Bah, koq Cuman Satu?!

Libur akhir Mei yang lalu, kami sekeluarga pulang ke Medan. Lae-ku, anak kandung mertuaku, satu-satunya saudara laki-laki isteriku, mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi perempuan pilihan hatinya: boru Girsang. Tentu saja semua berlomba-lomba melakukan yang terbaik untuk perhelatan akbar ini. Bagi keluarga Simatupang – mertuaku – dan juga keluarga Girsang, ini adalah terakhir kali memestakan putra dan atau putri, karena keduanya – laeinang bao – adalah anak bungsu. dan

Pemberkatan dilaksanakan di gereja GKPS Teladan, lalu dilanjutkan dengan upacara adat. Sebagai boru, aku dapat tugas mewakili keluarga mertuaku dalam memberikan upa ulos, yaitu memberikan uang dalam amplop bagi setiap orang yang memberikan ulos kepada pengantin alias mangulosi. Peraturannya sudah jelas, satu ulos berhak mendapatkan satu amplop sebagai pengganti ucapan terima kasih dari keluarga pengantin. Begitulah, aku pun berdiri di sebelah orangtua pengantin perempuan yang juga berdiri di sebelah kiri pengantin. Di sebelah kiriku berdiri wakil dari keluarga pengantin perempuan yang juga melaksanakan tugasnya yang sama denganku: memberikan upa ulos. Jadi setiap ulos akan mendapatkan dua amplop, satu dari keluarga pengantian laki-laki, dan satunya lagi dari pengantin perempuan.

Aku pun dibekali dengan tumpukan amplop berisi yang tersebut (yang karena saking banyaknya pemberi ulos, aku harus dua kali meminta tambahan kepada pariban-ku …). Aku pun tentu saja harus patuh melakukan tugasku tersebut dengan cara memastikan bahwa setiap orang menerima sesuai dengan haknya. Oleh sebab itu, aku selalu berupaya untuk dapat melihat dengan jelas setiap orang yang mangulosi dan menghitung berapa helai ulosmangulosiulos, biasanya mereka menyalami pengantin dan kedua orangtua pengantin. Lalu tibalah giliranku: yang suami akan aku salami, lalu isterinya juga aku salami, dan plus amplop. yang disampirkan kepada pengantin. Ada yang lebih dari satu karena membawa titipan dari sanak saudara dan kerabat. Oh ya, yang biasanya pasangan suami-isteri. Ketika selesai memberikan

Agar tidak “kecolongan”, maka aku selalu menambahkan satu amplop untuk setiap tambahan ulos yang disampirkan jika lebih dari satu. Jadi, pasti tidak akan ada yang tidak mendapat amplop untuk setiap helai ulos yang disampirkan kepada pengantin. Namun apa yang terjadi? Selalu saja ada yang merasa tidak puas, khususnya merasa kurang dengan jumlah amplop yang aku berikan. Berikut ini adalah beberapa jenis ungkapan yang disampaikan oleh orang-orang yang merasa “berkekurangan” tersebut:

–     “Ulosku tadi dua, amplopnya harus dua juga!”

–     “Kurang ini, minta lagi!”

–     “Tadi lima ulosku. Mana lagi amplopnya?”

Padahal kalau melihat penampilan mereka (yang selalu tersenyum ramah saat bersalaman dengan orangtua pengantin, dan memakai perhiasan layaknya umumnya kaum ibu orang Batak bila menghadiri pesta …), tak pantaslah harus bersikap seperti itu. Memperjuangkan tambahan amplop, yang –ma’af – mengesankan hampir tidak ada bedanya dengan orang-orang yang antri memperebutkan amplop BLT ( =bantuan langsung tunai). Bahkan ada yang ‘ngotot menuntut tambahan amplop meskipun sudah berulangkali aku jelaskan bahwa jumlahnya sudah sama dengan jumlah ulos yang mereka berikan sambil memberikan isyarat agar dimengerti. Namun tetap saja ada yang masih ‘ngotot sehingga aku meminta mereka untuk menghitung amplop yang sudah ada di tangan mereka. Biasanya kalau begini, barulah urusan selesai. Ibu-ibu yang tipe seperti ini akan segera berlalu, apalagi karena ada desakan orang-orang lain yang juga baru selesai mangulosi yang merasa tertahan dengan posisi mereka yang masih tetap berdiri di barisan antrian panjang …

Masih ada satu lagi. Ketika sesi mangulosi baru saja usai dan aku berdiri agak ke pinggir untuk menyeka keringat yang membasahi setelan jasku, ada seorang ibu setengah baya datamg kepadaku. Di sebelahnya turut pemberi amplop dari pihak keluarga pengantin perempuan yang berujar kepadaku, Anggi, tadi inang ini baru mendapat tiga amplop. Aku tadi mengasih lima. Tambahilah dua lagi amplopnya …”. Tanpa memeriksa dan bertanya apa-apa lagi, dengan segera aku menyodorkan dua amplop kepada ibu yang dimaksud. “Apa rugiku?”, ujarku, hanya di dalam hati. Ketika duduk di kursi untuk beristirahat, aku tetap saja tidak habis pikir, dan akhirnya berusaha keras memahami bahwa uang tetap saja direbut selagi ada kesempatan, walau orang lain berpikir bahwa hal itu sudah tidak pantas … apalagi bilamana mengingat bahwa isi setiap amplop hanyalah selembar pecahan lima ribu …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s