Andaliman-81 Khotbah 11 Juli 2010 Minggu VI setelah Trinitatis

Kaya dan Berkuasa, bukanlah Dosa. Tapi berhati-hatilah …

 

Nas Epistel: Amsal 23:1-8  (bahasa Batak Poda 23:1-8)

23:1 Bila engkau duduk makan dengan seorang pembesar, perhatikanlah baik-baik apa yang ada di depanmu.

23:2 Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!

23:3 Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu.

23:4 Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.

23:5 Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.

23:6 Jangan makan roti orang yang kikir, jangan ingin akan makanannya yang lezat.

23:7 Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. “Silakan makan dan minum,” katanya kepadamu, tetapi ia tidak tulus hati terhadapmu.

23:8 Suap yang telah kaumakan, kau akan muntahkan, dan kata-katamu yang manis kausia-siakan.

Nas Evangelium: Yakobus 5:1-6

5:1 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!

5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!

5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.

5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.

5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.

5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.

Mengejutkan! Itulah kesan yang pertama kali aku tangkap ketika membaca nas perikop Minggun ini. Tidak berhenti pada nas Ep, tapi keterkejutanku juga masih berlanjut ketika membaca nas Ev. Oh ya, nas Ev ini sudah aku baca pada Selasa yang lalu ketika marsiajar maragenda di gereja.  Kedua perikop – baik Ep, maupun Ev – sama-sama membicarakan tentang orang kaya dan pembesar, dan keduanya dengan konotasi negatif.

Membicarakan hal seperti ini dalam Alkitab adalah hal yang biasa, tapi manakala dihubungkan dengan thema almanak yang Parolopolopon HKBP Manjujung Baringinna, apakah tidak menjadi luar biasa? Jujur saja, aku membutuhkan berhenti sejenak untuk menghirup udara segar sebelum melanjutkan penulisan ini …

Tapi sudahlah, aku akan melihatnya dari diriku sendiri saja. Lebih baik dan lebih aman. Melihatnya secara harafiah. Amsal mengajarkan untuk hidup lebih bijaksana. Ayat 1-3 dari nas perikop ini membawaku pada imajinasi jika suatu saat diundang makan bersama oleh pembesar. Aku bayangkan duduk makan berhadap-hadapan dengan orang nomor satu di tempatku bekerja. Tentu saja makanannya enak dan lezat, dengan suasana dalam ruangan yang nyaman. Kesempatan yang sangat langka, yang besar kemungkinan menjadi idaman banyak orang. Untuk diriku, itu adalah kesempatan untuk menyampaikan apa yang menjadi kerinduan pada banyak orang (termasuk diriku juga). Aku bisa saja membisikkan agar bisa dipromosi secepatnya. Sebaliknya, aku juga bisa membisikkan sesuatu yang bisa berakibat buruk pula. Berapa banyak yang kita tahu orang-orang yang menjadi korban karena “bisikan maut” yang diterima oleh seorang pembesar? Inilah yang dapat aku ambil dari ayat 1 sampai 3 ini: jangan terkesima dengan apa yang ada di depan mata, jangan terburu nafsu, berhati-hatilah dengan suasana yang sedang dihadapi tersebut.

Sangat bagus sarannya. Jangan “terburu-buru” mau kaya, karena begitu dikejar, begitu pula dia akan pergi lenyap. Sabar saja, semua pasti ada saatnya. Jangan pula berharap pada pemberian orang kikir. Namanya juga orang kikir, pasti semua ada imbalannya. Jangankan orang kikir, yang bukan kikir pun saat ini ada istilah “nothing free lunch” … Jangan pula mau terlibat pada suap!

Yakobus dalam nas Ev Minggu ini juga bercerita tentang hal yang sama, yaitu tentang orang kaya dan kekayaan. Menurutku Alkitab tidak membenci orang kaya, sepanjang kekayaannya didapatkan dengan jalan yang benar dan dimanfaatkan untuk kebaikan dan kemuliaan Tuhan di muka bumi ini. Kalau seperti kisah “orang kaya dan Lazarus”, tentu saja tidak layak ditiru karena sikap seperti itu tidak disukai Tuhan. Namun kalau menjadi orang kaya seperti Ayub, pastilah itu menjadi orang kaya yang diberkati karena menjadi berkat juga bagi sekelilingnya.      

