Andaliman-74 Khotbah 23 Mei 2010 Minggu Pentakosta 1

Akal Budi untuk Memahami Mujizat dan Nubuatan

Nas Epistel: Ibrani 8:8-13 (bahasa Batak Heber 8:8-13)

8:8 Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: “Sesungguhnya, akan datang waktunya,” demikianlah firman Tuhan, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda,

8:9 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjian-Ku, dan Aku menolak mereka,” demikian firman Tuhan.

8:10 “Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,” demikianlah firman Tuhan. “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

8:11 Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku.

8:12 Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.”

8:13 Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.

Nas Evangelium: Joel 3:1-5/ Joel 2:28-32

2:28 “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan.

2:29 Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu.

2:30 Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap.

2:31 Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu.

2:32 Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas.”

Pada perayaan Pentakosta ini kedua nas perikop ini berbicara tentang perjanjian yang baru dan pencurahan roh yang memungkinkan masih terjadinya mujizat dan nubuatan. Benang merah yang dapat ditarik dalam menghubungkan keduanya adalah:

(1)   Tuhan memperbarui perjanjian-Nya dengan yang baru (nas Ep), sebelumnya adalah dengan nenek moyang bangsa Israel saat Allah menuntun mereka kembali ke tanah perjanjian. Yang terbaru adalah bahwa Allah memberikan akal budi dan hati untuk memahami pengajaran dan mematuhi kehendak-Nya

(2)   Akal budi dan hati tersebut akan dicurahkan Roh oleh Tuhan (nas Ev) yang akan dipakai untuk melakukan perbuatan mukjizat dan menyampaikan nubuatan. Itu pulalah yang harus dipakai dalam memahami tanda-tanda zaman sehingga tidak disesatkan.

Nas tersebut membuatku semakin memahami bahwa aku ini yang bukan orang Israel dan tidak punya garis keturunan secara langsung kepada kaum Yahudi dinyatakan berhak atas semua janji keselamatan sebagai bagian dari “paket perjanjian yang baru”. Dengan menjadi anak Tuhan (yang selalu harus berusaha untuk mematuhi kehendak-Nya) aku mewarisi semua hal yang dijanjikan-Nya. Termasuk di dalamnya adalah mengalami peristiwa mukjizat (dengan berbagai konteks) dan memahami nubuatan yang memang telah diturunkan sejak dahulu kala.

Selain itu – dengan Roh Kudus yang ada padaku – aku juga diberi kemampuan untuk memilih dan memilah mana mukjizat dan nubuatan yang benar, yang memang datangnya dari Tuhan. Hal ini sangat diperlukan dalam memahami situasi dan kondisi yang terjadi pada zaman ini. Banyak hal yang mengesankan seolah-olah datangnya dari Tuhan, seakan-akan alkitabiah, namun pada akhirnya dengan mata dan hati yang telah di-“install” oleh Tuhan dalam diriku, aku menjadi lebih jelas dan lebih mengerti.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Bacalah nas perikop ini, berulang-ulang, dan dapatkan pengertiannya. Itu akan menuntun kita pada pengarahan yang semakin jelas betapa kita ini berhak mewarisi keselamatan sebagai bagian dari perjanjian yang baru. Dan jelaslah, bahwa kita semua diberi kemampuan dalam memahami pengajaran Tuhan, termasuk di dalamnya adalah tentang mujizat dan nubuatan.

Roh Kudus ada di dalam diri kita yang selalu mengajarkan untuk mendekatkan pada Tuhan. Apakah engkau masih merasakannya?

Begu Ganjang? Hiii …

Aku bukan seorang pemberani, meskipun bukan juga termasuk penakut. Walau kadangkala merasa ada yang “mengganggu”, namun selalu aku mampu menepis dugaan dan anggapan bahwa hantu itu berkuasa. Kalaupun berkuasa, aku selalu mampu mengalahkannya dengan keyakina bahwa Tuhan yang aku percayai lebih berkuasa atas segala kuasa-kuasa di dunia, termasuk hantu di dalamnya.

