Nasib Anak Kos (2): Tolong, Kamarku Bocor!

Karena belum mendapat rumah kontrakan yang pas, sejak akhr Maret yang lalu aku ‘nge-kos di Cijagra di kamar nomor 38. Sebagai latihan untuk hidup sederhana (dalam arti sesungguhnya, sebagaimana aku tunjukkan bilamana bertugas di luar Bandung yang selalu mencari hotel untuk menginap yang di bawah hak/plafon yang ditetapkan perusahaan untukku yang seringkali malah membuat anggota timku melongo karena heran …). Yang harus aku bayar adalah Rp 1,25 juta setiap bulan (sekali lagi, ini di bawah budget yang disediakan bagiku sebenarnya …). Terletak di lantai dua (yang menyebabkan aku harus menaiki dan menuruni tangga setiap hari …), dan nyaris di barisan paling ujung pada blok, tanpa pendingin udara (= AC), melainkan hanya kipas angin yang nyaris tidak pernah aku pakai karena tidak mau masuk angin, tanpa TV, radio, dan perangkat elektronik lainnya. Dengan kondisi seperti itu, tentulah kamar yang aku tempati bukanlah yang paling mahal. Dan yang ini – sekali lagi, ma’af – membuat beberapa orang yang mengetahui posisiku di kantor menjadi heran …

Karena juga berprinsip bahwa aku sebisanya memberikan kontribusi positif bagi orang-orang di sekitarku, bilamana ada hal yang perlu untuk diperbaiki, biasanya aku sampaikan kepada ibu kos dan atau orang-orang yang mengurusi per-kos-an itu. Sebagai orang yang selalu berusaha menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya, aku juga selalu membayar uang kos tepat waktu (kecuali kalau jatuh temponya bertepatan dengan aku berada di luar kota, itupun selalu mengabari ke ibu kos …).

Sepertinya aku tidak menempati kamar kos yang tepat (atau kamar kos itu memang tidak tepat buatku?). Menjelang bulan kedua, aku menyampaikan kepada ibu kos tentang air kloset duduk yang tidak pernah mau berhenti secara otomatis (jadi harus diputar krannya setelah pembilasan). Kalau mau menjadi orang yang tak peduli, bisa saja aku pura-pura tak tahu, tapi karena tidak mau terjadi pemborosan air karena mengalir terus menerus, aku pun member tahu ke ibu kos agar segera diperbaiki. Sekalian dengan kran shower yang pernah tiba-tiba mati dan tidak mengeluarkan ais secara total, padahal aku sedang sabunan saat itu! Juga memberi masukan agar pakaian yang dicuci dapat dikembalikan ke kamar paling lama dua hari setelah “disetor” melalui keranjang/ember pakaian kotor milik masing-masing (sudah terjadi berulang-ulang keterlambatan ini, hingga suatu kali aku terpaksa memberi tahu karena telah satu minggu pakaian seragam kerjaku masih belum nongol di depan pintu ..). Saat itu langsung terjadi perbaikan. Puji Tuhan, masih ada kepedulian ternyata …

Pertengahan Mei yang lalu (saat bertugas ke Sukabumi dan Cianjur pada 14-17 Mei 2010) – sesuai petunjuk bu kos – aku harus menitipkan kunci kamarku  (kepada satpam atau office boy, aku tak tahu pasti jabatannya karena memang tidak pernah diberitahu …). Pasalnya adalah, malam sebelumnya ada air yang menetes dari salah satu plafon di sudut kamar yang dekat dengan kamar mandi sehingga harus diperbaiki. Ketika kembali, aku mendapat jawaban dari bu kos bahwa kamar sudah diperbaiki. Aku percaya saja.

