Andaliman-80 Khotbah 04 Juli 2010 Minggu V Setelah Trinitatis

Hikmat dan Akal Budi. Ingatlah Perjanjian Tuhan!

Nas Epistel: Ayub 28:1-12 (bahasa Batak Job 28:1-12)

28:1 Memang ada tempat orang menambang perak dan tempat orang melimbang emas;

28:2 besi digali dari dalam tanah, dan dari batu dilelehkan tembaga.

28:3 Orang menyudahi kegelapan, dan batu diselidikinya sampai sedalam-dalamnya, di dalam kekelaman dan kelam pekat.

28:4 Orang menggali tambang jauh dari tempat kediaman manusia, mereka dilupakan oleh orang-orang yang berjalan di atas, mereka melayang-layang jauh dari manusia.

28:5 Tanah yang menghasilkan pangan, dibawahnya dibongkar-bangkir seperti oleh api.

28:6 Batunya adalah tempat menemukan lazurit yang mengandung emas urai.

28:7 Jalan ke sana tidak dikenal seekor burung buaspun, dan mata elang tidak melihatnya;

28:8 binatang yang ganas tidak menginjakkan kakinya di sana dan singa tidak melangkah melaluinya.

28:9 Manusia melekatkan tangannya pada batu yang keras, ia membongkar-bangkir gunung-gunung sampai pada akar-akarnya;

28:10 di dalam gunung batu ia menggali terowongan, dan matanya melihat segala sesuatu yang berharga;

28:11 air sungai yang merembes dibendungnya, dan apa yang tersembunyi dibawanya ke tempat terang.

28:12 Tetapi di mana hikmat dapat diperoleh, di mana tempat akal budi?

Nas Evangelium: Kejadian 9:8-17 (bahasa Batak 1 Musa 9:8-17)

9:8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia:

9:9 “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu,

9:10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi.

9:11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.”

9:12 Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya:

9:13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.

9:14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan,

9:15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.

9:16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.”

9:17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.”

Agak kewalahan juga aku dalam mencoba menghubungkan antara nas perikop Ep dan Ev Minggu ini. Terima kasih pada Tuhan, yang kali ini kembali menunjukkan dan mengingatkanku betapa sangat terbatasnya kemampuanku J

Nas Ep pada frasa di kalimat terakhir dengan jelas mempertanyakan di mana sebenarnya tempat untuk mendapatkan hikmat. Dan di mana pula harus menempatkan akal budi.

Ketika membaca salah satu kisah yang sangat menarik dari Perjanjian Lama ini pun seringkali aku masih mengernyitkan kening. Ada beberapa buku referensi yang sempat aku baca yang berhubungan dengan peristiwa air bah ini, dan semuanya masih tetap menyisakan pertanyaan bagiku: apakah memang seluruh permukaan bumi tertutupi oleh air yang maha dahsyat tersebut, bagaimana satu bahtera (sebesar apa pun dan sekokoh apa pun itu!) dapat terapung dan tidak mengalami hal-hal yang buruk selama terjadinya peristiwa tersebut, dan bagaimana pula makhluk hidup yang masih “tersisa” di dalam bahtera melanjutkan kehidupannya berbulan-bulan lalu kemudian berkembang biak menjadi seperti yang ada saat ini? Dan masih banyak lagi …

Selalu menyisakan tanda tanya, dan selalu pula menimbulkan perasaan ingin tahuku untuk menggali lebih jauh dan lebih dalam lagi. Dan hari ini nas perikop Ep yang berupa nasehat dari Ayub menyadarkanku bahwa hikmat sangat diperlukan, dan kita harus sellau tahu menempatkan kapan menggunakan akal budi secara mutlak dan kapan pula harus mengkombinasikannya dengan hikmat yang datangnya dari Tuhan.

Dari peristiwa air bah, pada akhirnya menyadarkanku bahwa Tuhan masih mengasihi manusia dan alam yang diciptakan-Nya. Konsep manusia sebagai makhluk ciptaan tertinggi yang diamanatkan untuk menguasai seluruh ciptaan lainnya, tercermin pada peristiwa air bah ini. Manusia punya peranan juga untuk melindungi makhluk lainnya (hewan dan tumbuh-tumbuhan) dari perusakan. Adalah tanggung jawab manusia untuk membantu kelestarian hidup semua makhluk.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Hikmat dan akal budi, adalah dua hal yang sering diperbincangkan bilamana membicarakan hal-hal yang memang layak untuk diperdebatkan. Kapan kita memang harus (hanya) menggunakan pikiran, kapan pula kita dituntut untuk berhikmat dengan tidak semata-mata mengandalkan pikiran yang harus juga kita ketahui dengan keterbatasannya.

Akal budi adalah datangnya dari Tuhan, oleh sebab itu haruslah dipakai untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Namun, mengagungkan akal budi (pikiran) sebagai satu-satunya jalan sehingga meninggalkan hal-hal di luar logika sehingga melupakan kemahadigdayaan Tuhan, tentu saja berpotensi membawa ke dalam tindakan kesesatan dan penyesatan.

Dalam peristiwa air bah, kita selayaknya melihat bahwa Tuhan sangat mengasihi manusia dan ciptaan-Nya lainnya sehingga tidak akan menghancurkan ciptaan itu sendiri. Dan Tuhan berjanji untuk tidak memusnahkan dunia ini lagi. Lantas yang menjadi pertanyaan, sejauh manakah hak kita (baca: manusia) untuk dengan semena-mena merusakkan lingkungan hidup yang seharusnya kita jaga kelestariannya? Dapatkah itu dikategorikan sebagai melampaui hak dan tanggungjawabnya alias melampaui hak prerogatif Tuhan yang sudah berjanji untuk tidak akan memusnahkan bumi ini?

