Andaliman-88 Khotbah 29 Agustus 2010 Minggu XIII Setelah Trinitatis

Kasih adalah yang Terbesar

Nas Epistel: Roma 13:8-10 (bahasa Batak Rom 13:8-10)

13:8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

13:9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!

13:10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.

Nas Evangelium: Imamat 19:16-18 (bahasa Batak 3 Musa 19:16-18)

19:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

19:17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.

19:18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Setelah ditahbiskan, mendadak warga jemaat memintaku untuk mengkhotbahkan nas Ep Minggu ini ketika partangiangan wejk. Selain karena bukan jadualku bertugas (yang tentu saja memerlukan persiapan), jadual pekerjaanku di Bandung sedang padat pada minggu ini sehingga tidak mudah bagiku untuk memastikan bisa datang ke Jakarta Rabu malam dengan tidak terlambat. Namun karena “didesak” oleh beberapa orang, aku tidak bisa mengelak. Akupun bersedia sambil menyampaikan permohonan: jika aku tidak bisa, aku akan beritahu supaya pelayan yang bertugas pada saat itu kembali sesuai dengan apa yang telah diputuskan di sermon parhalado.

Dan Tuhan memang sungguh luar biasa! Beberapa jadualku bisa aku jadualkan-ulang (dan orang-orang yang terkena dampaknya dapat menerima dengan sukacita …). Meskipun rada telat, akhirnya aku dapat tiba di rumah keluarga yang menyediakan tumpangan untuk partangiangan wejk malam itu. Jadilah aku menyampaikan firman Tuhan.

Berbeda dengan pendapat pendeta resort yang menyimpulkan penafsiran firman Tuhan ketika sermon parhalado tersebut, dengan berbekal beberapa referensi, aku mencoba merekonstruksikan situasi jemaat Roma saat itu. Ada yang datang dari kaum Yahudi yang tentu saja membawa pemahaman mereka tentang hutang-pihutang dan Taurat.

Nas perikop Ep Minggu ini menyampaikan bahwa hanya ada satu hutang yang tidak akan mampu terbayarkan sepanjang hidup, yaitu hutang kasih. Sebagai anak Tuhan, semua dituntut untuk melakukan perbuatan kasih dalam setiap sendi kehidupan bagi sesama manusia. Siapapun itu! Tidak terbatas pada kalangan sendiri, melainkan pada semua orang yang “kebetulan” membutuhkan sentuhan kasih melalui tindakan yang nyata.

Siapakah sesama manusia? Salah satu cerita yang menarik bagiku ketika masih ikut Sekolah Minggu adalah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Pesan cerita itulah yang masih sangat kuat menancap dalam ingatanku manakala berbicara tentang penerapan kasih kepada sesama manusia.

Dan Paulus menekankan ajaran kasih, bahwa jika seseorang telah menjalankan kasih sesuai ajaran Kristus, maka secara otomatis dia telah melaksanakan semua perintah hukum Taurat, karena semua telah tercakup dan telah terpenuhi dalam hukum kasih. Kasih adalah hukum, yang artinya wajib dan harus dilakukan oleh semua orang. Sebaliknya, kasih adalah hukum, yang berarti orang-orang melaksanakannya bukan karena takut, melainkan sebagai tanggapan betapa Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu dan telah membayar lunas dengan penyaliban-Nya.

Nas perikop Ev sangat sejalan dengan Ep.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Di beberapa jemaat gereja kharismatis di dekat rumah kontrakan kami sebelum mendaftar sebagai warga jemaat HKBP yang lokasinya relatif jauh, aku pernah mendengar khotbah pendetanya yang mengatakan bahwa: “Sekarang kita hidup dalam masa kasih karunia sehingga tidak lagi di bawah kuasa hukum Taurat.” Karena disampaikan berulang-ulang, hampir saja aku meyakininya sebagai suatu kebenaran hingga aku menemukan ayat yang mengutip ucapan Yesus dengan maksud kedatangan-Nya yang bukan untuk mengurangi dan menghapuskan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya.

Nas perikop ini juga mengingatkan kita untuk jangan sekali-kali mempertentangkan antara Taurat dengan kasih, melainkan memahaminya sebagai kelengkapan. Orang percaya memang dituntut untuk melaksanakan sesuatu “lebih daripada yang biasanya”, dalam hal ini misalnya mengasihi sesama seperti diri-sendiri setiap hari dan tanpa mengenal batasan eksklusivitas. Sulit? Memanglah. Tapi keyakinan bahwa Roh Kudus yang ada di dalam diri kita pasti mampu member kekuatan dalam melaksanakan semua yang menjadi tuntutan. Tentunya di dalam rambu-rambu kasih yang mendasari segala sesuatunya.