Eh, sehari sebelum pulang ke Medan (libur Waisak dan pemberkatan nikah lae-ku) ada lagi air yang mengucur.Kali ini dari lebih banyak tempat, dan airnya hitam dan bau busuk pula! Kembali aku lapor (via pesan-pendek alias SMS seperti biasanya) ke bu kos agar diperbaiki, dan kembali disarankan untuk meninggalkan kunci kamar agar diperbaiki. Ketika kembali beberapa hari kemudian, aku mendapat jawaban dari bu kos bahwa kamar sudah diperbaiki. Aku masih percaya saja. Memang ketika masuk ke kamar, aku mencium bau busuk (yang besoknya aku ketahui ternyata dari keset kaki kamar mandi yang entah mengapa basah kuyup, padahal aku tidak memakainya berhari-hari, dan lemari yang masih lembab …). Karena sudah tengah malam, aku berusaha untuk tidak menghiraukannya dengan meletakkan sabun mandi di dekat kipas angin (karena pengharum udara juga ternyata sudah habis dan belum aku beli lagi …).

Puncaknya adalah Minggu, 13 Juni 2010. Di tengah malam, aku terbangun karena ada suara air mengucur. Ternyata dari tempat yang selama ini aku minta untuk diperbaiki, ada air busuk yang menetes dengan cepat. Spontan saja aku ambil ember plastic tempat pakaian kotor untuk menampung. Eh, ada lagi dari atas lemari. Aku tampung dengan gayung dari kamar mandi. Tak lama, muncul lagi dari sudut lainnya. Aku tampung dengan gayung satunya lagi. Beberapa detik kemudian mengucur dengan deras air yang bau, dan dari hampir semua titik. Karena tempat tidur juga sudah basah, akhirnya aku pasrah. Dengan kesal dan sangat kecewa, akhirnya aku hanya memandangi kucuran air tersebut (setelah sebelumnya menyelamatkan pakaian dan barang-barang yang masih tersisa dari kucuran air bau tersebut (pakaian dan seprei yang sehari sebelumnya aku bawa dari rumah di Jakarta dengan terlipat dan terseterika dengan rapi ternyata sudah basah kuyup di rak-rak lemari kayu yang juga sudah mulai menjamur karena lembab kena kucuran air hari-hari sebelumnya …).

Aku telepon mak Auli yang malam itu menginap di Hotel Horison beserta keluarga lainnya, dengan harapan ada yang bisa menjemputku dengan mobil yang malam itu parkir di hotel karena dipakai jalan seharian. Sudah menjelang jam sebelas malam, dan mak Auli hanya bisa menyarankan untuk pindah ke kamar kos lainnya (ini kalau pemilik kos-kosan punya rasa kepedulian, faktanya beberapa kali menelepon bu kos hp-nya tidak diangkat …). Ketika keluar  kamar, aku baru sadar ternyata kamar sebelah (yang paling ujung …) juga mengalami hal yang sama denganku. Aku melihat mereka (ternyata kamar itu dihuni oleh dua orang pria) sedang mencoba menghalau air ke luar kamar dengan sapu dan peralatan seadanya. Dan salah seorang dari mereka member tahu bahwa air mengucur karena ada yang sedang memperbaiki penampungan air di atas kamar kami Jadi bukan karena hujan, karena memang tidak sedang hujan. Aku menjadi lebih percaya ketika suatu ketika kemudian dia berteriak dengan sangat kuat, “Pak!!! Bocor!!! Bocor!!! Jangan diteruskan lagi!!!” dan kucuran air yang tadi sempat menderas, mendadak langsung berkurang, kembali menjadi cucuran air yang melambat.