Iklan

Ulang Tahun … ah, Alangkah Bahagianya! Dan … Selamat Jalan, Nantulang …

Sabtu, 19 Juni 2010 yang baru lalu adalah salah satu hari yang paling membahagiakan bagiku (mudah-mudahan juga bagi banyak orang …). Itulah hari ulang tahunku. Dan serangkaian acara sudah dipersiapkan untuk menyemarakkan hari istimewa tersebut. Sejak bulan lalu aku sudah mengajukan cuti untuk satu hari tersebut, dan langsung disetujui boss-ku di Jakarta.

Minggu (13 Juni 2010) yang lalu, dari mengikuti ibadah Minggu perkunjungan Punguan Koor Ama ke jemaat HKBP Gunung Sindur kami langsung ke Bandung. Artinya, tanpa mengikuti ramah-tamah, usai acara ibadah aku langsung permisi kepada kawan-kawan yang ikut. Singgah sebentar ke rumah, kami pun berangkat menuju Bandung. Aku yang menyetir.

Malamnya ketika di Bandung, aku ditelepon oleh pengurus Punguan Koor Ama Josua-2 (tempat aku bergabung beberapa tahun belakangan ini) menanyakan kesediaan untuk menerima kedatangan mereka di Bandung. Memang, bulan Juni ini adalah giliran kami untuk “manjabui” acara ibadah Punguan Koor Ama beserta keluarga (sesuai permintaanku karena tanggalnya yang pas dengan hari ulang tahunku …). Kaget juga, karena Jum’at malam sebelumnya, oleh salah seorang mantan pengurus di depan semua anggota yang hadir pada persiapan kunjungan penjemaatan bahwa kunjungan ke Bandung dibatalkan dan meminta agar acara ibadah dwibulanan dilaksanakan di rumah kami di Bekasi saja, bukan di Bandung. Tentu saja aku terkejut karena sebelumnya sudah disepakati untuk ke Bandung, namun karena menghormati “keputusan pengurus” aku patuh saja. Terbukti kemudian bahwa itu adalah keputusan sepihak, karena ketua yang sekarang (bukan sang mantan ketua …) mengatakan bahwa tidak ada keputusan pembatalan ke Bandung, sambil memohon ma’af kepadaku karena tidak hadir pada malam tersebut di mana mantan ketua menyampaikan hal yang tidak sebenarnya. Ya, sudahlah … pikirku semuanya adalah baik.

Oh ya, rumah kontrakan akhirnya kami dapatkan. Di Komplek Perumahan Batununggal, satu cluster dengan kantor tempatku bekerja sehari-hari. Beberapa hari ini aku berjalan kaki pulang-pergi. Sebelumnya – ketika masih ‘nge-kos – aku memang sudah membiasakan diri dengan berjalan kaki dari tempat kos di Cijagra Elok ke kantor yang biasanya aku tempuh kurang dari tiga puluh menit. Setelah mengalami “pasang-surut” berhubungan dengan pemilik rumah kontrakan (biasanya minta kontrak dua tahun, bayar panjar yang akan hangus otomatis bila dua minggu tidak dilunasi, kopi surat yang tidak bersedia diberikan dengan lengkap oleh pemilik rumah sebelum kejelasan pembayaran, dan lain sebagainya yang kesemuanya tidak sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh Perusahaan …), akhirnya Tuhan menunjukkan rumah ini kepada kami. Pemilik rumah membolehkan kami menempati rumah ini sampai usai Lebaran (sesuai “kekuatan” uang panjar yang sudah aku berikan …), kalau pun ternyata kantor belum mentransfer uang pembayaran sesuai nilai kontrak. Aku sungguh-sungguh percaya Tuhan yang memilihkan rumah ini bagi kami, karena aku selalu pergumulkan dalam doaku agar Tuhan benar-benar memimpinku dalam setiap proses pencarian rumah kontrakan.

Begitulah, kami pun (aku, mak Auli, Auli, dan paribanku yang suaminya juga ‘nge-kos di Bandung) mempersiapkan segala sesuatunya. Aku salut dengan kesigapan mereka – para perempuan – dalam melakukan “bedah rumah” ini: memanggil orang yang bersedia membantu membersihkan rumput di taman halaman depan, kolam renang di ruang tamu, mengecat pagar dan pintu-pintu, menggosok lantai yang sudah kusam karena tidak dirawat dengan baik oleh pengontrak sebelumnya, mengalirkan air dari jet pump, dan masih banyak lagi hal-hal lainnya. Aku hanya membantu sedikit-sedikit karena harus ‘ngantor saban hari. Paling-paling waktu istirahat makan siang, aku singgah sebentar untuk melihat kalau-kalau ada yang perlu dibantu.

Itu semua sudah berjalan sampai Rabu ketika tiba-tiba mak Auli memberi tahu bahwa jadual penerimaan rapor kenaikan kelas Auli adalah Kamis, bukan Jum’at sebagaimana diberitahukan semula. Tentu saja ini menimbulkan kerepotan baru, karena itu berarti mereka harus kembali ke Bekasi untuk menerima rapor. Bagaimana ini? Kursi juga belum disewa, makanan belum dipesan, hanya tikar dan permadani yang sudah aku pesan dari pengurus majelis taklim (tapi belum sempat diambil ke masjid tempat penyimpanan karena masih akan dipakai untuk sholat Jum’at, jadi harus menunggu mereka usai sholat …). Maklumlah, kami belum pindah rumah dalam arti yang sebenarnya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya mak Auli dan yang lainnya pulang dengan membawa mobil. Tinggallah aku sendiri, yang akhirnya malam itu ‘nginap di kantor karena asyik menonton pertandingan Piala Dunia di televisi yang baru saja aku beli beberapa jam sebelumnya untuk hiburan office boy di kantor.