Iklan

Wow, Tuhan Itu Memang Luar Biasa!

Sejak memimpin Kantor Bandung, ada menu “sarapan” yang tiap pagi aku harus lahap. Namanya Daily Sales Report (lebih populer dengan singkatan DSR), yaitu laporan angka penjualan dibandingkan target, jadi isinya adalah status harian pencapaian target penjualan. Dari setiap wilayah penjualan seluruh Indonesia. Figur tersebut menjadi menu yang pertama sekali dilihat oleh Top Management setiap pagi. Laporannya terkirim otomatis, jadi setiap orang (tentunya yang mempunyai akses ke laporan dimaksud) langsung mengetahui statusnya per hari. Bagi yang di bawah standar (= di bawah time-rate), angkanya langsung berwarna merah dengan huruf tebal. Inilah yang paling dihindari oleh setiap Kepala Kantor Cabang seperti aku ini. Sebaliknya, hidup akan jadi terasa ringan (dan indah … JJJ) bilamana pada pagi harinya melihat bahwa figur hari itu berwarna biru karena itu berarti bahwa kinerja masih sesuai dengan standar minimal.

Pada bulan Agustus ini ada jadual Sales Management Meeting, yakni rapat yang dihadiri oleh Presdir, Sales Director, dan manajemen penjualan seluruh Indonesia. Tentu saja aku diundang. Berdasarkan pengalaman rapat terakhir, pada saat presentasi, Presdir membacakan Kantor Penjualan yang kinerjanya masih berwarna merah. Saat itu, Kepala Wilayah diminta “pertanggungjawaban” untuk figur tersebut. Rasanya tidak enak bila harus “terpanggil” untuk sesi tersebut.

Itulah sebabnya, Agustus ini menjadi lebih istimewa bagiku. Begitu menerima undangan dari atasanku tentang rapat dimaksud, aku langsung berpikiran tentang DSR ini. Sekaligus juga memikirkan strategi agar DSR-ku tidak merah. Jika tidak bisa setiap hari, paling tidak, pada saat rapat dimaksud aku harus biru.

Tanggal 1 dan tanggal 2, angkanya masih biru. Namun sejak tanggal 3 warnanya merah menyala! Alamakkk … suram nian rasanya hidup ini. Aku ajak tim-ku mendiskusikan hal-hal yang dapat kami lakukan supaya pencapaian target penjualan menjadi lebih baik. Ternyata hampir semua wilayah di seluruh Indonesia figurnya berwarna merah. Artinya, didominasi oleh yang tidak mencapai target. Akibatnya secara nasional menjadi merah, Bahkan sampai dua digit! Atasanku di Jakarta hampir setiap hari mengirimkan wanti-wanti via e-mail dan atau pesan-pendek secara bergantian tentang betapa pentingnya untuk mengejar target. Bahkan sampai satu hari menjelang hari-H rapat (yaitu tanggal 16 Agustus saat kami yang berada di luar Jakarta meninggalkan homebase menuju Hotel Gran Kemang), beliau menyampaikan kekuatiran bahwa suasana rapat akan menjadi “mendung” dan tidak menyenangkan karena angka pencapaian target yang masih sangat buruk (dan hal ini pula yang sangat mempengaruhi situasi dan kondisi para peserta yang menjadi rapat kali itu menjadi “sunyi” sehingga Direktur Penjualan harus mempertanyakan kenapa semuanya tidak menunjukkan karakter orang Sales yang biasanya “rame” kalau lagi rapat sehingga kuatir pak Presdir menjadi ragu bahwa Tim Penjualan sedang tidak semangat dan loyo …). Jadilah “puasa Ramadhan” sebagai “kambing hitam” …

Sejak beberapa hari bahkan H-1, yakni ketika malam menjelang 18 Agustus 2010, sebelum tidur aku memanjatkan do’a di kamar hotel agar DSR-ku tidak merah. Secara logika, memang sangat sulit mengharapkan sesuatu yang baik bila hanya melihat angka pencapaian yang masih 8% di bawah target. Apalagi mengingat bahwa pelanggan-pelanggan besar kami sudah terkirim pesanannya untuk kebutuhan menjelang Lebaran. “Bukalah sumber-sumber penjualan yang baru, Tuhan, untuk mendapatkan tambahan omset sehingga kami bisa memperbaiki angka pencapaian target kami dan tidak menjadi merah. Jangan permalukan aku, Tuhan di hadapan orang-orang besok hari saat meeting, tapi biarlah aku menjadi salah seorang yang terbaik dan menjadi satu kesaksian betapa aku ini memang anak-Mu. Aku tak tahu dari mana dan bagaimana caranya, tapi aku percaya dan mengandalkan Tuhan saja untuk membuatnya menjadi baik, dan lebih baik dari hari ke hari …”,  itulah bagian dari doaku yang agak panjang pada malam itu, yang juga sebagian besarnya aku ulangi saat bangun pagi menjelang bersiap-siap mengikuti rapat.

