan mengagetkan sang penanya, memberikan pesan bahwa ada saatnya memberi bukan untuk orang yang memang berkekurangan. Padahal selama ini dalam pikiran para pendengarnya saat itu (yang juga tidak jauh bedanya dengan situasi dan kondisi zaman sekarang …), memberi dilakukan bagi orang yang memang membutuhkannya karena tidak memilikinya. Tapi untuk Yesus? Apakah Yesus kekurangan? Sudah pasti tidak!

Di sisi yang lain, jawaban Yesus tersebut bisa disalahpengertiankan bahwa Yesus bukanlah tokoh yang pro pada orang miskin.

Nah, bolehlah itu didiskusikan pada partangiangan wejk minggu ini …

Persembahkanlah Selalu yang Terbaik kepada Tuhan

Nas Epistel: Imamat 23:39-44 (bahasa Batak: 3 Musa 23:39-44)

23:39 Akan tetapi pada hari yang kelima belas bulan yang ketujuh itu pada waktu mengumpulkan hasil tanahmu, kamu harus mengadakan perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya; pada hari yang pertama haruslah ada perhentian penuh dan juga pada hari yang kedelapan harus ada perhentian penuh.

23:40 Pada hari yang pertama kamu harus mengambil buah-buah dari pohon-pohon yang elok, pelepah-pelepah pohon-pohon korma, ranting-ranting dari pohon-pohon yang rimbun dan dari pohon-pohon gandarusa dan kamu harus bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, tujuh hari lamanya.

23:41 Kamu harus merayakannya sebagai perayaan bagi TUHAN tujuh hari lamanya dalam setahun; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun. Dalam bulan yang ketujuh kamu harus merayakannya.

23:42 Di dalam pondok-pondok daun kamu harus tinggal tujuh hari lamanya, setiap orang asli di Israel haruslah tinggal di dalam pondok-pondok daun,

23:43 supaya diketahui oleh keturunanmu, bahwa Aku telah menyuruh orang Israel tinggal di dalam pondok-pondok selama Aku menuntun mereka sesudah keluar dari tanah Mesir, Akulah TUHAN, Allahmu.”

23:44 Demikianlah Musa menyampaikan kepada orang Israel firman tentang hari-hari raya yang ditetapkan TUHAN.

Nas Evangelium: Markus 14:3-9

14:3           Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.

14:4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?

14:5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu.

14:6 Tetapi Yesus berkata: /”Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.*

14:7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.*

14:8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.*

14:9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”*

Setelah membolak-balik dan membaca berulang-ulang, pesan yang akan disampaikan oleh kedua perikop ini adalah tentang memberikan sesuatu alias persembahan. Nas Ep yang diambil dari Perjanjian Lama adalah dengan latar belakang bangsa Israel, sedangkan nas Ev dikutip dari Perjanjian Baru. Keduanya mengajarkan bahwa pemberian haruslah yang terbaik. Kepada Tuhan, pun kepada sesama manusia.

Memberikan bukan yang terbaik, adalah hal yang sangat sering aku lakukan. Apalagi dulu, sekarang sudah lebih baik (sedikit, tapi yang penting ada kemajuan, ‘kan? Salah satunya adalah bila ada acara makan bersama di rumah. Kalau dulu, yang tersisa (setelah para tamu pulang …) yang akan kami berikan kepada petugas satpam; kalau sekarang kami memang sudah mengalokasikannya buat mereka sejak awal. Bahkan kadangkala kami ajak ikut makan bersama.

Di gereja, juga masih terdapat praktik yang hampir sama. Masih ada warga jemaat yang memberikan suatu barang ke gereja setelah dia tidak memerlukannya lagi. Misalnya memberikan komputer (personal computer) yang masih dengan aplikasi lawas karena sudah memiliki laptop dengan aplikasi Windows Vista. Gereja menerima saja  komputer tersebut karena memang belum memiliki perangkat yang lebih maju tersebut pada saat itu.

Di rumah, aku juga sudah memulai semangat untuk memberikan yang terbaik. Kepada Auli anakku, selalu aku ingatkan untuk memberikan miliknya (mainan, misalnya) jika ada beberapa unit, selagi masih baru. Bukan setelah dia bosan memilikinya dan tidak memerlukannya lagi. Memang seringkali terlihat rona sedih dan keberatan di wajahnya, tetapi seketika menjadi sirna ketika aku memberitahukan bahwa anak-anak yang akan menerimanya pasti lebih berbahagia bila mendapatkan mainan dalam kondisi yang lebih baik dan sama seperti yang dimilikinya.