Subuh jam empat lewat sedikit aku terbangun oleh deringan ponsel yang aku letakkan di sebelahku. Aku lihat sebentar siapa nama penelepon yang tertera di layar yang teganya mengganggu aku yang terlambat tidur malam itu, lalu aku tidur lagi. Tak lama kemudian ada pesan-pendek yang masuk, dari boru tulang-ku di Jakarta: “Bang … inangtua Jatibening meninggal jam 4.30”. Meski tidak terlalu kaget, aku sedikit terkejut dan sedih juga. Tidak terlalu kaget, karena dua hari sebelumnya aku membesuk almarhumah (nantulang-ku tersebut) di Paviliun Anggrek Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung karena diberitahu oleh salah salah seorang puteri beliau yang tinggal di Bandung. Kondisinya sudah merosot jauh dibandingkan dengan kunjunganku pertama kali beberapa minggu sebelumnya. Dan putri beliau (pariban-ku) yang sedang mengambil spesialis kandungan yang menemaniku saat itu sudah menyampaikan dengan istilah kedokteran yang aku pahami bahwa kondisi kesehatan almarhumah sudah “tinggal menunggu waktu”. Dan hari itu almarhumah minta untuk dipindahkan ke Rumah Sakit Angkatan Laut di Jakarta saja, sehingga aku sarankan untuk disempatkan singgah ke rumah almarhumah di Jatibening. “Untuk apa, bang?”, tanya pariban itu yang langsung aku jawab, Nantulang rindu melihat rumah yang sangat penuh kenangan itu, jadi singgahkan sajalah sebentar sebelum dibawa ke rumah sakit. Meskipun tadi dibilang sudah tidak kuat, sama saja kalaupun tetap dibawa ke rumah terlebih dahulu …”. Nah, pariban-ku itulah yang menelepon aku subuh tersebut. Segera saja aku menelepon, dan di seberang sana terdengar suaranya tersedu-sedu yang aku jawab, “Sabar, ya pariban. Pasti itu yang terbaik buat nantulang karena saatnya sudah harus pergi. Siap-siap saja berangkat ke Jakarta. Jangan terlalu sedih, itu adalah yang terbaik dari Tuhan”.

Sore harinya – setelah mendapat izin dari atasanku di Jakarta – aku bersama Auli dan mamaknya – berangkat ke Jatibening untuk menyampaikan belasungkawa. Di sana bertemu dengan keluarga yang sudah relatif lama tidak bertemu. Menjelang tengah malam, kami pun pamit untuk kembali ke Bandung.

Kembali ke hari ulang tahun. Tak ‘kusangka, antusiasme kawan-kawan dari gereja ternyata luar biasa! Kurang lebih ada 45 orang yang datang sore itu ke rumah. Bahkan ini adalah jumlah terbanyak yang aku tahu selama mengikuti kegiatan seperti ini bertahun-tahun. Padahal selama ini hanya dilakukan di Jakarta yang tentu saja jaraknya sangat dekat dengan kediaman masing-masing. Hanya ada tiga keluarga yang tidak hadir, sebaliknya ada keluarga yang sangat jarang hadir ternyata turut dalam rombongan. Ada pendeta Sirait (pemimpin resort) yang menyampaikan khotbah dan pendeta Pasaribu (yang baru saja melepas ke-capen-annya dan sedang menunggu SK penugasan pertama ke Palembang) yang memimpin doa syafaat.

Meski tanpa alat musik (karena Siahaan yang membawa gitar masih dalam perjalanan …) ibadah berjalan dengan lancar. Yang dilanjutkan dengan makan siang, lalu ramah-tamah. Habis itu, sempat ada usulan untuk latihan koor (yang pada akhirnya dibatalkan karena mayoritas anggota tidak setuju dan memilih kegiatan lain saja, yaitu membicarakan rencana perkumpulan selanjutnya yang akan ke Bonapasogit pada tahun 2011 yang akan datang, dan perayaan ulang tahun).

Pada mulanya aku berencana untuk mengajak rombongan menonton sirkus Tashkent yang sedang mengadakan pertunjukan di lapangan komplek perumahan yang sangat dekat dengan rumah tinggal kami. Ketika berdiskusi tentang rencana kegiatan organisasi (dan ibu-ibu sedang ke factory outlet …) tiba-tiba saja ada teriakan anak-anak dari kamar sebelah : “Be … re …nang … be … re … nang …”. Lalu ada seorang anak sebagai “utusan” menyampaikan keinginan mereka untuk berenang tersebut kepada ketua punguan koor yang notabene adalah bapaknya sendiri. Setelah gagal membujuk (anak-anak ternyata lebih memilih berenang daripada nonton sirkus …), aku pun mengajak mereka (bapak dan anak tersebut) untuk meninjau terlebih dahulu ke lokasi kolam renang di sport club yang juga sangat dekat dengan rumah tinggal kami. Maksudku, supaya anak tersebut melihat kondisi kolam renangnya terlebih dahulu (jangan sampai keder pula melihat kondisi yang berbeda dari bayangannya tentang kolam renang selama ini …), sekalian aku bisa bernegosiasi dengan pengurus sport club yang bulan lalu pernah aku datangi untuk memasukkan semua karyawan kantor kami dapat menikmati fasilitas olah raga di tempat itu (dan untungnya dia masih ingat denganku sehingga kami mendapatkan kemudahan, antara lain diskon tiket masuk menjadi Rp 20.000 per anak, tidak harus memakai pakaian renang yang menjadi standar kolam renang “modern”, dan membolehkan orang dewasa masuk komplek kolam renang tanpa harus membayar jika memang tidak berenang).