Pertama kali “berkenalan” dengan begu ganjang adalah lebih dua puluh tahun yang lalu. Yaitu saat mengikuti katekhisasi sidi alias marguru malua ketika masih kelas dua SMA di Medan. Ketika mengajarkan Sejarah Gereja, pak pendeta menjelaskan jenis-jenis hantu yang pernah dipercayai oleh orang-orang Batak pra kekristenan. Begu ganjang ini salah satu dari geng hantu-hantuan, selain begu nurnur, begu antuk (?). Dan sebagian peserta kami peserta katekhisasi tertawa-tawa ketika pak pendeta menjelaskan bagaimana takut dan patuhnya nenek moyang kita zaman dahulu kala itu terhadap golongan kasat mata ini. Mungkin karena diajarkan saat pagi hari yang terang benderang, akan beda barangkali bila dijelaskan saat malam hari, malam Jum’at Kliwon pula … hiiiii …

Hiiii … Takut? Sedikit, tapi dalam konteks yang berbeda. Yang utama adalah sebagai ungkapan kengerian. Bagaimana tidak ‘ngeri mendengar kabar dan menonton tayangan di televisi bahwa ada keluarga di Tapanuli yang dibakar hidup-hidup oleh tetangganya (sudah pasti juga adalah saudaranya sekampung) karena diduga (persisnya: dituduh!) sebagai pemelihara begu ganjang. Menurutku, itu tidak mencerminkan Batak dan Kristen. Iblis mana pula yang merasuki orang-orang itu?

Di partangiangan wejk, hal begu ganjang ini dibahas dengan berbagai dugaan dan bumbu-bumbu yang lainnya. Pak pendeta – setelah membawakan topiknya dalam doa syafaat sebagaimana biasanya – menghimbau semua warga jemaat untuk mendoakan saudara-saudara kita semua, sambil menghimbau lagi agar mengingatkan (tepatnya: menyadarkan) keluarga yang ada di Tapanuli untuk tidak terpengaruh dengan isu begu ganjang ini.

Hiiii … Takut? Ya, kalau tadi karena ‘ngeri, kali ini benar-benar karena takut: jangan sampai orang Batak dicap sebagai bangsa barbar alias brutal, sesuatu yang dulu pernah ada pada masa pra-kristiani. Ada juga rasa takut kalau-kalau tindakan membakar manusia seperti itu dijadikan “standar” atau “kelaziman” dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di kelompok masyarakat.

Berulangkali aku bertanya pada diriku sendiri, apa peranan yang harus diambil oleh HKBP dalam menghadapi situasi semacam ini? Tapanuli di mana Kantor Pusat HKBP berada ternyata tidak tercermin dalam sikap hidup orang-orang yang ada di sekitarnya. “Koq mesti heran, lae? ‘Nggak perlulah kita terlalu banyak berharap pada HKBP, lha wong orang-orangnya aja seringkali dalam tingkah lakusehari-harinya tak mencerminkan sebagai pelayan Tuhan. ‘Gimana mau berharap pada orang-orang biasa yang bukan partohonan?”, ‘nyeletuk salah seorang kawan yang duduk di sebelahku. Dagga, fuang …

Andaliman-73 Khotbah 16 Mei 2010 Minggu Exaudi

Jangan Ragu Menjalani Hidup, Tuhan (pasti) Masih Mendengar Permohonan Kita koq …

Nas Epistel: Matius 14:22-33

14:22 Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.

14:23 Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.

14:24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

14:25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.

14:26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.

14:27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

14:28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”

14:29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.

14:30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”

14:31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

14:32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

14:33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Nas Evangelium: Hakim-hakim 10:10-16 (bahasa Batak: Hakim-hakim 10:10-16)

10:10 Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN, katanya: “Kami telah berbuat dosa terhadap Engkau, sebab kami telah meninggalkan Allah kami lalu beribadah kepada para Baal.”

10:11 Tetapi firman TUHAN kepada orang Israel: “Bukankah Aku yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir, orang Amori, bani Amon, orang Filistin,

10:12 orang Sidon, suku Amalek dan suku Maon yang menindas kamu, ketika kamu berseru kepada-Ku?