Menjelang jam setengah delapan, aku sudah berada di depan ruang rapat untuk memastikan tidak terlambat dan mendapatkan tempat yang strategis. Sempat aku sedikit ragu melihat suasana yang sangat sepi (tidak ada orang …) sampai seorang yang aku kenal keluar dari ruangan dan memberi tahu bahwa di dalam sedang ada rapat Tim Surabaya yang mendadak, karena secara khusus diminta oleh Presdir dan Direktur Penjualan karena kinerja mereka yang paling jelek di antara yang jelek lainnya di Indonesia. Oh ya, Indonesia dibagi menjadi empat wilayah penjualan, sehingga ada Tim Medan, Tim Jakarta (aku masuk wilayah ini), Tim Surabaya, dan Tim Makassar. “Aku tadi sudah berada di dalam ketika aku sadar bahwa sedang ada rapat khusus yang sangat serius antara Presdir dan Sales Director dengan Tim Surabaya. Aku jadi ‘nggak enak di dalam, bang sehingga keluar saja …”, kata kawanku tersebut yang sudah lama aku kenal saat sama-sama bertugas di Medan, lalu di Kantor Pusat di Jakarta. Tentu saja aku pun turut menjadi kurang nyaman karena sadar bahwa angka DSR-ku juga masih jelek.

Tak lama kemudian, datanglah kawan-kawan lain. Aku bersalaman dan bergabung dengan kawan-kawan dari Tim Medan. Lalu mendadak datang boss-nya sambil membawa i-pod yang sudah mengunduh angka DSR untuk hari itu. Beliau menunjukkan kepada Kepala Wilayah yang menjadi anak buahnya (Medan, Pekanbaru, Aceh, dan Palembang) sambil member komentar untuk yang tidak menunjukkan perbaikan, “Gimana nih angka DSR lu koq ‘nggak naik-naik juga? Malah ini semakin besar angka minusnya …”. Yang ditanya diam sejenak, lalu menjawab dengan memberikan alasan yang sempat terpikirkan secara spontan. Di sela-selanya aku menyela, “Boss, coba lihat punyaku, bagus ‘nggak? Boleh lihat yang Region 6, boss?”, dan jawaban yang aku dengar membuatku sempat tidak percaya ketika beliau berkata, “Wah bagus ini, lai. Tiga koma sembilan di atas time-rate. ‘Gimana caranya? Apa yang dilakukan di Bandung sehingga bisa bagus seperti ini hasilnya?” Untuk lebih meyakinkan, aku minta untuk diperbesar layarnya, dan aku menjadi percaya ketika kawan-kawan yang berada di sekitar kami juga memberikan komentar yang sama (padahal aku belum melihat karena kondisi penglihatan dan kacamataku yang memang tidak bisa melihat angka-angka yang masih sangat kecil ukurannya seperti itu …). Lalu beberapa orang datang menyalamiku. Sesaat setelah sendirian, aku pun bergumam, “Sungguh luar biasa Engkau, Tuhan … Tiada yang mustahil bagi-Mu. Dan betapa baiknya Engkau yang telah mendengar dan mengabulkan do’aku …”.

Ketika memasuki ruangan, rasa percaya diriku menjadi bertambah. Dan ketika Sales Director presentasi, beliau (yang ternyata masih memiliki data sehari sebelumnya dan belum ter-up date dengan status hari ini) mengatakan, “Dari antara yang jelek pencapaiannya, coba siapa yang bisa member tahu, siapa yang agak mendingan angka pencapaiannya. Yang angka merahnya terendah …”. Beberapa menjawab berdasarkan status sehari sebelumnya, sampai salah seorang manajemen senior menjawab, “Ini ada status per hari ini, pak. Sudah ada yang biru, yaitu Region 3 dengan 0,7% dan Region 6 dengan 3,4%”. Lalu pak Beben sang Sales Director dengan sedikit takjub berkata,”Wow, hebat … Mana boss-nya? Ada ‘nggak orang-orang yang lain yang sebelumnya pernah bertanya tentang kunci keberhasilan sehingga Tim Bandung bisa berhasil seperti itu?” Tanya beliau kepadaku yang tentu saja aku jawab dengan sebenarnya sambil berusaha tetap mengesankan sikap rendah hati.