Jadilah sore itu kami pun semua ke kolam renang. Tentu saja aku, anakku Auli, dan anak paribanku si Elvis turut bersukacita karena kami juga sudah hampir sebulan ini tidak pernah lagi berenang. Bayangkanlah situasi yang terjadi saat itu: anak-anak berenang dan bermain di kolam renang didampingi beberapa orangtuanya, sementara orang tua lainnya bernyanyi-nyanyi diiringi gitar di kantin sebelah kolam renang. Mungkin saja baru sekali itu lagu-lagu Batak (dan lagu-lagu rohani) pernah diperdengarkan di komplek olah raga tersebut. Ketika aku bergabung kemudian (setelah usai berenang dan berganti pakaian) aku melihat semua kawan-kawanku menikmati suasana tersebut dengan bergembira ria. Termasuk pak pendeta Sirait yang selain bernyanyi juga berjoget. Sebelum kembali ke rumah tinggal kami, kawan-kawanku tersebut kembali mengumandangkan lagu “Selamat Ulang Tahun”, “Panjang Umurnya”, dan “Happy Birthday”. Alangkah sukacitanya.

Di rumah sudah tersedia makan malam. Selain eks hidangan makan siang, mak Auli juga menambahkan sangsang yang sempat dipesan di berbagai lapo di Bandung. Berbagai lapo? Iya, mak Auli mengerahkan dua tim untuk “berburu” sangsang karena stoknya sangat terbatas (bahkan ada lapo yang sudah tidak punya lagi karena sudah habis terjual hari itu …). Hasil perburuannya, dapatlah dua piring sangsang yang segera jadi rebutan malam itu.

Usai makan malam, dilanjutkan acara mandok hata. Diwakili berbagai kelompok (kaum bapak, kaum ibu, masing-masing kelompok suara, lalu mewakili parhalado), acaranya menjadi meriah karena diselingi dengan celetukan-celetukan spontan. Rombongan pendeta memohon izin untuk pulang paling awal (padahal sudah hampir jam Sembilan, dan mereka masih akan bertugas pada ibadah Minggu besok harinya …). Di pintu, ketika bersalaman, aku minta Auli untuk membagikan bingkisan (yang disediakan oleh Tim Promosi dari kantor berupa hadiah promosi yang masih tersisa yang sangat menarik bagi anak-anak, tentunya, dan produk untuk dikonsumsi di rumah). Aku melihat wajah-wajah gembira di hampir semua anggota rombongan saat meninggalkan rumah kediaman kami.

Terima kasih, Tuhan … terima kasih untuk kawan-kawan yang mengasihi kami sebagaimana juga kami mengasihi-Mu.

Andaliman-79 Khotbah 27 Juni 2010 Minggu IV Trinitatis

Adil atau Tidak, Tetaplah Berbuat Baik. Dan Lakukan dengan Tetap Bergembira di dalam Tuhan

Nas Epistel: Pengkhotbah 3:16-22 (bahasa Batak Parjamita 3:16-22)

3:16 Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.

3:17 Berkatalah aku dalam hati: “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.”

3:18 Tentang anak-anak manusia aku berkata dalam hati: “Allah hendak menguji mereka dan memperlihatkan kepada mereka bahwa mereka hanyalah binatang.”

3:19 Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tak mempunyai kelebihan atas binatang, karena segala sesuatu adalah sia-sia.

3:20 Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu.

3:21 Siapakah yang mengetahui, apakah nafas manusia naik ke atas dan nafas binatang turun ke bawah bumi.

3:22 Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?

Nas Evangelium: 1 Petrus 3:13-17

3:13 Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?

3:14 Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.

3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

3:16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

3:17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.

Sangat menarik apa yang disampaikan oleh nas Ep kita ini. Ternyata, ketidakadilan hukum (bahkan dalam pengadilan yang seharusnya adil pun …) ternyata sudah “dinubuatkan” seja dahulu kala. Tidak jauh berbeda dengan kondisi terkini di republk yang sangat kita cintai ini, ‘kan? Di lingkungan gereja – dalam berbagai hal, jika tidak ingin menyamaratakan semuanya – juga acapkali terdengar hal yang hamper senada: Gereja yang seharusnya sangat rohani, ternyata malah jauh lebih sekuler daripada dunia sekuler sesungguhnya!

Keadilan versi manusia adalah ketidakadilan, sesungguhnya. Karena sangat relatif, selalu dapat dipertentangkan. Sesungguhnya, Allah-lah pengadil yang seadil-adilnya. Dan saat untuk pengadilan versi Allah itu pasti tiba.

“Nasib” manusia tidak jauh berbeda dengan – ma’af – binatang. Berawal dari debu, dan akan berakhir juga menjadi debu. Dalam berbagai hal, kecuali akal dan fikiran (dan nafas rohani, tentu saja …), kelakuan manusia punya banyak kemiripan dengan binatang. Bukan hanya zaman purbakala dan peradaban masa lampau, masa terkini juga acapkali terdengar tingkah laku manusia yang sudah “kembali” menyerupai binatang. Benar, ‘kan?