10:13 Tetapi kamu telah meninggalkan Aku dan beribadah kepada allah lain; sebab itu Aku tidak akan menyelamatkan kamu lagi.

10:14 Pergi sajalah berseru kepada para allah yang telah kamu pilih itu; biar merekalah yang menyelamatkan kamu, pada waktu kamu terdesak.”

10:15 Kata orang Israel kepada TUHAN: “Kami telah berbuat dosa. Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu. Hanya tolonglah kiranya kami sekarang ini!”

10:16 Dan mereka menjauhkan para allah asing dari tengah-tengah mereka, lalu mereka beribadah kepada TUHAN. Maka TUHAN tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka.

Masih berhubungan dengan nas perikop pada minggu yang lalu tentang kekuatan doa, pada Minggu ini masih mengingatkan bahwa Tuhan masih mendengarkan permintaan orang percaya. Exaudi, artinya “dengarkanlah selalu permohonanku, ya Tuhan”.

Pada nas Ep menceritakan betapa Yesus berkuasa atas alam, dan murid-murid pada akhirnya mengakui bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh anak Allah. Awalnya mereka ragu tatkala pertama kali melihat Yesus yang berjalan di atas air mendekati perahu mereka yang sedang terombang-ambing diguncang oleh ombak yang sangat dahsyat. Bahkan ada seseorang yang “menuduh-Nya” sebagai hantu! Agak mengagetkan bagiku bahwasanya murid-murid yang sudah sangat dekat dengan Tuhan dan berjalan bersama-sama dengan_nya berbulan-bulan masih tetap juga tidak mampu mengenali-Nya. Tidak bisa membedakan antara Tuhan dengan hantu … Masih terjadi juga dengan saat ini, ‘kan? Melihat fenomena yang terjadi saat ini, banyak sekali peristiwa yang sekilas mengesankan bahwa itu semua (baik orang, maupun peristiwa alam yang mengikutinya sebagai “jalan Tuhan”, ternyata di kemudian hari malah yang terjadi adalah yang sebaliknya). Acapkali terdengar orang-orang yang tertipu karena tidak mampu membedakan antara Tuhan dengan hantu. Menyedihkan!

Teriakan murid-murid meminta tolong supaya diselamatkan dari ancaman ombak, ditanggapi oleh Yesus dengan datang sendiri menolong mereka. Luar biasa! Alangkah indahnya bilamana Yesus datang sendiri (dan langsung dalam waktu yang singkat) kepadaku saat aku mengalami kesulitan. Dan lihatlah Petrus. Dia masih “menguji” keberadaan Yesus (“Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”), dan segera menjadi ragu begitu pandangannya beralih pada deburan ombak yang membuatnya menjadi tenggelam sejenak. Ah, ini membuatku tersipu malu. Betapa seringnya aku memohon pertolongan pada Tuhan, namun pada saat Dia muali bekerja – seringkali disebabkan oleh ketidaksabaranku yang cenderung maunya serba instan – membuatku menjadi ragu dan berupaya dengan alternatif lain yang belum tentu seturut dengan kehendak-Nya. Salah satunya adalah ketika bertahun-tahun yang lalu kami sangat merindukan kelahiran anak. Berdoa terus kami (aku dan mak Auli, isteriku) lakukan, sejalan dengan pertolongan medis yang terus-menerus kami jalani. Pada satu titik, karena tahun-tahun yang kami jalani semakin panjang dan membuat kami kuatir akan usia yang semakin menua, ditambah desakan kanan-kiri, akhirnya kami pergi “berkonsultasi” dengan alternatif ahli. Puji Tuhan, aku tidak mau melanjutkannya dan sadar untuk kembali ke jalan yang aku yakini kebenarannya. “Lebih baik tidak usah punya anak kalau begini caranya”, kata suara di dalam hatiku saat itu.