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dalam dunia yang semakin materialistis ini, kekayaan menjadi sesuatu yang sangat didambakan. Menjadi orang kaya, menjadi anak orang kaya, bahkan menjadi teman orang kaya pun seringkali memberikan kenikmatan. Kekayaan dapat menciptakan kekuasaan, dari orang kecil bisa saja langsung menjadi orang besar karena kekayaannya.

Dalam kehidupan berjemaat pun pernah terjadi seperti ini: orang kaya menjadi orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bergereja. Tentulah kita punya referensi tentang hal ini …

Sebaliknya, orang kaya pun dapat menjadi saluran berkat dari Tuhan. Asal saja orang kaya tersebut mau dipakai menjadi alat Tuhan. Dengan kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya, Tuhan menjadi semakin dipermuliakan. Alangkah indahnya hidup kekristenan bilamana orang-orang kaya di gereja bersedia menyalurkan berkat yang diterimanya untuk perbaikan pelayanan.

Ada pula legislator (yang dulu minta didoakan di gereja saat berjuang untuk mendapatkan kursi di lembaga legislatif) dengan pengaruh yang dimilikinya mampu berkontribusi dalam pengurusan izin dan sertifikasi gereja, sesuatu yang saat ini menjadi sesuatu yang sulit dan langka. Alangkah indahnya …

Apalagi kalau semuanya dilakukan dengan tulus ikhlas, bukan untuk kemegahan diri sendiri …

Iklan

Sedihnya, Auli Dinyatakan Tidak Layak Bersekolah …

Sore menjelang maghrib kemarin aku resah. Telepon dari Ibu Kepala Sekolah SD Katolik yang lokasinya dekat dengan rumah tinggal kami di Bandung menyatakan bahwa anakku Auli tidak dapat diterima di sekolah yang dipimpin oleh beliau dengan alasan: hasil ujiannya tidak memenuhi syarat untuk diterima menjadi murid kelas tiga di sekolah tersebut.

Begini ceritanya. Karena pindah tugas ke Bandung sejak Maret yang lalu, maka kami sekeluarga pun berencana untuk pindah tinggal di Bandung. Kehidupanku di tempat kos (yang ternyata tidak nyaman dengan situasi yang aku dapatkan … L sudah dapat diakhiri sejak Juni dengan telah disepakatinya perjanjian dengan pemilik rumah kontrakan yang mulai kami inapi (belum pindah total …) beberapa malam ini. Lokasinya tidak jauh – hanya beberapa meter dari kantor – sehingga kebiasaanku berjalan kaki ke kantor sejak tinggal di tempat kos dapat aku lanjutkan. Kalau dulu hanya pagi hari pergi ke kantor (malamnya aku minta diantarkan oleh seseorang, paling tidak oleh Office Boy) sekarang ini malah dapat aku lakukan sendiri pulang dan pergi.

Dengan pindah ke Bandung, tentu saja sekolah Auli juga turut pindah. Salah satu sekolah yang menarik buatnya ketika “searching” beberapa kali di Bandung adalah SD Katolik ini. Terletak di komplek elit, dengan bangunan bertingkat yang luas (terdiri dari TK sampai SMU) dengan parkiran mobil yang juga sangat luas, mengesankan bahwa sekolah ini memang berkelas. Mayoritas muridnya yang non pribumi semakin memperkuat anggapan tersebut. Bukan rasis, sebenarnya aku lebih menginginkan anakku bersekolah dengan murid-murid yang lebih “berwarna” dan datang dari berbagai kelas sosial sehingga kesan ekslusivitasnya menjadi hilang. SD Negeri adalah salah satu pilihannya, sayangnya info dari kawan-kawan di kantor berdasarkan pengalaman mereka yang tidak terlalu positif mengurungkan niatku untuk menyekolahkan Auli di jenis sekolah ini …

Beberapa minggu lalu Auli mengikuti ujian di sekolah pusat (atau pusat sekolah?) yang terletak di pusat kota Bandung. Mata pelajarannya adalah Matematika dan Bahasa Indonesia. Itu pun nyaris batal seandainya aku tidak proaktif. Gara-garanya adalah menjelang hari-H pelaksanaan ujian (Sabtu), ibu Kepala Sekolah belum juga menghubungiku untuk konfirmasi (sebelumnya beliau berjanji untuk menghubungiku kembali untuk pengaturan kepastian jadual/jam ujian), padahal Auli dan mamaknya sudah tiba di Bandung. Karena telepon tidak diangkat, aku pun mengirim pesan-pendek yang kemudian dibalas bahwa ujian tetap dilaksanakan. Usai ujian, diberitahu bahwa hasilnya akan diinformasikan paling lambat satu minggu kemudian.