Nah, dalam berbagai kesuraman yang disampaikan nas Ep tersebut, tetaplah diberikan pilihan bahwa manusia tetap harus menikmati kegembiraan dalam setiap pekerjaannya. Harus menikmati pekerjaannya dengan kegembiraan. Ini sangat mengena bagiku. Dan aku persaksikan hal ini dengan isteriku beberapa hari yang lalu, utamanya yang berhubungan dengan perpindahan tugasku saat ini ke Bandung. Jujur saja, pekerjaanku saat ini menimbulkan stress setiap hari (paling nyata dengan hasil pencapaian target yang dapat dipantau dari segala penjuru, setiap hari, dan oleh setiap tingkatan jabatan di perusahaan). Bayangkan saja jika pencapaian di bawah persentasi yang seharusnya (time rate) yang figurnya akan tertampilkan setiap pagi, seharian itu hidup bisa menjadi tidak nyaman. Ada saja perasaan bersalah, yang dikompensasi dengan harus menemukan taktik agar besok menjadi lebih baik. Supaya tidak merusak (fisik dan psikis …) aku selalu juga berupaya untuk melihat sisi baiknya. Sejauh ini yang sudah sempat aku temukan antara lain adalah, beberapa “kemewahan” yang aku dapatkan: fasilitas tempat tinggal yang (puji Tuhan!) aku bisa dapatkan satu komplek dengan kantor sehingga aku bisa berjalan kaki setiap hari (saat di Jakarta aku harus menghabiskan berjam-jam dalam perjalanan di pagi yang mulai merekah agar tidak terlambat tiba di kantor …), penghematan biaya BBM, juga makan siang (nantinya, kalau sudah benar-benar pindah rumah …), dan yang sangat terasa adalah aku punya waktu lebih banyak bercengkerama dengan anak dan isteriku (bahkan anakku si Auli juga berencana akan sering-sering datang dengan sepedanya di sore hari ke kantor untuk ber-internet ria …). Alangkah bahagianya!

Apalagi yang pantas aku lakukan dengan semua berkat itu? Nomor satu adalah berterima kasih dan bersyukur pada Tuhan untuk semuanya itu. Sebagai refleksinya, adalah melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagai kesaksian hidup betapa Tuhan menyertai kehidupanku. Menjadi berkat bagi lingkungan sekitarku, dan ini yang selalu aku upayakan untuk menjadi saksi dalam pekerjaanku saat ini di mana orang-orang yang berada di sekitarku adalah non kristiani.

Dan selalu mengkondisikan diriku untuk selalu siap menerima setiap konsekuensi dari kesetiaanku untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabku sebagai anak Tuhan (ma’af kalau frasa terakhir ini terasa berlebihan …). Hal ini seringkali terjadi, dan puji Tuhan aku masih mampu mengendalikan situasi dan kondisi yang terjadi sejauh ini.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Supremasi hokum yang sangat jauh dari harapan di negeri kita ini sering menjadi perbincangan di tengah-tengah jemaat dalam berbagai kesempatan. Dan belakangan ini memang selalu saja ada hal-hal yang mengarah kepada subyek ini. Sayangnya, yang lebih mendominasi adalah rasa pesimistis daripada optimism yang tentu saja ini akan berpengaruh dalam menyikapi berbagai situasi yang berkembang dalam kehidupan jemaat dan warga jemaat.

Nas perikop ini membekali kita bahwa hanya Tuhan-lah sang pengadil yang sesungguhnya. Dalam kehidupan – karena masih melibatkan manusia yang tidak jauh berbeda dengan (ma’af, sekali lagi …) binatang – tentu saja kita tidak boleh terlalu banyak berharap akan datangnya keadilan. Dan dalam kehidupan yang seperti kita jalani saat ini, keimanan kepada Tuhan yang dilaksanakan dengan cara melakukan perbuatan baik, hidup kudus di dalam Kristus, berani melakukan kebenaran yang sejati. Jika harus menderita, menderitalah di dalam Kristus sebagaimana juga harus bergembira yang juga di dalam Kristus.

Nasib Anak Kos (2): Tolong, Kamarku Bocor!

Karena belum mendapat rumah kontrakan yang pas, sejak akhr Maret yang lalu aku ‘nge-kos di Cijagra di kamar nomor 38. Sebagai latihan untuk hidup sederhana (dalam arti sesungguhnya, sebagaimana aku tunjukkan bilamana bertugas di luar Bandung yang selalu mencari hotel untuk menginap yang di bawah hak/plafon yang ditetapkan perusahaan untukku yang seringkali malah membuat anggota timku melongo karena heran …). Yang harus aku bayar adalah Rp 1,25 juta setiap bulan (sekali lagi, ini di bawah budget yang disediakan bagiku sebenarnya …). Terletak di lantai dua (yang menyebabkan aku harus menaiki dan menuruni tangga setiap hari …), dan nyaris di barisan paling ujung pada blok, tanpa pendingin udara (= AC), melainkan hanya kipas angin yang nyaris tidak pernah aku pakai karena tidak mau masuk angin, tanpa TV, radio, dan perangkat elektronik lainnya. Dengan kondisi seperti itu, tentulah kamar yang aku tempati bukanlah yang paling mahal. Dan yang ini – sekali lagi, ma’af – membuat beberapa orang yang mengetahui posisiku di kantor menjadi heran …

Karena juga berprinsip bahwa aku sebisanya memberikan kontribusi positif bagi orang-orang di sekitarku, bilamana ada hal yang perlu untuk diperbaiki, biasanya aku sampaikan kepada ibu kos dan atau orang-orang yang mengurusi per-kos-an itu. Sebagai orang yang selalu berusaha menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya, aku juga selalu membayar uang kos tepat waktu (kecuali kalau jatuh temponya bertepatan dengan aku berada di luar kota, itupun selalu mengabari ke ibu kos …).