Godaan untuk tidak memberikan yang terbaik memang masih seringkali menghinggapi diriku. Tetapi kekuatannya berangsur-angsur menurun setelah makin terbiasa melakukan pemberian yang terbaik. Misalnya ketika pertama kali memberikan baju untuk kenang-kenangan. Saat akan pindah dari Palembang, di rumah kami ada anak muda yang tinggal bertahun-tahun yang sudah kami anggap sebagai anggota keluarga sendiri. Ketika akan pindah, aku berikan kesempatan baginya untuk melihat lemari pakaianku dan memilih beberapa potong kemeja yang terbaik sesuai yang dikehendakinya sebagai kenang-kenangan. Semula dia heran – juga mak Auli, istriku yang tidak menduga aku akan melakukan yang seperti itu karena dia juga sudah menyiapkan kemeja yang akan diberikan sebelumnya – dan memintaku untuk memilih dan memberikan saja padanya. Tapi aku menolak, dan setengah memaksa untuk dia pilih sendiri. Tahu bagaimana situasinya saat itu? Kami – aku dan mak Auli – menahan nafas saat anak muda tersebut memilih-milih dan akhirnya menentukan kemeja yang akan dimintanya. Tentu saja yang dipilihnya adalah yang terbaik! Dan itu adalah sedikit dari kemeja yang menjadi kesukaanku! Tetapi kami kemudian lega dan tersenyum bahagia manakala melihat dan menyaksikan rasa sukacita anak muda saat menerima pemberian kenang-kenangan tersebut …

Apakah pemberian terbaik selalu mendatangkan sukacita? Tidak selalu! Berdasarkan pengalamanku, meskipun aku sangat bersukacita, ternyata belum tentu pada orang lain. Sama seperti yang tercantum dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Sudah jelas-jelas Yesus sangat bersukacita menerima persembahan minyak narwastu dari perempuan tersebut (dalam tradisi Gereja ada yang menyebutkan perempuan itu sebagai Maria Magdalena), dari kalangan terdekat-Nya sendiri (dalam tradisi Gereja ada yang menyebutkan orang itu sebagai Yudas Iskariot) terdengar protes. Alasannya sih kelihatan masuk akal, tapi motivasi di baliknya mungkin saja sangat berbeda.

Betapa sering terdengar bahwa warga jemaat kapok untuk memberikan sesuatu kepada Gereja karena bersamaan dengan itu selalu terdengar nada sinis dari warga gereja yang lainnya. “Ah, sok-sokan dia itu”, “Apalah itu baginya. Cuma segitu aja yang dia berikan, padahala masih lebih banyak lagi dari itu yang bisa diberikannya”, adalah contoh tanggapan sinis yang seringkali terdengar sebagai tanggapan akan pemberian tersebut. Dan itu aku rasakan juga. Namun, hatiku selalu menjadi terhibur manakala ada suara dari dalam yang mengingatkanku untuk selalu menjaga motivasi pemberian tersebut, bahwa itu aku lakukan hanyalah untuk kemuliaan Tuhan. Bukan untuk puja-puji dari orang-orang.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Minggu Palmarum ini selalu mengingatkan kita untuk bersukacita menyambut kedatangan Yesus sang juru selamat. Dan persembahan adalah bagian dari rasa syukur dan perwujudan sukacita tersebut. Untuk itulah, dalam ibadah yang mengiringi ritual persembahan selalu diingatkan bahwa kita harus memberikannya dengan sukacita. Bukan karena besarnya pemberian, melainkan motivasi pemberiannya itulah yang utama.

Jawaban Yesus yang besar kemungkinan mengagetkan sang penanya, memberikan pesan bahwa ada saatnya memberi bukan untuk orang yang memang berkekurangan. Padahal selama ini dalam pikiran para pendengarnya saat itu (yang juga tidak jauh bedanya dengan situasi dan kondisi zaman sekarang …), memberi dilakukan bagi orang yang memang membutuhkannya karena tidak memilikinya. Tapi untuk Yesus? Apakah Yesus kekurangan? Sudah pasti tidak!

Di sisi yang lain, jawaban Yesus tersebut bisa disalahpengertiankan bahwa Yesus bukanlah tokoh yang pro pada orang miskin.

Nah, bolehlah itu didiskusikan pada partangiangan wejk minggu ini …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s