Lewat satu minggu, tidak ada kabar. Mak Auli lalu menelepon bu Kepala yang dijawab, “Tunggu saja hari Senin nanti akan dikabari”. Lewat Senin dimaksud, tidak ada juga kabar. Berminggu-minggu tidak ada kepastian. Aku coba telepon lagi, namun ponsel tidak diangkat. Pesan-pendek juga tidak dijawab. Ada apa gerangan? Karena penasaran – dan ajaran baru sudah semakin dekat, yaitu 11 Juli 2010 – kami pun kembali mendatangi sekolah dimaksud dengan berharap dapat bertemu bu Kepala. Di sekolah (yang kelihatan sangat sibuk: ada guru-guru yang bersilweran dengan pekerjaannya masing-masing, dan tukang bangunan sedang memperbaiki gedung sekolah supaya kelihatan lebih segar saat memulai tahun ajaran baru), kami hanya ditemu oleh dua orang ibu guru yang mengabarkan bahwa bu Kepala tidak ada di tempat karena sedang rapat di Kantor Pusat (masih di Bandung juga, tempat Auli dulu mengikuti ujian masuk …) sampai tanggal 30 Juni 2010. Sebentar kemudian, ibu guru tersebut masuk ke ruangan guru yang tak lama kemudian kembali dengan kalimat, “Ma’af bapak dan ibu, saya sudah coba menghubungi ibu Kepala Sekolah, namun tak diangkat. Mungkin beliau sedang sibuk banget jadi tak mau diganggu”.

Dengan kecewa, kami pun lalu berinisiatif melihat-lihat sekolah lainnya yang ada di seputaran rumah tinggal kami tersebut. Ada juga sekolah-sekolah bagus lainnya, namun ada juga beberapa yang sudah menutup pendaftaran karena jumlah muridnya sudah sesuai dengan kapasitas sekolah tersebut. Terus terang saja, ini sempat mengganggu pikiranku: bagaimana pula kalau Auli tidak dapat sekolah di Bandung ini?

Hari-hari berlalu, dan sore kemarin itu masuklah telepon dari bu Kepala Sekolah tersebut. Setelah berbasa-basi dengan mengatakan bahwa beliau sangat sibuk belakangan hari ini (seakan-akan orang yang paling sibuk di seantero dunia saat ini sehingga tidak sempat memberitahu hasil ujian calon muridnya walau sudah berjanji berulang kali untuk mengabarkannya LLL…), kalimat yang menyatakan bahwa Auli tidak diterima di sekolah karena hasil ujiannya tidak memadai, benar-benar sangat mengejutkanku. “Padahal anak saya Auli peringkat satu lho, bu di sekolahnya sekarang ini … Koq aneh, bisa hasil ujiannya jelek seperti yang ibu sampaikan? Apa tidak bisa diberi kesempatan untuk matrikulasi misalnya, karena saya yakin anak saya pasti mampu mengikuti pelajaran di sini”. Dan jawaban sang ibu Kepala Sekolah juga rada mengejutkanku, “Ma’af ya, pak kami sudah memutuskan dan tidak bisa diganggu gugat. Tunggu saja kesempatan berikutnya, mungkin nanti untuk masuk SMP di sini.

Terus terang, aku tidak puas dan merasa ada keanehan di sini. Apalagi manakala aku minta ditunjukkan hasil pemeriksaan ujian masuknya, yang dijawab “tidak boleh”. Setelah gusar berjam-jam, aku memutuskan lebih baik memikirkan bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada mak Auli, terlebih pada Auli.

Malam harinya di rumah, aku masih menunggu kesempatan. Selain kami, di rumah saat itu ada pariban-ku (adik kandung mak Auli) dan anaknya yang satu sekolah dengan Auli, jadi aku tidak mau kalau penyampaian ini akan berakibat buruk pada Auli. Dari lantai atas, aku memanggil mak Auli lalu menyampaikan bahwa Auli tidak diterima bersekolah di SD Katolik tersebut. Setelah agak tenang, mak Auli mengusulkan untuk member tahu Auli tanpa harus menyampaikan penyebabnya yang tentu saja aku jawab, “Tidak bisa. Harus jujur dan apa adanya. Jangan berbohong.”