Sepertinya aku tidak menempati kamar kos yang tepat (atau kamar kos itu memang tidak tepat buatku?). Menjelang bulan kedua, aku menyampaikan kepada ibu kos tentang air kloset duduk yang tidak pernah mau berhenti secara otomatis (jadi harus diputar krannya setelah pembilasan). Kalau mau menjadi orang yang tak peduli, bisa saja aku pura-pura tak tahu, tapi karena tidak mau terjadi pemborosan air karena mengalir terus menerus, aku pun member tahu ke ibu kos agar segera diperbaiki. Sekalian dengan kran shower yang pernah tiba-tiba mati dan tidak mengeluarkan ais secara total, padahal aku sedang sabunan saat itu! Juga memberi masukan agar pakaian yang dicuci dapat dikembalikan ke kamar paling lama dua hari setelah “disetor” melalui keranjang/ember pakaian kotor milik masing-masing (sudah terjadi berulang-ulang keterlambatan ini, hingga suatu kali aku terpaksa memberi tahu karena telah satu minggu pakaian seragam kerjaku masih belum nongol di depan pintu ..). Saat itu langsung terjadi perbaikan. Puji Tuhan, masih ada kepedulian ternyata …

Pertengahan Mei yang lalu (saat bertugas ke Sukabumi dan Cianjur pada 14-17 Mei 2010) – sesuai petunjuk bu kos – aku harus menitipkan kunci kamarku  (kepada satpam atau office boy, aku tak tahu pasti jabatannya karena memang tidak pernah diberitahu …). Pasalnya adalah, malam sebelumnya ada air yang menetes dari salah satu plafon di sudut kamar yang dekat dengan kamar mandi sehingga harus diperbaiki. Ketika kembali, aku mendapat jawaban dari bu kos bahwa kamar sudah diperbaiki. Aku percaya saja.

Eh, sehari sebelum pulang ke Medan (libur Waisak dan pemberkatan nikah lae-ku) ada lagi air yang mengucur.Kali ini dari lebih banyak tempat, dan airnya hitam dan bau busuk pula! Kembali aku lapor (via pesan-pendek alias SMS seperti biasanya) ke bu kos agar diperbaiki, dan kembali disarankan untuk meninggalkan kunci kamar agar diperbaiki. Ketika kembali beberapa hari kemudian, aku mendapat jawaban dari bu kos bahwa kamar sudah diperbaiki. Aku masih percaya saja. Memang ketika masuk ke kamar, aku mencium bau busuk (yang besoknya aku ketahui ternyata dari keset kaki kamar mandi yang entah mengapa basah kuyup, padahal aku tidak memakainya berhari-hari, dan lemari yang masih lembab …). Karena sudah tengah malam, aku berusaha untuk tidak menghiraukannya dengan meletakkan sabun mandi di dekat kipas angin (karena pengharum udara juga ternyata sudah habis dan belum aku beli lagi …).

Puncaknya adalah Minggu, 13 Juni 2010. Di tengah malam, aku terbangun karena ada suara air mengucur. Ternyata dari tempat yang selama ini aku minta untuk diperbaiki, ada air busuk yang menetes dengan cepat. Spontan saja aku ambil ember plastic tempat pakaian kotor untuk menampung. Eh, ada lagi dari atas lemari. Aku tampung dengan gayung dari kamar mandi. Tak lama, muncul lagi dari sudut lainnya. Aku tampung dengan gayung satunya lagi. Beberapa detik kemudian mengucur dengan deras air yang bau, dan dari hampir semua titik. Karena tempat tidur juga sudah basah, akhirnya aku pasrah. Dengan kesal dan sangat kecewa, akhirnya aku hanya memandangi kucuran air tersebut (setelah sebelumnya menyelamatkan pakaian dan barang-barang yang masih tersisa dari kucuran air bau tersebut (pakaian dan seprei yang sehari sebelumnya aku bawa dari rumah di Jakarta dengan terlipat dan terseterika dengan rapi ternyata sudah basah kuyup di rak-rak lemari kayu yang juga sudah mulai menjamur karena lembab kena kucuran air hari-hari sebelumnya …).

Aku telepon mak Auli yang malam itu menginap di Hotel Horison beserta keluarga lainnya, dengan harapan ada yang bisa menjemputku dengan mobil yang malam itu parkir di hotel karena dipakai jalan seharian. Sudah menjelang jam sebelas malam, dan mak Auli hanya bisa menyarankan untuk pindah ke kamar kos lainnya (ini kalau pemilik kos-kosan punya rasa kepedulian, faktanya beberapa kali menelepon bu kos hp-nya tidak diangkat …). Ketika keluar  kamar, aku baru sadar ternyata kamar sebelah (yang paling ujung …) juga mengalami hal yang sama denganku. Aku melihat mereka (ternyata kamar itu dihuni oleh dua orang pria) sedang mencoba menghalau air ke luar kamar dengan sapu dan peralatan seadanya. Dan salah seorang dari mereka member tahu bahwa air mengucur karena ada yang sedang memperbaiki penampungan air di atas kamar kami Jadi bukan karena hujan, karena memang tidak sedang hujan. Aku menjadi lebih percaya ketika suatu ketika kemudian dia berteriak dengan sangat kuat, “Pak!!! Bocor!!! Bocor!!! Jangan diteruskan lagi!!!” dan kucuran air yang tadi sempat menderas, mendadak langsung berkurang, kembali menjadi cucuran air yang melambat.

Karena tidak ada yang bisa aku minta bantuan (karena sudah pada tidur, termasuk hp-nya yang tidak diangkat …), aku menelepon Eko, salah seorang office boy di kantor. Tak ‘kusangka dia menjawab, dan bersiap untuk segera datang ke tempat kos. Sambil menunggu kedatangannya, aku berusaha meminta bantuan kepada mang Ojat dan Tutus (satpam atau office boy, sekali lagi aku tidak tahu …) kalau-kalau ada kamar yang bisa aku tempati, atau paling tidak tempat tidur pengganti agar aku masih bisa tidur malam menjelang dini hari itu. Namun jawabannya sangatlah menyakitkan hati, “Boss masih untung keadaan kamarnya begini. Yang lain lebih parah …”, katanya sambil melengos pergi. Tak ‘kusangka separah ini tanggapan dan pelayanan mereka terhadap penghuni yang seharusnya berhak mendapat pelayanan standar (kalau pun tidak bisa yang terbaik …).