Ketika rehat (= break) – dan sebagian peserta rapat tidak ikut karena sedang berpuasa – aku sempatkan bersaksi kepada beberapa orang dengan menceritakan pengalamanku dengan doa tersebut. Sejenak usai ketidakpercayaannya, salah seorang ‘nyeletuk, “Memang, pak kalau Tuhan sudah berkehendak, tak ada sesuatupun yang mampu membatalkannya. Tapi, pengalaman bapak itu memang sesuatu yang luar biasa”.

Oh ya, dalam salah satu kesempatan, aku bertelepon ke Bandung. Menyampaikan prestasi tersebut kepada anggota tim-ku (dan berterima kasih untuk pencapaian yang bagus tersebut), sekalian bertanya apa yang terjadi di Bandung selama aku tinggalkan ke Jakarta. “Iya, pak. Tak disangka, kita mendapatkan pesanan ribuan parcel dari Polda Jawa Barat. Tahun lalu kita tidak pernah mendapatkan pesanan dari mereka, tiba-tiba saja ada yang menelepon saya menanyakan kesediaan kita dalam memenuhi kebutuhan mereka akan parcel. Langsung saja kita kirim barangnya ke mereka.”.

Betapa luar biasanya Tuhan. Hal yang sama aku persaksikan kepada beberapa orang lagi dalam berbagai kesempatan.

Andaliman-87 Khotbah 22 Agustus 2010 Minggu XII Setelah Trinitatis

Kristus adalah Satu-satunya Dasar. Segala Sesuatu (Termasuk Rekonsiliasi) adalah Hanya Karena Kasih-Nya

Nas Epistel: Kejadian 33:1-11 (bahasa Batak 1 Musa 33:1-11)

33:1 Yakubpun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu.

33:2 Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali.

33:3 Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu.

33:4 Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka.

33:5 Kemudian Esau melayangkan pandangnya, dilihatnyalah perempuan-perempuan dan anak-anak itu, lalu ia bertanya: “Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?” Jawab Yakub: “Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini.”

33:6 Sesudah itu mendekatlah budak-budak perempuan itu beserta anak-anaknya, lalu mereka sujud.

33:7 Mendekat jugalah Lea beserta anak-anaknya, dan merekapun sujud. Kemudian mendekatlah Yusuf beserta Rahel, dan mereka juga sujud.

33:8 Berkatalah Esau: “Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?” Jawabnya: “Untuk mendapat kasih tuanku.”

33:9 Tetapi kata Esau: “Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu.”

33:10 Tetapi kata Yakub: “Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku.

33:11 Terimalah kiranya pemberian tanda salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan akupun mempunyai segala-galanya.” Lalu dibujuk-bujuknyalah Esau, sehingga diterimanya.

Nas Evangelium: 1 Korintus 3:1-11

3:1 Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.

3:2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.

3:3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

3:4 Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos,” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?

3:5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.

3:6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

3:7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.

3:8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

3:9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

3:10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.

3:11 Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

Minggu ini masih berbicara tentang rekonsililasi. Kalau Minggu lalu antara Yakub dengan Laban pamannya, maka Minggu ini adalah rekonsiliasi antara Yakub dengan Esau abangnya. Jika masih ingat kisah pendahulunya, terbayanglah betapa sakit hati Esau terhadap adik kembarnya ini yang telah menipu dirinya dengan mengambil hak kesulungan dan mencuri berkat bapaknya Isak yang seharusnya menjadi haknya.

Drama yang sangat menarik dan sangat mengesankan bagiku manakala membaca perikop Ep ini. Tak terbayangkan bagaimana dendamnya Esau pada Yakub, namun akhirnya mencair saat berhadapan dengan orang yang dibencinya tersebut. Lihatlah betapa takutnya Yakub sebelum bertemu dengan Esau sehingga merancang dan melaksanakan strategi yang ternyata jitu: mengirimkan harta yang diharapkannya akan meluluhkan hati Esau (yang ternyata tidak membuat Esau tertarik), lalu menyusun pasukan beraturan dari yang tidak terlalu berharga baginya di depan sementara Yakub sendiri berada di barisan paling belakang. Secara duniawi, apa yang ditakutkan Yakub adalah sesuatu yang wajar, karena kesalahan yang dilakukannya adalah di atas tindakan yang luar biasa jahatnya.