Karena tidak ada yang bisa aku minta bantuan (karena sudah pada tidur, termasuk hp-nya yang tidak diangkat …), aku menelepon Eko, salah seorang office boy di kantor. Tak ‘kusangka dia menjawab, dan bersiap untuk segera datang ke tempat kos. Sambil menunggu kedatangannya, aku berusaha meminta bantuan kepada mang Ojat dan Tutus (satpam atau office boy, sekali lagi aku tidak tahu …) kalau-kalau ada kamar yang bisa aku tempati, atau paling tidak tempat tidur pengganti agar aku masih bisa tidur malam menjelang dini hari itu. Namun jawabannya sangatlah menyakitkan hati, “Boss masih untung keadaan kamarnya begini. Yang lain lebih parah …”, katanya sambil melengos pergi. Tak ‘kusangka separah ini tanggapan dan pelayanan mereka terhadap penghuni yang seharusnya berhak mendapat pelayanan standar (kalau pun tidak bisa yang terbaik …).

Begitu Eko datang dengan motor, aku langsung minta bonceng ke Hotel Horison. Baru kali itu aku kembali merasakan dinginnya malam dengan bersepeda motor setelah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Untunglah mak Auli masih bisa terbangunkan dengan dering hp-ku dan ketukan pintu di kamar 316-nya sehingga aku bisa menerima kunci dan langsung bergegas kembali ke rumah kos. Setelah mengambil koper yang tadi sudah aku jejali dengan pakaian yang masih kering, aku langsung ke kantor. Dan malam itu aku tidur di kantor.

Pagi harinya, si ibu kos menelepon. Tidak ada sekalipun mengatakan ma’af, malah mengatakan aku menghalanginya untuk melakukan perbaikan karena tidak meninggalkan kunci kamar. Sesuatu yang agak aku sengaja untuk tidak meninggalkan kunci kamar (kuatir juga aka nada yang hilang dari kamar bila ada yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan …) dengan maksud agar masih bisa terlihat (oleh siapa pun) betapa porak porandanya kamar kos yang aku huni tersebut. Sesuatu yang disampaikan oleh mak Auli ketika mengantarkan kunci ke bu kos (karena jadualku dipenuhi oleh banyak meeting hari itu, aku minta bantuannya untuk mengantarkan kunci ke kamar kos), dan tak menyangka harus melihat air tergenang semata kakinya. Mak Auli juga merasa tidak nyaman dengan tanggapan bu kos yang bersikap tidak simpatik dengan kejadian tersebut.

Karena merasa pembicaraan yang tidak berbobot, via telepon aku mengatakan kepada bu kos, “Bu, sebenarnya yang aku sangat harapkan itu adalah simpati ibu dengan kejadian yang harus aku alami. Dengan pelayanan yang seperti itu, ibu seharusnya meminta ma’af. Bukan malah marah karena aku menelepon ibu malam itu karena toh ibu juga tidak mengangkat telepon. Itulah sebabnya aku SMS supaya ibu tahu situasinya. Apalagi dengan menyalahkan tukang yang mengerjakan perbaikan kamar kos. Ma’af ya bu, sebagai penghuni kamar kos aku sebenarnya tidak perlu tahu tentang masalah ibu dengan tukang, karena yang aku mau adalah aku bisa tinggal di kamar kos itu dengan tidak terganggu.”

Begitulah. Pada malam harinya kemudian, aku berharap semuanya sudah diperbaiki sehingga aku bisa tidur di kamar kos malam pada hari Senin itu. Iseng-iseng, aku mengirim SMS ke bu kos, “Slmt mlm, bu. Malam ini aku sudah bisa ‘nginap di kamar kosku?”. Jawabannya membuatku sangat terkejut, “Karena lampunya masih putus dan tidak sempat diganti, bpk belum bisa pakai kamar itu mlm ini”.. Gila, ‘nggak mendapat jawaban seperti itu?! Langsung aku balas, “Tidak bisa ‘nginap di kamar kos, tanpa info sebelumnya, dan tanpa kompensasi karena aku harus cari penginapan lain lagi malam ini. Pelayanan apa itu?” Tidak ada lagi jawaban.