Begitu Eko datang dengan motor, aku langsung minta bonceng ke Hotel Horison. Baru kali itu aku kembali merasakan dinginnya malam dengan bersepeda motor setelah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Untunglah mak Auli masih bisa terbangunkan dengan dering hp-ku dan ketukan pintu di kamar 316-nya sehingga aku bisa menerima kunci dan langsung bergegas kembali ke rumah kos. Setelah mengambil koper yang tadi sudah aku jejali dengan pakaian yang masih kering, aku langsung ke kantor. Dan malam itu aku tidur di kantor.

Pagi harinya, si ibu kos menelepon. Tidak ada sekalipun mengatakan ma’af, malah mengatakan aku menghalanginya untuk melakukan perbaikan karena tidak meninggalkan kunci kamar. Sesuatu yang agak aku sengaja untuk tidak meninggalkan kunci kamar (kuatir juga aka nada yang hilang dari kamar bila ada yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan …) dengan maksud agar masih bisa terlihat (oleh siapa pun) betapa porak porandanya kamar kos yang aku huni tersebut. Sesuatu yang disampaikan oleh mak Auli ketika mengantarkan kunci ke bu kos (karena jadualku dipenuhi oleh banyak meeting hari itu, aku minta bantuannya untuk mengantarkan kunci ke kamar kos), dan tak menyangka harus melihat air tergenang semata kakinya. Mak Auli juga merasa tidak nyaman dengan tanggapan bu kos yang bersikap tidak simpatik dengan kejadian tersebut.

Karena merasa pembicaraan yang tidak berbobot, via telepon aku mengatakan kepada bu kos, “Bu, sebenarnya yang aku sangat harapkan itu adalah simpati ibu dengan kejadian yang harus aku alami. Dengan pelayanan yang seperti itu, ibu seharusnya meminta ma’af. Bukan malah marah karena aku menelepon ibu malam itu karena toh ibu juga tidak mengangkat telepon. Itulah sebabnya aku SMS supaya ibu tahu situasinya. Apalagi dengan menyalahkan tukang yang mengerjakan perbaikan kamar kos. Ma’af ya bu, sebagai penghuni kamar kos aku sebenarnya tidak perlu tahu tentang masalah ibu dengan tukang, karena yang aku mau adalah aku bisa tinggal di kamar kos itu dengan tidak terganggu.”

Begitulah. Pada malam harinya kemudian, aku berharap semuanya sudah diperbaiki sehingga aku bisa tidur di kamar kos malam pada hari Senin itu. Iseng-iseng, aku mengirim SMS ke bu kos, “Slmt mlm, bu. Malam ini aku sudah bisa ‘nginap di kamar kosku?”. Jawabannya membuatku sangat terkejut, “Karena lampunya masih putus dan tidak sempat diganti, bpk belum bisa pakai kamar itu mlm ini”.. Gila, ‘nggak mendapat jawaban seperti itu?! Langsung aku balas, “Tidak bisa ‘nginap di kamar kos, tanpa info sebelumnya, dan tanpa kompensasi karena aku harus cari penginapan lain lagi malam ini. Pelayanan apa itu?” Tidak ada lagi jawaban.

Nah, siang tadi (jam 14:33) aku kirim SMS untuk mendapat kepastian bisa menginap di kamar kos, “Hari ini kamar kos msh diliputi kegelapan? Ataukah sdh kembali spt sedia kala?” Lalu terjadilah balas-balasan seperti ini:

Bu Kos (jam 14:53): Slmt siang p’, apa bp bs tunggu/sabar sebentar..???Sy ada d posisi GRIYA-BUBAT to beli lampu.Dr kemarin2 yang saya lihat+baca smsnya slu menggerutu/mengomel dan complain setiap wkt.Sy di sini sudah berusaha svc yg sebaik mungkin to bp.Tp pelayanan kami tdk pernah bp hargai. Penghuni kost d sini ada musibah sprt bp.Namun mrk tdk pernah mengomel/complain yg pernah bp ktkan pd sy lewat sms.Mrk hanya mengatakan tolong rapikan sj dan mrkpun mengatakan sangat mengerti+jgn terlalu d pikirkan to sy.Sy sgt salut+profesonial akan skp mereka. Jd sy merasa segan akan skp mereka smua,Klu pelayanan kami tdk memuaskan mungkin smua penghuni tdk akan kerasan d sn,bkn?Smua penghuni/Beliau yg tinggal d kostan sdh hampir 4-5 Thn dan apabl tgsnya selesai beliau ada penggantinya to mengisi kmr tsb.Jadi, sy kembali sm bp, apakah bp lanjut/tdk to tinggal d kost kami?Krn Wait List kami bnyk skli yg menunggu keptsan dr sy to minggu/bln2 ini.Kami tgu keptsannya hr ini.Atas krjsmnya kami ucapkan terima kasih,

Aku (jam 15:03) : Aku hanya meminta apa yg jadi hakku, lain halnya kalau aku tdk melaksanakan apa yg jadi kewajibanku. Kalau penghuni yg lain, mngkn mrk lbh bisa pasrah & sabar

Bu Kos (jam 15:51) : P’ apa dg sudah membyr kost.. bp seenaknya complain pd sy seperti ini? Memang itu hak bpd an kewajiban bp membyr kost. Tp hak sy juga to menanyakan kembali pd bp. apa bp akan lanjut/tdk tinggal d kost kami? Jg kewajiban kami sdh berusaha sebaik mungkin. Jika bp tdk suka dg kondisi kost kami maka kami tdk memaksa bp to tinggal d kostan ini. Dan mungkin ada yg lebih baik dr pelayanan kami ya. missal:Hotel,dll. Apa yg bp katakan mengenai penghuni kostan ini, sy tdk sependapat dg bp..yaitu b’sifat sabar dan pasrah sj…d sini yg tinggal kebnykan kedudukan BM…dan yg sy lihat mereka semakin tinggi jabatan semakin rendah hati…Sy bnyk belajar dr mrk bahkan sharring dg mrk. Sy jg tdk aneh dg skp penghuni yg berbeda – beda karakter namun d sini sy bnyk belajar bgmn mengendalikan emosional kt? Jikalau sy b’skp lepas kendali, apa yg menjd penilaian pd sy. malah jd bahan tertawaan mrk.bkn? P’, sym au tanyakan kembali apa bp akan lanjut atau tdk tinggal d kostan kami?Trim’s