Namun, yang terjadi adalah di luar kemampuan manusia untuk memikirkan, bahkan membayangkannya sekalipun! Esau dengan hangat merangkul Yakub, setelah sebelumnya menanyakan kenapa mesti mengirimkan begitu banyak harta kekayaan untuk menenangkan hatinya. Dan Esau menolak menerimanya, karena dia juga memiliki harta kekayaan yang dirasakannya sudah cukup baginya.

Bagaimana hubungannya dengan nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini? Jujur saja, sangat sulit bagiku untuk menemukan benang merahnya (semula sempat aku berpikir, kalau mengkhotbahkannya secara terpisah antara Ev dan Ep pastilah tidak sesulit yang aku sempat alami …).

Nah, ini. Apa yang terjadi, dan kemampuan dalam mema’afkan (sehingga tercipta rekonsiliasi) hanyalah karena ada dorongan kasih yang sangat kuat. Esau memilikinya, sebagaimana juga Yakub yang juga mema’afkan Laban dalam episode sebelumnya. Artinya, rekonsiliasi yang satu akan punya potensi besar dalam menciptakan rekonsiliasi berikutnya. Rasa damai sejahtera yang dimiliki oleh seseorang yang telah menerima pengampunan akan memudahkannya dalam memberikan pengampunan.

Itulah ajaran yang disampaikan Kristus selama masa pengabdian-Nya di dunia ini. Ajaran tersebutlah yang disampaikan oleh rasul-rasul dan pengajar-pengajar kekristenan dalam masa kemudian. Semangat yang kuat setelah menerima Roh Kudus yang telah turun kepada rasul-rasul mendorong mereka menyebarluaskan firman Tuhan ke seluruh bangsa-bangsa. Ada yang berhasil dengan sangat cepat, adapula yang relatif lambat, namun faktanya firman Tuhan tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Di antara para penyebar firman tersebut, adalah tokoh yang besar seperti Paulus dan Apolos. Tentu saja mereka dibantu oleh rekan-rekan sekerjanya, yang dipahami sebagai “golongan” Paulus dan “golongan” Apolos. Nah, melalui suratnya kepada jemaat di Korintus, rasul Paulus menyadarkan mereka bahwa sesuai kemampuan yang dimiliki masing-masing orang berkarya dalam pekerjaannya untuk membesarkan jemaat, namun yang paling penting di atas segalanya itu adalah Kristus.

Ini mengingatkanku-kembali bahwa jangan pernah melakukan pekerjaan pelayanan jemaat Tuhan dengan motivasi membesarkan diri-sendiri, melainkan hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Jangan sampai orang-orang lebih mengingat nama pelayannya daripada nama Kristus sendiri! Jangan pula pernah terlontar ucapan, “Ini karena aku sehingga gereja ini menjadi besar. Akulah yang membuat warga jemaat semakin banyak yang hadir dalam beribadah”.

Sungguhlah Tuhan itu luar biasa. Nas ini memang sangat tepat disampaikan pada Minggu ketika jemaat kami merayakan ulang tahun ke-23 yang dibarengi dengan penahbisan kepada tiga orang sintua yang telah menjalani masa pelajarannya. Satu di antaranya adalah aku, yang tentu saja sangat tertegur dengan nas ini.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Sebagai manusia, kita semua sangat mudah mengagumi sesuatu yang kita rasakan berbeda dan jauh lebih baik daripada apa yang pernah kita tahu sebelumnya. Dalam dunia jemaat, termasuk di dalamnya adalah tentang pelayanan seseorang yang “luar biasa”. Misalnya khotbah yang sangat menarik dari seseorang di mimbar, dan menjadi sesuatu yang sudah lama kita rindukan seperti itu (ini ‘kan salah satu yang langka di HKBP saat ini sehingga banyak yang pergi ke gereja yang lain?).

Jika sekadar mengagumi pengkhotbahnya sebatas menerimanya sebagai seorang komunikator ulung yang sedang dipakai oleh Tuhan, masih sesuatu yang wajar. Tapi jika kita sampai lebih mengingat pengkhotbah tersebut daripada firman yang dikhotbahkannya, ini adalah tanda untuk mengkaji-ulang dan melakukan perubahan sikap kita dalam menanggapinya. Sehebat apapun seseorang itu, tapi kita harus memiliki pemahaman bahwa hanya Tuhan-lah yang layak dimuliakan dalam setiap kegiatan yang dilakukan di jemaat.

