Andaliman-83 Khotbah 25 Juli 2010 Minggu VIII setelah Trinitatis

Tidak Ada Beda Pada Akhirnya. Pakailah Harta untuk Kekekalan

Nas Epistel: Mazmur 49:2-14 (bahasa Batak Psalmen 49:2-14)

49:2 Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Mazmur. (49-2) Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian, pasanglah telinga, hai semua penduduk dunia,

49:2 (49-3) baik yang hina maupun yang mulia, baik yang kaya maupun yang miskin bersama-sama!

49:3 (49-4) Mulutku akan mengucapkan hikmat, dan yang direnungkan hatiku ialah pengertian.

49:4 (49-5) Aku akan menyendengkan telingaku kepada amsal, akan mengutarakan peribahasaku dengan bermain kecapi.

49:5 (49-6) Mengapa aku takut pada hari-hari celaka pada waktu aku dikepung oleh kejahatan pengejar-pengejarku,

49:6 (49-7) mereka yang percaya akan harta bendanya, dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka?

49:7 (49-8) Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya,

49:8 (49-9) karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya–

49:9 (49-10) supaya ia tetap hidup untuk seterusnya, dan tidak melihat lobang kubur.

49:10 (49-11) Sungguh, akan dilihatnya: orang-orang yang mempunyai hikmat mati, orang-orang bodoh dan dungupun binasa bersama-sama dan meninggalkan harta benda mereka untuk orang lain.

49:11 (49-12) Kubur mereka ialah rumah mereka untuk selama-lamanya, tempat kediaman mereka turun-temurun; mereka menganggap ladang-ladang milik mereka.

49:12 (49-13) Tetapi dengan segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan, ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.

49:13 (49-14) Inilah jalannya orang-orang yang percaya kepada dirinya sendiri, ajal orang-orang yang gemar akan perkataannya sendiri. Sela

Nas Evangelium: 1 Timoteus 6:17-19

6:17 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

6:18 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi

6:19 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.

Minggu ini perikop masih membicarakan tentang harta dan kekayaan. Terkesan lebih mengerucut, nas Ep meningatkan bahwa semua makhluk hidup pada akhirnya akan mengalamai hal yang sama: kematian dan kebinasaan. Manusia juga demikian, antara yang kaya dan yang miskin tidak akan berbeda, sama-sama akan binasa. Lubang kubur adalah tempatnya untuk selama-lamanya. Baik orang berhikmat, maupun orang dungu akan mengalami kematian. Bedanya mungkin di seremonial kematiannya, ya? Kalau orang kaya yang mati pastilah akan banyak orang yang datang melayat (besar kemungkinan dengan latar belakang dan tujuan yang berbeda-beda …), karangan bunga yang sangat banyak, dan iringan musik tiup akan menambah “kemeriahan” suasana duka. Hidangan yang enak-enak, dan makanan minuman yang lezat-lezat biasanya akan dihidangkan untuk para pelayat. Yang miskin dan sederhana pun ada juga yang dilayat oleh banyak orang, yang umumnya didorong oleh rasa hormat pada almarhum/almarhumah. Namun, “kemeriahannya” tetaplah sangat terasa bedanya …

Ep mengingatkan bahwa jadilah orang yang berkhidmat, sebab kekayaan semata – pada akhirnya – tidak akan banyak membantu, apalagi bila berhubungan dengan nyawa. Dalam hidup sehari-hari, memang terlihat bahwa orang-orang kaya dapat berupaya untuk menyembuhkan penyakitnya dengan berobat ke mana saja dia sanggup membayarnya. Dengan semua teknologi yang dimiliki saat ini, orang-orang kaya dapat menikmatinya sebagai upaya untuk menyembuhkan penyakitnya. Namun pada akhirnya itu semua hanyalah untuk sekadar memperpanjang usia (persisnya: memperpanjang nafasnya saja). Jika tiba saatnya, semua itu tidak akan punya kekuatan apapun untuk membuatnya hidup. Aku jadi ingat bagaimana “menderitanya” pak Harto beberapa hari menjelang tutup usia? Dengan semua teknologi tercanggih yang dimiliki, itu semua hanya untuk membantu agar jantung masih berdetak dan paru-paru masih bisa bernafas. Tapi lihatlah, apakah itu masih dapat dikategorikan sebagaimana hidup yang sebenarnya?

Hidup yang sebenarnya, itulah yang dipesankan oleh nas Ev Minggu ini. Kekayaan itu hendaknya dipakai untuk berbagi dan memberi kepada hal-hal yang baik dengan kebajikan (hikmat). Bukan untuk kesombongan dan memamerkannya kepada orang-orang.

Ada lagi: jangan andalkan kekayaan, melainkan andalkanlah Allah dalam setiap segi kehidupan. Kekayaan hanyalah alat, bukan tujuan. Apalagi menjadi segala-galanya!

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dalam berbagai kesempatan, acapkali diskusi mengalami hambatan manakala membicarakan antara mengandalkan kekayaan dan mengandalkan Tuhan. Salah satu pertanyaan yang sering timbul adalah apakah mengandalkan kekayaan semata, atau Tuhan semata, atau kombinasi antara keduanya? Kesalahan dalam menjelaskan – apalagi kesalahan dalam menerapkan – punya potensi besar akan menggiring pada kekeliruan yang sangat tidak perlu.

Jika mengandalkan kekayaan semata, itu akan membawa pada arogansi dan kesewenang-wenangan. Sebaliknya jika mengandalkan Tuhan semata, malah akan membawa pada kemunafikan dan kontraproduktif. Atau kombinasi antara keduanya, kadang pakai kekayaan semata, kadang pakai juga Tuhan semata “sesuai situasi dan kondisi”? Tidak persis juga! Tepatnya, pakailah kekayaan dengan hikmat yang datangnya dari Tuhan. Pasti pas!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s