Andaliman-69 Khotbah 18 April 2010 Minggu Miserikordias Domini

Hidup ini indah, koq … Tinggal ’gimana kita mensyukurinya aja.

Nas Epistel: Ratapan 3:22-26 (bahasa Batak: Andung 3:22-26)

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

Nas Evangelium: Lukas 17:11-19

17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea.

17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh

17:13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.

17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,

17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.

17:17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?

17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”

17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Belakangan hari ini – terutama di kalangan keluarga dan jemaat – semakin sering saja aku mendengar keluhan, jawaban tentang betapa sulitnya untuk melakukan sesuatu, dan hal-hal lain yang cenderung bersifat negatif daripada  positif. Di tim penjualan kami yang menjadi wilayah tanggung jawabku pun minggu lalu aku banyak mendengar. “Tidak bisa, pak kita mencapai hal itu. Sulit banget pak kalau harus mengerjakan seperti itu”, adalah beberapa kalimat di antaranya yang mengantarkanku pada sikap mulai tidak sabaran. Karena tidak juga memberikan alternatif solusi – hanya keluhan semata-mata – maka aku pun dengan tegas mengatakan, “Jangan hanya mengeluh. Dan jangan Tanya kenapa begini dan kenapa harus begitu. Daripada menghabiskan waktu dan energi hanya mengeluh, lebih baik kita fokus pada solusi dan bagaimana mencapai apa yang harus kita capai”. Yang penting adalah keyakinan bahwa apa yang akan dilakukan adalah yang terbaik, menurutku begitu.

Di jemaat juga terjadi hal yang sama. Sebagai bagian dari Panitia Jubileum, tentu saja aku terlibat dalam rapat-rapat dan percakapan-percakapan yang berhubungan dengan strategi dan tindakan yang harus dilakukan untuk menyukseskan kegiatan besar ini. Dan ucapan pesimis dan lontaran kata “tidak bisa” (apalagi menyangkut dana …) adalah seakan-akan menjadi santapan rutinku. Hanya segelintir yang memiliki sikap optimis, salah satu di antaranya mengatakan, “Jangan kita membatasi kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Kita kerjakan saja semampu kita, dan kita harus meyakini bahwa Tuhan akan bekerja untuk mencukupi apa yang benar-benar kita butuhkan. Jangan pesimis!”. Kalimat inilah yang paling aku suka dan aku harapkan muncul dari orang-orang dalam menghadapi setiap masalah dan setiap keadaan. Masih ada Tuhan sebagai sumber pengharapan. Biarkan Dia yang bekerja setelah kita melakukan upaya maksimal. Dan bersyukurlah selalu dalam setiap keadaan. Dalam masa-masa sukar, apalagi setelah menerima berkat kelimpahan.

Itulah yang terjadi pada salah seorang buta yang telah disembuhkan Yesus. Bersama kawan-kawannya yang lain, dia berharap akan kesembuhan dari Tuhan. Dan memanfaatkan kesempatan saat bertemu Yesus pada suatu hari. Tentu saja Yesus menyembuhkan. Namun apa yang terjadi? Hanya seorang yang kembali kepada Yesus untuk mengucap syukur atas kesembuhannya. Dialah orang Samaria, yang saat itu dianggap lebih rendah kelasnya daripada orang Ibrani sendiri. Dan ini mengingatkanku betapa seringnya aku melakukan hal yang sama: lupa bersyukur kepada Tuhan setelah berhasil melampaui suatu masa sulit dan menerima berkat dari Tuhan. Ingat Tuhan hanya pada masa sulit, dan lupa setelah badai berlalu …

Pesan itulah yang coba disampaikan oleh kedua perikop yang menjadi nas Ep dan Ev Minggu ini sebagai pengantar Minggu Miserikordias Domini yang berarti “bumi ini penuh berkat dan karunia Tuhan”.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jujur saja, tidak banyak orang yang pada kenyataannya mampu bersikap sama dengan orang Samaria yang buta dan yang kemudian disembuhkan oleh Yesus sebagaimana diceritakan dalam perikop Ev Minggu ini. Umumnya orang-orang lebih cenderung melihat dan berkutat dalam masalah yang sedang dihadapi daripada sebaliknya keluar dan mengatasi masalah tersebut.

Inilah saatnya bagi kita untuk kembali dengan berani mengatakan, “Hai masalah, aku punya Tuhan yang lebih besar daripadamu”, untuk menggantikan perkataan, “Waduh, aku punya masalah besar, nih!”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s