Andaliman-86 Khotbah 15 Agustus 2010 Minggu XI Setelah Trinitatis

Memperoleh Berkat untuk Memberkati

Nas Epistel: 1 Petrus 3:8-12

3:8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,

3:9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:

3:10 “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.

3:11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.

3:12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”

Nas Evangelium: Kejadian 31:36-44 (bahasa Batak 1 Musa 31:36-44)

31:36 Lalu hati Yakub panas dan ia bertengkar dengan Laban. Ia berkata kepada Laban: “Apakah kesalahanku, apakah dosaku, maka engkau memburu aku sehebat itu?

31:37 Engkau telah menggeledah segala barangku, sekarang apakah yang kautemui dari segala barang rumahmu? Letakkanlah di sini di depan saudara-saudaraku dan saudara-saudaramu, supaya mereka mengadili antara kita berdua.

31:38 Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan.

31:39 Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku.

31:40 Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur.

31:41 Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku.

31:42 Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam.”

31:43 Lalu Laban menjawab Yakub: “Perempuan-perempuan ini anakku dan anak-anak lelaki ini cucuku dan ternak ini ternakku, bahkan segala yang kaulihat di sini adalah milikku; jadi apakah yang dapat kuperbuat sekarang kepada anak-anakku ini atau kepada anak-anak yang dilahirkan mereka?

31:44 Maka sekarang, marilah kita mengikat perjanjian, aku dan engkau, supaya itu menjadi kesaksian antara aku dan engkau.”

Salah satu sosok yang aku suka mendengar ceritanya dalam beberapa tahun belakangan ini adalah Yakub. Belakangan hari ini, karena sejak di Sekolah Minggu sempat tertanam dalam benakku bahwa Yakub adalah orang jahat. Suka menipu (sesuai namanya yang terus aku ingat, bahkan ketika bertemu dengan orang yang bernama Yakub di kemudian hari persepsi seperti itu masih membekas, walaupun berubah seiring perjalanan waktu), pemberontak, keras kepala, dan cap lainnya yang berkonotasi negative terlanjur tertanam dalam pikiranku. Begitulah akibatnya kalau Alkitab tidak disampaikan secara utuh … JJJ

Ketika masih menjadi mahasiswa sekolah teologi, aku sangat terharu membaca perikop yang mengisahkan pertemuan rekonsiliasi Yakub dengan abangnya, Esau. Sangat mengesankan! Bahkan ketika mengikuti mata kuliah Konflik dan Rekonsiliasi di mana salah satu nas rujukan adalah kisah Yakub dan Esau ini (dan aku baru saja selesai membacanya beberapa minggu sebelumnya sebagai bagian dari resolusi membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dalam satu tahun …) aku dengan penuh perasaan memberikan pandangan tentang hal ini. Bagiku, Yakub adalah orang luar biasa! Dunia membutuhkan abad-abad yang baru untuk memunculkan tokoh dengan karakter Yakub ini, menurutku.

Perasaan dan pikiranku campur aduk ketika mencoba merekonstruksi kisah Yakub dangan Laban, pamannya. Oh ya, hampir selalu pendeta HKBP jika bertemu dengan perikop ini “memelintir” ini untuk menarik perhatian warga jemaat yang sedang mendengarkan khotbahnya. Antara lain mengatakan bahwa inilah salah satu bukti bahwa Batak dan Yahudi punya kekerabatan yang dekat, yaitu Yakub yang kemudian menjadi Israel adalah bere (= keponakan) dari marga Silaban karena tulang-nya (= pamannya) adalah si Laban. Bagaimana beratnya perjuangan untuk mendapatkan isteri (yang adalah pariban-nya sendiri), menghabiskan tahun-tahun yang panjang karena dikadalin oleh tulang sendiri, yang nota bene calon mertua.

Itulah yang terjadi. Laban yang kaya (menurut pemahaman Yahudi sebagai orang yang diberkati Tuhan …), memanfaatkan posisi Yakub (yang sedang tertekan karena kelakuannya yang membuat susah dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya …) untuk menjadikannya sebagai “pekerja rodi” untuk menambah kekayaannya. Dan terbukti, harta benda Laban semakin berlipat ganda sejak ditangani oleh Yakub yang diberkati Tuhan (ini membuktikan bahwa orang yang diberkati Tuhan akan menjadi berkat bagi lingkungannya …). Namun ketamakannya selalu mendorong Laban untuk melakukan tipu daya terhadap Yakub (nah ini baru cerita buaya dikadalin, Yakub sang penipu ulung ternyata masih bisa juga tertipu oleh Laban …). Pada akhirnya, segala upaya Laban untuk memperdaya Yakub tidak berhasil, bahkan sebaliknya, Yakub-lah yang “memenangkan adu tipu-daya” tersebut. Sebab Tuhan selalu menyertai Yakub dan janji-Nya selalu ditepati. Sebagaimana dikisahkan dalam nas perikop Ev Minggu ini, akhirnya Laban takluk dan bersepakat untuk mengadakan perjanjian dengan Yakub.

