Andaliman-82 Khotbah 18 Juli 2010 Minggu VII setelah Trinitatis

Kekayaan yang Dapat Membawa Kepada Kesia-siaan

Nas Epistel: 2 Petrus 2:10-15

2:10 terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan,

2:11 padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah.

2:12 Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar,

2:13 dan akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka. Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan. Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka kalau mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu.

2:14 Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk!

2:15 Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.

Nas Evangelium: Pengkhotbah 6:1-12 (bahasa Batak Parjamita 6:1-12)

6:1 Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:

6:2 orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit.

6:3 Jika orang memperoleh seratus anak dan hidup lama sampai mencapai umur panjang, tetapi ia tidak puas dengan kesenangan, bahkan tidak mendapat penguburan, kataku, anak gugur lebih baik dari pada orang ini.

6:4 Sebab anak gugur itu datang dalam kesia-siaan dan pergi dalam kegelapan, dan namanya ditutupi kegelapan.

6:5 Lagipula ia tidak melihat matahari dan tidak mengetahui apa-apa. Ia lebih tenteram dari pada orang tadi.

6:6 Biarpun ia hidup dua kali seribu tahun, kalau ia tidak menikmati kesenangan: bukankah segala sesuatu menuju satu tempat?

6:7 Segala jerih payah manusia adalah untuk mulutnya, namun keinginannya tidak terpuaskan.

6:8 Karena apakah kelebihan orang yang berhikmat dari pada orang yang bodoh? Apakah kelebihan orang miskin yang tahu berperilaku di hadapan orang?

6:9 Lebih baik melihat saja dari pada menuruti nafsu. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.

6:10 Apapun yang ada, sudah lama disebut namanya. Dan sudah diketahui siapa manusia, yaitu bahwa ia tidak dapat mengadakan perkara dengan yang lebih kuat dari padanya.

6:11 Karena makin banyak kata-kata, makin banyak kesia-siaan. Apakah faedahnya untuk manusia?

6:12 Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia?

“Karena sudah memiliki segalanya, harta dan kuasa, itulah yang membawa orang itu menjadi jahat. Kebahagiaan yang semula direguk dengan itu semualah yang membawanya kepada berbagai duka”, demikianlah beberapa kali ucapan senada yang pernah aku dengar ketika membicarakan orang-orang yang menederita di atas “kebahagiaannya”. Harta yang berlimbah dengan jabatan yang disandang belum tentu membawa kepada kebahagiaan. Malahan bukan sesuatu yang aneh lagi kedengarannya bahwa karena harta dan kuasa yang dimilikinyalah banyak orang menjadi sengsara.

Beberapa pejabat pemerintah, misalnya. Bupati dan atau gubernur (atau mantan keduanya…) akhirnya harus berurusan dengan penegak hukum karena terlibat korupsi dan manipulasi. Anggota DPR dan mantan anggota DPR, pokoknya … yang mirip-mirip seperti itulah … Sehingga ada semacam pameo yang timbul: “Kalau dulu mantan orang penjara yang kemudian menjadi pejabat, tapi sekerang yang terjadi sebaliknya, manta pejabat yang kemudian masuk penjara”. Itulah karena apa yang dimiliki tidak menjadi berkat. Bagi diri sendiri, apalagi bagi lingkungan.

Nas Ep dan Ev Minggu ini menceritakan tentang hal tersebut. Sekaligus mengingatkan kepada siapapun yang memiliki harta dan kuasa, bahwasanya tidak ada jaminan itu semua akan membawa kepada kebahagiaaan. Bahkan dapat berakibat pada sebaliknya. Dan ada frasa yang mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi esok dan kemudian, oleh sebab itu tetaplah menggunakan segala sesuatunya itu untuk kebaikan dan kemuliaan Tuhan.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Harta dan jabatan adalah titipan dari Tuhan.  Oleh sebab itu, sifatnya adalah sementara. Selama masih ada waktu, kita harus menggunakannya untuk hal-hal yang baik saja. Untuk memuliakan Tuhan. Dan satu lagi, kita harus selalu bersedia untuk melepaskannya jika suatu saat harus diambil kembali. Namanya juga “barang titipan”, ‘kan?

Bukan hanya harta dan kuasa, melainkan semua apa yang sedang kita gemgam saat ini. Bukan hanya sesuatu yang secara fisik dan material nyata dan berwujud, termasuk di dalamnya adalah hal-hal yang bernilai kecil. Bahkan yang tidak berarti bagi orang lain, namun bagi kita memiliki arti …

Ingatlah, itu semua ada pemilik mutlaknya. Dan sang pemilik yang dimaksud itu bukanlah aku, engkau, kita, atau mereka …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s