Setelah merasa yakin dan menemukan cara untuk menyampaikannya, aku pun memanggil Auli untuk ikut naik ke kamar tidur. Masih duduk di kasur (karena barang-barang kami masih belum diboyong ke Bandung) yang dititipkan oleh pemilik rumah kontrakan kami ini, lalu aku sampaikan, “Dengarkan, papa. Tadi sore ibu Kepala Sekolah tempat Auli ujian dulu itu menelepon, memberi tahu tentang hasil ujian Auli. Di pelajaran lainnya nilai Auli bagus, tapi di matematika Auli tidak mendapat nilai yang lebih baik daripada orang lain sehingga kesempatan untuk bersekolah di sekolah itu diberikan kepada orang lain yang nilanya lebih baik. Artinya kita harus mencari sekolah lain yang menurut papa pasti lebih baik. Selain itu, harus lebih giat belajar karena di Bandung pelajarannya lebih maju daripada di sekolah Auli dulu”.

Selintas, aku melihat kekecewaan terbersit di wajah Auli, lalu aku merentangkan tangan ke arahnya sebagai isyarat agar mendekatiku. “Walau kecewa, tapi papa tetap bangga padamu. Tidak kurang rasa sayang kami padamu, nak. Berjanjilah untuk belajar lebih giat, kami pasti mendukung”, terlihat ada senyuman di wajahnya (mungkin karena terkesan kami tidak “menghakiminya” …), lalu kami membicarakan langkah-langkah selanjutnya. Mendaftar ke sekolah Katolik lainnya (ternyata mereka sudah menemukan pilihan lain yang tidak kalah bagusnya, yakni lebih dekat ke rumah tinggal kami, dengan guru-guru yang sempat mereka temui yang terkesan ramah-ramah, dan juga yang paling sesuai dengan anggaran kami …), mendaftar ke kursus matematika, dan menyarankan mengubah cara belajar Auli (yang dari semula inisiatif datangnya dari mak Auli menjadi kesadaran sendiri dari Auli untuk belajar di rumah …). Semua senang. Lalu kami turun ke ruang bawah untuk makan malam bersama.

Malam harinya setelah berdoa menjelang tidur, dalam diskusi berdua (sesuatu yang selalu kami lakukan, yaitu membicarakan apa saja yang menarik – dan disepakati berdua, seperti malam itu topiknya adalah tentang sekolah – aku sempat tertegun ketika Auli ‘nyeletuk, “Ya, ‘gimana lagi pa. Auli harus memilih sekolah yang lain. Bukan di sekolah negeri karena Auli maunya nanti aja kalau SMP baru di sekolah negeri. Di SD yang sudah Auli lihat sama mama aja itu sudah bagus, koq. Auli ‘kan sudah gagal karena nilai Auli jelek …”

Degh! Jantungku berhenti berdetak beberapa jenak, sampai akhirnya aku kembali menguatkan hatinya, “Bukan gagal, nak. Tidak, Auli tidak gagal. Menurut papa, sekolah itu tidak cocok buatmu. Dan ada yang lebih baik, Tuhan akan menunjukkan sekolah yang terbaik buatmu. Dan ini juga mengingatkan kita, papa, mama, dan Auli, supaya lebih keras lagi belajar karena masih banyak yang perlu diperbaiki supaya kamu menjadi anak yang lebih baik dan lebih pintar”.

Itulah sebabnya, pagi tadi sebelum ke kantor, aku upayakan untuk mengisi formulir pendaftarannya di SD Katolik yang ternyata mereka (Auli dan mamaknya) pergi lagi ke sekolah tersebut. Juga brosur kursus kumon yang berlokasi di komplek perumahan dekat dengan rumah tinggal kami. Auli masih tidur, dan sangat lelap ketika aku mencium keningnya untuk permisi ke kantor sebagaimana yang selalu aku lakukan bilamana berangkat dari rumah, “Papa pergi dulu, boru hasian. Baik-baik sama mama di rumah. Tuhan Jesus temanmu, ya. I love you …”.