Beribadah di Gereja Pasundan, euy …!

Karena urusan pekerjaan, hari Minggu 17 Mei yang lalu aku harus tetap menginap di Sukabumi. Sampai Sabtu malam, aku masih belum punya gambaran tentang di gereja mana aku akan beribadah di kota itu. Anggota timku yang ditempatkan di Sukabumi tersebut tidak mengetahui – persisnya tak acuh – dengan yang namanya gereja. Mungkin karena dia seorang muslim. Padahal lokasi gereja sangat dekat dengan lokasi tempatnya indekos, yakni gereja Protestan dan gereja Katolik yang terkesan memang sengaja dikelompokkan. “’Nggak tahu, pak gereja apa itu. Saya pun baru tahu kalau itu ternyata bangunan gereja. ‘Nggak pernah perhatiin, sih …”, jawabnya ringan ketika aku bertanya: “Gereja apa itu, ya?”. Jawaban tersebut sempat membuatku gusar. Tapi tak apalah, lain halnya kalau jawaban dari sesama orang Kristen, tentu itu akan membuatku sedih.

Aku sebenarnya meminta untuk dijemput di hotel sederhana tempatku menginap jam delapan. Menurut perkiraanku, aku pasti masih dapat mengikuti ibadah jam sembilan atau jam sepuluh sebagaimana biasanya jadual ibadah Minggu di banyak gereja. Karena dia belum tiba juga, aku pun berinisiatif berjalan kaki menelusuri kota dengan mengingat-ingat lokasi gereja yang sempat kami lalui Sabtu malam sebelumnya.

Pilihan pertama: HKBP. Pilihan kedua: GKI. Namun karena lokasi gerejanya aku tidak sempat lalui hari-hari sebelumnya (belakangan aku tahu ternyata lokasinya di jalan besar yang selalu dilalui banyak kendaraan kalau memasuki Sukabumi …), aku pun harus “merelakan” untuk tidak beribadah Minggu di gereja HKBP kali itu. Lagian, muncul pemikiran, “Ah, kalau di HKBP dan GKI ‘kan sudah biasa … Kenapa ‘nggak coba di Gereja Pasundan aja … Paling ‘nggak, untuk menambah pengalaman …”.

Memang, semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Ketika hampir “putus asa” tidak menemukan bangunan gereja, aku pun bertanya kepada tukang beca, “Pak, tahu ‘nggak di mana ada gereja Batak?”.  Harapanku menjadi bertambah ketika sang abang becak dengan antusias menjawab, “Gereja Batak saya ‘nggak tahu. Tapi di jalan besar sana ada dua gereja. Coba kita tanya ke si Encik yang bukan orang Islam, mungkin dia tahu”, jawabnya sambil bertanya ke si Encik. Si Encik (warga keturunan Cina yang menjaga toko kelontong di dekat simpang tempat tukang becak mangkal) memberikan jawaban yang hampir sama, sehingga si abang becak menjawab, “Oh iya, si Encik ini bukan orang ke gereja ya …”.

Dengan berterima kasih, aku pun berbalik  menuju arah yang tadi ditunjuk. Masak dari dua gereja yang dimaksud, tidak satupun yang pas untuk aku beribadah di sana, pikirku. Menjelang jam sembilan, aku tiba di depan bangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI). Bangunannya bersahaja, dan dari dalam kedengaran suara orang sedang berkhotbah. Aku lihat di jadual yang tercantum pada papan nama gereja, kemungkinan besar mereka sudah masuk sejak jam 8 pagi tadi. Karena segan untuk masuk ke dalam, aku pun melanjutkan pencarianku akan gereja satunya lagi. Ternyata tidak aku temukan. Mungkin gereja kharismatis yang menempati ruko sangat sederhana dan agak tersembunyi yang dimaksudkan oleh tukang becak dan si encim yang tadi.

Setelah di ujung jalan, aku pun belok ke kiri mengikuti keramaian lalu lintas. Puji Tuhan, aku melihat bangunan gereja seperti yang aku lihat Sabtu malam sebelumnya. Bangunannya sangat luas, banyak mobil terparkir di halamannya yang juga luas, dan ada spanduk besar di salah satu bangunan di samping gereja (mungkin aula) yang bertulisan “Tahun Pelayanan Keluarga”. Ketika hendak masuk, aku bertemu dengan satpamnya yang ramah. Saat itulah aku baru tahu bahwa itu adalah gereja Katolik. Dan pak satpam dengan ramah menjawab bahwa tak jauh dari situ ada gereja Protestan, namun tak tahu apa nama gerejanya (karena sama tidak pedulinya dengan kawanku yang muslim, atau mungkin juga karena saking banyaknya “jenis” gereja Protestan, aku tidak tahu persis …).

Eh, ternyata itu adalah bangunan Gereja Kristen Pasundan. Aku pun memasuki halamannya. Hanya terlihat dua orang sedang duduk-duduk di halaman. Dan ada suara anak-anak, ternyata Sekolah Minggu. Aku pun masuk ke bangunan gereja yang kursinya masih kosong semua. Ada seorang bapak sedang mencoba mikrofon dan mempersiapkan kebutuhan ibadah. Mungkin penatua atau koster. Tak lama setelah aku duduk, dia mendatangiku, menyalamiku, dan memberi tahu bahwa ibadah dimulai jam sepuluh. Padahal saat itu baru jam sembilan kurang.

Mengisi waktu senggang, aku pun membaca Warta Jemaat yang sudah diletakkan di setiap sandaran kursi panjang. Aku lihat ada beberapa nama orang Batak (yang juga terlihat dari marga) yang tercantum sebagai aktivis gereja. Hebat, pikirku. “Pelarian” dari HKBP? Entahlah …

Lalu aku membuka buku satunya lagi, ternyata semacam agenda. Ada empat model yang dipergunakan sesuai urutan minggu dalam satu bulan. Setiap model punya latar belakang masing-masing. Yang aku ingat, misalnya agenda yang menganggap manusia adalah makhluk yang harus mencari/mendatangi hadirat Allah. Hebat kali, pikirku lagi. HKBP saja hanya punya satu jenis agenda.

Lalu aku buka buku di sampingnya: Alkitab. Semua buku tersebut berbahasa Indonesia. Aku masih berharap-harap cemas kalau-kalau nanti berbahasa Sunda, tentulah aku tak bisa mengikuti liturginya dengan baik karena sampai hari ini pun aku hanya masih bisa memahami kurang dari sepuluh kosa kata bahasa Sunda. “Tak apalah, toh Roh Kudus nanti pasti memberikan pengertian bagiku …”, ujarku dalam hati untuk menghibur diri sendiri. Ternyata dari awal sampai akhir ibadah (termasuk koor yang dinyanyikan kelompok ibu-ibu) menggunakan bahasa Indonesia. Aku pun jadi sempat tertanya-tanya dalam hati, “Lantas di mana Sunda-nya?” Eh, ternyata di pintu keluar hampir semua orang berbahasa Sunda …

Iklan

One comment on “Beribadah di Gereja Pasundan, euy …!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s