Rekonsiliasi dengan Laban ini, kemudian berlanjut dengan rekonsiliasi dengan Esau. Aku memahaminya, bahwa bilamana perdamaian bisa didapatkan oleh seseorang, maka ada kecenderungan orang yang diperdamaikan tersebut akan selalu berupaya mewujudkan perdamaian-perdamaian yang lainnya. Karena merasakan betapa indahnya perdamaian, dengan mudah pula dia akan menciptakan perdamaian baru lainnya. Singkat, perdamaian melahirkan perdamaian-perdamaian lainnya. Inilah salah satu konsepsi pengajaran kristiani yang disampaikan oleh Yesus: kita yang sudah diperdamaikan dengan Dia melalui penebusan dosa, selayaknyalah menjadi pembawa damai bagi orang-orang dan kehidupan di sekitar kita.

Menyambung kepada nas Ep Minggu ini sangat relevan dengan kisah kehidupan Yakub, yaitu menjadi berkat karena sudah mennerima berkat. Dan sangat ‘nyambung pula dengan tagline blog-ku ini: “berkat engkau, aku diberkati untuk menjadi berkat …”. Dan selalulah berupaya untuk menciptakan perdamaian. Sulit? Tentu saja. Itulah sebabnya kita membutuhkan pertolongan Tuhan.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kita semua pastilah meng-amin-kan jika ada yang mengatakan bahwa kita adalah orang yang diberkati. Apalagi jika disampaikan kalimat-kalimat yang menyerupai doa untuk kebaikan, pastilah dengan cepat kita menjawab: “Amiiin …”. Tapi jika bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi berkat bagi orang-orang di sekeliling kita, menjawabnya cenderung tidak semudah meng-amin-kan sebelumnya.

Jangan kecil hati, yang penting, kehidupan kita sudah mengarah ke sana. Begitu pula “tuntutan” sebagai pembawa damai, pastilah sangat sulit. Kita sudah mengimani bahwa kita sudah diperdamaikan dengan Allah Bapa melalui penebusan Yesus Kristus di kayu salib, namun bagaimana dengan pertanyaan: apakah kita sudah berdamai dengan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita? Masih pernah dengar ucapan: “Aku sih sudah mema’afkannya dalam hatiku, tapi kalau untuk bertemu dengannya, jangan dululah. Kalau aku lihat wajahnya, akan timbul lagi kebencianku padanya …”?. Aku pernah tahu ada orang yang tidak pernah (karena tidak mau) bertemu dengan keluarganya sendiri selama puluhan tahun sejak sakit hati dengan kelakuan dan ucapan yang tidak berkenan baginya. Bahkan ada yang sampai akhir hidupnya tidak pernah mau mema’afkan saudaranya sendiri (istilah Batak-nya: “pajumpang di tano rara ma hita haduan” = “bertemu di liang kubur sajalah kita nanti”). Sangat memperihatinkan, memang.

Jika terjadi pada diri kita sendiri, inilah saatnya berubah. Belajarlah pada kisah Yakub yang akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan Allah, lalu berdamai dengan Laban dan Esau. Jika ada warga jemaat kita yang mengalami kesulitan dalam berdamai, hendaknya kita yang menjadi inisiator untuk terjadinya rekonsiliasi. Alangkah indahnya perdamaian.

Tidak mudah, memang. Tapi siapa yang berani mengatakan tidak, bahwa Allah sanggup menolong kita untuk mewujudnyatakan sifat-Nya yang maha kasih di dunia ini?

Andaliman-85 Khotbah 08 Agustus 2010 Minggu X Setelah Trinitatis

Gembala: Ada juga yang Tidak Baik …

Nas Epistel: Yeremia 23:1-8

23:1 Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!” –demikianlah firman TUHAN.

23:2 Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: “Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat, demikianlah firman TUHAN.

23:3 Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku menceraiberaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak.

23:4 Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekorpun, demikianlah firman TUHAN.

23:5 Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.

23:6 Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN–keadilan kita.