Nas Ev Minggu ini menceritakan bagaimana Allah yang semula sudah “patah hati” dengan umat Israel karena kelakuan mereka yang menyembah berhala, namun akhirnya luluh dan berbalik dengan permohonan yang disertai pertobatan. Betul-betul ini sangat menginspirasiku. Dan aku berulangkali mengalaminya dalam hidupku. Setelah sadar dengan kekeliruan yang aku sudah lakukan, dan berbalik kepada Tuhan, kasih sayang dan kasih setia-Nya tidak pernah meninggalkanku.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Exaudi, tangihon ma soarangku ale Jahowa, yang berarti “dengarkanlah permohonanku, ya Tuhan” adalah satu kalimat yang sangat indah dan sangat menyentuh. Bagiku, dan kiranya juga bagi kita semua. Dalam dunia yang semakin individualis di tengah kehidupan yang semakin kompleks ini, tidak banyak orang yang bersedia mendengarkan orang lain yang berada di sekitarnya. Kecuali para profesional, misalnya konsultan dan konselor yang menjadikan mendengarkan orang lain sebagai bagian dari pekerjaannya. Siapa lagi yang dapat dipercaya? Bukan hanya dipercaya memiliki banyak waktu (dan kesabaran) untuk mendengarkan (sebagai curahan hati …), juga yang dapat dipercaya untuk menjaga rahasia yang kita sampaikan. Dan satu lagi yang hanya Dia punya kuasa: dapat dipercaya karena kemampuan-Nya dalam mengabulkan permohonan kita.

Apa yang menjadi hambatan dalam mempercayai-Nya? Pengalaman Petrus dalam nas perikop ini adalah ilustrasi yang sangat tepat. Pertama, keraguan bahwa Tuhan adalah penolong. Kedua, ketidakmampuan kita dlam mengenali-Nya. Ketiga, kekurangsabaran dalam menunggu prosesnya berlangsung. Karena hidup dalam dunia yang serba cepat, kita tak sabar dalam membiarkan Tuhan yang bekerja seturut dengan waktu terindah yang diinginkan-Nya. Yang terakhir, keraguan yang terus menerus akan pertolongan Tuhan. Karena godaan dunia dan ancaman yang bakal dihadapi, kita tidak percaya lagi pada kuasa-Nya sehingga masuk-kembali ke dalam masalah. Bukan menuruti tarikan tangan pertolongan Tuhan yang sudah terulur dan memegang tangan kita dengan kukuh.

Saatnya kita berani berkata: “Aku punya Allah yang besar yang sanggup menolongku” sebagai pengganti kalimat “Aku punya masalah yang besar, dan tak seorangpun yang mau dan yang mampu menolongku”.

Ibadah di Bandung, euy! Bukan di Gereja Batak bah!

Hari ini (Kamis, 13 Mei 2010) – perayaan Hari Kenaikan Yesus Kristus – aku mengikuti ibadah di GII Hok Im Tong di Komplek Batunuggal di Bandung. Lokasinya sangat dekat dengan kantor kami. Aku tidak pulang, artinya tinggal di Bandung. Hal ini disebabkan karena kesibukan pekerjaan yang sangat khusus, yaitu persiapan kedatangan petinggi perusahaan dari Jakarta minggu depan. Tak tanggung-tanggung, mereka terdiri dari Presiden Direktur, Direktur, dan Head of Business Unit. Karena berjumlah belasan orang, mereka rencananya akan men-charter bis dalam melakukan perjalanan kurang lebih selama seminggu. Baru kali ini terjadi yang seperti ini.

Sesuai info yang aku dapat kemarin, ibadah akan dimulai jam delapan pagi. Oleh sebab itu, agak terburu-buru (karena sudah lewat jam tujuh aku baru terbangun …) aku tadi beranjak dari tempat kos. Untuk antisipasi supaya jangan terlambat, aku buru-buru menelepon office boy untuk menjemputku di satu titik sebelum tiba di kantor. Oh ya, beberapa hari belakangan ini aku memang berjalan kaki ke kantor. Mobil aku tinggal di kantor. Ini salah satu cara untuk menjaga kebugaranku karena sejak pindah ke Bandung aku sudah tidak pernah lagi berenang.