Nah, siang tadi (jam 14:33) aku kirim SMS untuk mendapat kepastian bisa menginap di kamar kos, “Hari ini kamar kos msh diliputi kegelapan? Ataukah sdh kembali spt sedia kala?” Lalu terjadilah balas-balasan seperti ini:

Bu Kos (jam 14:53): Slmt siang p’, apa bp bs tunggu/sabar sebentar..???Sy ada d posisi GRIYA-BUBAT to beli lampu.Dr kemarin2 yang saya lihat+baca smsnya slu menggerutu/mengomel dan complain setiap wkt.Sy di sini sudah berusaha svc yg sebaik mungkin to bp.Tp pelayanan kami tdk pernah bp hargai. Penghuni kost d sini ada musibah sprt bp.Namun mrk tdk pernah mengomel/complain yg pernah bp ktkan pd sy lewat sms.Mrk hanya mengatakan tolong rapikan sj dan mrkpun mengatakan sangat mengerti+jgn terlalu d pikirkan to sy.Sy sgt salut+profesonial akan skp mereka. Jd sy merasa segan akan skp mereka smua,Klu pelayanan kami tdk memuaskan mungkin smua penghuni tdk akan kerasan d sn,bkn?Smua penghuni/Beliau yg tinggal d kostan sdh hampir 4-5 Thn dan apabl tgsnya selesai beliau ada penggantinya to mengisi kmr tsb.Jadi, sy kembali sm bp, apakah bp lanjut/tdk to tinggal d kost kami?Krn Wait List kami bnyk skli yg menunggu keptsan dr sy to minggu/bln2 ini.Kami tgu keptsannya hr ini.Atas krjsmnya kami ucapkan terima kasih,

Aku (jam 15:03) : Aku hanya meminta apa yg jadi hakku, lain halnya kalau aku tdk melaksanakan apa yg jadi kewajibanku. Kalau penghuni yg lain, mngkn mrk lbh bisa pasrah & sabar

Bu Kos (jam 15:51) : P’ apa dg sudah membyr kost.. bp seenaknya complain pd sy seperti ini? Memang itu hak bpd an kewajiban bp membyr kost. Tp hak sy juga to menanyakan kembali pd bp. apa bp akan lanjut/tdk tinggal d kost kami? Jg kewajiban kami sdh berusaha sebaik mungkin. Jika bp tdk suka dg kondisi kost kami maka kami tdk memaksa bp to tinggal d kostan ini. Dan mungkin ada yg lebih baik dr pelayanan kami ya. missal:Hotel,dll. Apa yg bp katakan mengenai penghuni kostan ini, sy tdk sependapat dg bp..yaitu b’sifat sabar dan pasrah sj…d sini yg tinggal kebnykan kedudukan BM…dan yg sy lihat mereka semakin tinggi jabatan semakin rendah hati…Sy bnyk belajar dr mrk bahkan sharring dg mrk. Sy jg tdk aneh dg skp penghuni yg berbeda – beda karakter namun d sini sy bnyk belajar bgmn mengendalikan emosional kt? Jikalau sy b’skp lepas kendali, apa yg menjd penilaian pd sy. malah jd bahan tertawaan mrk.bkn? P’, sym au tanyakan kembali apa bp akan lanjut atau tdk tinggal d kostan kami?Trim’s

Aku (jam 16:00): Ma’af bu aku tak mau menyia-nyiakan wkt  & energi utk yg spt ini. Ada yg lbh penting yg hrs aku kerjakan …

Bu Kos (jam 16:07) : Maaf y p’, setiap masalah hrs cepat diselesaikan dan sy tdk mau menggantung. Krn bp selalu complain/menggerutu pd sy. Pekerjaan sy jg bnyk bkn mengurusi bps j.krn bp slu sms pd saya ttg ini dan itu…. Ya. Saya ingin mendpt jwban bp secepatnya dg memberikan keptsan pd saya. Agar sy mengetahui jwban dr bp. Trim’s

Aduuuh … pusing juga kalau menghadapi situasi seperti ini. Ingin cepat-cepat aja beranjak dari tempat itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s