Aku (jam 16:00): Ma’af bu aku tak mau menyia-nyiakan wkt  & energi utk yg spt ini. Ada yg lbh penting yg hrs aku kerjakan …

Bu Kos (jam 16:07) : Maaf y p’, setiap masalah hrs cepat diselesaikan dan sy tdk mau menggantung. Krn bp selalu complain/menggerutu pd sy. Pekerjaan sy jg bnyk bkn mengurusi bps j.krn bp slu sms pd saya ttg ini dan itu…. Ya. Saya ingin mendpt jwban bp secepatnya dg memberikan keptsan pd saya. Agar sy mengetahui jwban dr bp. Trim’s

Aduuuh … pusing juga kalau menghadapi situasi seperti ini. Ingin cepat-cepat aja beranjak dari tempat itu.

Andaliman-78 Khotbah 20 Juni 2010 Minggu III setelah Trinitatis

Kasihilah Tuhan. Percayalah kepada-Nya sebagai satu-satunya Allah. Tempat kita sudah tersedia di surga, lho

Nas Epistel: Ulangan 11:13-21 (bahasa Batak 5 Musa 11:13-21)

11:13 Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu,

11:14 maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu,

11:15 dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang.

11:16 Hati-hatilah, supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya.

11:17 Jika demikian, maka akan bangkitlah murka TUHAN terhadap kamu dan Ia akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan dan tanah tidak mengeluarkan hasil, lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan TUHAN kepadamu.

11:18 Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu.

11:19 Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;

11:20 engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu,

11:21 supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi.

Nas Evangelium: Yohanes 14:1-3

14:1 Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Tuhan kita adalah Allah yang pencemburu. Tidak bersedia diduakan. Kesetiaan manusia adalah mutlak bagi-Nya. Dan satu-satunya.

Kedua nas perikop ini dihubungkan dengan tuntutan kesetiaan tersebut. Jangan mudah terbujuk sehingga menyimpang dan mencari pengganti-Nya untuk disembah. Jika tanggapan sesuai dengan tuntutan tersebut, segala yang baik akan menghampiri orang-orang yang percaya kepada-Nya. Itulah pemahamanku.

Bujukan untuk tidak setia kepada-Nya sebagaimana dimaksud dalam nas Ep di atas makin sering aku dengar belakangan hari ini. Jika pada perikop tersebut disebutkan sebagai “jangan mudah terbujuk”, maka pada nas Ev berikutnya disebutkan sebagai “jangan gelisah hati”. Gelisah hati bisa berarti sebagai mudah terombang-ambing bagai kapal di tengah laut yang digoyang ombak ke sana ke mari. Supaya kokoh dan tegar, hanya Tuhan sajalah yang pantas dijadikan sebagai batu karang dalam kehidupan.

Ajaran-ajaran yang berkembang (dan ajakan-ajakan para pemimpinnya …) yang mengesankan seolah-olah paling alkitabiah dan “ring satu”-nya Tuhan juga mudah menjebak sebagai penyesat. Dan ini yang paling berpotensi dalam menimbulkan kerusakan. Jika yang sangat jauh berbeda dengan apa yang aku sudah pernah terima sebelumnya, tentulah mudah aku menolaknya dengan mengatakan bahwa itu tidak sesuai dengan keimananku. Tapi kalau ada orang yang sangat mengesankan kristiani dan alkitabiah dengan ajaran yang mirip-mirip atau agak berbeda dengan keimananku, tentulah situasinya akan menjadi lebih sulit … Sayangnya, seperti inilah yang kecenderungannya semakin bertambah belakangan hari ini. Agar tidak tersesat sehingga kehilangan tempat yang sudah disediakan Yesus bagiku di surge, sudah pasti aku akan menolak keduanya, yakni yang mirip-mirip (atau berbeda sedikit) dengan keimananku, apalagi yang sangat jauh berbeda.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Salah satu hal yang membuatku tetap berjemaat di HKBP sampai detik ini adalah pengajarannya yang tegas dan alkitabiah yang dicantumkan dalam Konfessi HKBP. Karena berdasarkan firman Tuhan sebagaimana tercantum dalam Alkitab, maka akan sangat mudah bagiku untuk memutuskan bahwa ajaran yang berbeda dari itu adalah sesat. Dan dengan itu pulalah, aku semkain yakin untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Artinya tidak mudah terombang-ambing oleh ajaran-ajaran yang cenderung menawarkan kenikmatan semata yang semakin berkembang belakangan ini dengan mengaku-aku sebagai Gereja.

Sebagai warga jemaat, kita punya ketetapan hati untuk meyakini bahwa pengajaran yang kita terima selama ini adalah layak untuk dipertahankan. Sebagai pelayan jemaat, informasi yang tercakup dalam Konfessi HKBP tersebut haruslah kita sampaikan dan kita sebarluaskan kepada setiap anggota jemaat agar mereka juga tidak mudah terombang-ambing dengan tawaran-tawaran yang mengesankan seolah-olah mereka dari Gereja yang benar, sebagaimana nas perikop ini mangatakan: “Jangan sesat!” yang dapat dikembangkan dari frasa “Jangan hatimu terbujuk” dan “Jangan gelisah hatimu”.