Karena masih kurang lima belas menit, aku minta singgah dulu di kantor. Minum seteguk Milo hangat, aku bergegas ke mobil untuk diminta antar oleh office boy ke gereja. Sebenarnya sangat dekat (benar-benar sepelemparan batu …), namun aku tidak terlalu suka membawa mobil, sekalian juga untuk “memaksa diri” supaya nanti melanjutkan berjalan kaki dari gereja ke kantor (untuk mengkompensasi jarak tempuh yang masih kurang karena tadi pagi dijemput dengan mobil …).

Belum terlalu banyak warga jemaat yang datang ketika aku tiba dan mengambil Alkitab dari bagasi mobil sebelum membolehkan office boy meninggalkanku saja (tak perlu ditungguin sampai usai ibadah). Di pintu masuk, sudah berjejer tujuh orang menyambut dengan menyalam setiap yang hadir. Berjas lengkap, hanya beberapa orang yang sekadar berdasi. Wangi-wangi, sudah pasti.

Aku pandangi ke ruangan untuk mencari tempat duduk. Ternyata lima baris deretan kursi paling belakang dibatasi dengan pita merah. Aku kaget juga, ternyata di gereja ini ada tempat untuk orang-orang yang ekslusif, pikirku. Sesuatu yang kemudian terbukti salah, karena ternyata itu adalah strategi gereja untuk “memaksa” warga jemaat menempati kursi paling depan terlebih dahulu. Terbukti kemudian pita itu dilepas, dan diisi oleh hadirin yang datang terlambat. Kalau ‘gitu, benar juga eksklusivitasnya… tempat itu memang diperuntukan warga jemaat yang datang terlambat. Artinya, kursi-kursi itu untuk orang-orang ekslusif, yaitu ekslusif terlambat datang di gereja … Pun setelah ibadah berlangsung, masih ada saja yang datang kemudian. Bahkan pak Pdt. Samuel harus menyempatkan diri beberapa menit sebelum memulai khotbahnya untuk mengajak orang-orang yang terlihat masih bergerombol di pintu masuk untuk duduk di deretan kursi paling depan. “Di deretan paling depan ini masih tersedia delapan kursi. Jangan sungkan-sungkan, silakan bapak ibu yang baru datang untuk duduk di kursi VIP ini. Begitulah, yang datang belakangan akan menjadi yang terdepan …”, ucap beliau bergurau sambil menyitir ucapan Yesus di Injil yang segera disambut deraian tawa oleh hadirin.

Bangunan gerejanya tidak terlalu luas, namun sangat baik penataannya. Didominasi tembok dengan bahan kayu sehingga memberikan suasana nyaman. Kursi-kursi tunggal diberi sarung kursi dan ditata layaknya ruang pertemuan di hotel berbintang. Para pelayan (penatua) mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang menyusun kursi, dan ada yang mengetes sound-system yang kinerjanya sangat baik (mereknya aja Bose, sepertinya sudah menjadi standar di beberapa gereja yang sayangnya belum pernah aku jumpai di HKBP …). Layar LCD-projector (sudah dipasang permanen menggantung di langit-langit, di depan dan di belakang dengan kualitas gambar yang sangat menawan …) menayangkan video clipt lagu-lagu rohani terkini.

Rombongan paduan suara kemudian masuk dan duduk di panggung di belakang podium. Berseragam putih dengan penutup dada dan punggung sampai kaki berwarna biru memberikan suasana yang sangat berbeda dengan yang aku alami selama ini di gereja kami. Lalu mereka melantunkan lagu “Song of Joy” yang sudah diadaptasikan ke dalam bahasa Indonesia. Usai itu, seorang pelayan pria menyampaikan votum, lalu liturgi mengalir sebagaimana umumnya di gereja-gereja protestan.