23:7 Sebab itu, demikianlah firman TUHAN, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!,

23:8 melainkan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri.” Nas Evangelium: Yohanes 10:11-18

10:11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;

10:12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

10:13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

10:14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku

10:15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

10:16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

10:17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.

10:18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”

Topik Minggu ini adalah tentang gembala. Baik Ev maupun Ep sama-sama membicarakan tentang gembala (dan yang digembalakannya). Dan Minggu ini adalah salah satu Minggu dalam Almanak HKBP di mana nas Ev sangat ‘nyambung dengan nas Ep … JJJ

Yeremia dalam nas Ep menyampaikan amarah Tuhan kepada para gembala yang membiarkan gembalaannya tercerai-berai dan terserak ke mana-mana. Untuk itu, Tuhan akan membalaskan dengan hukuman kepada para gembala dengan kualifikasi buruk seperti itu. Terus terang, frasa ini agak menyentakku: jenis gembala yang seperti inikah aku? Terutama bila dihubungkan dengan masa-masa sekarang ini saat menyongsong penahbisan sebagai pelayan tahbisan pada minggu-minggu yang akan datang. Secara spesifik lagi, dengan lokasi pekerjaanku di Bandung (yang hanya pulang-pergi pada akhir-awal minggu ini) yang tentu saja berdampak dalam kuantitas (dan kualitas?) pelayananku di jemaat. Duh, ‘gimana ini? Ini adalah salah satu yang harus aku pertimbangkan dalam mengambil keputusan dalam waktu yang tidak lama lagi …

Luar biasanya Kitab Yeremia ini terlhat dari “nubuat” akan kedatangan Yesus sebagai gembala yang akan menyelamatkan dan membawa gembalaan kembali kepada kawanannya. Dan disampaikan juga bahwa Orang yang dimaksud akan datang dari keturunan Daud. Dia-lah yang akan menjadi gembala, dan bukan hanya umat Israel (‘yang dibebaskan dari tanah Mesir”), melainkan juga semua bangsa-bangsa di dunia.

Ketersambungan antara Ep dan Ev semakin terlihat ketika Ev membicarakan pengakuan Yesus sebagai gembala yang baik. Dengan segala kriteria yang disandang-Nya yang sudah tentu tidak semua orang memiliki kualifikasi yang sama. Puncaknya adalah kerelaan-Nya untuk mengorbankan nyawa bagi gembalaan-Nya. Siapa punya kualifikasi seperti itu?

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

“Yesus adalah gembala yang baik”, pastilah kita sudah sering mendengarnya. Sejak Sekolah Minggu, salah satu ilustrasi yang pertama aku lihat di gereja adalah gambar Yesus sedang menggendong seekor domba, sementara yang lainnya memandang-Nya dengan ekspresi tenteram.

Sebagai warga jemaat, suasana tenteram seperti itulah yang menjadi dambaan kita dalam hidup. Dalam suasana yang mencekam, mengkuatirkan masa depan (bahkan masa kini saja masih susah …), mencemaskan hari-hari yang dilalui, tentu saja kita sangat merindukan suasana kehidupan sebagaimana terekspresikan oleh lukisan Yesus dengan domba-domba tersebut. Domba – salah satu makhluk yang dianggap paling lemah karena tidak mempunyai senjata dan kekuatan untuk melawan musuh sehingga acapkali menjadi sasaran hewan-hewan pemangsa – sangat sering merepresentasikan kehidupan kita. Namun yang sering kita lakukan adalah mencoba melawan dengan kemampuan kita sendiri (padahal – sebagaimana domba – kita tidak punya kekuatan apa-apa yang mampu mengimbangi kekuatan lawan …). Sudah tentu hasilnya mudah ditebak.

Sebaliknya, kita diingatkan untuk menjadi domba yang peka dalam mendengar suara gembalanya. Siapa lagi kalau bukan kepada Yesus, sang gembala yang baik. Yesus sangat mengenal domba-domba gembalaan-Nya (yakni kita …), dan setia menjaga, membimbing, mengasuh, mengarahkan, dan memimpin. Bahkan rela mengorbankan nyawa-Nya untuk mempertahankan domba-domba. Kurang apa lagi? Masih ragu juga ikut Yesus?

Sebagai pelayan jemaat – yang sebagian tugasnya adalah menggembalakan warga jemaat – saatnyalah kita merenung dan bertanya pada diri sendiri: jenis gembala yang manakah kita ini. Gembala upahan (yang segera meninggalkan kawanan domba bilamana situasi dan kondisi tidak menyenangkan), atau gembala seperti Yesus?