Urutan liturgi bisa dibaca di layar: teks lagu, nas Alkitab, dan juga urutan acara sekaligus pemberitahuan kapan warga jemaat harus duduk dan berdiri. Pendeta membawakan khotbah dengan sangat menarik. Memanfaatkan media LCD-projector, beliau menyampaikannya dalam format Power Point, sudah tentu sangat bagus karena dilengkapi dengan referensi yang dilengkapi dengan gambar-gambar yang relevan. ‘Ngomong-ngomong, cara berkhotbah seperti inilah yang sangat aku rindukan untuk dapat aku lakukan. Menyampaikan firman Tuhan bak presenter dan atau entertainer, duh … alangkah indahnya …

Oh ya, ada satu hal baru yang menarik bagiku dari khotbah pagi tadi. Yakni alasan mengapa pendeta menggunakan pakaian hitam dengan kerah putih. Menurut beliau, itu analogi dari anjing (ma’af …) yang dikalungkan dengan tali kendali sehingga selalu patuh menuruti perintah majikannya. Dan anjing adalah makhluk yang sangat setia kepada tuannya. Begitulah juga kiranya pendeta (sebagai gembala) haruslah patuh menuruti perintah tuannya, yaitu Kristus sang kepala gereja. Dan juga menyampirkan stola di bahunya, itu melambangkan pelayanan yang tidak mengenal lelah dan harus selalu rendah hati.

Apakah semua hanyalah yang baik yang aku dapatkan di gereja hari ini? Tidak juga, ternyata. Pada awal-awal ibadah, aku sempat terganggu dengan suara berisik yang ditimbulkan oleh orang-orang yang ‘ngobrol di deretan kursi di belakangku. Sudah sempat terbersit di benakku untuk pindah mencari kursi lebih ke depan, eh ternyata penuh pula. Selain terganggu dengan suara-suara yang tidak relevan dengan liturgi, juga karena mereka ‘ngobrol dengan bahasa China (karena mayoritas warga jemaatnya pastilah bukan orang Batak, alias warga keturunan …) yang tidak aku mengerti.

Ketika hendak pulang usai ibadah, aku melihat banyak sekali mobil terparkir. Di halaman gereja, bahkan sampai ke luar komplek yang mendekati komplek gelanggang olah raga, mobil-mobil mahal tersusun rapi. Sampai di ujung pengkolan jalan mendekati cluster tempat kantor kami berada, cuma aku satu-satunya makhluk yang pulang dari gereja dengan berjalan kaki. Masih terbayang di pelupuk mataku rangkaian slides pak pendeta dan masih terngiang di telingaku thema khotbahnya hari ini: “… carilah yang di atas, bukan yang ada di bawah, di bumi ini …”. Terima kasih, Tuhan.

Andaliman-72 Khotbah 09 Mei 2010 Minggu Rogate

Berdoalah. Masih Belum Juga?

Nas Epistel: 1 Timotius 2:1-7

2:1 Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,

2:2 untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

2:3 Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,

2:4 yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,

2:6 yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.

2:7 Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul–yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta–dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran.

Nas Evangelium: Bilangan 14:11-20 (bahasa Batak: 4 Musa 14:11-20)

44:11 TUHAN berfirman kepada Musa: “Berapa lama lagi bangsa ini menista Aku, dan berapa lama lagi mereka tidak mau percaya kepada-Ku, sekalipun sudah ada segala tanda mujizat yang Kulakukan di tengah-tengah mereka!

14:12   Aku akan memukul mereka dengan penyakit sampar dan melenyapkan mereka, tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari pada mereka.”

14:13   Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: “Jikalau hal itu kedengaran kepada orang Mesir, padahal Engkau telah menuntun bangsa ini dengan kekuatan-Mu dari tengah-tengah mereka,

14:14   mereka akan berceritera kepada penduduk negeri ini, yang telah mendengar bahwa Engkau, TUHAN, ada di tengah-tengah bangsa ini, dan bahwa Engkau, TUHAN, menampakkan diri-Mu kepada mereka dengan berhadapan muka, waktu awan-Mu berdiri di atas mereka dan waktu Engkau berjalan mendahului mereka di dalam tiang awan pada waktu siang dan di dalam tiang api pada waktu malam.

14:15   Jadi jikalau Engkau membunuh bangsa ini sampai habis, maka bangsa-bangsa yang mendengar kabar tentang Engkau itu nanti berkata:

14:16   Oleh karena TUHAN tidak berkuasa membawa bangsa ini masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada mereka, maka Ia menyembelih mereka di padang gurun.

14:17   Jadi sekarang, biarlah kiranya kekuatan TUHAN itu nyata kebesarannya, seperti yang Kaufirmankan:

14:18   TUHAN itu berpanjangan sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah, Ia mengampuni kesalahan dan pelanggaran, tetapi sekali-kali tidak membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, bahkan Ia membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.

14:19   Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari.”

14:20   Berfirmanlah TUHAN: “Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu.

Tentang doa. Sesuatu yang – terus terang saja, dan ma’afkan aku kalau terasa berlebihan – menghidupiku selama ini. Saat berdoalah aku merasa hidupku paling tenteram. Karena berdoalah aku dijauhkan dari hal-hal yang jahat. Dan ini semakin terasa manakala aku hidup sendirian di Bandung, di rumah kos (hanya pulang ke rumah bertemu dengan keluarga pada Sabtu dan Minggu …). Betul-betul aku merasakan kekuatan doa dalam hal ini.

Dalam pekerjaan pun seringkali hal ini terbukti dan terasakan olehku. Banyak hal dalam pekerjaan yang tidak bisa terkendalikan olehku. Misalnya dalam melakukan presentasi yang merupakan menu utama dalam pekerjaanku. Ketika mempersiapkannya, aku merasa sudah maksimum dengan cara mengantisipasi berbagai kemungkinan. Eh, ternyata pada saat presentasi berlangsung, ada saja yang kelolosan. Juga ketika mempersiapkan kunjungan para tamu ke wilayah kerjaku. Semua hal dirapikan dan dilakukan pemeriksaan-ulang, eh pada saat kunjungan berlansung selalu saja didapatkan kekurangan yang seharusnya tidak perlu terjadi kalau benar-benar tidak melewatkannya. Itulah sebabnya, aku selalu melakukan persiapan dengan sungguh-sungguh. Melibatkan Tuhan juga, tentunya dengan cara memohon agar diberikan kemampuan dan kekuatan dalam melakukan segala persiapan (sambil memohon supaya au dijauhkan dari hal-hal yang jahat …).

Nah, pada saat hari-H atau jam-J, aku akan sempatkan berdoa dalam hati, “Tuhan, aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan. Itulah yang terbaik mampu aku lakukan sampai saat ini. Bantu aku, Tuhan. Bantu aku untuk melakukan yang terbaik saat ini. Aku mau mendapatkan yang baik dan yang terbaik, namun mampukan juga aku bilamana harus menerima yang kurang baik. Bukan untuk kemuliaanku, melainkan untuk kemuliaanmu”. Setelah itu, biasanya aku menjadi tenang karena segala sesuatunya sudah aku serahan kepada Tuhan.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dalam beberapa kesempatan, masih saja terdapat orang-orang yang tidak berdoa. Ada saja alasannya: tidak mampu, malu, tidak tahu caranya, tidak pandai, tidak merasa perlu, dan lain-lain sebagainya. Semuanya datang dengan alasan yang datang dari diri sendiri. Bahkan ada orang dewasa yang tidak datang ke partangiangan wejk, karena takut disuruh berdoa! Padahal sudah dewasa, atau persisnya sudah tua! Dalam suatu jemaat, aku pernah mendengar bahwa ada orang yang membuat “perjanjian” dengan sintua supaya tidak disuruh berdoa supaya mau datang dan ikut partangiangan wejk …

Dengan nas perikop ini kita diingatkan betapa Tuhan mendengar permintaan yang disampaikan dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana Musa dengan doa syafaatnya yang dahsyat, kita pun memiliki hak yang sama untuk menyampaikan doa permohonan, dan juga memiliki hak yang sama untuk didengarkan oleh Tuhan. Karena kita adalah anak-Nya. Tinggal memastikan bahwa berdoa kita selalu didasari oleh iman yang teguh dengan hati yang tulus dalam menyampaikan permohonan.

Jika masih ada warga jemaat yang belum menjadikan doa sebagai menu utamanya, inilah saatnya untuk mengingatkan betapa doa yang memberikan nafas kehidupan bagi kita. Tidak ada yang lain.